
Kini waktu istirahat Meli habiskan di perpustakaan, beberapa hari kemarin Meli juga tak sempat istirahat. Tentu hal itu membuat Zeta heran, karena setiap diajak ke kantin Meli selalu menolak dengan alasan ingin belajar karena sebentar lagi akan ujian semester. Namun menurut Zeta, Meli terlalu berlebihan. Meli memang anak yang paling pintar di kelas.
“Serius amat, Kak,” sapa seseorang mencolek bahu Meli. Tentu hal itu membuat Meli terlonjak, ia segera melepas satu earphonenya.
“Rian?”
“Hehe iya, lagi baca apa?”
“Ini, cuma lagi isi waktu luang.”
“Wuih, tebel banget tuh buku. Nggak sakit itu mata, Kak?”
Meli terkekeh mendengar Rian terkejut, “Nggaklah, kamu baca apa?”
“Aku nganter temen, Kak. Kayaknya dia udah nemu buku, aku duluan ya?” pamit Rian, “Oh ya, ini buat Kak Meli,” lanjutnya meletakkan sebungkus roti di sebelah Meli dan langsung pergi.
Meli hanya menyunggingkan senyum dan kembali larut pada bacaannya. Kambali menjejalkan semua isi buku pada kepalanya yang sudah merasa pening. Meli mengakhiri sesi membacanya dan memutuskan untuk kembali ke kelas.
“Mel? Mau ke kelas? Bareng yuk,” ajak seseorang ketika melihat Meli keluar dari perpustakaan.
“Ayo, tumben lo nggak bareng Kak Galaksi?”
“Iya tadi dia udah ke kelas duluan. Mel, kamu nggak apa- apa?” tanya Zeta melihat raut wajah Meli yang terlihat sangat kelelahan.
“Emang gue kenapa?”
“Kamu kelihatan nggak sehat. Kalo ada apa- apa jangan sungkan cerita, Mel. Kamu biasanya suka curhat- curhat tentang idola kamu, kan?”
“Hahaha, iya. Tenang aja, Ze.”
Meli menidurkan kepalanya di meja, sudah dua minggu lebih orang tua Meli tidak menghubungi. Galang juga sudah kembali ke habitatnya di Medan karena harus kembali kuliah, sebenarnya ia sudah ngotot pada orang tuanya untuk mengundur kepulangannya. Kini Meli sedang berada di tempat les. Ketika guru les nya masuk, Meli kembali menegakkan tubuhnya.
“Sst, lo sakit?” Tanya Anggi salah satu teman les nya.
__ADS_1
“Nggak, gue ngantuk,” jawab Meli sekenanya dan mulai mendengarkan guru les nya.
Dua jam berlalu dengan Meli yang memaksakan materi masuk ke otaknya, Meli meregangkan ototnya agar rileks. Setelah pamit pada teman- teman les nya, Meli keluar dari gedung tersebut.
“Kok di jemput? Tadi Meli kan udah bilang nggak perlu di jemput,” kata Meli yang melihat Pak Kur berdiri disamping mobil.
“Tapi saya diberi amanat Ibu untuk jemput Mbak Meli.”
“Mami udah pulang?” tanya Meli antusias.
“Belum, Mbak. Katanya masih dua bulan lagi baru bisa pulang.”
Meli mendesah kecewa dan masuk ke mobilnya.
“Nanti mampir minimarket dulu, Pak,” pesan Meli.
...🍨🍨🍨...
Sementara dikejauhan, Leo memperhatikan Meli yang sedang berbincang dengan supirnya. Akhir- akhir ini Leo merasa jika ada yang aneh dengan Meli. Entah kemana hilangnya wajah ceria dan antusias itu. Juga Meli yang kini jarang datang ke kedai es krim milik Bu Wita.
“Kata si Zeta juga, akhir- akhir ini Meli jadi aneh.”
Leo mengacak rambutnya frustasi dan memilih untuk pulang ke rumah. Sedangkan Meli baru saja sampai rumah, seperti biasa suasana rumah yang sepi menjadi teman Meli. Meli hendak membawa sekantong es krim ke kamar sebelum Bibi menghentikan langkahnya.
“Mbak Meli nggak makan dulu?” tanya Bibi.
“Meli belum lapar, Bi. Nanti kalau sudah lapar, Meli makan kok.”
“Uhm, mbak… sebenarnya Bibi mau minta izin. Tapi nggak enak sama Mbak Meli.”
“Kenapa Bi?”
Bibi terlihat gelisah dan tak tenang, tentu membuat Meli mengerutkan dahi, “Pu… putri kecelakaan, Mbak.”
__ADS_1
Seketika tangis Bibi pecah, tentu Meli juga terkejut mendengar berita itu. Putri adalah anak Bibi yang kini masih duduk di kelas lima SD. Meli segera memeluk Bibi untuk menenangkan wanita yang sudah ia anggap orang tuanya sendiri.
“Bi… bibi khawatir sama Putri, tapi juga nggak bisa meninggalkan Mbak Meli sendiri di rumah. Bibi nggak tega, Bibi bingung. Sampai sekarang Putri masih belum bangun…”
“Ssst, Bi. Bibi kalau mau pulang nemenin Putri dulu nggak apa- apa. Meli nggak apa- apa di rumah sendiri, nanti Meli bisa nginap di rumah Oma. Kasihan Putri, pasti dia butuh Bibi,” ucap Meli mengelus punggung Bibi.
Meli duduk seorang diri di balkon kamarnya, menikmati semilir angin yang menusuk tulang. Sebenarnya Meli sudah merasa menggigil kedinginan, tapi ia tetap bertahan. Bahkan kini ia sedang menikmati es krim yang tadi dibelinya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi gadis itu sama sekali belum mengantuk. Pikirannya melayang entah kemana, kembali terbayang dengan Bibi tadi. Sempat berpikir, betapa enak menjadi Putri yang memiliki ibu yang sangat sayang dan peduli padanya.
“Apa gue harus koma dulu baru Mami mau perhatiin gue?” gumam Meli.
Sudah empat bungkus es krim Meli habiskan malam ini. Rintik hujan mulai membasahi tanah hingga menimbulkan bau segar, tapi tentu udara akan bertambah dingin. Meli memutuskan masuk ke dalam kamar setelah es krimnya benar- benar habis. Meli baru bisa memejamkan matanya pukul dua dini hari.
...🍨🍨🍨...
Setelah menyiapkan sarapan, Bibi berpamitan pada Meli untuk pulang selama beberapa hari. Meli memakan sarapannya tanpa semangat, kini hanya ada dirinya seorang di rumah besar ini. Pak Kur sedang memanaskan mobil di depan, tadinya Meli mengajak supirnya itu untuk sarapan bersama, tapi ternyata Pak Kur sudah sarapan terlebih dulu.
“Pak, nanti pulang mampir ke Bang Erwin dulu,” pinta Meli pada Pak Kur.
Sementara Pak Kur yang mendengar permintaan anak majikannya itu seketika menegang, tapi tak ada pilihan lain selain menyetujuinya. Pak Kur sempat melirik ke belakang, dimana Meli sedang menatap keluar jendela mobil.
“Meli!” panggil seseorang ketika Meli berjalan masuk area sekolah.
Meli menoleh dan tersenyum mendapati Zeta tengah menghampirinya. Akhir- akhir ini Meli perhatikan, Zeta jarang terlihat bersama dengan Galaksi. Entah mungkin Galaksi yang sekarang sudah kelas tiga dan mulai disibukkan dengan pemadatan materi atau karena hal lain.
“Kelas tiga udah mulai pemadatan materi ya?” tanya Meli.
“Iya, termasuk Kak Galaksi sama temen- temennya juga udah mau rajin fokus ke persiapan ujian,” jelas Zeta, “Mel, kamu sakit? Pucat gitu wajahnya.”
“Ah, nggak kok. Gue nggak apa- apa.”
...🍨🍨🍨...
__ADS_1
Jangan forget tinggalkan jejak tayang 😗😗😗