
Meli sudah kembali masuk sekolah dan pagi tadi dirinya diantar Papinya. Zeta yang melihat Meli kembali bersekolah bersorak senang. Mereka berjalan bersama menuju kelas. Suasana koridor sudah ramai dengan anak- anak yang hendak masuk kelas.
“Kak Meli udah masuk sekolah?” tanya Rian ketika Meli dan Zeta hendak lewat kelasnya.
Rian sedang bersama teman- temannya di depan kelas. Mereka berdua pun menghentikan langkahnya dan mengobrol sebentar.
“Iya, di rumah terus juga bosan. Nggak tahu mau apa.”
“Ze, kok belum masuk kelas?” tanya seseorang yang tiba- tiba berdiri di depan Zeta.
“Eh? Kak Galaksi? Iya, tadi ngobrol dulu sama Rian.”
“Masuk sekarang yuk? Aku antar.”
Galaksi langsung menjauhkan Zeta dari sana. Sementara Zeta hanya pasrah ketika Galaksi merangkulnya erat.
“Mereka aneh ya?”
“Emang gitu mereka,” jawab Meli mengangkat bahu.
Meli dan Rian masih asyik mengobrol di depan kelas Rian. Sesekali Meli tertawa mendengar cerita konyol Rian.
“Ayo masuk kelas, sebentar lagi bel,” serobot Leo menggenggam tangan Meli dan menggiringnya untuk pergi darisana.
“Eh? Kak Leo?” kaget Meli dan memperhatikan tangan kanannya yang digenggam erat Leo, entah mengapa ada perasaan hangat yang menjalar. Tanpa sadar pun Meli menyentuh dahinya untuk mengecek suhu tubuhnya.
“Kenapa? Kamu masih demam?” tanya Leo khawatir dan ikut menyentuh dahi Meli untuk mengecek suhu tubuh gadis itu.
“Hmm, nggak kok. Tapi rasanya aneh.”
“Ke UKS aja ya?”
...🍨🍨🍨...
Leo masih menatap Meli khawatir, tadi dirinya memaksa Meli agar beristirahat di UKS dan Leo dengan senang hati menemani Meli. Namun Meli juga berusaha menolak. Tapi tak bisa dibohongi Meli juga senang melihat ekspresi Leo yang mencemaskannya.
“Udah, Kak. Gue beneran udah sembuh. Ke kelas ya?” pinta Meli memelas, “Kak Leo juga harus ke kelas, sebentar lagi ujian, kan?”
“Nggak, Mel. Kamu masih kelihatan pucat, harusnya tadi nggak usah masuk dulu. Pulang aja ya? Aku antar.”
Mendengar ucapan Leo, membuat Meli kembali menghangat. Bahkan sepertinya wajahnya juga ikut memerah. Meli mengerjap dan menangkup pipinya, ia merasa seperti sedang berada di sebuah adegan dalam drama yang sering ditontonnya.
“Kak Meli! Kakak masih sakit?” tanya seseorang menyeruak masuk ke dalam UKS dan menghampiri bilik milik Meli, “Kata Kak Zeta, kakak sakit,” lanjutnya.
“Rian? Kok kamu disini?”
__ADS_1
“Dari kantin aku, Kak. Oh ya aku beli roti buat Kak Meli.”
Rian menyodorkan roti pada Meli, tapi belum sempat Meli mengambil roti itu Leo sudah lebih dulu merebutnya.
“Nanti Meli makan, udah sana lo balik ke kelas,” ucap Leo menatap tajam Rian.
“Tapi Kak…”
“Apalagi!”
“Ng… nggak, Kak. Kak Meli aku ke kelas dulu ya? Cepet sembuh, Kak.”
Meli menahan nafas mendengar bentakan Leo pada Rian tadi, dirinya terkejut mendengar bentakan itu. Sudah lama ia tidak mendengar Leo membentak dengan tatapan tajam. Saking terkejutnya, ia tidak merespon Rian yang tadi pamit padanya. Tiba- tiba Meli teringat kembali ketika dirinya membuat kesalahan dengan menumpahkan minuman pada tugas Leo.
“Mel… Meli,” panggil Leo dengan mengibaskan tangannya didepan wajah Meli, karena Meli tidak merespon.
“Ah iya, Kak?” tanya Meli terkesiap. Leo menyodorkan roti yang telah dipotong menjadi ukuran kecil dan mengarahkan pada mulut Meli, tapi Meli masih bungkam, “Kak, gue bi…”
“Aku.”
“Huh?”
Leo menghembuskan nafasnya. “Mulai sekarang jangan Lo- Gue, tapi Aku- Kamu. Oke?”
“Aku cemburu.”
“Hah? Cemburu?”
“Iya! Kamu ngomong sama bocah itu pake Aku- Kamu, tapi sama aku pake Lo- Gue.”
“Tapi kan itu…”
“Nggak ada tapi- tapian, pokoknya kita harus pake Aku- Kamu. Oke?” ucap Leo, “Buka mulutnya! Makan rotinya,” lanjutnya menyodorkan sepotong roti itu.
“Hmm, Kak. Gue…”
“Aku.”
“Ah ya, aku mau ke toilet. Habis ini mau ke kelas, aku udah sembuh. Kak Leo ke kelas aja. Oh iya, rotinya aku bawa. Makasih, Kak,” kata Meli cepat dan segera lari keluar dari UKS sebelum Leo menjawab perkataannya.
Berkali- kali Meli membasuh wajahnya yang terasa panas, entah mengapa perkataan Leo serta tindakan Leo tadi terus terngiang di kepalanya. Bahkan kini jantungnya berdebar kencang, juga ada gelitikan aneh diperutnya yang membuat tanpa sadar menerbitkan senyum manis Meli. Namun Meli seketika menyadarkan dirinya, ditepuk kedua pipinya.
“Sadar, Mel. Lo nggak boleh kayak gini! Pastiin dulu kenapa Kak Leo baik sama lo. Jangan gampang baper!” ucap Meli menyemangati diri.
Setelah merasa siap, Meli keluar dari toilet dengan hati- hati. Ia berharap tidak bertemu dengan Leo. Sepertinya Meli harus menghindar dulu dari Leo untuk memastikan semua yang dirasakannya tadi.
__ADS_1
“Loh Meli? Udah sembuh?” tanya Zeta yang melihat Meli masuk kelas begitu bel masuk baru saja berbunyi.
“Iya,” jawab Meli singkat.
“Kamu kenapa, Mel?”
“Ah ya! Gue mau cerita sama lo nanti,” jawab Meli langsung menoleh pada Zeta dan membuat gadis itu terkejut.
Disinilah Meli dan Zeta berada, mereka duduk di rooftop sepulang sekolah. Beruntung anak- anak kelas tiga sedang ada pemadatan materi guna ujian yang tinggal menghitung bulan. Meli menceritakan semua pada Zeta dengan menggebu- gebu, sementara Zeta mendengarkan dengan senyum tertahan.
“Kok ekspresi lo kayak gitu?” tanya Meli memicing.
“Nggak, aku cuma heran. Kak Leo beneran gitu?”
“Iya, kan. Gue juga nggak percaya Kak Leo bisa ngomong lembut gitu, apalagi akhir- akhir ini dia aneh. Jadi baik banget pokoknya.”
“Padahal kalo kumpul sama Kak Galaksi, dia masih datar aja ekspresinya. Kadang nyeleneh juga, tapi kan memang sifat dia gitu kalo bareng sahabatnya.”
“Hmm, makanya. Gue mau hindarin Kak Leo dulu.”
“Kenapa?”
“Cuma mau pastiin aja.”
Suasana sekolah sudah sepi, hanya tinggal anak- anak kelas tiga dan beberapa anak yang sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Meli dan Zeta berjalan bersama dari rooftop. Meli sudah sangat lega karena menceritakan semuanya pada Zeta. Ternyata berbagi masalah dengan sahabat dapat mengurangi sedikit beban.
“Lo masih mau tunggu Kak Galaksi?”
“Iya, Kak Galaksi suruh aku nunggu dia selesai.”
“Hmm, oke. Gue balik dulu ya? Bye!”
“Bye, hati- hati di jalan ya?”
Meli melambaikan tangannya dan berjalan menuju gerbang, disana sudah menunggu sang supir. Namun langkah Meli terhenti melihat pintu mobilnya terbuka dan tidak lama turun seseorang.
“Mami!” panggil Meli heboh.
Sementara sang Mami tersenyum melihat tingkah putri satu- satunya itu, beliau mengajak Meli segera masuk mobil. Bu Zahra hendak mengajak Meli ke suatu tempat. Sementara Meli benar- benar merasa dunianya sangat berubah dengan melihat Bu Zahra menjemputnya ke sekolah. Maminya benar- benar memutuskan untuk berhenti menjadi sekretaris Pak Arkan – Papinya –, dan Pak Arkan kini mendapat sekretaris baru rekomendasi dari Bu Zahra.
...🍨🍨🍨...
Jangan lupa tinggalkan jejak zeyeng 😗😗😗
__ADS_1