
Zeta sedang menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan, Meli sedang ke kantin untuk membeli beberapa cemilan untuk mereka berdua. Tadi pelajaran terakhir sebelum istirahat memang diadakan di perpustakaan, cari suasana baru kata guru yang mengajar. Ketika bel istirahat berbunyi hanya Zeta dan beberapa anak dari kelasnya yang bertahan di ruang penuh buku ini, sedangkan yang lain sudah membubarkan diri.
“Uh, nggak sampai.” Gumam Zeta berusaha mengambil sebuah novel yang berada di rak paling atas.
Zeta terus menggapai novel itu, tapi tetap saja tangannya tidak sampai. Sebenarnya Zeta juga ingin meminta bantuan teman- temannya yang memiliki tinggi lebih dari dirinya. Hendak berbalik, tiba- tiba ada sebuah tangan yang menjangkau novel itu. Spontan Zeta membalikkan tubuhnya dan kini mereka sedang berhadapan.
“Mau ambil ini?” tanya anak itu menundukkan kepalanya untuk melihat Zeta.
Zeta mendongakkan kepalanya dan mengangguk. “I… iya, Kak.”
Entah mengapa Zeta tiba- tiba menjadi gugup. Mereka berdua masih bertahan dengan posisi itu sebelum seseorang menyeruak masuk perpustakaan dan segera menyingkirkan anak yang berdiri didepan Zeta. Namun tidak sengaja anak tadi menubruk rak dibelakangnya sehingga menyebabkan buku- buku berukuran tebal berjatuhan.
Suasana perpustakaan yang seharusnya tenang menjadi gaduh disebabkan oleh tiga orang. Zeta diam mematung ketika Galaksi merelakan punggungnya yang dijatuhi buku- buku tebal itu untuk melindunginya agar tidak tertimpa buku. Sementara Bima, anak yang tadi mengambilkan novel untuk Zeta masih terduduk dengan bahu yang terasa nyeri.
“Ada… Ya Ampun! Mengapa bisa jadi seperti ini?!” tanya penjaga perpustakaan histeris melihat keadaan perpus yang kini telah hancur dengan buku yang berserakan.
“Aduh.” Rintih Galaksi memegangi punggungnya. “Ayo ke UKS!” lanjutnya menarik tangan Zeta untuk segera keluar.
“Tapi…”
Zeta tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena Galaksi sudah menyeretnya keluar. Lagipula Galaksi juga butuh pengobatan. Sementara penjaga perpustakaan yang tadi dikacangi diam mengatupkan mulutnya dan mengedipkan matanya bingung. Bima juga lekas pergi dari sana, bahunya terasa ngilu.
“Terus ini yang beresin siapa?” tanya si penjaga perpus, dia memperhatikan sekitarnya yang mendadak tidak ada orang.
“Eh, kenapa mendadak sepi?”
Zeta membantu mengompres punggung Galaksi, dia sudah lupa dengan novel yang diinginkannya. Sesekali Galaksi meringis merasakan punggungnya yang ngilu. Tadi dirinya sengaja meminta Zeta mengobati lukanya, dengan terpaksa juga Zeta menurut.
“Masih sakit, Kak?” tanya Zeta.
“Hm.”
“Kok Kakak tau kalo aku ada di perpus?”
“Tadi si Moli yang kasih tau.”
“Meli, Kak.”
Percakapan mereka terhenti ketika ada seorang anak masuk UKS dengan memegangi bahunya. Zeta yang tahu anak itu hendak menghampiri, tapi Galaksi menahan Zeta.
“Kenapa, Kak?”
“Duduk!”
“Tapi…”
“Siti! Tuh ada pasien!” teriak Galaksi.
“Nama gue bukan Siti!” balas anak yang tadi dipanggil Siti yang ternyata bernama Sisil.
“Kak Bima maaf ya? Tadi…”
“Iya nggak apa- apa, bukan salah lo juga.” Potong Bima dan melirik kearah Galaksi.
“Apa lo?!” sinis Galaksi.
__ADS_1
🪐🪐🪐🪐🪐
Zeta tengah menunggu Meli piket. Hari ini sepertinya Zeta akan pulang seorang diri, karena Pak Wijoyo tidak bisa menjemput. Pak Wijoyo kembali harus bertugas ke luar kota. Zeta juga belum tahu siapa yang akan menemaninya di rumah nanti. Sion dan Sean sudah pulang ke rumah mereka. Lamunan Zeta buyar ketika ada yang menepuk bahunya.
“Ayo pulang!” ajak Meli membenarkan letak tas punggungnya.
“Udah selesai?”
Meli menggandeng lengan Zeta dan mereka berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Mereka berdua asyik mengobrol hingga tak sadar jika keduanya sudah sampai gerbang.
“Lo mau bareng nggak?” tawar Meli.
Zeta menggelengkan kepalanya, dia tidak mau merepotkan Meli. Rumah Meli tidak searah dengannya, kasihan jika nanti harus putar balik.
“Ze! Galaksi mau ngajak pulang lo nih.” panggil seseorang membuat Zeta dan juga Meli menoleh.
Virgo tengah melambaikan tangan kearah Zeta dan Meli. Sementara dibelakang Virgo, Galaksi sudah mengambil ancang- ancang untuk menendang kaki salah satu sahabatnya itu.
“Mati lo!” umpat Galaksi menendang kaki Leo yang tadi memanggil Zeta.
Di kejauhan Zeta dan Meli masih melihat adegan didepannya itu. Keduanya mengernyit bingung, tapi detik berikutnya mereka berdua sudah tidak memperdulikannya. Zeta melambaikan tangannya kearah mobil Meli yang sudah berjalan menjauh dari sekolah, kini dirinya berjalan menuju halte dengan menenteng helm. Baru saja Zeta duduk di kursi halte, beberapa motor berhenti didepan halte. Orang- orang itu turun dari motor dan menghampiri Zeta. Salah satu diantara mereka mengeluarkan ponselnya.
“Ini anaknya?” tanya anak itu.
“Iya, kayaknya. Nih yang difoto juga sama.”
“Hm? Iya, ada apa ya?” tanya Zeta memperhatikan orang- orang didepannya yang penampilan mereka sama seperti Galaksi dan teman- temannya. Namun seragam yang mereka kenakan bukan dari SMA 20.
“Lo kenal Bima?”
“Kak Bima? Yang dari fotografer?”
“Bener dia orangnya. Ayo ikut kita!” ajak salah satu diantara mereka menarik tangan Zeta.
“Ke… kemana?”
“Nggak usah banyak tanya lo!” ucap anak itu menarik paksa Zeta agar ikut.
“Nggak mau! Aku nggak kenal kalian semua!” tolak Zeta meronta. Di halte ini sama sekali tidak ada orang.
BUKK!
Zeta yang masih meronta untuk dilepaskan terkejut mendengar suara hantaman itu. Matanya membulat melihat anak yang tadi menariknya paksa sudah tersungkur di tanah. Sementara anak- anak yang lain juga sedang berkelahi.
“Bener ternyata dia pacar lo.” Ucap anak yang tersungkur tadi mencoba bangkit.
“Dia sama sekali nggak ada hubungannya, jadi jangan bawa- bawa dia!”
Zeta menoleh dan mendapati Galaksi sudah berdiri disampingnya dengan tangan terkepal siap meluncurkan tinjunya.
“Oh ya? Kalo gitu gue boleh dong bawa dia? Lo juga nggak akan peduli.”
__ADS_1
Kembali Galaksi melayangkan tinjunya, membuat anak itu kembali tersungkur. Sementara Leo dan Virgo juga masih asyik berkelahi di belakang sana. Baru kali ini Zeta berada ditengah- tengah perkelahian.
“Ngomong sama bos lo pada! Urusan dia sama gue, jadi jangan bawa- bawa anak yang nggak ada hubungannya sama gue.” Peringat Galaksi dan menyuruh anak- anak itu pergi.
Anak- anak yang telah bonyok dihajar itu pun langsung pergi darisana mengikuti perintah Galaksi. Kini Galaksi beralih pada Zeta yang masih diam mematung.
“Ingat kata- kata gue! Mulai sekarang, jangan deket- deket gue ataupun Bima!”
“Kenapa?”
“Karena Bima juga salah satu dari mereka.”
“Nggak, bukan. Maksud Zeta, kenapa aku nggak boleh deket Kak Galaksi?”
Galaksi mendengus sebal mendengar pertanyaan Zeta. “Lo berdua balik dulu! Gue masih punya urusan sama nih bocah.”
“Oke, jangan lo apa- apain! Inget anak orang.” Ucap Virgo sebelum pergi darisana.
Akhirnya Galaksi menjelaskan panjang lebar pada Zeta, mereka masih berada di halte bus. Namun Zeta tetap bersikeras pada pendiriannya, ia tidak mau harus menjauh dari Galaksi. Bukankah cowok itu sendiri yang mengatakan bahwa mereka berpacaran?
“Lo mau kejadian kayak tadi terjadi lagi?” tanya Galaksi yang mulai gusar, betapa keras kepalanya gadis itu.
“Kan, ada Kak Galaksi yang tolongin Zeta.” Jawab Zeta seraya tersenyum ceria.
Galaksi mengusap wajahnya. “Kalo gue nggak ada?”
“Hmm…”
“Siapa yang mau tolongin lo?”
“Aku yakin Kak Galaksi bakal selamatin Zeta kayak tadi.”
Kembali senyuman Zeta membuat Galaksi mendengus kesal. Entah bagaimana lagi dirinya menyuruh gadis itu untuk menjauh darinya. Galaksi bukanlah cowok baik- baik, hobinya tawuran dan balapan liar. Seminggu dua kali ia dan teman- temannya pasti menggelar tawuran dan hampir setiap malam ia balapan liar. Gadis seperti Zeta yang terjebak dalam lingkaran Galaksi, akan sulit untuk keluar. Dan kini Galaksi tengah memperingatkan gadis itu sebelum nantinya benar- benar terjebak.
“Ayo gue antar lo balik.” Galaksi menyerah untuk hari ini.
Ternyata yang akan menemani Zeta selama Pak Wijoyo keluar kota adalah Venus. Venus adalah adik Vernon, kini dia duduk dikelas 3 SMA. Namun Zeta tidak satu sekolah dengan Venus. Sebenarnya Zeta merasa tidak enak dengan sepupunya, ia merasa jika dirinya terlalu merepotkan. Setiap Pak Wijoyo keluar kota, pasti salah satu sepupunya harus meluangkan waktunya untuk menemani Zeta.
“Kak Venus nggak apa- apa nginap disini?” tanya Zeta disela makannya, sekarang mereka tengah makan malam.
Tadi Budhe Nita mengantarkan makan malam untuk dimakan mereka. Venus menelan makanannya dan meminum sedikit air sebelum menjawab pertanyaan Zeta.
“Ya nggak apa- apa dong. Aku malah seneng bisa nemenin kamu. Nanti juga gantian sama Kak Vernon, si kembar juga katanya mau ikutan juga.”
“Tapikan Kakak pasti juga sibuk, nanti kalau tugas kakak…”
“Hei, aku kan juga bisa bawa tugas ku kesini. Lagian kalo butuh apa- apa bisa telpon Kak Vernon. Rumah juga cuma beda 3 blok doang.” jelas Venus. “Eh iya, kamu punya pacar ya?” tanya Venus memicingkan matanya.
Zeta menunduk dengan wajah yang merona, ia kembali teringat percakapannya bersama Galaksi sore tadi. Dirinya juga tahu cowok seperti apa Galaksi itu. Namun Zeta sudah terlanjur menyukai cowok itu entah apa yang akan terjadi nanti. Baru kali ini Zeta merasakan hal aneh seperti ini dalam hidupnya.
Untuk Wawasan:
Aldebaran adalah bintang paling terang dalam rasi Taurus dan salah satu bintang paling terang dalam langit malam.
By. Wikipedia
__ADS_1