
Suara hiruk pikuk terdengar di kesunyian malam ini. Banyak orang berkumpul di tempat ini. Sebuah jalan ramai pada siang hari dan sepi di malam hari. Namun malam ini sangat ramai, banyak motor yang terparkir dan orang- orang tengah tertawa terbahak.
“Ngapain lo nyuruh gue kesini?” tanya Leo.
“Kenapa muka lo bonyok gitu?” kali Virgo yang bertanya.
“Galaksi! Lo kenapa sih?”
“Ditonjok gue sama sepupunya Zeta.” Jawab Galaksi terkekeh.
“Hah?”
“Gue ke café sama Yura, kebetulan disitu ada Zeta sama sepupunya.” Jelas Galaksi. “Argh, bisa gila gue!”
Leo menepuk pundak Galaksi. “ Lo yang mulai duluan, Ga.”
“Gue nggak tau bakal gini jadinya!” bentak Galaksi frustasi.
Galaksi bangkit dari duduknya dan segera memakai helmnya, ia menuju arena balap liar. Mencoba untuk menghilangkan stresnya saat ini dengan ikut balapan malam ini.
🪐🪐🪐🪐🪐
Leo memberhentikan motornya didepan sebuah apotek yang buka 24 jam dan masuk ke dalam. Ia kembali keluar dengan kantong plastik putih dengan perban dan obat merah didalamnya. Leo menstarter motornya dan bersiap untuk pergi dari sana, tapi pandangannya terhenti pada seorang gadis yang sedang duduk di depan minimarket dengan kantong plastik berukuran sedang. Sedangkan gadis itu tengah asyik menikmati es krim. Leo melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Jarum jamnya menunjukkan angka 11 yang artinya sebuah hal langka seorang gadis keluar seorang diri.
“Bukan urusan gue.” gumam Leo dan segera pergi dari sana.
Namun baru beberapa meter Leo menghentikan laju motornya dan kembali menoleh kearah gadis itu yang kini berjalan menjauh dari minimarket itu, tentu dengan membawa kantong plastik dan asyik menikmati es krimnya.
“Temennya Zeta?” gumam Leo masih memperhatikan gadis itu yang kini masuk kawasan perumahan.
Setelah gadis itu menghilang dari pandangannya, barulah ia melajukan motornya untuk kembali ke tempat Galaksi dan Virgo.
Sesampainya Leo, ia langsung dihadiahi mulut cerewet Virgo. Sementara Galaksi diam menunduk, tangannya meremas ponselnya kuat. Galaksi baru saja menyelesaikan balapannya dan ia ternyata kalah.
“Lo kemana aja sih? Lama banget, keburu berjamur tuh lukanya Galaksi.” Cerocos Virgo.
“Bacot lo!” balas Leo melempar kantong plastik itu pada Virgo.
Virgo mendengus kesal dan memberikan kantong plastik itu pada Galaksi. Galaksi tidak menerima kantong plastik itu. Cowok itu bangkit dan tanpa sepatah katapun menggas motornya meninggalkan tempat itu.
“Ga! Mau kemana lo?!” teriak Virgo hendak menyusul.
“Udahlah, biarin dulu dia! Mau ikutan bonyok lo?” tahan Leo.
__ADS_1
Mereka berdua hanya memandang kepergian Galaksi. Lalu Leo dan Virgo juga memutuskan pergi darisana, tidak asik jika tanpa Galaksi. Mereka paham jika saat ini Galaksi sedang dalam mood yang jelek dan siapa pun tidak akan bisa mengusiknya.
🪐🪐🪐🪐🪐
Galaksi membanting tubuhnya diatas kasur dan dirinya menatap langit- langit. Terngiang kembali kejadian yang menimpanya seharian ini. Galaksi memijat pelipisnya ketika teringat hari- harinya yang kelam.
“Apa gue udah keterlaluan?” Gumam Galaksi memejamkan matanya menikmati rasa sakit yang berdenyut dikepalanya.
“Nggak nyangka kini gue kena batunya.”
Galaksi kembali membuka matanya dan meraih sebuah amplop yang tersimpan rapi di laci ranjangnya. Ia membuka amplop itu dan kembali membaca kertas didalam amplop itu. Dirinya tak menyangka kini tejebak dengan gadis polos seperti Zeta. Galaksi mentertawakan dirinya yang amat bodoh saat ini. Namun tawanya terhenti ketika mengingat kebersamaan mereka di Dufan beberapa hari yang lalu.
“Yakin lo bisa buat gue jatuh cinta sama lo?” tanya Galaksi menatap surat itu.
“Zeta Orionis Wijoyo.”
🪐🪐🪐🪐🪐
“Bisa ikut gue sebentar?”
Zeta berjalan mengikuti anak itu menuju kantin. Ia merasa bersalah ketika melihat ujung bibir anak itu diplester dan pipinya membiru. Hanya ada beberapa anak di kantin, karena hari masih pagi.
“Kak Galaksi mau ngomong apa?” tanya Zeta akhirnya, karena sedaritadi mereka berdua hanya diam. “Ah ya, tadi malam maaf ya Kak?”
“Kenapa lo minta maaf?”
“Kak Sion pukul Kak Galaksi.”
“Hmm, wajar dia marah.”
Zeta mengangguk. “Oh ya, Zeta bakal turutin kata Kak Galaksi. Zeta nggak boleh deket- deket Kak Galaksi, kan?”
Raut wajah Galaksi berubah mendengar ucapan Zeta. Lalu ia terkekeh, merasa kembali bodoh. Mengapa ia percaya saja ketika Zeta mengatakan jika gadis itu menyukainya?
“Jadi cuma segini usaha lo? Mana ambisi lo yang mau buat gue juga bisa suka sama lo?”
“Maaf, Kak. Zeta memang suka Kak Galaksi, tapi ternyata kakak udah punya pacar. Zeta nggak mau rusak hubungan Kak Galaksi.”
Zeta mengaduh ketika Galaksi tiba- tiba memukul keningnya. “Kok Kak Galaksi mukul aku?”
__ADS_1
“Makanya jangan sok tau! Dia bukan pacar gue.”
“Serius Kak?!” tanya Zeta berbinar. Sedangkan Galaksi hanya terkekeh pelan.
🪐🪐🪐🪐🪐
Zeta tengah mengutak- atik kameranya, hari ini jadwalnya untuk ekskul fotografi. Anak- anak lain juga sudah berkumpul. Hari ini mereka diberi kebebasan untuk memotret area sekolah. Zeta sudah bersiap untuk membidik objek didepannya, tapi tiba- tiba wajah Bima yang memenuhi lensa kameranya. Tentu membuat Zeta terkejut, hampir saja dirinya melempar kamera.
“Astaga!”
Bima tertawa karena berhasil membuat Zeta terkejut. “Tumben sendiri?”
“Ah iya, mau cari objek foto.”
“Kemana pacar lo?”
“Hmm? Aku nggak tau, Kak.”
“Ze! Sini fotoin kita!” teriak Virgo dari lapangan futsal.
Zeta dan Bima menoleh ke sumber suara. Disana terlihat beberapa anak sedang bermain futsal, ada Galaksi juga disana yang sedang memperhatikannya.
“Zeta kesana dulu, Kak.” Pamit Zeta segera berlari menghampiri anak- anak itu.Sementara Bima hanya mengepalkan tangannya dan menatap tajam Galaksi.
Zeta membenarkan letak tas dipundaknya. Tadi Bima kembali menawarkan diri untuk mengantar Zeta dan dirinya kembali menolaknya, ia sudah berjanji pada Galaksi untuk tidak dekat- dekat dengan Bima. Zeta tak mau kejadian tempo hari kembali terulang. Zeta memutuskan untuk berjalan kaki. Toh sekarang sudah sore dan cuaca tak terlalu panas.
“Lo mau kemana, Ga?!” panggil Leo melihat Galaksi berjalan keluar dari gerbang.
“Nitip motor gue ya? Ntar gue ambil di rumah Virgo.” Balas Galaksi yang mempercepat langkahnya untuk membuntuti seseorang.
Didepannya Zeta sedang berjalan santai dengan memandang sekitarnya, terkadang gadis itu tertawa ketika melihat anak- anak yang tengah bermain di taman yang dilewatinya. Langkah Zeta terhenti membuat Galaksi juga ikut berhenti, gadis itu berjongkok untuk mengambil sesuatu. Galaksi mengernyit, apa yang hendak diambil gadis itu?
“Oh, bola.”
Galaksi tertawa pelan melihat cara Zeta menendang bola itu. Bola itu malah melenceng jauh dari anak- anak. Zeta ikut berlari untuk mengejar bola itu dan segera meminta maaf pada mereka.
“Payah!” gumam Galaksi.
Untuk Wawasan:
Denebola atau Beta Leonis adalah bintang tercerah kedua di rasi Leo.
By. Wikipedia
__ADS_1