Halaktyka

Halaktyka
Menjenguk Meli


__ADS_3

Meli sudah dipindah ke ruang rawat inap dan Tante Mia masih menunggu Meli sadar. Kata dokter tadi Meli hanya kecapekan dan butuh banyak istirahat, juga sedikit mengalami stress. Tante Mia tadi juga sudah menghubungi Mamanya – Oma Meli – dan beliau tengah menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Meli.


“Bagaimana kondisi cucu Oma?” tanya Oma begitu sampai di kamar Meli.


“Mama, kata dokter Meli butuh istirahat,” jawab Tante Mia.


“Kamu sudah telpon Mas mu? Sungguh mereka berdua itu minta diomeli.”


“Belum, Ma.”


“Telpon sekarang dan biar Mama yang bicara.”


Tante Mia segera mendial nomor ponsel Papi Meli dan setelah terhubung ia memberikannya pada Oma. Oma segera keluar kamar rawat Meli dan entah apa yang mereka bicarakan via telepon.


Meli membuka matanya perlahan, kepalanya terasa sangat pusing. Tenggorokannya juga terasa kering. Meli mengernyit ketika melihat tangan kirinya terpasang selang infus, ia memperhatikan ruangan bercat putih ini.


“Meli, kamu sudah bangun?” tanya sebuah suara berjalan mendekat pada ranjang Meli.


“M… Mami?” panggil Meli dengan suara serak.


“Iya, ini Mami. Maafkan Mami sayang, mulai hari ini Mami akan berhenti. Mami mau nemenin kamu.”


Mami Meli bercucuran air mata ketika melihat wajah pucat putrinya itu, “Mami nggak mau kehilangan lagi,” lanjutnya memeluk Meli.


Akhirnya mau tak mau Meli ikut menangis dalam pelukan Maminya. Sebenarnya Meli bingung, mengapa tiba- tiba Maminya bisa ada di sini. Bukankah orang tuanya sedang ada di luar kota?


‘Jika memang ini hanya mimpi, kumohon jangan bangunkan aku,’ batin Meli masih memeluk Maminya erat.


“I… ini nyata, kan? Ini benar Mami?” tanya Meli yang masih kurang percaya.


“Iya sayang. Ini benar- benar Mami, selama ini Papi sama Mami diperbudak pekerjaan sehingga melupakan kamu. Beruntung Oma menyadarkan kami, mulai sekarang Mami akan selalu di samping kamu. Cukup Erwin yang pergi, kamu jangan tingalin Papi dan Mami ya?”


Benar, Oma tadi mengomel di telepon, menyuruh anak dan menantunya untuk segera menghadapnya. Tentu ucapan Oma tidak bisa dibantah, apalagi ketika Oma menyuruh mereka untuk menemuinya di rumah sakit. Perasaan kedua orang tua Meli sudah tak enak. Oma melanjutkan omelannya ketika kedua orang tua Meli berdiri dihadapannya. Beruntung Papi dan Maminya sadar, mereka sangat terpukul apalagi ketika kembali diingatkan tentang Erwin.


“Papi ada sesuatu buat kamu dan Papi yakin setelah ini kamu pasti langsung sembuh,” ucap Papi dengan senyum misteriusnya.


Malam ini semua keluarga berkumpul di kamar rawat Meli, kecuali keluarga Galang yang tidak bisa hadir. Namun Meli yakin jika di Medan sana Galang sedang merengek pada kedua orang tuanya agar ia segera diterbangkan untuk menemui Meli.

__ADS_1


“Apa, Pi?”


“Tada~”


Meli langsung berbinar melihat apa yang sedang Papinya pegang. Hampir saja Meli terlonjak kegirangan jika tidak mengingat masih ada selang infus terpasang ditangan kirinya. Ada dua buah album berwarna hijau dan putih di tangan Papinya. Meli segera memeluk erat Papinya dan dihadiahi gelak tawa oleh beberapa orang yang ada di sana.


“Kok Papi tau aku suka ini?”


“Tau dong.”


...🍨🍨🍨...


Meli tengah asyik menonton di layar laptopnya, ia tengah seorang diri. Kedua orang tuanya sedang keluar untuk membeli sarapan. Suara ketukan pintu tidak mengusik Meli, kedua telinganya sedang memakai headphone. Namun, tiba- tiba kabel headphone dicabut paksa, hingga dalam sekejap ruangan senyap itu menjadi ribut.


“I can’t wait I can’t wait I can’t wait ni moksorin ganjil ganjil ganjil hage~~”


Meli melotot dan mengalihkan pandangannya pada orang yang mencabut kabel headphonenya. Ia tambah membulatkan matanya ketika mendapati kamar rawatnya sudah penuh sesak oleh beberapa teman kelas maupun tempat les.


“Mel, pause dulu itu videonya,” peringat Zeta.


“Eh?”


Meli mengabsen semua orang yang berkumpul disini. Ada Zeta dan Galaksi, Virgo, Leo, beberapa teman sekelas, bahkan teman- teman les nya juga ada.


“Kita mau jenguk kamu, Mel,” kata Zeta mewakili semuanya.


“Gimana keadaan lo, Mel? Kapan pulang?” kini Anggi yang bertanya.


“Besok gue udah pulang, kok.”


“Kak, ini aku bawa buah buat Kak Meli,” ucap Rian antusias dan menyeruak maju ke depan. Sedaritadi dirinya terus dihalangi oleh Leo dan seorang anak yang tidak dikenalnya.


“Eh, ada Rian juga. Makasih ya.”


Cukup lama teman- teman Meli berkunjung, tapi beberapa sudah pulang. Kini yang tersisa hanya Zeta, Galaksi, Leo, Virgo, Sam, dan Rian yang kini sedang asyik mengobrol bersama Meli dan Zeta.


Galaksi yang melihat interaksi antara Rian dan Zeta merasa terusik, ia pun menghampiri ketiga orang itu dan detik berikutnya Galaksi membawa Zeta keluar dari sana. Lalu tak lama Virgo juga mengikuti kedua orang itu, bearalasan ingin menjemput sang gebetan yang sekarang telah resmi menjadi kekasihnya.

__ADS_1


“Ehem, lo nggak balik?” tanya Leo pada Sam.


“Gue masih ada urusan sama Meli, terus… ngapain lo juga nggak ngikut temen- temen lo barusan?”


Oke, kini bendera perang telah berkibar antara Sam dan Leo. Mereka berdua saling melempar tatapan tajam.


“Aduh, Kak. Maaf ya, aku harus pulang sekarang.”


“Iya nggak apa- apa, makasih buahnya, ya?”


“Iya, Kak. Cepet sembuh ya? Sampai ketemu di sekolah.”


Rian melambaikan tangan pada Meli dan sebelum keluar dirinya sempat berpamitan kepada dua orang yang sedang bertatapan sengit.


Setelah kepergian Rian, Meli mengalihkan pandangannya pada dua orang yang kini serempak berjalan menuju Meli, tapi baru beberapa langkah pintu terbuka dan kedua orang tua Meli berdiri di ambang pintu.


“Loh? Masih ada temannya Meli?” tanya Mami.


Leo maupun Sam serempak menghampiri Mami dan Papi untuk berebut mencium tangan kedua orang itu. Namun selanjutnya mereka berdua memutuskan untuk berpamitan.


Setelah kepergian kedua orang itu, orang tua Meli saling berpandangan. Lalu serempak menampilkan senyum yang menurut Meli sangat menyebalkan.


“Ciee,” ucap Papi jahil.


“Apaan sih, Pi. Tadi itu teman Meli, tadi juga nggak cuma mereka berdua. Rame banget, tapi udah pada pulang,” jelas Meli berusaha kembali pada layar laptopnya.


“Oh ya? Tadi siapa namanya?” kali ini Mami yang bertanya.


“Sam sama Kak Leo, Sam itu teman les Meli. Kalo Kak Leo itu senior Meli di sekolah. Oh ya, Mama Kak Leo punya kedai es krim yang enak banget, kapan- kapan Mami sama Papi harus nyoba. Mama Kak Leo juga baik banget, pernah Meli nyobain es krim gratis. Terus…” Meli dengan semangat menceritakan betapa baiknya Bu Wita.


Dia langsung menutup laptopnya dan terus mengoceh tentang kedai es krim, es krim favoritnya, juga Bu Wita.


Sementara Mami hanya mendengarkan dengan sesekali tersenyum senang, dalam hati beliau sangat ingin bertemu dengan Bu Wita. Ingin melihat sosoknya yang sangat Meli segani, juga ingin mengucapkan terima kasih.


...🍨🍨🍨...


👉👈 jadi mungkin cerita ini nggak panjang-panjang. Otor nulis cerita ini buat selingan sembari menunggu sequel Mantan Rasa Pacar. Sequelnya masih dalam proses ya, harap bersabar jika ada yang nungguin sih 👉👈

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers tercintah Otor 😗😗😗



__ADS_2