
Zeta duduk di teras rumah seorang diri, ia sedang menunggu Vernon yang akan mengantarnya ke sekolah. Venus sudah berangkat bersama pacarnya. Pak Wijoyo keluar kota dalam waktu yang cukup lama, jadi para sepupunya membagi giliran untuk menginap di rumah Zeta.
“Zeze, ayo berangkat!” teriak Vernon dari depan rumah.
Zeta mendongak dan segera menghampiri Vernon. Ia segera memakai helmnya dan duduk dibelakang motor Vernon. Vernon segera menggas motornya menjauh dari rumah Zeta. Zeta turun dari motor Vernon ketika mereka sudah sampai didepan sekolah.
“Itu Galaksi, Ze?” tanya Vernon menunjuk anak cowok yang tengah bercanda dengan teman- temannya.
“Iya, Kak. Zeta masuk dulu ya?”
Setelah kepergian Vernon, Zeta menghampiri Galaksi yang tengah berjalan menuju lapangan bersama dua sahabatnya.
“Kak Galaksi!” panggil Zeta.
Tentu panggilan Zeta tadi membuat anak- anak disana serempak menatap dirinya. Namun Zeta masa bodoh, ia tetap menghampiri Galaksi.
“Nanti pulang sekolah Kak Galaksi ada waktu nggak?” tanya Zeta.
“Sorry, gue sibuk.” Jawab Galaksi pergi meninggalkan mereka.
🪐🪐🪐🪐🪐
Zeta menghembuskan nafas kesal, teringat bagaimana Galaksi mengacuhkannya tadi. Meli yang duduk disebelah Zeta memperhatikan gadis itu yang sejak tadi menopang dagu dan menghembuskan nafas.
“Lo kenapa?” tanya Meli.
“Aku bingung, gimana caranya ya biar Kak Galaksi nggak nyuruh aku menjauh.”
“Lo beneran suka Kak Galaksi? Sejak kapan?” tanya Meli membulatkan matanya, pasalnya dirinya juga tahu jika kejadian kemarin itu hanya salah paham saja.
“Sejak Kak Galaksi ketemu ayah, dia nggak sejahat kelihatannya kok. Sebenernya Kak Galaksi itu baik.”
Ketukan pintu membuat fokus Zeta dan Meli juga seluruh penghuni kelas memandang kearah pintu. Tidak lama pintu terbuka dan ada seorang anak menyembulkan kepalanya, memindai seluruh penghuni kelas.
“Uhm, Meli yang mana anaknya?” tanya anak itu kepada siapa pun yang mau menjawab.
Meli yang merasa dipanggil mengangkat tangannya ragu, dia tahu siapa anak itu begitu pun dengan Zeta. Anak itu mengisyaratkan agar Meli mengikutinya dan dengan ragu pun Meli keluar kelas.
“A… ada perlu apa, Kak?” tanya Meli takut- takut.
“Lo anggota PMR?”
“Huh? Belum, Kak. Pelantikannya masih minggu depan.”
Anak itu mengangguk paham. “Nanti istirahat pertama kumpul di UKS.”
“Ta… tapi hari ini nggak ada latihan…”
“Ckck, kita cuma mau ngomongin buat acara pelantikan. Tadinya gue mau siarin lewat speaker, tapi lagi rusak. Terpaksa gue sama anak- anak lain ngumumin dari kelas ke kelas.”
“I…iya, Kak.”
“Paham lo?”
Meli hanya mengangguk, ia masih menundukkan kepalanya. Ia masih takut bertemu anak didepannya ini, karena beberapa hari yang lalu dia tidak sengaja membuat masalah.
__ADS_1
“Ya udah balik kelas lo sana!”
“Uhm, makasih Kak Leo.”
Meli mengelus dadanya lega ketika telah duduk kembali di bangkunya. Cukup membuat jantung berdebar ketika bertemu dengan teman- teman Galaksi, karena tidak hanya Galaksi yang galak dan sangar, ternyata kedua temannya itu juga sebelas dua belas sama dengan Galaksi. Dirinya juga tidak menyangka jika orang seperti Leo bergabung dengan organisasi yang biasanya diisi oleh anak- anak yang tidak banyak tingkah. Tak lama Pak Purwo masuk kelas dan artinya pembelajaran akan segera dimulai.
“Ada yang masih belum paham dengan catatan didepan?” tanya Pak Purwo.
Meli menghembuskan nafasnya, wajahnya benar- benar kusut. Dia berharap agar waktu berjalan lambat, tapi nyatanya tanpa terasa bel tanda istirahat pertama sudah berdering. Pak Purwo keluar dari kelas diikuti beberapa anak yang ingin mengisi perut.
“Ze, hari gue ada kumpul PMR. Lo ke kantin sendiri nggak apa- apa, kan?” tanya Meli sambil membereskan mejanya.
“Nggak apa- apa, aku bawa bekal kok.”
“Ya udah, gue duluan ya?”
Zeta hanya mengangguk dan kembali membereskan buku- bukunya.
Zeta memutuskan memakan bekalnya di taman belakang sekolah, tempat itu selalu sepi. Memang Zeta bukan tipe orang yang suka menyendiri, tapi saat ini dirinya tengah sendiri. Dia akan merasa tidak nyaman berada di tempat ramai jika tidak ada Meli. Zeta melangkah ringan menuju taman belakang, ditangannya sudah ada kotak bekal dan botol minum. Namun langkah Zeta tiba- tiba terhenti ketika melihat Galaksi berada disana, cowok itu sepertinya tengah tidur dibawah pohon. Zeta berjalan pelan menghampiri Galaksi, ia tidak mau menganggu tidur cowok itu.
“Kenapa jalan kayak gitu?” tanya Galaksi.
“Eh? Kak Galaksi nggak tidur?”
Galaksi tidak menjawab, ia hanya memperhatikan Zeta yang masih berdiri didepannya dengan tangan membawa kotak bekal beserta botol minum. Merasa diperhatikan Zeta tersadar.
“Kak Galaksi udah makan? Zeta bawa bekal, kakak mau?”
“Lo bisa berhenti sekarang. Lo nggak harus kayak gini.” Ucap Galaksi menatap tajam Zeta.
“Berhenti buat apa?”
“Aku bisa! Dan nggak akan sia- sia, aku lakuin karena suka kakak.” Kata Zeta memotong ucapan Galaksi. “Aku yakin bisa buat Kak Galaksi…”
“Jangan terlalu berambisi!” peringat Galaksi meninggalkan Zeta yang terdiam mendengar ucapan Galaksi.
🪐🪐🪐🪐🪐
Semilir angin menerpa rambut seorang gadis yang sedang berjalan seorang diri menuju gerbang depan. Tadi Meli sudah pulang terlebih dulu, karena harus pergi les. Namun langkah Zeta terhenti ketika ada seseorang tengah berdiri mencegatnya.
“Zeta? Lo belum balik?” tanya anak itu.
Zeta mendongak dan membulatkan matanya ketika melihat siapa yang kini berdiri dihadapannya.
“Ka… kak Bima?” panggil gadis itu gugup.
“Lo mau balik, kan? Mau bareng gue?” tawar Bima tersenyum.
“A… aku dijemput.” Jawab Zeta teringat ucapan Galaksi jika dirinya tidak boleh dekat- dekat dengan Bima.
“Siapa? Galaksi?”
Zeta menggeleng cepat. “Bukan, yang jemput kakak sepupu. Hmm, aku pulang dulu. Terima kasih tawarannya, Kak.”
Zeta segera pergi darisana, ia mempercepat langkahnya ketika melihat Bima masih mengikutinya. Namun hembusan nafas lega ketika melihat Bima yang ternyata menuju tempat parkir. Zeta menghembuskan nafasnya dan berusaha mengatur nafas, kini dirinya sudah sampai didepan rumah. Tadi dirinya secepat kilat masuk ke dalam bus. Zeta masih berpegangan pada besi pagar rumahnya.
__ADS_1
“Maafin Zeta, Bun. Zeta terpaksa bohong.” gumam Zeta masih dengan nafas tersengal- sengal.
Ya, Zeta berbohong jika dirinya hari ini di jemput sepupunya. Bahkan sebenarnya dirinya memang tidak ada yang menjemput.
“Kenapa nggak langsung masuk?” tanya seseorang yang membuat Zeta langsung terlonjak kaget. “Kenapa sih? Kok kaget gitu?”
“Ng… nggak apa- apa. Sejak kapan Kak Ion disini?” tanya Zeta melihat makhluk didepannya ini.
“Baru datang kok.”
Zeta hanya mengangguk dan mengajak Sion untuk masuk ke dalam. Sion memang akan menginap di rumah Zeta untuk beberapa hari ke depan, Zeta juga tidak tahu pastinya sampai kapan. Para sepupunya yang mengatur jadwal dan dirinya tidak boleh tahu.
“Nanti malam makan diluar yuk?” ajak Sion. Zeta tersenyum dan mengangguk, tanpa menjawab sepatah kata pun.
🪐🪐🪐🪐🪐
Sion sedikit heran melihat perubahan sifat Zeta, dari dirinya menginjakkan kaki di rumah Zeta hingga kini mereka berada di sebuah café, sepupunya itu hanya diam. Jika dirinya bertanya pun hanya dijawab dengan singkat.
“Kok kamu nggak semangat gini sih? Ada masalah di sekolah ya?” tanya Sion akhirnya, karena dia tidak tahan melihat Zeta yang murung.
Zeta mendongakkan kepalanya dan mengerjap beberapa kali. “Huh? Nggak kok. Di sekolah baik- baik aja.”
“Ayo dong cerita, janji deh kali ini bisa jaga rahasia.”
Memang Zeta jarang curhat ke Sion, karena diantara sepupunya yang lain, Sion lah yang paling sering membocorkan ceritanya. Zeta malah lebih nyaman curhat ke Sean, walau terkadang Sean sulit untuk diajak serius.
“Nggak, nanti Kak Ion bocor lagi.”
Sion menggeleng dan terus membujuk Zeta agar bercerita, tapi pandangannya teralihkan ketika melihat dua orang pengunjung yang baru masuk café itu. Zeta tidak menyadari kedua orang itu karena duduknya yang membelakangi pintu masuk.
“Sebentar, aku mau ke toilet dulu.” Pamit Sion dan segera pergi.
“Eh? Tapi, toiletnya kan…” ucapan Zeta menggantung ketika melihat kemana Sion pergi.
Zeta membulatkan matanya ketika Sion menyeret seseorang keluar café. Dirinya segera keluar menyusul Sion karena tidak ingin terjadi keributan.
Benar saja, ketika Zeta sampai didepan café. Sion sedang menarik kerah orang tersebut dan bersiap untuk memberikan bogem mentahnya. Zeta segera berlari menghampiri dua orang itu yang kini menjadi pusat perhatian orang- orang yang lewat. Terlambat, Sion sudah melepaskan bogem mentahnya dan tepat mengenai ujung bibir orang itu.
“Kak Ion! Udah, Kak!” lerai Zeta, ketika Sion bersiap menyerang lagi.
“Jadi lo cuma mau mainin Zeze doang?!” bentak Sion. “Brengsek lo!”
“Galaksi! Kamu nggak apa- apa?” tanya seorang gadis terlihat khawatir.
Sion masih mengepalkan tangannya dan memandang tajam Galaksi yang masih tersungkur. Sementara Zeta masih menenangkan Sion. Galaksi tidak membalas pukulan dari Sion, ia terlampau kaget melihat Sion dan Zeta juga ada disini. Sementara gadis disamping Galaksi berusaha untuk melerai mereka, begitu juga Zeta.
“Putusin Zeta sekarang, brengsek!” bentak Sion menunjuk Galaksi. “Ayo, Ze. Kita pulang!” ajak Sion menuntun Zeta untuk pergi dari sana.
Zeta tak punya pilihan lain selain mengikuti Sion. Zeta masih sempat menoleh untuk melihat Galaksi yang ternyata juga menatapnya.
“Maaf, Kak.” lirih Zeta.
Untuk Wawasan:
Leo adalah tanda zodiak kelima, berasal dari konstelasi Leo. Muncul setelah Cancer dan sebelum Virgo.
__ADS_1
By. Wikipedia