Gembok Takdir

Gembok Takdir
Wakil Kapten Yang Baru


__ADS_3

@Korea Selatan


Eunhyuk menatap kantor kepolisian kota yang berada didepannya. Ia tidak menyangka rencana yang dikatakannya dengan santai didepan Hyora berjalan cukup mulus. Ia keluar dari NIS. Meskipun pasti ada beberapa orang yang mengawasinya diam-diam, hal ini cukup normal untuk agen rahasia yang melepas cangkangnya dan terjun didepan publik.


Mereka telah memindahkannya ke departemen penyelidikan tindak kriminal kantor kepolisian kota. Hari ini merupakan hari pertamanya melapor. Ia masih merasa aneh memakai seragam biru kepolisian dan berdiri secara terbuka dimata publik.


Eunhyuk terbiasa berjalan dengan menyembunyikan keberadaannya. Ia harus menghindari mata publik dan kamera keamanan. Kalaupun bebas, ia pasti memakai penyamaran.


Dengan langkah sedikit tergesa, ia berjalan memasuki gedung dan langsung menuju ke kantor kepala penyidik.


“Lee Eunhyuk? Masuklah!” Sekertaris kepala penyidik mempersilahkannya masuk secara langsung.


Eunhyuk mengetuk pintu tiga kali dengan sopan sebelum berjalan masuk. Seorang pria berusia lima puluhan berdiri didepan jendela kantornya, ia berbalik saat mendengar ketukan itu.


“Lee Eunhyuk melapor untuk bertugas!” Ucap Eunhyuk sambil mengangkat tangannya menunjukkan sikap hormat.


“Eunhyuk… kau sudah tiba, duduklah. Kita tidak perlu formalitas, kepala Song Jungha sudah menyapaku sebelumnya.”


“Kepala penyidik Kim, saya benar-benar tidak membutuhkan perlakuan istimewa disini.” Eunhyuk menjawab dengan canggung.


“Aku tahu, aku hanya akan memberitahumu untuk bersiap. Informasimu sebelum datang kesini mungkin sudah dirahasiakan oleh NIS, tapj justru karna itulah mereka akan berbicara dan bergosip dibelakangmu.” Jelas kepala Kim


“Itu tidak masalah…”


“Dengan kemampuanmu, aku ingin menyerahkan kursi jabatanku kepadamu. Tapi kau bahkan menolak menjadi kapten, jadi apa yang bisa kulakukan?”


“Uh, saya akan memulai dari bawah…”


“Itu akan sulit dengan latar belakangmu yang tertulis di sistem. Jadi aku akan menjadikanmu wakil kapten.”


“Wakil kapten? Jika seorang wakil kapten tiba-tiba dimasukkan kedalam tim… itu tidak akan baik kan?” Eunhyuk terkejut akan keputusan kepala penyidik.


“Kau akan membuktikan kemampuanmu dalam waktu singkat.” Kepala Kim menatap Eunhyuk dengan senyum penuh kepercayaan.


Eunhyuk ingin menangis, ia berencana untuk bersembunyi dan bersikap rendah hati, tapi kepala penyidik justru membuatnya sebagai wakil kapten. Ia tidak bisa menolak senyum kepala penyidik yang memberinya ilusi seorang ibu yang percaya pada kemampuan anaknya.


“Saya akan mencoba yang terbaik.” Menyembunyikan pikirannya, Eunhyuk memberi salam pada kepala Kim.


Ia lalu keluar dan menemui Kapten Hwang, seorang veteran yang akan menjadi atasannya.


“Lee Eunhyuk melapor untuk bertugas!”


“Oke, kau bisa duduk. Kepala Kim sudah memberitahuku, aku tidak memiliki wajah untuk menerima hormat agen NIS sepertimu.”


Eunhyuk ingin berteriak, apa sistem keamanan NIS mudah sekali untuk dibobol? Bagaimana informasi mengenai masa lalunya sudah menyebar?


“Jangan menatapku seperti itu. Dengan kemampuanmu, para penyidik tidak akan percaya kalau kau dipindahkan dari kantor kepolisianain. Lebih mudah menyebutmu mantan agen NIS. Itu akan membungkam mereka.” Kapten Hwang yang menyadark tatapan heran Eunhyuk menjelaskannya.


“Ah, aku bahkan tidak bisa bersikap low profile disini…”


“Kau akan bekerja diantara para detektif kejahatan terbaik di ibukota, mereka peka terhadap informasi.”

__ADS_1


“Aku tahu.” Eunhyuk sudah menyerah akan rencananya untuk bekerja dengan santai disini.


“Ayo kuperkenalkan dengan tim kita.”


Keduanya memasuki ruang rapat devisi, ada lima orang yang duduk didalam ruangan. Mereka langsung berdiri dengan hormat saat melihat kapten mereka masuk bersama seseorang.


“Kapten!” Sapa mereka dengan hormat.


“Hmm, duduk!” Balas kapten Hwang.


“Wakil kapten baru?” Tanya seseorang dengan jas putih laboratorium.


“Ya, perkenalkan Lee Eunhyuk. Dia datang dari NIS.”


“Wow!”


Eunhyuk melambaikan tangannya dengan canggung. NIS memang agensi keamanan terbesar di negara. Mereka sering bertanggung jawab akan kasus besar yang melibatkan keamanan negara dan misi internasional. Tidak heran jika bahkan kepala kepolisian ibukotapun akan menganggapnya seperti dewa.


“Jangan berharap terlalu tinggi kepadaku. Aku hanya ahli menembak dan menyamar, untuk penyelidikan aku masih sekelas anak sekolah dasar.” Ucap Eunhyuk, merasa terbebani akan mata mereka yang menunjukkan ekspektasi yang tinggi.


“Hey, itu yang kami perlukan sebagai wakil kapten. Tugas menyelidiki serahkan pada kami, wakil kapten bisa membantu kami menangkapnya.” Seorang pria dengan bekas luka tembakan dipipinya tersenyum cerah kepadanya.


“Kalianlah yang terlihat veteran dalam menangkap pelaku kejahatan.” Eunhyuk memuji mereka dengan tulus.


“Oke, ini Satu, Dua, Tiga, dan Empat. Mereka memiliki bidang keahliannya masing-masing. Sementara yang termuda itu adalah anak magang yang baru sebulan disini.” Kapten Hwang memperkenalkan timnya beserta keahlian mereka.


Pria yang memakai baju lab putih, Satu, adalah ahli di bidang penyelidikan forensik. Dua dan Tiga memiliki proses berpikir yang cepat dalam pemecahan kasus, Empat adalah ahli psykologi kriminal. Anak magang yang ditunjuk oleh kapten Hwang memiliki andil dalam pengumpulan berkas dibawah bimbingan dua dan tiga.


“Kapten, ada kasus orang hilang saat berlibur di timur kota. Keluarga mereka mendapat surat ancaman dan permintaan tebusan, diduga penculikan berkedok agen wisata.” Lapor dua yang menerima telepon.


“Pergi ketempat kejadian! Dimana keluarga korban? Introgasi mereka!” Ucap kapten Hwang


“Sambutan yang hangat.” Gumam Eunhyuk yang melepas jas seragamnya. Ia merasa out of place saat melihat penyidik lain yang memakai pakaian biasa sementara ia menggunakan seragam polisi lengkap.


“Wakil kapten! Kau saja yang melakukan interogasi, bukankah kau ahli melakukannya?” Tanya anak magang yang berada dibelakang Eunhyuk.


“Aku bisa saja melakukannya, tapi aku tidak bisa menjamin mereka keluar hidup-hidup dari ruang interogasi.” Jawab Eunhyuk dengan tersenyum samar.


Anak magang itu memucat dan segera membayangkan seribu satu kisah penangkapan tahanan dan penyiksaan dalam interogasi yang mendebarkan.


Eunhyuk tertawa dalam hati. Ia tidak ingin semua pekerjaan ditimpakan kepadanya hanya karna ia bisa melakukannya dengan baik.


Eunhyuk berdiri di sebelah ruang introgasi. Ia menatap ke kaca hitam satu arah yang memperlihatkan kapten Hwang tengah memberi pertanyaan pada ayah korban.


“Wakil kapten!” Tiga menyerahkan sebuah earpiece kepada Eunhyuk untuk mendengarkan percakapan didalam.


Eunhyuk mengangguk dan memasang alat itu ke telinganya. Suara dalam kapten Hwang terdengar dari seberang.


“Putrimu pergi berlibur selama seminggu, tapi kau bahkan tidak mengetahui dia pergi kemana?”


“Pak polisi, saya benar-benar tidak tahu… dia hanya berpamitan pada ibunya.”

__ADS_1


Ayah korban terus menyangkal mengetahui kepergian putrinya. Ia beralasan bahwa mereka tidak dekat sama sekali.


“Wajahnya terlihat jujur… dia terlihat cukup tenang memberikan alasan.” Anak magang yang berdiri di pojok ruangan memberikan komentar.


Tiga dan Empat hanya diam mengamati raut wajah ayah korban.


“Dia terlihat tenang karna memiliki IQ yang tinggi… jika dia tidak bersalah, seharusnya saat ini dia terlihat kacau dan khawatir karna putrinya diculik.” Ucap Eunhyuk. Hanya melihat ekspresi mikro di wajahnya saja Ia sudah tahu bahwa pria tua itu berbohong.


Ia melihat Tiga dan Empat dari ekor matanya, mereka terlihat serius. Eunhyuk menghela nafas saat mengetahui bahwa keduanya mungkin sudah melihat melalui kebohongan ayah korban. Mungkin status ayah korban akan berubah menjadi terduga atau tersangka.


Setelah proses introgasi selesai, kapten meninggalkan ruangan itu. Ia segera memberi sederetan perintah pada bawahannya.


“Apakah hasil tes laboratorium sudah keluar? Anak magang, tanyakan itu pada Satu. Kurasa darah pada surat ancaman itu bukan darah korban, check hasil DNA dan sidik jari siang ini juga!”


“Baik!” Anak magang itu segera berlari menuju departemen forensik.


“Dua dan Tiga, kau selidiki lingkaran sosial korban. Cari tahu pertemanan dan hubungan asmara korban. Tanyakan pada tetangga korban mengenai hubungan keluarga mereka!” Kapten Hwang berjalan cepat menuju kantornya diikuti oleh anggota timnya yang lain.


“Baik!” Dua dan Tiga menjawab serempak sebelum pergi.


“Empat, kau bilang ibu korban memiliki riwayat depresi berat. Kau temani beliau dan gali informasi sekecil apapun!”


“Aku tahu.” Empat bergegas menemui ibu korban diruang pertemuan.


Eunhyuk melihat Empat pergi sambil berpikir bahwa kaptennya memang berpengalaman dalam bidang ini. Mereka bergerak secara cepat memeriksa seluruh situasi. Empat adalah seorang ahli psykologi kriminal perempuan, ibu korban akan merasa lebih nyaman berbicara dengannya.


“Bagaimana menurutmu?” Tanya kapten Hwang kepada Eunhyuk saat mereka sampai diruang kantor.


Karna ini hari pertama Eunhyuk, ia masih harus mengikuti sang kapten dan membiasakan diri dengan pekerjaan mereka.


“Ayahnya terlalu tenang, entah dia mengetahui putrinya aman atau dialah yang menjadi dalang penculikan. Aku rasa pria angkuh sepertinya tidak akan tunduk pada siapapun. Ia mungkin memperlakukan putrinya sebagai alat bisnis semata.”


“Kau lebih melihat lebih jauh daripada Empat…”


Eunhyuk hanya tersenyum mendengar pujian kaptennya. Ia sudah bergelut dibidang ini selama sepuluh tahun, selain pendidikan dasar yang diberikan NIS, pengalamannya juga lebih banyak dibandingkan Empat yang baru terjun dipekerjaan ini selama beberapa tahun.


Eunhyuk pergi keluar untuk memeriksa tempat menghilangnya korban. Ketika melewati departemen anti narkoba, tak sengaja ia mendengar beberapa orang berbicara dibelakangnya.


“Memang kenapa jika ia mantan agen NIS? Bukankah ia diturunkan dari jabatannya?” Ucap seorang pria gemuk sambil menghisap rokok ditangannya.


“Aku dengar ia dikeluarkan dari NIS karna gagal menjalankan misi.” Pria lain ikut berkomentar.


“Heh, aku memiliki seorang kenalan di NIS yang berhenti bekerja karna depresi akibat tekanan pekerjaan.”


“Bukankah ada kasus pembantaian masal dua bulan lalu? Kasus besar itu diserahkan pada NIS. Ia mungkin terkejut karna menghadapi pembantaian itu dengan mata kepalanya sendiri.”


Pria gemuk yang pertama berbicara bergidik ngeri. Beberapa waktu yang lalu, di internet tersebar foto lokasi pembantaian masal yang terjadi di kota sebelah. Tumpukan mayat dengan organ dalam dan tubub yang hancur terlihat dengan jelas.


Warganet berkomentar bahwa foto adalah editan profesional yang tetlihat nyata. Entah darimana foto itu bocor ke publik meskipun NIS sudah memblokir berita itu, tapi mereka para penyidik kepolisian tahu bahwa foto itu nyata. Hingga kini, lokasi kejadian telah meninggalkan trauma bagi yang melihatnya.


Eunhyuk tersenyum samar saat mendengar percakapan mereka. Hanya ia yang mengetahui bahwa kelompok mafia yang melakukan pembunuhan masal itu berasal dari Robaine.

__ADS_1


“Tidak buruk, biarkan mereka mengira bahwa aku mentalku sedikit terganggu karna kasus itu.” Gumam Eunhyuk sambil berjalan keluar.


__ADS_2