Halaktyka

Halaktyka
Cemburu?


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak yeu...



...🍨🍨🍨...


Meli menggelengkan kepala melihat pemandangan didepannya, hari ini hari Senin dan dia sedang bertugas PMR. Meli berdiri dibelakang barisan kelasnya, tapi pemandangan di depannya sangat mengganggu. Keberadaan Galaksi di barisan kelasnya sangat mencolok, Galaksi berdiri tepat disamping Zeta. Galaksi tidak peduli sedaritadi mendapat pelototan dari Pak Purwo.


‘Dasar, nggak inget kalo sekarang kelas 3. Bentar lagi lulus, tapi kelakuan masih kayak gitu,’ cibir Meli dalam hati. Tentu dirinya tidak berani menyuarakan kata hatinya itu, bisa bonyok dihajar Galaksi dia.


Dilain tempat, terdapat Virgo yang berada dibarisan istimewa dan sesekali menampakkan cengiran bodohnya pada Meli. Meli memutar bola matanya malas, ia menengok ke sebelah kanannya terlihat Leo dengan tatapan tajamnya menatap lurus ke depan. Meli meringis mengingat kejadian hari Minggu kemarin, dirinya belum berani bertatap muka dengan Leo.


Ketika amanat dari Pak Prio, entah mengapa tiba- tiba banyak anak- anak yang jatuh pingsan dan mengeluh jika kepala atau perutnya sakit. Seketika anak- anak PMR menjadi sangat sibuk, termasuk Meli yang daritadi hilir mudik dari lapangan ke UKS. Meli memperhatikan seorang anak yang sedang berdiri tak jauh darinya. Wajahnya terlihat pucat, tapi anak itu masih berusaha berdiri tegak.


“Kalo nggak kuat, ke belakang aja neduh,” kata Meli menepuk pundak anak itu, “Belum sarapan ya?” lanjut Meli masih memperhatikan anak itu.


“Ng… nggak apa- apa. Bentar lagi selesai…”


“Pak Prio kalo ngoceh lama lho, ayo mending neduh daripada pingsan disini,” ajak Meli menarik lengan anak itu.


Akhirnya anak itu hanya pasrah diseret oleh Meli, sebenarnya kepalanya juga sudah terasa pening sejak Pak Prio mengucapkan salam. Anak itu melirik kearah Meli memperhatikannya, lalu matanya beralih ke nametag milik Meli.


BRUKK!


“Kyaa!” pekik Meli karena tubuhnya tertimpa anak yang tadi diseretnya.


Seketika Meli menjadi tontonan para peserta upacara, banyak yang hendak menghampirinya untuk membantu. Tapi seseorang sudah menyingkirkan tubuh anak yang pingsan itu dari atas Meli.


“Lo nggak apa- apa?” tanyanya.


“Nggak apa- apa, bisa bantu bawa anak ini ke UKS?” pinta Meli.


Meli ikut membantu anak itu dengan susah payah merangkul anak yang pingsan tadi, mereka kekurangan drakbar karena banyak yang pingsan. Namun ketika Meli melihat siapa yang berada disampingnya, mendadak ia menjadi kaku. Wajahnya seketika pucat pasi, Meli sudah mati- matian menghindar dari makhluk disampingnya ini sejak pagi tadi.


“Ckck, cowok apaan lemah kayak gini,” gerutu Leo.


“Di… dia pingsan, ehm… karena belum s…sarapan,” cicit Meli.

__ADS_1


“Gue juga belum sarapan, nyatanya kuat gotong nih bocah,” jawab Leo dengan dengusan kesal, “Lo balik ke kelas aja, biar anak UKS yang urus nih bocah!” perintah Leo.


“Ta… tapi Kak…”


Meli tidak melanjutkan ucapannya karena Leo sudah menatapnya tajam. Tentu membuat Meli seketika menciut. Tanpa berkata lagi, Meli kembali ke kelas. Upacara juga sudah selesai, sepertinya Pak Prio sadar jika para siswanya banyak yang tumbang. Sehingga mempercepat sesi amanatnya.


...🍨🍨🍨...


Bel istirahat berbunyi nyaring, bunyi yang seketika menyejukkan suasana kelas yang sedaritadi terasa sangat panas. Hari ini Meli tidak bisa menikmati waktu istirahatnya dengan tenang karena harus piket di UKS. Sementara Zeta sudah menghilang dari kelas menuju rooftop untuk menikmati bekal bersama kekasihnya.


“Nasib jadi jomblo. Huft, kapan Jin jin Oppa nembak gue?” gumam Meli ngelantur.


Meli memasuki UKS yang terlihat ramai, anak- anak yang tadi pingsan sebagian belum kembali ke kelas. Ranjang UKS juga masih penuh. Meli menghampiri meja jaga untuk meminta operan pada anak yang bertugas sebelumnya.


“Hari ini penuh, semangat ya? Bentar lagi si Sisil datang kok,” ucap seorang seniornya.


Meli hanya mengangguk seadanya dan menyapu pandangannya keseluruh ruangan. Lalu terhenti pada sebuah ranjang yang dekat dengan jendela. Meli menghampiri ranjang itu yang berisi seorang anak. Meli berjalan sepelan mungkin agar tidak mengusik tidur anak itu.


“Kenapa jalannya gitu, Kak?”


“Udah, Kak. Makasih tadi udah nolongin aku. Aku sengaja nungguin kakak dan nggak balik ke kelas dulu buat ucapin terima kasih,” ucap anak itu tersenyum.


“Iya, tapi kok kamu tau aku hari ini jaga?” tanya Meli bingung. Namun hanya ditanggapi senyuman misterius anak laki- laki itu yang diketahui Meli adalah anak kelas satu.


...🍨🍨🍨...


Suara gelak tawa sungguh menggangu pendengaran Leo dan Virgo yang tengah melewati ruang UKS. Sebenarnya suara tawa itu tak terlalu keras, tapi Leo mengenal suara itu. Ia pun masuk UKS untuk memastikan dugaannya. Melihat pemandangan didepannya, Leo mengepalkan tangannya.


“Go, lo ke kantin duluan!” perintah Leo pada Virgo.


“Kenapa? Tadi lo yang ngajak gue.”


Leo menghembuskan nafas kesalnya, “Gue hari ini jaga.”


Mendengar jawaban Leo, alis Virgo seketika mengerut, “Bukannya lo jaga lusa?”


“Bacoet lo, udah sana pegi!” bentak Leo.

__ADS_1


Setelah kepergian Virgo, Leo menghampiri meja jaga yang di sana ada Sisil tengah menulis daftar pengunjung UKS.


“Siti, lo keluar sana. Gue gantiin hari ini!” perintah Leo dengan wajah datar.


“Gue bukan Siti, pea. Lagian ngapain lo gantiin gue?”


“Kagak usah banyak omong, njir! Sana lo pergi!”


Sisil merasa tak terima, tapi mau bagaimana lagi dirinya hanya bisa menurut. Cari masalah dengan Leo sama saja ingin mendekatkan ajal.


BRAKK!


“LO YANG CUMA PURA- PURA SAKIT ATAU NUMPANG TIDUR DISINI… KELUAR DAN BALIK KE KELAS LO! UKS BUKAN TEMPAT TUMPANGAN BUAT TIDUR!!” bentak Leo.


Seketika hening, suara cekikikan yang didengarnya tadi juga hilang. Tak lama hampir seluruh anak di UKS ini cepat- cepat keluar dari sana begitu mengetahui siapa yang berteriak tadi. Meli keluar dari bilik milik Rian – nama anak yang pingsan tadi –. Wajahnya seketika memucat begitu melihat Leo tengah menatapnya tajam.


“Siapa yang buat ribut, Kak?” tanya Rian.


“Rian, mending kamu balik ke kelas sekarang,” bisik Meli.


“Lho kenapa, Kak? Aku tadi udah janji mau nemenin kakak sampai istirahat kedua.”


“Gue yang bakal nemenin Meli, mending lo balik ke kelas. Udah segar bugar kan lo,” jawab Leo sengit.


Meli memberi kode agar Rian patuh. Akhirnya Rian juga keluar dari UKS menuju kelasnya. Hanya tinggal Meli dan Leo yang masih menatapnya tajam. Entah mengapa Leo merasa kesal melihat keakraban Meli dengan anak kelas satu itu.


“Kok Kak Leo di sini?”


“Gue gantiin Siti, mendadak mules katanya,” jawab Leo asal, “Nih lo kerjain,” lanjut Leo berjalan ke kursi yang tidak jauh dari meja jaga.


Tak ada pilihan lain selain menuruti kemauan Leo. Meli segera berkutat pada kertas- kertas diatas meja. Sementara Leo duduk santai dengan memainkan game di ponselnya, tapi pandangannya terkadang tertuju pada wajah serius Meli.


...🍨🍨🍨...


Anyeong Jin Jin Oppa


__ADS_1


__ADS_2