
Akhirnya Meli kali ini selamat, Galang menurut dan segera masuk ke kamar. Sedangkan Meli juga segera tiduran di kasur. Galang adalah anak dari kakak perempuan Papanya yang menikah dengan orang Medan. Galang memang asli orang Medan, karena setelah menikah Mama Galang tinggal bersama Papa Galang di Medan. Galang bermarga Hutapea, itulah mengapa Meli suka memanggilnya ‘Bang Pea’. Galang sudah menganggap Meli sebagai adik kandungnya. Jadi terkadang Galang akan sangat protektiif jika menyangkut tentang Meli.
“Aish, sial banget. Ngapain Bang Pea kesini sih?” tanya Meli pada dirinya sendiri.
“Bisa ancur rencana gue sama Bang Hasan nih.”
...🍨🍨🍨...
Benar saja dugaan Meli semalam, rencana Meli bersama Hasan hancur total gara- gara Galang. Lalu sebagai gantinya, kini Meli terjebak disebuah kedai kopi bersama Galang yang memaksanya. Meli sedang berdiri di depan kasir untuk memesan dengan Galang di sampingnya.
“Kamu pesan apa?” tanya Galang yang sibuk memilih menu.
“Latte, Bang.”
“Oke, Mbak cantik. Saya pesan kopi Medan dan Latte,” kata Galang masih dengan nada toa- nya. Tentu hal itu membuat Meli malu, beruntung kedai ini tak terlalu ramai. “Ah nanti sama dia ya, mbak cantik. Mel, aku mau ke toilet dulu. Kau pilih tempat duduk dulu, nanti kususul kau.”
Tak ada pilihan lain selain mengangguk patuh, Galang langsung lari terbirit- birit ke toilet. Meli membawa latte dan kopi menuju salah satu meja yang masih kosong, tapi memang hari ini nasib sial sedang melekat padanya. Tiba- tiba saja seseorang menyenggol Meli, hingga dirinya limbung. Beruntung Meli masih bisa menjaga keseimbangannya, tapi lattenya tidak terselamatkan.
“Maaf mbak, saya nggak sengaja,” ucap orang yang tadi menyenggol Meli dan segera pergi.
“Akh, panas!” pekik suara lain.
Meli langsung menoleh ke sumber suara yang memekik tadi, seketika matanya membulat dan wajahnya menegang. Orang yang sama sekali tidak ia harapkan muncul di depannya. Wajah Meli memucat seketika.
“K…kak L…leo?” gumam Meli gemetaran, tangan yang satunya masih sibuk menyeimbangkan kopi milik Galang agar tidak ikut meluncur jatuh.
“Ck, lo lagi,” decak Leo sibuk membersihkan celana yang tadi ketumpahan latte milik Meli.
Namun sebenarnya di dalam hatinya, ia sedang menormalkan detak jantung yang berdegub dengan cepat. Leo tak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan Meli di sini.
“M… maaf, Kak. Gu… gue nggak sengaja. Biar gue bantu bersihin, nanti kasih celana lo. Gue cuciin, janji. Lo tenang gue tanggung jawab, siniin! Gue bantu,” cerocos Meli panik, ia mengambil beberapa lembar tisu dan segera berniat membantu Leo.
GREP!
__ADS_1
"Nggak usah, gue bisa bersihin sendiri. Lo pikir lo mau ngapain! Lo nyuruh gue buka celana disini!” bentak Leo.
“Bu… bukan gitu, Kak. Mak… maksud gue.”
“Ck.”
Leo pergi begitu saja, meninggalkan Meli yang masih mematung. Wajahnya memerah menahan malu. Tepukan di bahu menyadarkan Meli seketika. Meli menoleh dan mendapati Galang yang baru kembali dari toilet. Orang inilah yang menghancurkan hari liburnya.
“Kenapa wajah kau merah bak udang rebus begitu? Kau demam?” tanya Galang, “Mana kopi aku? Huh? Punya kau sudah habis? Mau pesan lagi?”
“Gue mau pulang,” ucap Meli dengan menekan di setiap katanya.
“Heh, Meli. Kau bilang apa barusan?”
“Masa bodoh, pokoknya gue mau pulang. Terserah kalo lo masih mau di sini.”
Meli segera meninggalkan Galang yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara pengunjung lain hanya menonton perdebatan para remaja itu. Galang yang tersadar segera mengejar Meli yang sudah tidak terlihat mata. Meniggalkan begitu saja kopi yang masih utuh belum tersentuh.
“Ah, Molla,” jerit Meli berguling- guling di kasur empuknya.
Sementara di laim tempat Leo juga sedang berguling- guling di kasurnya, jika teringat kejadian tadi di kedai jantungnya masih berdetak kencang. Leo segera pulang dari kedai, menjatuhkan tubuhnya di kasur, dan hingga kini dirinya masih berguling. Bahkan celana yang tadi terkena tumpahan latte panas belum digantinya hingga kini mengering. Leo sudah tidak peduli jika pahanya memerah.
“Kak, ada Bang Galaksi sama Bang Virgo!” teriak Qaila, adik Leo yang kini masih duduk di kelas dua SMP.
Qaila menjeblak pintu kamar Leo karena tidak mendapat sahutan dari si empunya kamar. Qaila mendengus melihat sang kakak malah melamun menatap langit- langit dengan terkadang senyum- senyum, membuat Qaila bergidik ngeri.
“Kak, ada Bang Galaksi sama Bang Virgo,” ulang Qaila.
“Nanti kakak samperin, keluar sana.”
Qaila memutarkan kedua bola matanya malas, lalu pandangannya beralih pada celana Leo yang belum diganti.
“Kak Le, jorok banget sih? Kenapa belum diganti celananya? Udah pi*pis di celana, nggak langsung ganti lagi,” omel Qaila. Adik Leo ini memang sangat menurun dari Bu Wita, cerewet.
__ADS_1
“Udah berapa kali kakak bilang, ini bukan pi*pis.”
“Bodo, coba aja kalo mama tau pasti kakak kena omel.”
‘Kan, jadi bawa- bawa nyokap. Dasar anak mami,' batin Leo dongkol.
“Ya udah kamu keluar, kakak mau ganti celana,” ucap Leo menuju lemari pakaiannya, “Atau mau liat kakak ganti?” lanjutnya jahil.
“Dih ogah.”
Qaila segera keluar dari kamar Leo, ia juga tidak sengaja berpapasan dengan teman- teman kakaknya ini. Sebenarnya ketiga orang ini tidak ada yang normal, semua berkelakuan absurd.
“Tuh urusin sahabat semati kalian, udah gede masih suka pi*pis di celana,” ucap Qaila sambil berlalu.
Galaksi dan Virgo saling pandang tidak mengerti, mereka serempak mengangkat bahu dan langsung masuk kamar Leo. Virgo ternganga melihat Leo yang hendak melepas celana, sedangkan Leo menoleh ketika mendengar pintu dibuka.
“Anjier,” umpat Leo dan segera masuk kamar mandi.
“Jadi lo beneran ngompol di celana?” tanya Virgo terbahak.
“Kampret lo, ya kagak lah. Si Qai aja yang salah paham,” jawab Leo geram dari dalam kamar mandi, “Njier, merah beneran,” gerutunya.
Virgo yang mendengar gerutuan Leo mengernyit, kata- kata itu terdengar ambigu di telinganya yang kotor. Terlebih lagi otak Virgo terkenal paling kotor di antara mereka. Sebuah senyum terbit di wajah Virgo, tapi tidak lama karena tiba- tiba Galaksi memukul kepala Virgo.
“Mikir apa lo, Njier!” kata Galaksi galak.
Leo keluar kamar mandi dengan memakai celana pendek, ia kembali membaringkan tubuhnya tidak memperdulikan eksistensi Galaksi dan Virgo.
...🍨🍨🍨...
Jangan lupa tinggalkan jejak para readers tercintahku 😗😗😗
__ADS_1