
Leo tidak tenang berada di tempat duduknya, berkali- kali dirinya terang- terangan melihat jam dinding yang terletak di belakang kelas. Bahkan dirinya dengan nekat menanyakan pada guru yang tengah mengajar kapan selesainya pemadatan materi yang membuat Leo terus gelisah. Tentu pertanyaan itu disetujui oleh Galaksi maupun Virgo.
“Iya, Bu. Kapan selesainya? Kasihan pacar saya nungguin lama,” ucap Galaksi.
“Kenapa saya harus urusin pacar kamu?!” bentak guru itu galak.
“Jangan galak- galak dong, Bu! Nanti jodohnya jauh lho,” celetuk Virgo membuat seluruh anak kelas mereka menahan tawanya.
Sementara Leo tidak menggubris guyonan yang dilontarkan dua sahabatnya itu. Ia sedang tidak dalam mood baik untuk bergabung dengan dua manusia absurd itu. Pikirannya tak tenang karena sejak Meli meninggalkan UKS tadi, dirinya belum bertemu lagi dengan gadis pujaannya itu. Leo juga sudah mencoba mengirim chat pada Meli, tapi sampai sekarang Meli belum membaca semua chat- nya.
“Leo! Simpan ponsel kamu atau ibu lempar ponsel kamu dari lantai dua?!” perintah Bu Neli.
Leo tidak menggubris bentakan Bu Neli barusan, ia mengalihkan pandangannya pada jendela. Matanya melebar melihat Meli berjalan seorang diri menuju gerbang. Ia segera kembali melihat jam.
“Kenapa baru pulang? Hari ini nggak ada ekskul,” ucap Leo lirih.
“Apaan, Le? Lo ngomong sama siapa?” tanya Virgo kepo.
“Kagak usah kepo lo.”
Leo masih memperhatikan Meli yang hendak menyeberang untuk menghampiri mobil jemputannya yang berada di seberang jalan. Beruntung kini kelasnya memakai gedung depan untuk pemadatan materi. Jadi dia bisa memperhatikan setiap anak yang hilir mudik. Leo menghembuskan nafas lega melihat Mami Meli yang menjemput. Sepertinya hubungan Meli dan orang tuanya sudah membaik.
Memang Meli tidak pernah menceritakan kisah hidupnya pada Leo, dirinya berusaha mencari tahu apa yang membuat Meli kemarin sangat mati- matian belajar. Padahal setahu Leo, Meli merupakan anak paling pintar dikelasnya bahkan seangkatan.
“Baik, Ibu akhiri pembelajaran hari ini…”
Belum selesai Bu Neli menyelesaikan ucapannya, trio biang onar itu sudah mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan guru yang masih melajang itu di usia yang sudah tak lagi muda. Bu Neli melotot menahan amarah, wajahnya sudah merah padam.
“Ibu nggak mau diajak salaman?” tanya Galaksi sok polos, “Ya udah, kita pulang dulu ya. Hati- hati di jalan,” lanjutnya dan berlalu diikuti Virgo dan Leo.
Mereka bertiga mendengar suara gebrakan meja dari luar dan ketiganya serempak tertawa terbahak, karena berhasil mengerjai Bu Neli.
“Bebeb Zeze!” panggil Galaksi heboh ketika melihat Zeta tengah duduk dengan sebuah novel ditangannya.
__ADS_1
Zeta yang merasa terpanggil menoleh dan menampilkan senyum, gadis itu melambaikan tangannya.
Leo mendengus melihat Galaksi yang merajuk karena perkataannya tak digubris Zeta yang tengah asyik dengan novelnya. Sementara Virgo sudah enyah dari sana karena harus menjemput sang pujaan hati dari sekolah tetangga.
“Jadi novel itu lebih penting dari aku?” tanya Galaksi lebay.
Zeta memutar mata malas, “Jangan lebay, deh. Malu dilihat Kak Leo.”
“Ngapain lo masih di sini, Le?”
“Gue mau ambil motor di parkiran. Eh ya, Ze. Meli tadi nggak keluar kelas?”
“Iya, Kak. Masih nggak enak badan katanya, jadi tidur tadi.”
“Kan, tau gitu tadi balik ke rumah aja,” gumam Leo.
Namun telinga tajam Galaksi dapat menangkap gumaman Leo, “Tumben lo peduli sama Melani Ricardo?”
“Bebeb Ze, kepala aku dipukul ikan Lele,” adu Galaksi pada Zeta.
“Cih, najis,” gumam Leo yang masih mendengar suara Galaksi.
...🍨🍨🍨...
Bu Wita geleng- geleng kepala melihat kelakuan anak sulungnya ini, pasalnya semenjak pulang sekolah tadi Leo masih betah berada di kedai es krim. Berkali- kali Bu Wita sudah menyuruh Leo untuk pulang dan mengganti seragamnya, tapi anak bandel itu hanya menulikan pendengarannya.
“Kamu mau Mama potong uang jajannya?!” ancam Bu Wita.
“Kok gitu? Salah Leo apa?”
“Makanya pulang, ini udah mau Maghrib. Kamu bau, pelanggan Mama pada kabur semua.”
“Meli nggak kesini, Ma?”
__ADS_1
“Nggak, tapi tadi Mami- nya ke sini. Cuma sebentar sih.”
“Ngapain, Ma?”
“Kepo, kamu. Udah sana pulang! Mama juga mau pulang, Papa hari ini pulang ke rumah.”
Leo mendengus mendengar ucapan Bu Wita. Ia pun segera bangkit dan memutuskan untuk pulang. Tak lama Bu Wita juga mengikutinya dari belakang.
“Langsung pulang, lho!” peringat Bu Wita sebelum masuk ke mobil.
Leo tidak menuruti perkataan Bu Wita, ia membelokkan arah motornya dan berhenti di depan sebuah rumah. Leo diam beberapa saat memperhatikan rumah itu. Namun rumah itu nampak sepi, Leo menghembuskan nafas lesu. Dirinya kembali memeriksa chat yang dikirimnya beberapa jam yang lalu masih belum dibaca.
“Lo kemana sih? Kenapa nggak ada kabar gini?” gumam Leo.
Ia kembali mengirim sebuah chat untuk Meli sebelum dirinya pergi dari sana. Leo tidak mau mendengarkan omelan panjang Bu Wita. Sesampainya di rumah, Leo disambut dengan tatapan tajam Bu Wita yang sudah sampai lebih dulu.
“Dasar ya, anak bandel! Kemana dulu kamu?!”
“Maaf, Ma. Tadi ke rumah Meli dulu.”
“Ngapain?”
“Mama kepo,” balas Leo mengerling jahil dan segera masuk.
“Mama kenapa bengong di sini?” tanya Qaila yang baru pulang dari ekskul.
“Pusing Mama sama kakakmu itu,” jawab Bu Wita memijit pelipisnya dan masuk ke rumah.
...🍨🍨🍨...
Jangan forget tinggalkan jejak yeu 😗😗😗
__ADS_1