Halaktyka

Halaktyka
Beta Vir


__ADS_3

Seorang gadis berhodie biru muda tengah berjalan seorang diri. Dirinya baru saja pulang dari les. Langkahnya ringan dan terkadang bersenandung. Namun senandungnya berhenti ketika ponselnya berbunyi. Ia melihat layar ponselnya dan segera menjawab panggilan itu.


“Halo?”


“…”


“Boleh, cerita aja. Kak Galaksi lagi pasti.”


“…”


“Tau lah, udah biasa.” tanya gadis itu mengulum senyum.


“…”


“Serius Kak Galaksi ngomong gitu? Emang ya orang yang lagi jatuh cinta beda.” Ucap Meli heboh.


“Ya ampun, Meli! Ngagetin aja. Untung nggak pecah ini.” Ucap seseorang membuat gadis itu memperhatikan sekitarnya.


“Ups, maaf Kak.” Jawab Meli merasa bersalah kepada seseorang yang sedang menata telur.


“…”


“Eh? Nggak apa- apa kok. Yah, ya udah deh lanjut besok ya?”


“…”


“Bye.”


“Lo jatuh cinta sama siapa?!”


“Allahuakbar! Kak Hasan! Sejak kapan lo dibelakang gue?”


“Nggak usah ngalihin lo!”


“Temen gue itu Kak, dia curhat sama gue.”


“Awas lo berani suka sama cowok lain selain gue!”


“Tenang aja, nggak dong. Gue tetep suka sama Oppa.”


“Bubar lo berdua! Lo juga Mel, bukannya langsung pulang.” serobot Rosa. “Noh, ada yang mau bayar.” Lanjutnya pada Hasan.


“Gue mau numpang wifi, Kak.” Jawab Meli cengengesan.


Meli memang sering datang ke minimarket dekat rumahnya ini. Awalnya dia hanya sering membeli es krim di minimarket ini, Meli adalah pecinta es krim. Dimanapun dan kapanpun Meli akan memakan es krim. Meli menjadi lebih rajin datang ke minimarket ini ketika ada karyawan baru yang wajahnya mirip dengan bias Meli. Secara blak- blakan Meli mengatakan jika dirinya menyukai karyawan itu. Tentu membuat Rosa langsung menonyor kepala Meli saat itu. Namanya Hasan, tinggi, putih, dan punya wajah imut, usianya 20 tahun. Hasan- lah yang mmebuat Meli selalu datang berkunjung ke minimarket ini.

__ADS_1


“Weh, idola gue siaran live.” Gumam Meli memakan es krimnya.


“Habis ini langsung pulang lo! Awas kalo lo bikin ribut toko!” kata Rosa.


“Nanti gue antar pulangnya!” tambah Hasan.


Meli tidak menggubris kedua orang itu, dia hanya mengangguk- anggukkan kepalanya. Matanya terus mengarah ke ponselnya. Ia memilih duduk didepan minimarket.


Meli terlihat sangat kusyu’ menonton siaran itu, dia tak peduli dengan orang- orang yang menatapnya aneh. Salah satu dirinya suka datang ke ‘JuliMart’ adalah wifi gratis. Terkadang Meli tertawa melihat tingkah konyol para bias- nya, padahal dirinya juga tidak paham apa yang sedang mereka bicarakan.


“Emjeh Oppa, konyol banget sih?” gumamnya.


“Unwu juga masih tetep gans.”


“Hasan Oppa imut sekali.”


“Apa lo sebut- sebut nama gue?” tanya sebuah suara, membuat Meli yang tadi menjerit- jerit tidak jelas menoleh.


“Bukan lo, Bang!”


Hasan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Meli yang unik. Dia kembali masuk setelah tadi membuang sampah.


“Yah, udah habis.” Ucap Meli sedih karena siaran itu telah selesai.


“Lo masih disini?” tanya Rosa yang sedang menata snack.


“Habis ini pulang, Kak. Mau beli es krim lagi.”


“Tiap hari lo beli es mulu, nggak meler tuh idung?” tanya Rosa heran.


Di kasir Meli disambut Hasan yang sedang melayani seorang pembeli. Meli berdiri dibelakang pembeli itu untuk ikut antre. Seorang cowok dengan jaket hitam. Meli membandingkan tingginya dengan cowok didepannya ini. Cowok itu sangat tinggi, tinggi Meli hanya sampai bahu cowok itu.


“Le! Lama amat lo!” interupsi sebuah suara dari pintu masuk.


“Bentar lagi. Mas udah selesai belom?”


“Totalnya 80.000, Mas.”


Meli benar- benar syok setelah tahu siapa cowok yang berdiri didepannya ini, apalagi melihat cowok yang lain tengah berdiri di pintu masuk. Beruntung dirinya memakai tudung hodie- nya, sehingga mereka tidak mengenalinya. Kedua cowok itu keluar dari minimarket membuat Meli menghela nafas.


“Nih, Bang. Cepet itungin semua.” Ucap Meli masih tak berani menatap keluar.


“Kenape lo?” tanya Hasan heran.


“Udah deh nggak usah banyak ta…”

__ADS_1


“Mas beli itu satu, lupa tadi.”


Meli menelan ludahnya saat tahu cowok tadi kembali masuk minimarket dan kini berdiri tepat disebelahnya.


“Maaf, Mas. Antre dulu.” Kata Hasan dengan senyuman.


“Ahelah, Mas. Cuma satu doang.”


“Tetap ha…”


“Nggak apa- apa. Kakak duluan aja.” Kata Meli mempersilakan cowok itu, tapi dirinya masih menunduk.


Entah sudah berapa kali Meli menghembuskan nafasnya dengan sesekali melirik keluar dimana kedua cowok itu belum juga pergi darisana. Sementara Hasan masih menghitung semua belanjaan Meli dengan ikut melihat apa yang dilihat Meli.


“Lo kenal mereka?” tanya Hasan.


“Mereka senior gue di sekolah. Ganteng- ganteng tapi…”


“Gebetan lo ya?! Ngaku nggak… hmmph…”


Meli langsung membekap mulut Hasan yang seenaknya berteriak, membuat orang- orang di dalam bahkan yang diluar memperhatikan mereka. Termasuk dua cowok itu, mereka ikut menoleh ke dalam.


“Jadi orang mulutnya toa banget. Udah belom itu belanjaan gue?”


Hasan mendengus kesal dan menyerahkan belanjaan Meli. Meli menerima kantong plastik itu dengan curi- curi pandang kepada dua orang yang setia berdiri didepan minimarket.


“Kenapa nggak pergi- pergi sih?” gumam Meli.


“Lo kenapa sih? Kayak ketakutan gitu?”


“Iya, soalnya gue pernah nggak sengaja numpahin minuman ke tugas makalah dia. Dia langsung marahin gue habis- habisan.” Curhat Meli dengan wajah cemberut.


“Bang Hasan yang imut, boleh ya hari ini gue lewat belakang?” pinta Meli dengan puppy eye- nya.


“Dasar, muji kalo ada maunya. Gue anter ya?”


“Nggak usah, nanti Mbak Rosa marah.”


Meli segera keluar lewat pintu belakang minimarket, dia berjalan mengendap- endap seperti seorang pencuri. Setelah dirasa aman, ia bergegas berjalan lebih cepat agar sampai rumah. Meli tidak mau kembali diomeli Bibi, karena pulang terlambat.


Untuk Wawasan:


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris- Beta Virginis, secara resmi bernama Zavijana, adalah bintang paling terang kelima di rasi bintang Virgo.


By. Wikipedia

__ADS_1


__ADS_2