Halaktyka

Halaktyka
Membuat Kemajuan


__ADS_3

Meli meregangkan kedua tangannya setelah menyelesaikan pekerjaannya, pandangannya beralih pada Leo yang sedang memejamkan matanya. Meli mendengus kesal, ia lelah mengerjakan semua pekerjaan, malah Leo bisa bersantai. Bahkan kini ia bisa tidur dengan pulas.


Bel istirahat kedua sudah berbunyi, bersamaan dengan perut Meli yang mulai lapar. Anak yang menggantikan jaga UKS juga baru saja tiba.


“Gue serahin ke lo ya? Gue pergi dulu,” pamit Meli dan segera menuju kantin untuk membeli makan.


Meli memesan seporsi nasi soto, ia memindai seluruh kantin untuk menentukan meja yang nyaman. Meli melihat Zeta tengah duduk seorang diri dengan ditemani sebungkus roti dan air mineral.


“Tumben sendiri, nggak sama Kak Galaksi?” tanya Meli dan duduk di depan Zeta.


“Eh, Meli? Iya, nggak tau Kak Galaksi kemana. Kamu baru selesai tugas?”


“Hmm, banyak banget tadi tugasnya. Lo lihat kan tadi pagi banyak banget yang tumbang.”


“Iya sih, eh ya nanti jam terakhir gurunya nggak masuk.”


“Serius? Pas banget.”


“Kenapa?”


“Nanti ada live streaming jam dua.”


Zeta hanya menggelengkan kepalanya melihat Meli yang sangat antusias. Setelah selesai mereka berdua pun berjalan kembali ke kelas.


Rencananya nanti sepulang sekolah Meli hendak ke toko buku untuk membeli sebuah novel fanfiction idolanya, ia mengajak Zeta yang ternyata hari ini tidak pulang bersama Galaksi. Meli telah menghabiskan waktu di belakang ruang OSIS yang full wifi selama satu jam. Tak lama bel pulang berdering. Meli segera kembali ke kelas untuk mengambil tas dan menagih janjinya pada Zeta.


“Ayo, Mel. Jadi kan?” tanya Zeta begitu Meli sampai kelas. Meli mengambil tasnya dan menggandeng lengan Zeta.


Mereka berdua berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Namun tiba- tiba saja Meli mempunyai firasat buruk.


“Ze, ayo pulang. Tugas negaranya diundur lusa,” ucap sebuah suara, membuat kedua gadis itu menoleh.


“Eh? Tapi aku mau nganter Meli ke…”


“Nggak apa- apa, Ze. Gue mendadak mules, mau pulang aja. Kalian duluan aja,” jawab Meli memotong ucapan Zeta. Meli seperti cacing kepanasan ditatap Galaksi dengan penuh ancaman.


“Oke, kita duluan,” pamit Galaksi sok ramah dan segera merangkul Zeta membawanya ke tempat parkir.


Sementara Meli sudah mengeluarkan sumpah serapah bagi lelaki itu. Ia mendengus kesal dan melanjutkan langkahnya menuju gerbang. Meli tadi sudah terlanjur berpesan pada supirnya untuk tidak menjemput. Langkah Meli terhenti ketika sebuah suara menyapa indera pendengarannya.


“Lo mau pulang? Bareng yuk,” ajak Virgo.

__ADS_1


“Eh? Ng…”


“Go, lo hari ini ada futsal. Noh dicariin Bayu,” potong Leo cepat dengan wajah datar seperti biasanya.


“Asem si Bayu. Lain kali deh, Mel.”


Meli mengangguk bingung mendengar ucapan Virgo. Virgo kembali melangkah menuju area sekolah.


“Yuk pulang.”


“Huh?”


“Lo nggak mau pulang?”


“Yaa.. pulanglah. Tapi…”


Leo langsung menyeret Meli agar mengikutinya dan bodohnya Meli tidak menolak. Entah mengapa Leo bersikap seperti ini.


Selama perjalanan Meli habiskan dengan melamun, entah apa yang dipikirkannya. Namun yang pasti, kini tengah memikirkan mengapa Leo mengantar dirinya pulang. Cowok yang biasanya bersikap dingin padanya kini bersedia mengantarnya pulang. Lamunan Meli buyar digantikan sebuah pekikan, ketika kepala Meli membentur helm yang dipakai Leo.


“Kok berhenti tiba- tiba? Kalau mau berhenti kasih aba- aba dulu dong. Kepala gue sakit, enak lo pake helm,” omel Meli mengusap dahinya.


“Gue daritadi manggil lo, tapi lo- nya nggak nyaut- nyaut.”


“Sudah sampai, Tuan Putri,” kata Leo menahan tawanya.


Meli segera turun dari motor Leo dan menyembunyikan wajah malunya. Namun Leo masih bisa melihat semburat rona merah di kedua pipi gadis itu.


“Tapi kok lo tau rumah gue?” tanya Meli penuh selidik.


“Eh… ehm, itu… gue pulang dulu,” pamit Leo dan langsung melajukan motornya menjauh dari rumah Meli, sebelum Meli kembali melontarkan pertanyaan.


Sedangkan Meli masih menatap penuh curiga punggung Leo yang sudah menjauh, ketika sudah benar- benar menghilang barulah Meli masuk ke rumah.


...🍨🍨🍨...


Semenjak Leo mengantar Meli pulang, hubungan mereka berdua semakin dekat. Meli menemukan sisi lain dari Leo yang tidak diketahuinya. Leo tidak segalak dan sejudes raut wajahnya. Memang jika bersama teman- temannya Leo selalu menampilkan raut wajah yang membuat orang- orang takut padanya, tapi jika sudah berhadapan dengan Meli raut wajahnya akan segera berubah. Meli tengah duduk seorang diri di kedai es krim dan didepannya terdapat beberapa mangkok es krim.


“Eh, Meli. Udah lama?” tanya sebuah suara membuat Meli mendongak.


“Tante? Lumayan, kedainya bikin betah sih,” jawab Meli dengan senyum manisnya.

__ADS_1


“Tante punya menu baru lho, kamu mau nyobain? Gratis deh buat testimony.”


“Hmm, boleh.”


Bu Wita pun berjalan menuju pantry untuk mengambil pesanan Meli. Sementara Meli kembali fokus ke ponselnya sembari memakan es krim pesanannya tadi. Hingga suara lonceng dipintu masuk kedai tak mengalihkan fokus Meli.


“Udah izin Mama belum? Nanti kakak jemput, jangan pulang malam- malam. Hmm,” ucap seorang cowok di telepon dan berjalan menuju kasir.


“Mama mana?” tanya cowok itu.


“Oh? Mas Le, Bu Wita ada di pantry.”


Leo hanya mengangguk dan mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kedai yang hari ini sangat sepi, tidak seperti biasanya yang selalu ramai. Meli mendongak bersamaan dengan Leo yang tengah memandangnya dari depan meja kasir.


Meli terlihat terkejut begitupula Leo, tapi kemudian Meli melambaikan tangannya untuk menyapa Leo.


Leo mengusap tengkuknya dan duduk di depan Meli yang kembali asyik dengan es krimnya. Tak lama Bu Wita juga datang membawa piring berisi bulatan warna- warni. Ia sedikit terkejut karena putra sulungnya kini berani menemui Meli, karena biasanya jika Meli datang ke kedai, Leo langsung bersembunyi.


“Ini Meli, Mochi Ice Cream. Cobain deh, kamu juga Leo cobain. Jadi di dalamnya ada aneka rasa es krim,” jelas Bu Wita antusias.


“Tante kenal Kak Leo?” tanya Meli.


“Eh? Leo belum cerita? Tante Mamanya Leo,” jelas Bu Wita mengacak rambut Leo, membuat Leo mendengus kesal.


“Kok Kak Leo nggak pernah cerita?” tanya Meli sambil menggigit mochinya, “Hmm, ini matcha ya?”


“Iya, coba yang ini deh,” ucap Bu Wita menunjuk mochi berwarna kuning.


“Ehm, rasa apa ya? Baunya wangi.”


“Itu nangka.”


“Hmm, enak.”


Seketika keberadaan Leo tak dipedulikan oleh dua wanita di depannya ini. Leo mendengus kesal. Namun ia senang melihat kedekatan Meli dan Bu Wita, mereka memiliki satu persamaan, yaitu pecinta es krim. Walau mamanya ini tidak sefanatik Meli yang hampir dimana saja makan makanan dingin nan manis itu.


“Tante ke dalam dulu ya? Makasih ya udah mau nyobain.”


“Iya, Tan.”


...🍨🍨🍨...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 😗😗😗



__ADS_2