Gembok Takdir

Gembok Takdir
Kita Keluarga


__ADS_3

“Kau tahu apa yang terjadi padanya?” Tanya Kyuhyun, ia menatap kebawah anak yang masih duduk diatas tanah itu.


“Apa maksudmu? Pria itu sudah ditemukan? Dimana dia?”


“Apa yang ibu dan kakakmu katakan kepadamu? Dia menghilang setelah meninggalkan hutang beberapa milyar?”


“Kakak!”


Hanwu yang mendengar pembicaraan mereka keluar dari balik semak-semak dan ingin menghentikan Kyungsoo. Hansen sangat dekat dengan ayahnya saat masih kecil. Ia selalu menjadi anak kesayangan ayahnya. Meskipun kini ia kecewa dan membencinya, Hanwu tahu bahwa adiknya masih menghormati sang ayah jauh didalam lubuk hatinya.


“Biarkan dia tahu! Dia bukan lagi anak kecil, bahkan berani menyelundupkan narkoba dan menjualnya. Dia pasti sudah bosan hidup.”


“Tapi…”


“Hanwu, apakah kau tahu jika kandungan ekstasi itu lebih dari tiga puluh persen ia akan menjalani hukuman mati tanpa pengadilan?”


Ucapan Khyuhyun menghentikan apa yang ingin diutarakan Hanwu. Kakaknya benar, hukum pengedar narkotika sangatlah ketat. Jika tidak mati, ia akan mendekam dipenjara seumur hidup.


Hanwu mengusap wajahnya dengan lelah. Biarlah, biarkan adiknya mengetahui semuanya dan belajar bertanggungjawab.


“Katakan! Apa yang terjadi pada ayah!” Tanpa sadar Hansen kembali memanggil sosok samar itu ayah. Selama ini ia selalu memanggilnya dengan sebutan kasar bahkan umpatan.


“Dia sudah mendekam di penjara! Selain berhutang dalam jumlah besar, ayahmu juga terlibat dalam jual beli narkoba.”


Jika bukan karna intervensi pengacara Kyuhyun, ayah Hanwu pasti sudah dihukum mati. Meskipun membenci ayahnya, Hanwu tidak ingin membiarkannya mati setelah ia tahu. Jadi Kyuhyun menyewa pengacara terbaik untuk mengurangi hukumannya. Usaha keras merekapun hanya mengubah hukumannya menjadi penjara seumur hidup.


“Tidak mungkin!”


“Jadi, bersyukurlah aku tidak mengungkapkan kebohonganmu didepan polisi. Apa kau memikirkan perasaan ibumu jika sampai ia tahu?”

__ADS_1


“Maafkan aku.” Hansen segera mengakui kesalahannya saat ia teringat ibunya. Pantas saja ia menyembunyikan fakta mengenai ayahnya, karna bukan hanya ingin melindunginya tapi ibu sendiri merasa sakit akan fakta itu.


Kyuhyun menutup matanya selama beberapa detik dan menghela nafas ringan.


“Katakan pada kakakmu apa yang sebenarnya terjadi!”


“Kakak, aku melihat saat kau pergi bekerja menjadi kasir di toko buku sepulang sekolah dan pelayan restoran diakhir pekan.” Hansen memulai penjelasannya dengan suara kecil.


“Kau melihatku? Tapi aku tidak pernah mengatakan dimana aku bekerja bahkan kepada ibu.” Hanwu menatap adiknya terkejut.


“Dia pasti mengikutimu diam-diam. Kau sangat tidak peka terhadap lingkunganmu. Jika itu orang lain dengan maksud jahat, kau pasti sudah mati berkali-kali.” Tebak Kyuhyun. Hansen hanya mengangguk membenarkan ucapannya dan meneruskan cerita selanjutnya.


“Aku tahu kita tidak akan bisa melunasi hutang sepuluh milyar hanya dengan mengandalkan penghasilanmu. Gaji ibu sebagai buruh juga akan habis untuk membeli makanan. Jadi aku berpikir untuk mencari pekerjaan, seseorang mengajakku bekerja dengan gaji yang cukup besar.”


“Kau tidak curiga sama sekali? Gajinya pasti beberapa ratus ribu hingga satu juta dalam sekali bekerja. Itu sangat besar untuk anak SMA.”


“Apa kalian dan ibu tidak memiliki rasa waspada sama sekali? Kurasa aku harus mengajari beberapa hal pada kalian.” Kyuhyun bergumam dengan wajah berkerut.


“Aku hanya perlu membawa kardus kecil dan mengirimkannya ke alamat tujuan. Aku tidak tahu apa isi paket itu, sampai suatu hari orang yang mengajakku terburu-buru karna banyak pesanan dan memintaku menunggunya saat membungkus paket.”


Sampai disini wajah Hanwu menjadi lebib pucat, adiknya mungkin telah melakukan kejahatan tanpa mengetahuinya. Dan ia melakukannya sejak lama.


“Paket itu berisi pil-pil bewarna cerah, aku kira itu sejenis obat racikan dokter khusus. Tapi temanku hanya tertawa saat mendengar ucapanku. Ia mengatakan bahwa barang itu memang obat khusus, khusus untuk membuat orang terbuai dan ketagihan. Saat itu aku baru menyadarinya bahwa mereka menyuruhku untuk menjadi pengantar narkoba karna identitasku sebagai siswa tidak akan membuat polisi curiga.”


“Mereka tidak membuatmu mencobanya kan?” Hanwu memegang bahu adiknya dengan kencang, suaranya bergetar saat menanyakan hal ini. Ia bahkan memeriksa kedua lengannya apakah ada bekas suntikan atau tidak. Hansen menggelengkan kepalanya dengan ketakutan. Ia tidak berani menyentuh barang itu apalagi mengkonsumsinya.


“Mereka menawariku, tapi aku menolaknya. Aku berhenti sejak saat itu, tapi mereka tetap mencariku. Saat kita dalam kesulitan keuangan atau preman itu datang kerumah, aku memberikan uang itu kepada mereka. Aku hanya melakukannya sesekali.”


“Ibu tidak bertanya?”

__ADS_1


“Ibu bertanya darimana uang itu berasal dan aku menjawab uang itu adalah uang cadangan yang kakak titipkan padaku. Tapi sejak Kak Kyungsoo melunasi hutang kita dan kau bekerja dengannya, aku berhenti total.”


“Kau baru berhenti beberapa bulan lalu?” Hanwu menatapnya tidak percaya sementara Hansen mengubur wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tidak takut kakaknya marah, tapi ia takut kakaknya kecewa padanya.


“Kemarin mereka mendatangiku setelah aku menolak ajakan mereka beberapa kali, mereka bahkan mengancam melaporkanku ke polisi. Aku marah dan menghajar mereka tadi sore, Key kebetulan sedang bersamaku dan terseret urusan kami karna mereka menjadikannya target ancaman.”


Ketiganya terdiam dengan pikiran rumit. Terutama Hanwu yang selama ini merasa dibohongi. Adiknya hanya tersenyum polos dan bertingkah manja didepannya dan ibu. Tapi ia bahkan terlibat dalam jaringan narkoba.


“Kau menyimpan bukti kan?” Kyuhyun menatap Hansen, ia pasti cukup pintar untuk menyimpan beberapa bukti sehingga mereka tidak berani mengungkapkan keterlibatannya didepan polisi.


“Aku selalu merekam percakapan kami diam-diam dan memiliki dua buah pil yang biasa mereka kirim. Ada juga screenshot percakapan kami.”


“Bagus! Berikan semua bukti itu padaku. Jika mereka mencarimu, katakan bahwa kau tidak memilikinya dan berjanji akan tutup mulut. Jika mereka mengancammu, katakan padaku. Katakan juga pada mereka bahwa kau mengirim bukti-bukti itu padaku jika mereka berani menyentuhmu, aku akan segera melemparkan bukti ini ke para departemen anti narkoba tingkat provinsi. Suruh mereka mencariku jika mereka menginginkannya.”


“Kyungsoo! Kalau Hansen melakukannya, kau yang berada dalam bahaya. Mengapa kita tidak menyerahkannya kepada pihak polisi?” Hanwu tidak setuju, bukti itu mungkin akan menyelamatkan mereka, tapi juga akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.


“Hanwu, apakah kau ingin mengirim adik kandungmu ke penjara? Meskipun ia memberikan bukti-bukti itu, mereka tetap akan menahannya selama beberapa tahun. Pikirkan perasaan ibumu!”


“Tapi…”


“Bahkan jika kita melaporkannya, mereka pasti memiliki orang dalam pemerintahan yang akan melindungi mereka. Gengster yang kau lihat di kantor polisi tadi akan dibebaskan dalam beberapa hari. Mereka tidak takut pada hukum dan hubungan organisasi ini lebih rumit dari perkiraanmu. Benda itu kemungkinan besar memiliki relasi dengan mafia profesional. Mereka tidak akan segan membunuh kalian jika kau mengungkapkannya.”


“Lalu bagaimana denganmu?”


“Mereka tidak akan berani menyentuhku. Kalaupun mereka datang, aku bisa mengatasinya.” Kyuhyun menatap rendah pada organisasi ini. Jika mereka datang untuk membunuhnya, ia akan dengan senang hati membalasnya. Apakah mereka bisa kembali hidup-hidup akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan mereka.


Hanwu masih ragu, tapi ia bahkan sudah melihat izin kepemilikan senjata api di kantor Kyungsoo. Jadi latar belakangnya mungkin lebih menakutkan dibanding mereka.


“Baiklah, ayo kembali… ibu pasti khawatir karna kita pergi terlalu lama.” Kyuhyun berbalik menuju mobil mereka.

__ADS_1


__ADS_2