Gembok Takdir

Gembok Takdir
Gone


__ADS_3


Author PoV.


Tubuh Kyuhyun yang lemas jatuh menimpa Hyora. Besi panas itu mengenai punggungnya, darah bewarna merah pekat membasahi pakaian hitam pria itu. Hyora yang jatuh terkejut segera duduk memeluk tubuhnya, matanya menatap tajam pria asing yang menjadi pelaku penembakan itu.


Wajah pria berjas hitam itu tersamarkan oleh kacamata hitam yang dipakainya. Pelaku masih mengacungkan senjata ke arah mereka, Ia terlihat ragu saat melihat tembakannya meleset. Seharusnya dia menembak mati wanita bernama Shin Hyora, bukan seorang pria. Ia berniat melakukan tembakan kedua untuk menyelesaikan tugasnya saat dua tembakan melesat mengenai tangan kanan dan menggores pipinya.


Eunhyuk berlari melewati koridor apartemen mendekati pria berenjata itu. Pistol ditangannya menembakkan beberapa peluru saat Ia mendekat.


Pelaku penembakan merasakan bahwa Ia tidak bisa kabur jika bersikeras menembak gadis itu. Jika Ia melakukan kontak senjata dengan agen NIS, situasi bos mereka akan semakin rumit. Demi menyelamatkan diri, Ia terpaksa melarikan diri tanpa memberi tembakan balasan.


Eunhyuk gagal menangkap pelaku itu, Ia bergegas mendekati lift yang terbuka. Matanya terkejut melihat tubuh Kyuhyun yang tak sadarkan diri di lantai lift. Hyora sudah bergerak menekan punggung Kyuhyun berusaha menghentikan pendarahannya. Melihat cairan merah yang masih mengalir disela jari-jari Hyora, Eunhyuk melepaskan jaket yang dikenakannya dan menggantikan tangan Hyora menekannya.


"Sayang, bertahanlah!” Ucap Hyora memohon.


“KYU!” Panggil Eunhyuk, tapi pria itu sudah tidak sadarkan diri.


"Panggil Kibum, bawa ambulan kemari! Cepat!" Eunhyuk melempar telepon genggamnya ke arah Hyora. Gadis itu menangkapnya dan segera memanggil bantuan. Nafas Kyuhyun mulai melemah, suhu tubuhnya turun dengan cepat karena kehilangan banyak darah.


Butuh beberapa menit sebelum ambulan datang menyelamatkan Kyuhyun. Hyora berlari masuk kedalam ambulan mengikuti kekasihnya, sementara Kyuhyun akan menyusulnya dengan mobilnya.


"Oppa, bertahanlah! Kumohon!" Bisik Hyora saat melihat petugas medis memasang tabung oksigen dan melakukan penyelamatan darurat.


"Tekanan darahnya terlalu tinggi!"


"Detak jantungnya melemah!"


Mata Hyora menatap kosong sosok pria didepannya. Ia tidak pernah melihatnya terbaring lemah seperti itu. Bahkan saat menjalankan misi, Ia selalu terlihat kuat meskipun dalam keadaan terluka parah.

__ADS_1


@UGD Rumah Sakit


Tubuh Hyora jatuh terduduk saat melihat Kyuhyun didorong memasuki ruang gawat darurat. Ia menunduk melihat kedua tangan yang ternoda warna merah saat mencoba menyelamatkan kekasihnya.


Ia bingung, tidak tahu apa yang sudah terjadi. Mereka seharusnya sedang berjemur di Miami dan menikmati liburan sebelum mereka menikah. Daftar rencana liburan yang mereka susun minggu lalu masih tertulis di catatannya. Tapi hari ini, dia tiba-tiba terbangun mendapati pria itu tertembak didepan matanya. Apa yang sebenarnya terjadi? penembak itu jelas mengincarnya, bagaimana Kyuhyun mengetahui target penembak itu sebelumnya?


Suara langkah kaki menarik perhatian Hyora, Ia melihat Eunhyuk yang datang bersama seorang pria asing berkacamata.


"Bagaimana?" Tanya Eunhyuk, Ia menarik tubuh gadis itu dan membuatnya duduk di kursi tunggu.


Hyora yang mendengar pertanyaannya hanya menggeleng pasrah, Ia tidak tahu. Yang bisa mereka lakukan hanyalah berdoa dan menunggu keajaiban.


Kibum melihat kearah pintu UGD didekat mereka, lampu masih menyala merah dengan tulisan sedang melakukan operasi. Jika saja Ia dan Eunhyuk datang lebih awal, Kyuhyun tidak akan terbaring disana.


Beberapa jam kemudian, lampu emergency diatas pintu akhirnya mati. Seorang uisa berpakaian hijau keluar dari ruangan tersebut dan menyapa ketiganya. Raut wajah dokter itu tidak baik, sehingga tak satupun berani bertanya akan keadaan Kyuhyun.


Dokter itu tersenyum sedih melihat ketiganya, Ia membuka masker di wajahnya dan berkata, "Operasi telah dilakukan, peluru berhasil diambil. Tapi peluru itu telah melukai paru-parunya, kami kehilangan kesempatan terbaik untuk menyelamatkannya. Maafkan kami" menunduk, dokter itu pergi.


"Maafkan kami, kami gagal menyelamatkannya. Pasien meninggal karena gagal jantung ditengah proses operasi." Jawab dokter itu, Ia menganggukkan kepalanya meminta maaf dan meninggalkan ketiganya yang masih berdiri diam.


Hyora berlari memasuki ruangan itu, Ia melihat tubuh yang terbujur kaku tertutupi selimut putih sepenuhnya. Dengan perlahan, Ia membuka selimut putih itu. Wajah pucat Kyuhyun dengan mata tertutup membuat nafas Hyora tercekat. Ia memeriksa nadi dan pernafasan pria itu, tapi Ia tidak bisa merasakan tanda-tanda kehidupan. Tangisnya pecah menemukan bahwa kekasihnya telah pergi, hanya jasad tak bernyawa yang terbaring didepannya.


Pria itu tidak lagi bisa memeluknya, mengecup dahinya, dan tersenyum menyambutnya. Lalu apa gunanya Ia hidup jika alasan keberadaannya hilang?


@Markas Mafia


Suhu ruangan bernuansa merah tua itu terasa hangat dibandingkan suhu luar yang mencapai -20°C. Sebuah perapian besar yang membakar beberapa kayu beraroma ringan menjadi satu-satunya penghangat. Beberapa orang duduk disebuah kursi oval yang berada ditengah ruangan. Tidak ada yang berani bersuara saat pemimpin mafia menerima sebuah panggilan diteleponnya.


"Bagaimana?" Tanya seorang pria yang duduk di kursi utama melalui telepon. Suaranya memiliki aksen Rusia yang sangat kental.

__ADS_1


Ia mendengarkan laporan bawahannya selama beberapa detik sebelum berteriak, "BODOH! Kembali sekarang juga!"


Bawahan yang diteriakinya menjawabnya dan mengatakan beberapa saran.


"Tidak perlu, pihak NIS sudah membatalkan kerjasama kita karna kesalahanmu. Kelompokmu akan dihukum setelah kembali!"


Panggilan segera ditutup. Ia melempar handpone itu keatas meja, membuat beberapa wakil pemimpin yang duduk dimeja bundar itu terkejut dan menatapnya. Ada tujuh orang yang menghadiri rapat darurat tersebut. Seorang ketua berusia akhir duapuluhan, seorang wanita muda yang cantik, dua pria paruh baya, dan tiga pria yang sudah berusia lanjut.


"Anggota kita gagal membunuh gadis itu, mereka justru membunuh agen pria yang sedang bersamanya." Jelas ketua itu dengan muram.


"Kalau begitu biarkan bawahanku yang menghabisinya." Seorang tetua mengajukan diri untuk menyelesaikan misi mereka.


"Tidak! NIS tidak akan membiarkan kita menyentuh agen mereka lagi." Pemimpin kelompok itu menolak gagasan si tetua dengan tegas.


"Sejak kapan kelompok kita menjadi bawahan NIS!" Seorang wanita berpakaian terbuka bertanya dengan sindiran yang jelas. Tangan putih dengan kuku bercat merah meraih segelas minuman diatas meja tanpa mempedulikan pandangan anggota yang lain.


"Apa kau takut dengan mereka?" Sambung tetua disebelahnya.


"Aku tidak pernah takut pada mereka!" Pemimpin mafia itu menolak dengan keras.


"Kalau begitu mari kita bunuh gadis itu! Masalah kita akan selesai!" Ucap tetua pertama. Wajahnya yang sudah berkeriput terlihat lebih menakutkan karna kemarahannya.


"Jangan bertindak gegabah! Mereka memiliki daftar identitas orang-orang kita!" Pemimpin Mafia itu kembali memperingatkan anggotanya.


"Aku tidak takut daftar itu bocor!" Sanggah seorang tetua yang lain.


"Apa kau berniat mengorbankan saudara-saudara kita?!" Tanya pria yang berada di sebelahnya dengan tajam.


"Pindahkan mereka ke tempat yang aman!" Wanita yang menikmati wiski ditangannya itu memberi ide dengan santai, matanya menatap konyol para tetua dan pemimpin yang berdebat tak berguna itu.

__ADS_1


"Biarkan aku mengurusnya. Rapat dibubarkan!" Ucap pemimpin mafia mengakhiri pertemuan mereka. Ia berdiri dan pergi dari ruangan itu diikuti oleh dua orang bodyguard kepercayaannya.


__ADS_2