
Zeta dan Meli seketika menajamkan pendengarannya ketika mendengar suara derap langkah mendekat. Dua gadis itu jadi was- was, mereka kompak menahan nafas. Bahkan Meli diam- diam sudah meraih kemoceng, siapa tahu musuh sekolah yang datang. Namun gerakan Meli terhenti ketika tahu siapa yang datang. Zeta melepas pelukan Meli dan langsung menghambur ke dalam pelukan Galaksi yang terdapat beberapa luka kecil.
“Kak Galaksi kenapa nggak jawab telpon Zeze? Ngapain sih tawuran? Buat apa tawuran? Gi… gimana kalo kalian luka?” tanya Zeta beruntun dengan air mata berlinang, “Jangan diulangi! Ka… kalo Zeze denger Kak Galaksi tawuran lagi, k… kita putus!” ancam Zeta membuat Galaksi membulatkan matanya.
“Ih, kok ngomongnya gitu, Beb? Nggaklah, ini buktinya aku nggak kenapa- kenapa,” ucap Galaksi menangkup wajah Zeta.
Zeta menghambur memeluk Galaksi kembali, sementara Galaksi mengusap- usap punggung Zeta agar gadis itu tenang. Namun tatapannya beralih pada Meli yang sedaritadi menyaksikan drama receh dua sejoli itu.
“Lo ditungguin Leo di rooftop,” kata Galaksi menunjuk Meli.
Meli yang tiba- tiba ditunjuk mengernyit bingung, membuat Galaksi mendengus dan menjelaskan lagi apa yang tadi Leo sampaikan padanya.
“Kalo ada apa- apa telpon Zeze aja.” Pesan dari Galaksi kembali membuat Meli mengernyitkan dahi, tapi dirinya hanya mengangguk dan segera pergi dari sana.
Setiap langkah Meli menaiki anak tangga ini terasa mendebarkan, entah mengapa perasaan tidak enak menyergapnya. Tangan Meli bergetar ketika mencoba membuka pintu yang menghubungkan rooftop. Pintu terbuka, Meli melongokkan kepalanya untuk melihat keberadaan Leo. Dan ketemu.
Leo tengah membaringkan tubuhnya di dinding pembatas gedung. Meli membawa langkahnya untuk mendekat secara perlahan. Namun matanya membulat melihat keadaan Leo.
“K…Kak Leo?!”
Meli memperdekat jarak mereka untuk melihat kondisi cowok itu. Leo membuka matanya yang tadi terpejam dan terkejut karena wajah Meli berada dihadapannya. Tangan Meli terulur menyentuh pipi kanan Leo yang lebam.
“Ssshh,” desis Leo merasakan sakit.
“Rasain!”
“Hah?”
“Siapa suruh tawuran?! Rasain, jadi bonyok gitu! Wajahnya hancur, jadi nggak ganteng lagi…” Meli memukul- mukul dada Leo, tangisnya pecah melihat Leo yang babak belur.
“Sa… sakit. Mel, berhenti dulu. Dengar penjelasan ak…”
“Bu… bukan cuma Kak Leo yang sakit. A… aku juga sakit lihat kakak babak belur gini. Apa enaknya sih berantem, tawuran, Hah?!” bentak Meli masih melancarkan aksinya, “Hah? Da… darah. Kak Le…”
Tangan Meli sudah berlumuran darah, pandangannya langsung tertuju pada perut Leo yang berusaha ditutupi. Leo menyunggingkan senyum dan menghapus air mata Meli sebelum akhirnya ambruk menimpa Meli.
...🍨🍨🍨...
Meli berjalan mondar- mandir tidak tenang. Air matanya tidak mau berhenti keluar dari matanya. Berkali- kali matanya tertuju pada pintu IGD rumah sakit. Sementara Zeta sudah lelah menyuruh Meli untuk duduk tenang. Bu Wita juga sudah ada didalam menemani Leo.
“Leo nggak bakal mati, cuma butuh beberapa jahitan! Jadi mending lo duduk, ganggu pemandangan aja,” umpat Galaksi yang selanjutnya mendapat sodokan siku dari Zeta.
Mendengar umpatan Galaksi, membuat tangis Meli kembali pecah. Virgo yang sedaritadi berusaha diam, menjitak kepala Galaksi.
“Udah, Mel. Yakin Kak Leo nggak akan kenapa- kenapa. Sekarang kamu tenang ya?”
Zeta menuntun Meli untuk duduk. Kini Meli terdiam menunduk, memperhatikan kedua tangannya yang masih ada bercak darah. Bahkan Meli tidak sempat untuk mencuci tangannya.
“Ke toilet yuk? Bersihin dulu tangan kamu ya?” ajak Zeta.
Kali ini Meli hanya menurut dan berjalan menjauh dari depan IGD bersama Zeta. Galaksi juga hendak mengikuti Zeta pergi, ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Zeta. Namun Virgo menarik seragam Galaksi dan kembali mendudukkan Galaksi.
__ADS_1
“Udah lo diem aja disini.”
Tak lama Leo keluar dari IGD bersama dengan Bu Wita dan Bu Wita pamit untuk mengurus administrasi terlebih dulu. Sebelum pergi, Bu Wita sempat mengomel pada ketiga cowok itu. Mereka hanya bisa menunduk dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan mereka.
“Meli mana?” tanya Leo.
“Udah balik dari lo dibawa ke rumah sakit,” ucap Galaksi tak acuh.
“Jangan bohong lo! Gue denger tangisan Meli tadi dari dalem.”
“Ngg…”
“Kak Leo!” panggil Meli, membuat semua yang ada di sana menoleh.
Sungguh teman- teman Leo dan Meli merasa malu dengan kelakuan dua anak manusia itu. Ketiga orang itu hanya bisa menganga melihat kelakuan bucin Leo pada Meli. Mereka tidak percaya jika Leo bisa berbuat seperti itu.
“Si Leo salah jahit apa gimana ya?” tanya Virgo menggaruk ujung hidungnya.
“Masih sakit, Kak?” tanya Meli.
“Iya nih, tiupin lukanya biar cepet sembuh,” pinta Leo manja.
“Apaan sih, Kak?” Meli merona dan tanpa sadar meninju pelan perut Leo hingga Leo mengaduh kesakitan.
“Ma… maaf, Kak. Nggak sengaja. Mana… aku tiupin lukanya,” ucap Meli panik.
"Udah sembuh kok sekarang. Yuk pulang, ditunggu Mama di tempat parkir,” ajak Leo merangkul bahu Meli dan mengajaknya ke tempat parkir.
...🍨🍨🍨...
Hari ini SMA 20 terima rapor hasil belajar selama satu tahun. Anak- anak kelas Meli sedang membersihkan kelas sebelum para orang tua siswa datang. Meli dan Zeta tengah membersihkan kaca jendela. Meli dan Zeta sesekali bercanda, mengobrol dan menggosip. Sebenarnya Meli yang sedang menceritakan para idolanya, sementara Zeta hanya mendengarkan saja.
“Kak Meli, Kak Zeta!” panggil seseorang membuat kedua gadis itu menghentikan aktivitasnya.
“Rian?!”
“Kak cobain kue buatan kelas aku dong. Kelas aku adain bazar.”
“Boleh, nanti kita kesana ya?” ucap Zeta tersenyum manis.
“Siap, aku tunggu ya? Nanti aku kasih diskon.”
“Zeta! Meli!” panggil seseorang bersamaan, menginterupsi percakapan Rian dengan Zeta dan Meli. Serempak ketiga orang itu menoleh.
“Loh? Kak Galaksi ke sekolah?” tanya Zeta.
Begitu juga dengan Meli yang menanyakan hal yang sama pada Leo, karena pasalnya anak- anak kelas tiga sudah tidak diwajibkan hadir di sekolah. Bahkan kini Galaksi, Leo, dan Virgo tidak memakai seragam mereka.
Ah ya, Meli dan Leo akhirnya resmi berpacaran. Sepulang dari rumah sakit Leo menyampaikan isi hatinya yang tidak sempat ia katakan ketika mereka berada di rooftop, keburu Leo yang pingsan saat itu. Sebenarnya Galaksi dan Virgo juga heran, mengapa sahabatnya itu begitu lemah saat itu? Padahal luka Leo tidak dalam, hanya membutuhkan dua jahitan.
“Ayo ke kantin, hari ini Galaksi mau traktir kita,” ajak Leo menarik Meli untuk mendekat, tapi matanya menatap tajam pada Rian.
__ADS_1
“Kakak mau traktir? Ada acara apa?” tanya Zeta.
“Oh? Hahaha, nggak ada acara apa- apa. Pengen traktir aja. Ayo, Beb,” jawab Galaksi mengajak Zeta pergi dari sana.
“Mulai sekarang jangan dekati Meli!” bisik Leo pada Rian.
“Ke… kenapa, Kak?”
Leo tersenyum sinis mendengar pertanyaan Rian yang sangat berani itu, “Nggak baik PDKT sama cewek yang udah punya pacar. Lo PDKT sama Virgo aja, jomblo dia.”
“Asem lo, Le! Ngapa gue dibawa- bawa?” tanya Virgo tak terima dan segera menyusul dua temannya itu tanpa mempedulikan Rian yang masih berdiri di tempatnya.
...🍨🍨🍨...
Leo mendengus melihat Meli yang cuek sedaritadi. Sebenarnya juga salahnya sendiri mengajak Meli ke kedai es krim Bu Wita. Meli tengah menikmati berbagai macam es krim yang tertata rapi di mejanya. Tadi selepas pembagian rapor, Leo meminta izin pada orang tua Meli untuk mengajak anak gadisnya itu ke kedai es krim.
“Gitu ya? Sekarang lupa sama pacarnya. Enak es krimnya, hmm?” tanya Leo gemas mencubit pipi Meli.
“Hehehe, maaf. Iya es krimnya enak. Udah lama nggak makan es krim juga,” jawab Meli dan menyuapi Leo sesendok es krim, “Oh ya, Kak Leo mau kuliah dimana?”
Mendengar pertanyaan Meli, mendadak raut wajah Leo murung. Meli yang melihat perubahan mimik wajah Leo merasa tidak enak.
“Kak Leo mau keluar negeri ya?”
Leo menghembuskan nafasnya melihat Meli yang matanya sudah berkaca- kaca, “Aku kuliah penerbangan di Surabaya.”
Air mata yang hendak meluncur bebas seketika tertahan mendengar ucapan dari Leo. Meli mendengus pelan dan melanjutkan memakan es krimnya.
“Kok kamu diam aja? Nggak siap LDR ya? Maaf ya? Aku emang pengen jadi pilot, itu cita- cita aku dari kecil,” cerocos Leo, “Memel, kok kamu diam aja?”
“Ya elah, Kak. Kirain mau ke luar negeri kayak Kak Galaksi, taunya cuma Surabaya doang.”
“Tapi kalo aku kangen gimana?”
Meli hanya memutar bola matanya, heran dirinya dengan Leo yang sedang mode bucin seperti ini.
Sementara tanpa mereka sadari, para orang tua menguping pembicaraan anak- anaknya itu. Bu Zahra dan Bu Wita sudah sangat gemas dengan sepasang sejoli itu. Menurut mereka, Meli dan Leo sangat menggemaskan. Bu Zahra cekikikan melihat Leo yang benar- benar bucin pada putrinya itu, sementara Bu Wita hanya menepuk dahinya. Merasa malu melihat tingkah absurd putra sulungnya.
“Ayo kita atur tanggalnya,” bisik Bu Zahra.
“Setuju, nggak rela saya Meli diambil yang lain.”
Kedua wanita itu memutuskan untuk masuk ke dalam, tidak ingin mengganggu dua sejoli yang sedang kasmaran itu.
...🍨🍨🍨...
Udah tamat ya cerita ini, tunggu cerita-cerita yang lain Otor ya?
Jangan lupa tinggalkan jejak 😗😗😗
__ADS_1