
Zeta berjalan cepat menuju kantin, tadi dirinya belum selesai mencatat sehingga menyuruh Meli untuk menunggunya di kantin. Ditangannya sudah ada kotak bekal, tadi dirinya lupa membawa minumnya. Zeta mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Zeta melihat Meli yang tengah melambai padanya, senyum terukir dibibir Zeta. Ia segera menghampiri Meli.
“Kamu udah pesan, Mel?”
“Udah, tapi belum diantar kesini.”
Suasana kantin sangat ramai karena ini memang waktu istirahat. Semua siswa membaur jadi satu, tidak hanya siswa, bahkan beberapa guru juga terlihat sedang antre didepan penjual bakso. Tak lama pesanan Meli datang dengan air mineral yang tadi Zeta titip.
“Lo bawa bekal apa?”
“Nggak tau nih, tadi udah ditata sama Bibi.”
“Sebenernya gue juga pengen bawa bekal, tapi selalu kesiangan kalo bangun. Kadang aja nggak sempet sarapan.” Ucap Meli meringis, dia mulai memakan bakso pesanannya.
“Kamu mau nyicip masakan Bibi?”
“Boleh.” Jawab Meli antusias.
“Boleh ikut gabung?” tanya seseorang, membuat kedua gadis itu menoleh. Seketika Meli tersedak.
Suasana mendadak canggung bagi Meli, tapi meja yang kini berisi lima anak itu mendadak ramai. Zeta juga tidak bisa berhenti tersenyum melihat Galaksi tengah menikmati makannya. Sementara Meli merasa jika nafsu makannya mendadak hilang. Virgo dan Leo masih heboh sendiri dengan cerita mereka, hanya sesekali Galaksi mneyunggingkan senyumnya.
“Nanti Kak Galaksi ada waktu?” tanya Zeta berharap.
“Apa?”
“Temenin aku ke toko buku nanti…”
“Nggak ada waktu.”
Zeta mencebik mendengar ucapan Galaksi. Ia menatap Galaksi sebal.
“Gimana mau maju? Kak Galaksi nggak kasih kesempatan.” Ucapan Zeta mengundang tanya tiga orang di meja itu.
“Wuidih, kesempatan apa nih?” celetuk Virgo.
Galaksi mendengus. “Oke- oke, lo tunggu di gerbang depan nanti.”
Setelah mengucapkan itu, Galaksi langsung pergi meninggalkan kantin. Meninggalkan tanda tanya di kepala Meli, Leo, dan Virgo. Sedangkan Zeta sudah tersenyum senang.
🪐🪐🪐🪐🪐
Bel tanda berakhirnya pembelajaran berbunyi nyaring, membuat penghuni kelas menghela nafas lega dan serempak mereka tersenyum bahagia. Namun ada beberapa anak yang tidak bersemangat, karena harus piket terlebih dulu sebelum pulang. Zeta yang paling semangat karena akhirnya Galaksi mau menemaninya ke toko buku.
“Ayo, Mel!”
“Semangat bener? Tau deh yang mau kencan.” Goda Meli membuat Zeta tertawa malu.
Mereka berdua berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Suasana sekolah masih agak ramai dengan anak- anak yang mengikuti ekskul.
“Zeta!” panggil seseorang, membuat dua gadis itu menoleh.
“Iya, Kak?”
“Ini! Gue lupa ngasih kemarin. Ikut ya?”
Zeta mengangguk antusias, sementara Meli juga penasaran dengan selebaran yang dipegang Zeta.
“Woah, Puncak?!” pekik Meli heboh.
Senyum Zeta terus mengembang sedaritadi, ditangannya masih tergenggam selebaran yang membuat mood- nya tambah membaik. Meli sudah pulang. Zeta masih menunggu Galaksi keluar, sesuai janjinya tadi ia menunggu di depan gerbang.
“Loh? Belum pulang?” tanya seorang anak laki- laki membuka kaca helmnya.
“Belum, Kak. Masih nunggu Kak Galaksi.”
“Lo balik sama Galaksi?”
“Hmm, iya.” Jawab Zeta. “Oh? Itu Kak Galaksi. Aku duluan ya?” pamit Zeta begitu netranya menangkap sosok Galaksi yang tengah berjalan menuju tempat parkir.
Zeta segera menghampiri cowok itu, sedangkan anak laki- laki itu hanya memandang kepergian Zeta.
“Gagal lagi gue.” Gumam anak itu dan melajukan motornya keluar dari area sekolah.
__ADS_1
🪐🪐🪐🪐🪐
Zeta masih asyik memilih novel- novel yang akan dibelinya, sementara Galaksi memisahkan diri. Cowok itu memilih untuk berada di rak yang penuh dengan DVD player, ia mendengarkan beberapa musik.
“Kak, aku udah…” ucapan Zeta terhenti ketika memperhatikan Galaksi yang tengah serius mendengarkan musik menggunakan headphone.
Tidak mau melewatkan kesempatan, Zeta mengambil ponselnya dan segera membuka aplikasi kamera. Lalu diarahkan pada Galaksi yang belum menyadari keberadaan Zeta yang tengah membidiknya dengan kamera ponsel. Setelah puas dengan semua hasil fotonya, Zeta menepuk pundak Galaksi.
“Kak, aku udah beli bukunya.”
“Oh? Ayo balik.”
“Kak Galaksi nggak mau selesain denger musiknya?”
“Nggak. Ayo!”
Zeta mengangguk dan mengikuti langkah Galaksi yang sudah berjalan didepannya. Beruntung Zeta diizinkan pulang agak sore oleh Pak Wijoyo.
“Mau makan dulu, Kak?”
“Lo laper?”
“Iya.”
“Tapi gue nggak.”
Seketika Zeta cemberut. “Hah, ya udah pulang aja.”
“Dasar, ngambekan!” ucap Galaksi menjitak pelan kepala Zeta dan berjalan mendahului gadis itu.
Senyum Zeta kembali terbit ketika Galaksi mau menemaninya makan. Kini dihadapan mereka ada beberapa makanan dan minuman yang telah dipesan. Sedaritadi Zeta tidak berhenti bercerita. Apapun Zeta ceritakan pada Galaksi, gadis itu tidak peduli apakah Galaksi mendengarkan atau tidak.
“Kenapa lo masih deket- deket Bima?” tanya Galaksi menyedot minumannya.
“Hmm? Oh tadi Kak Bima cuma kasih ini, buat anak fotografer.” Jawab Zeta menunjukkan selebaran dari Bima tadi.
“Puncak?”
“Iya, rencananya anak baru ekskul fotografer dilantik di Puncak. Sekalian cari spot foto buat acara pensi nanti.”
“Kak, makasih ya udah mau temenin aku. Berarti ini kencan kedua kita ya?” tanya Zeta tersenyum.
Pertanyaan Zeta barusan seketika melunturkan senyum Galaksi, serta mood Galaksi.
🪐🪐🪐🪐🪐
Suara hingar bingar terdengar ke seluruh ruangan, musik yang disetel kencang membuat telinga siapa saja akan sakit. Gedoran terdengar dari luar ruangan itu, tapi yang didalam tampak tidak peduli. Suara gedoran itu masih terdengar sahut menyahut dengan alunan musik rock.
“Lo pikir lo doang yang punya kuping, hah?!” teriak seseorang dari luar. “Matiin nggak musik laknat itu?!” lanjutnya masih berteriak disertai gedoran- gedoran pintu.
Namun tetap hening, sang pemilik kamar diam tidak menyahut. Akhirnya suara gedoran pintu sudah tak dengar lagi, digantikan suara debaman pintu depan yang ditutup kasar. Keadaan kamar yang sudah seperti kapal pecah, akibat korban keganasannya tadi. Ponsel yang ada didekatnya begetar.
“Halo?”
“Lo dimana? Ribut banget.”
“Ngapain lo telpon gue?” tanya anak itu malas.
“Lo clubbing ya? Gue sama Leo OTW rumah lo.”
“Ckck.”
Anak itu melempar ponselnya asal. Dia melentangkan badannya dan menatap langit- langit kamarnya.
Gedoran pintu kembali terdengar kembali, tapi anak itu tak berniat untuk beranjak dari posisinya. Terlihat dari luar langit sudah gelap. Sejak tadi pulang dia tak beranjak dari tempatnya ia tetap pada posisinya. Tentu tak ketinggalan lagu ber- genre rock yang sejak tadi mengalun membahana ke seluruh rumah.
“Oi, Galaksi! Lo ngapain didalem? Rumah lo sepi… eh, nggak deng.” Teriak Leo dari luar kamar. “Keluar lo, ****!” lanjutnya.
“Lo kek perawan, ngurung diri didalem kamar. Dih, najis.” Ledek Virgo.
CKLEK!
BUKK!
__ADS_1
Tanpa diduga, Galaksi keluar kamar dan langsung memberikan bogem mentahnya pada dua orang tak berdosa didepannya. Dua orang itu langsung jatuh tersungkur. Galaksi tak memperdulikan Leo dan Virgo yang memegang pipi masing- masing, ia berjalan menuju dapur untuk mengambil minum dan makan.
“Gila! Lo kenapa sih?” tanya Virgo mencomot apel di meja makan.
Sementara Leo mencari kotak obat untuk mengobati hasil karya Galaksi diwajahnya. Ia bergabung dengan Galaksi dan Virgo setelah selesai dengan wajahnya.
Galaksi masih belum membuka mulutnya, ia sibuk mengunyah makanannya. Penampilan Galaksi sangat acak- acakan, bahkan dirinya masih mengenakan seragam sekolah yang sudah tak berbentuk lagi.
“Yee, nih bocah ditanyain malah diem.” Kata Virgo dan berjalan menuju ruang keluarga untuk bermain PS.
🪐🪐🪐🪐🪐
Galaksi menghembuskan asap rokok dari mulutnya, dia berdiri di balkon kamarnya menatap kosong langit yang gelap. Galaksi kembali terkekeh mengingat pertanyaan Zeta di foodcourt tadi.
“Hahaha, kencan kedua katanya?”
“Pa! Ada bau asap dikamar Kak Galak!” teriak Langit dari kamarnya yang berada persis disebelah kamar Galaksi.
Galaksi terlonjak kaget dan seketika tersedak, menyebabkan dirinya terbatuk- batuk. Tak lama kemudian terdengar suara berat Pak Yoga menggedor pintu kamar Galaksi.
“Galaksi! Kamu ngapain didalam?!”
Galaksi masih berusaha meredakan batuknya, tadi dirinya secepat kilat mematikan rokoknya. Beruntung pintu yang menghubungkan kamarnya tidak terbuka, sehingga asap rokoknya tidak masuk ke dalam kamar.
“Galaksi! Kamu nggak ngerokok lagi, kan?” Pak Yoga masih setia berdiri didepan pintu kamar anak sulungnya itu. “Papa masuk ya?”
“Mampus.” Gumam Galaksi dan langsung lari ke kamar mandi.
“Galaksi?”
“I… iya, Pa? Galaksi di kamar mandi.” Jawab Galaksi meniru orang yang sedang kebelet.
Pak Yoga menghembuskan nafas pasrahnya dengan berkacak pinggang. “Nanti turun ya? Kita makan sama- sama.”
“I…”
“Papa nanti mau ngomong sesuatu sama kamu.”
Galaksi duduk di ruang kerja Pak Yoga. Entah apa yang akan dibicarakan Papanya saat ini. Beberapa hari ini Galaksi tidak melihat keberadaan Bu Nisa. Sepertinya Mamanya itu sedang berada di luar kota dalam beberapa hari untuk mengurus bisnisnya.
“Papa mau ngomong apa?”
“Kata Mama, kamu kasar sama Yura?”
Galaksi mendengus. “Dasar tukang ngadu.”
“Ga, Papa nggak pernah ajarin kamu kasar sama perempuan. Kamu udah minta maaf?”
“Iya, Galaksi bakal minta maaf. Tapi janji, jangan pernah jodoh- jodohin Galaksi lagi. Galaksi udah punya pacar, Pa.”
Pak Yoga mengangguk paham dan menyuruh putra sulungnya itu untuk kembali ke kamar. Galaksi menurut dan segera menuju kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di kasur. Ponselnya berdering sebentar, tanda ada notifikasi chat. Dibukanya chat itu yang ternyata dari Zeta.
*From: Zeti
‘Kak Galaksi.’
To: Zeti
‘Apa?’
From: Zeti
‘Cuma mau chat sebelum tidur, wkwk.’
To: Zeti
‘Dasar aneh*.’
Namun chat singkat itu mampu membuat senyum Galaksi terbit. Kekehan muncul dari mulut Galaksi sebelum cowok itu memejamkan matanya.
Untuk Wawasan:
Spica adalah bintang yang paling terang pada rasi bintang Virgo, dan bintang terterang ke-15 yang terlihat pada malam hari.
By. Wikipedia
__ADS_1