Halaktyka

Halaktyka
Meli Sakit


__ADS_3

Baru kali ini Meli terbaring di ranjang UKS, berawal ketika tadi sedang pelajaran di kelas. Meli pingsan dan segera dilarikan ke UKS. Namun kini dirinya sudah bangun dan mengernyit bingung ketika tidak berada di kelas lagi.


“Mel, kamu udah bangun?” tanya Zeta.


“Kok lo disini? Gue udah nggak apa- apa, kok. Ayo balik ke kelas.”


“Nggak kamu tetep di sini, ini masih istirahat kok. Aku tau kamu lagi nggak enak badan, istirahat aja dulu disini,” kata Zeta menahan Meli ketika hendak bangun, “Kamu mau nitip apa? Aku mau ke kantin.”


“Es krim mochi rasa durian yang harga 2000- an,” jawab Meli.


“Serius, Mel. Kamu kayak gini masih mau makan es krim? Nggak, aku beliin roti sama susu. Kamu tunggu di sini.”


Zeta langsung pergi sebelum Meli sempat menjawab. Meli juga sudah tak menggubris perkataan Zeta barusan, kepalanya tiba- tiba pening. Baru saja Meli memejamkan mata, ia merasa jika ada yang sedang menyentuh dahinya. Tentu spontan Meli membuka matanya ketika merasakan tangan dingin itu menyentuh dahinya.


“K… kak Leo?” tanya Meli serak.


“Kamu sakit? Ini minum obat dulu,” tanya Leo terlihat khawatir melihat wajah pucat Meli.


Leo menyodorkan roti yang tadi dimintanya dari Zeta yang hendak kembali ke UKS. Meli sempat menolak, tapi Leo terus memaksa Meli agar memakan roti itu untuk ganjalan sebelum minum obat. Akhirnya Meli hanya menuruti kemauan Leo, ia terlalu lemas untuk berdebat sekarang.


Meli tertidur setelah minum obat dan disampingnya Leo masih menunggunya. Masa bodoh dengan pelajaran dan persiapan untuk ujian, toh dirinya tidak akan bisa konsentrasi di kelas. Apalagi Galaksi yang sejak pagi tadi selalu membuat keributan di kelas bersama Virgo.


...🍨🍨🍨...


Meli mengerjapkan mata untuk membiasakan cahaya yang masuk. Ia masih berada di UKS, lalu matanya beralih pada Leo yang ternyata masih menunggunya.


“Kok Kak Leo masih di sini?”


“Kamu udah bangun? Masih pusing?”


“Udah mendingan, Kak. Gue mau balik ke kelas aja.”


“Nggak boleh, kamu disini aja sampai pulang. Atau mau izin pulang?” tanya Leo, “Nanti aku antar pulang.”


“Nanti gue di jemput supir. Kak Leo balik ke kelas aja.”


Sebenarnya Meli sedikit aneh dengan Leo yang tiba- tiba berubah kalem. Apalagi ketika Lo- Gue berubah menjadi Aku- Kamu, terdengar aneh di telinga Meli. Tak lama terdengar dering bel yang menandakan waktu pulang. Ternyata Meli tidak mengikuti tiga mapel dan menghabiskan waktunya di UKS.


“Udah bel pulang, gue ke kelas dulu,” pamit Meli yang kini gugup karena sedaritadi Leo terus memperhatikannya.


“Aku antar ke kelas ya?” itu bukan sebuah pertanyaan tapi pernyataan. Tentu Meli tidak bisa membantah pernyataan itu.

__ADS_1


Pak Kur sudah menunggu Meli di depan gerbang sekolah. Meli pun segera bergegas masuk mobil. Sampai di kelas tadi, Meli tidak menemukan keberadaan Zeta yang entah kemana. Hanya ada beberapa anak yang masih piket tadi.


“Mbak Meli sakit?” tanya Pak Kur yang melihat Meli terlihat pucat dan lesu.


“Nggak kok, Pak. Ayo, Pak! Nanti mampir ke Bang Erwin dulu ya?”


“U… uhm, iya Mbak.”


Mobil itu berjalan meninggalkan sekolah, selama perjalanan Meli kembali memejamkan mata. Tak lama mereka sampai di sebuah tempat yang terlihat sangat sepi. Hanya ada Meli dan Pak Kur.


“Sudah sampai, Mbak.”


“Iya. Pak Kur tunggu di sini ya?”


Meli berjalan melewati gundukan- gundukan tanah yang ditumbuhi rumput hijau. Meli mengedarkan pandangan dan menatapnya sendu. Meli berhenti di sebuah gundukan yang berada di bawah sebuah pohon kamboja yang bunganya sedang bermekaran. Meli bersimpuh disana, air mata juga sudah menggenang.


“B… bang Erwin apa kabar?” tanya Meli, “Bang Erwin sudah bahagia? Meli di sini nggak bahagia, Bang. Papi sama Mami sibuk terus semenjak Abang pergi.”


Satu persatu air mata lolos mengalir dikedua pipi Meli, “Meli pengen ikut Bang Erwin. Meli nggak mau kesepian di rumah sendiri.”


“Mungkin kalo Bang Erwin masih bisa sama kita, Papi… Mami nggak akan terus- terusan pergi. Bang Erwin tau Putri kan? Anak Bibi, dia kemarin kecelakaan dan sekarang masih koma di rumah sakit. Putri beruntung karena punya Mami yang sayang sama dia….”


Satu jam lebih Meli bertahan dengan bersimpuh di samping makam kakaknya yang telah pergi tiga tahun lalu akibat kecelakaan yang merenggut nyawanya. Semenjak itulah atmosfir dalam keluarganya menjadi dingin. Kedua orang tua Meli berusaha menyibukkan diri agar sedikit melupakan hari kelam itu.


Namun tanpa mereka sadari ada orang lain juga yang merasa kesakitan dan kesepian. Meli mengusap wajahnya yang tadi penuh dengan air mata, matanya sudah sembab dan wajahnya bertambah pucat. Meli memutuskan untuk pulang ke rumah, ia beranjak darisana.


“Lho, Meli?” tanya seseorang.


Meli mendongak, tapi dahinya berkerut karena ia tidak bisa melihat jelas wajah orang itu. Pandangannya semakin mengabur dan akhirnya kegelapan- lah yang menyapanya.


“Mel… Meli?” ucap orang itu menepuk pipi Meli pelan.


“Ada apa Ze?”


“Ini, Kak. Meli pingsan, badannya panas banget.”


“Ya udah bawa ke mobil, kita ke rumah sakit.”


Zeta hanya menurut dan Vernon membantu menggendong tubuh Meli menuju ke mobil. Mereka berdua segera keluar dari makam.


Zeta melihat Pak Kur yang sedang duduk disamping mobil yang kemungkinan sedang menunggu Meli. Zeta segera mengajak Vernon untuk menghampiri pria paruh baya itu.

__ADS_1


“Bapak supir Meli, kan?” tanya Zeta.


“Iya betul, ada apa ya?”


“Ini, Pak. Meli tadi tiba- tiba pingsan dan sekarang badannya panas.”


“Ya Allah, Mbak Meli. Ayo langsung masukkan ke mobil.”


Vernon segera membaringkan Meli di dalam mobil dan menyuruh Zeta untuk ikut mobil Meli. Sementara dirinya mengikuti dari belakang.


Sesampainya di rumah sakit, Meli segera ditangani petugas medis di UGD. Sementara Pak Kur tengah menghubungi keluarga Meli.


“Sebenarnya Meli ada masalah apa?” gumam Zeta.


“Meli itu teman sekelas kamu, kan?”


“Iya, Kak. Akhir- akhir ini dia nggak seperti biasanya, Meli lebih pendiam dan selalu menyibukkan diri dengan buku- buku.”


Tak lama seorang wanita dengan blazer putih datang tergopoh- gopoh menghampiri Zeta, Vernon, dan Pak Kur.


“Meli kenapa?” tanya nya langsung.


“Mbak Meli tiba- tiba pingsan dan demam tinggi, Bu,” jawab Pak Kur.


“Ya sudah biar aku urus, tapi Pak Kur nggak telpon Mama kan?”


“Saya belum telpon Nyonya.”


“Syukur deh, biar nanti aku yang kabari. Dan kalian?”


“Ah, saya Zeta ini kakak saya. Saya teman Meli.”


“Oh ya, terima kasih ya? Meli pasti buat kamu khawatir.”


“Sama- sama, tante. Kalau begitu kami pamit dulu, nanti saya akan jenguk Meli lagi.”


...🍨🍨🍨...


Jangan lupa tinggalkan jejak readers tercintahku 😗😗😗


__ADS_1


__ADS_2