Gembok Takdir

Gembok Takdir
Doubt


__ADS_3

The story is continuing…


Mereka memasuki lift untuk turun, nyala angka menunjukkan lantai yang dilalui lift terus bergerak turun tanpa mempedulikan sepasang kekasih yang masih bertatapan mesra.


13>>..12>>..11>>..10>>..09


Tiba-tiba pintu lift terbuka sebelum mencapai lantai dasar tujuan mereka, seorang pria berjas hitam berdiri diluar pintu lift. Ia menodongkan ujung senjata apinya tepat kearah mereka, sayangnya keduanya terlambat menyadari keberadaannya.



DORR!!!


Suara satu tembakan terdengar tumpul di ruang kecil itu, meninggalkan bau mesiu dan darah yang segar. Pelaku yang berhasil mengenai sasarannya tersenyum dingin menurunkan senjata M92nya yang terpasang peredam, tatapannya menyapu keduanya sebelum berjalan pergi meninggalkan keduanya dengan santai.


Tubuh Kyuhyun membeku ditempat, otaknya kosong selama beberapa saat. Baru setelah tubuh Hyora tumbang, kesadarannya pulih kembali. Besi panas itu menembus punggung Hyora.



Darah mengalir dengan cukup deras dari punggungnya, jangankan berpikir untuk mengejar sang pelaku… tubuhnya bahkan tidak bisa bergerak dari memeluk kekasihnya itu.


Nafasnya tercekat ditenggorokan, seolah udara di dalam lift itu tidak lagi ada. Tangannya yang memeluk tubuh lunglai gadis itu dengan erat sedikit bergerak memeriksa nafasnya, memastikan bahwa gadis itu masih hidup.


Masih hidup, matanya memerah menyadari bajunya yang basah bersimpah cairan merah pekat.


Suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor membuat tubuh pria itu menegang, apakah pelakunya kembali? Mata tajamnya berkilat saat ia menyadari siapa yang berlari kearahnya.


“Hyung, tolong Hyora!” Suara Kyuhyun tercekat saat pandangannya yang kabur menangkap sosok Eunhyuk yang sudah berdiri didepan pintu lift dengan nafas sedikit memburu.


“Kibum, kita terlambat… Cepat kirim ambulan!” Ucap Eunhyuk menghadap ponselnya.


...—o0o—...


Kyuhyun POV.

__ADS_1


Disinilah aku, berdiri didepan jendela kaca apartemen ‘kami’ memandang hiruk pikuk dunia dengan muram. Sesekali kulirik gadis yang terbaring tak sadarkan diri diatas tempat tidur.


Sepertinya wajahnya semakin pucat… memang seharusnya aku membawanya ke rumah sakit. Tapi tidak, itu akan membahayakan nyawanya. Yang bisa kulakukan sekarang hanya merawatnya di rumah meski aku tahu itu tidak cukup hanya dengan mendatangkan dokter beberapa kali dalam sebulan.


Gadis itu memang ceroboh, tidak hanya cincin pertunangannya saja yang terjatuh saat dalam misi. Bagaimana mungkin ia menjatuhkan kartu penting itu di tempatnya menjalankan misi.


“Kenapa kau menolak membawanya ke rumah sakit?” Tanya Eunhyuk hyung dengan lemah.


Hari itu, saat ia mendapatkan kabar dari Kibum, ia bergegas menemui keduanya. Hanya saja, mereka terlambat. Tidak hanya gagal menyelamatkanya, mereka bahkan membiarkan pelaku kabur.


Dari informasi yang diselidiki Kibum, ada beberapa pria berjas hitam yang datang menargetkan mereka, tapi tidak satupun tertangkap. What a bullshit!


Eunhyuk hyung menghela nafas memperhatikan kelakuanku. Monyet itu memang sering datang menemaniku disini, entah itu menginap atau hanya membawakan keperluan kami. Ia juga berbelanja bulanan untukku karna aku menolak meninggalkan Hyora.


Kami sangat bersyukur memilikinya, kadang Eunhyuk hyung datang memasak makan malam atau membantu membersihkan rumah untuk kami.


“Itu terlalu beresiko." Jawabku singkat, mengalihkan pandanganku keluar jendela. Hal yang akhir-akhir ini sering kulakukan tanpa sadar.


“Bagaimana kau bisa datang terlambat saat itu?” Suaraku terdengar tajam meskipun enggan untuk mencurigainya.


“Kibum menyadap telepone mereka, dia bilang tunanganmu menjatuhkan kartu identitasnya disana. Bayangkan betapa hebohnya aku yang berlarian ke apartemenmu. Ada kecelakaan beruntun di jalan utama selatan, aku terpaksa memutar balik.” Jelasnya dengan ekspresi tenang, tidak ada kebohongan didalamnya.


Aku hanya terdiam. Setelah bertahun-tahun menjadi agen rahasia, siapapun bisa mengatakan omong kosong tanpa menyalakan alat pendeteksi kebohongan. Kami telah mempelajari psykologi dan ekspresi mikro untuk bertahan hidup, tidak kukira aku akan menggunakan kemampuan ini kepada sahabatku sendiri.


"Kau mencurigaiku? Jika aku memang berkhianat, kalian sudah mati ribuan kali!" Desis pria itu tidak percaya.


Ya, apa yang dikatakannya tidak salah. Karna itulah aku membiarkannya masuk kedalam rumah ini. Tapi mau bagaimana lagi, terlalu banyak kebetulan dalam kejadian ini.


Setelah berpikir jernih, banyak hal janggal yang kusadari. Meskipun Hyora terlihat ceroboh, ia tidak mungkin sebodoh itu sampai membawa kartu identitasnya saat dalam misi.


Lalu bagaimana data kami bisa bocor? Kartu identitas tidak memuat alamat kami. Data itu hanya bisa didapat dari penyimpanan sistem NI, terlebih jaringan NI bukanlah sistem sekelas sekolah yang bisa ditembus siapa saja. NI menggunakan sistem keamanan tercanggih dengan berlapis-lapis firewall dan enkripsi yang sesuai sebagai sistem keamanan suatu negara.


Sangat tidak mungkin untuk menembusnya hanya dalam waktu 24 jam, kecuali ada orang dalam. Setelah mendengar kecelakaan beruntun, kupikir bahkan jika Eunhyuk hyung mengatakan yang sebenarnya, kemungkinan kejadian itu terencana juga tidak dapat disingkirkan.

__ADS_1


Satu lagi, Hyora jelas telah berjanji bahwa ia akan membatalkan misi ini. Mungkin terjadi sesuatu yang membuatnya merubah keputusan, tapi apa itu? Untuk mengetahuinya, Ia harus bangun.


“Bodoh… Gadis bodoh!” Desisku frustasi.


“Tapi sepertinya mereka tidak mengetahui apapun tentang hubungan kalian, untuk sementara kalian aman karna mereka pikir berhasil membunuh Hyora.” ucap Eunhyuk hyung mengingatkanku, tidak ada gerakan setelah mereka menembaknya. Bahkan mereka melepaskanku begitu saja, tapi kenapa?


“Mungkin, untuk sementara.” Jawabku tidak yakin, jika benar ada orang dalam, maka kami masih tidak aman.


...—o0o—...


Hari-hari berlalu dengan membosankan, sudah beberapa bulan gadis itu tertidur. Apa dia tidak lelah? Aku yang menunggunya saja sudah lelah. Hari ini salju kembali turun, bulan Desember akan segera berakhir lagi. Tahun baru… apa yang harus kulakukan hari ini tanpamu? Aku sudah melewati ulang tahun, hari peringatan 2 tahun pertunangan kita dan hari penting lainnya tanpa senyummu. Seharusnya tahun ini kita menikah dan pergi berlibur sesuai rencana.


Lamunanku terganggu saat mendengar suara deringan handpone diatas nakas, melihat nomor pemanggil, aku hanya bisa menghela nafas dan mengangkat panggilan itu dengan suara tenang.


“Yeoboseo? Eomma…”


“Kyuhyun-ah, tahun baru ini kau dan Hyora akan datang kan?” Tanya ibuku dengan suara antusias, sudah lebih dari satu tahun kami tidak bertemu.


Benar juga, keluarga kami tidak mengetahui apapun tentang pekerjaan kami. Mereka hanya tahu aku seorang pialang saham. Jika mereka tahu, mungkin mereka akan berlebihan menanggapi hal ini, bayangkan saja… putra semata wayangnya ternyata bekerja dibidang berbahaya seperti ini. Bahkan calon menantunyanya yang seprofesi kini berbaring koma diapartemen mereka.


“Aah, aku tidak bisa Eomma… kami masih berlibur saat ini. Pekerjaan Hyora juga belum bisa ditinggal, mungkin tahun depan...” Jawabku melirik gadis itu.


“Kau selalu beralasan! Lalu kapan kalian akan menikah? Mengapa tidak mendaftarkan pernikahan kalian lebih dulu. Aku ingin menggendong keponakanku segera!” Sela suara yeoja lain yang lebih keras, nunnaku.


“Eomma, Nunna, ada panggilan lain masuk… aku akan berkunjung jika ada waktu. Lagipula menikah dan memiliki anak hanya masalah waktu. Jangan khawatir!” Selaku cepat.


Jika mereka ibu dan kakak perempuanmu sudah bersama, pembahasan mereka akan meluas dari pernikahanku sampai kapan aku pulang dan meneruskan perusahaan keluarga. Ugh, aku dulu tidak tertarik, tapi jika kami berhasil melewati semua ini, keluar dari NI merupakan rencana yang bagus untuk masa depan. Fantasi gadis itu untuk bersuami seorang CEO perusahaan akan menjadi kenyataan.


"Bagaimana? Apa kita kembali saja dan menjadi orang biasa?" Tanyaku pelan, kuraih tangan gadis itu dan menggenggamnya ringan. Suhu hangat masih terasa dari tangannya.


Jika kau sadar, aku akan membawamu pulang dan menikmati hari-hari bersama. Membayangkan duduk di ruang kantor dengan tumpukan dokumen membuatku bergidik. Tapi dibandingkan dengan suara tembakan dan baku hantam, bau mesiu dan darah, pengkhianatan dan kesetiaan pada negara... aku lebih memilih hidup membosankan untuk membuatmu tetap aman. Setidaknya kau tidak perlu mempertaruhkan nyawa disetiap misi, kita tidak perlu bertemu dan bertanya-tanya apakah kita bisa kembali hidup-hidup besok.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2