
Meli kembali menikmati es krimnya dan terkadang diselingi obrolan bersama Leo. Meli dan Leo sempat beberapa kali berebut es krim mochi. Namun akhirnya Leo membagi dua setiap bulatan mochi itu. Leo benar- benar tak menyangka jika Meli sefanatik itu dengan es krim.
“Kak, dibagi dua dong. Gue belum nyoba yang itu,” kesal Meli.
Perasaan takut yang kemarin- kemarin menghinggapi pikiran Meli hilang entah kemana. Sementara Leo semakin senang karena Meli mulai akrab dengannya. Tiba- tiba dering ponsel Meli menginterupsi kegiatan mereka. Meli melihat ponselnya yang berkedip- kedip di atas meja.
“Halo, Bi?” sapa Meli yang ternyata itu adalah Bibi.
“Halo, Mbak. Mbak Meli disuruh pulang sekarang sama Bapak. Ada yang mau dibicarain katanya. Pak Kur udah berangkat jemput Mbak Meli,” jelas Bibi di seberang sana.
“Iya, Bi. Meli pulang sekarang.”
Meli mengakhiri obrolannya di telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Wajahnya terlihat tak bersemangat, entah apa yang akan dibicarakan Papanya. Sementara Leo mengernyit bingung melihat perubahan raut wajah Meli yang kini terlihat mendung.
“Ehm, Kak. Gue harus pulang sekarang, bilang ke Mama lo gue ngucapin makasih udah dikasih es krim gratis.”
“Lo mau balik kan? Kebetulan gue searah sama lo, bareng gue aja.”
“Gue di jemput supir gue. Kayaknya juga udah ada di depan.”
...🍨🍨🍨...
Meli melangkah masuk ke rumah dengan langkah gontai. Namun terdengar suara ribut didalam rumah. Meli tahu mengapa rumahnya ramai, siapa lagi jika bukan kedua orang tuanya yang sudah pulang dari perjalanan bisnis. Meli memasang wajah cerianya lagi ketika berhadapan dengan kedua orang tuanya.
“Papi sama Mami kapan pulang?” tanya Meli memberhentikan adu cekcok antara keduanya.
“Kamu sudah pulang? Duduk dulu, Papi mau bicara.”
Meli hanya menurut, sebenarnya ia juga bingung. Papinya terlihat sangat serius saat ini. Ada apa sebenarnya? Apa dia ketahuan jika sering pulang larut malam?
“Meli, Papi dapat laporan kalo kamu dua kali nggak masuk les. Apa benar?”
Seketika menundukkan kepalanya, memang ia pernah absen dua kali, “I… iya, Pi. Tapi waktu itu Meli nggak enak badan, ja… jadi absen.”
__ADS_1
“Meli, denger ya? Kamu absen dua kali pertemuan saat tempat les kamu ngadain penilaian. Otomatis nilai kamu menurun, Mami perhatiin juga nilai sekolah kamu menurun,” kini Maminya ikut menambahi, “Seharusnya kamu jaga kesehatan, Sayang. Apa Bibi nggak ngurus kamu?”
“Nggak, Mi. Bibi nggak salah, cuma aku yang kurang perhatiin kesehatan.”
“Lain kali kalo Mami sama Papi dapat laporan nilai kamu turun lagi, Mami bakal tambah jam les kamu,” peringat Maminya.
Meli tetap pada posisinya selama kurang lebih dua jam untuk mendengarkan wejangan dari kedua orang tuanya yang selalu berhubungan dengan sekolah dan lesnya. Meli harus melawan kantuknya mendengar nasehat, ah tidak… itu lebih seperti omelan sang Mami. Orang tuanya silih berganti mengomel pada Meli, walau dengan bahasa yang lembut tetap terasa panas di telinga Meli.
“Oh ya, Papi ada perjalanan bisnis lagi di luar kota. Kamu di rumah sama Ma…”
“Mami ikut! Nanti yang mau ngurus Papi disana siapa? Memang Pak Irawan ikut?”
“Nggak.”
Meli memutarkan kedua bola matanya malas, sudah biasa mendengar Maminya merengek pada Papinya seperti ini. Ia juga baru sadar jika sedaritadi mereka berdua cekcok tentang ini.
“Kalo kamu ikut, nanti Meli sama siapa?” tanya Papi mengusap wajahnya gusar.
“Meli nggak apa- apa di rumah sendiri, kan ada Bibi juga,” sela Meli menengahi keduanya agar tidak berdebat lagi.
“Tuh, lagian bukannya Galang masih libur kuliah?”
“Iya, Mi. Tapi tiga hari yang lalu Bang Galang nginap di rumah Oma.”
“Ya udah nanti biar Papi kasih tau Galang buat nemenin kamu beberapa hari.”
Tak lama juga orang- orang suruhan kedua orang tua Meli datang untuk menyiapkan segala keperluan yang akan dibawa ke luar kota selama beberapa hari atau bahkan beberapa bulan. Meli sangat yakin jika orang tuanya tidak akan pergi sebentar, pasti akan membutuhkan waktu lama untuk mengurus pekerjaan di kota lain.
“Kamu boleh kembali ke kamar, setelah ini Papi sama Mami langsung berangkat. Kamu baik- baik di rumah,” jelas Papinya.
“Oh iya, Bi. Jaga Meli baik- baik ya? Jangan sampai seperti kemarin! Saya nggak mau dengar Meli sakit lagi dan berakibat menurunnya nilai Meli,” lanjut Maminya pada Bibi.
Pembicaraan mereka selesai dan mulai sibuk dengan urusan masing- masing. Meli segera masuk ke kamar dan menguncinya, ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Memejamkan mata sejenak untuk menghilangkan rasa kesalnya. Meli mati- matian untuk tidak mengeluarkan air matanya ketika berhadapan dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Sebenarnya matanya sudah memanas dan siap mengeluarkan cairan bening itu , tapi dengan sekuat tenaga ia tahan. Ingin rasanya ia menolak dan memberontak perkataan kedua orang tuanya, tapi Meli tidak ingin dikatakan sebagai anak yang durhaka.
Suara ketukan pintu membuat Meli terkesiap, ia segera bangun dan berjalan menuju pintu. Ternyata dirinya ketiduran dari sore tadi, bahkan dirinya masih mengenakan seragam sekolah lengkap. Meli membuka pintu dan terpampang tubuh tegap seseorang sedang berdiri dihadapannya.
“Meli ayo makan malam,” ajak orang tersebut.
“Tunggu! Kenapa masih pakai seragam?”
“Ah, tadi Meli ketiduran. Bang Galang duluan ke bawah, nanti aku nyusul.”
Galang tidak menjawab dan kembali turun ke bawah, sementara Meli kembali masuk kamar untuk mandi. Selesai mandi Meli segera menghampiri Galang yang sudah asyik makan dengan kaki nangkring di kursi.
“Kenapa baru mandi? Tumben- tumbenan kau tidur siang.”
“Nggak apa, tadi cuma mau tiduran malah kebablasan.”
Meli pun menyendokkan nasi dan lauk ke mulutnya. Galang juga tak banyak bicara dan melanjutkan makannya dengan lahap, bagai tak makan beberapa hari.
“Oh ya, Oma nyariin kemarin? Katanya kau jarang main kesana. Sekali- kali tak apalah k… uhuk… uhuk.”
“Ck, makanya telen dulu tuh makanan,” gerutu Meli memberikan segelas air pada Galang.
Galang menghembuskan nafas leganya, matanya sudah berair, “Untung tak lewat aku.”
“Habis ini temani aku jalan- jalan ya? Bosan aku disini terus.”
“Nggak bisa, Bang. Aku harus belajar, besok sekolah,” tolak Meli dan membawa piringnya ke dapur.
...🍨🍨🍨...
Jangan lupa tinggalkan jejak sezeng
__ADS_1