Halaktyka

Halaktyka
Betelgeuse


__ADS_3

Hari Senin merupakan hari yang paling membuat kebanyakan orang kurang semangat dalam mengawali aktivitasnya karena pikirannya masih terbawa ketika weekend. Begitupula yang sedang dirasakan hampir seluruh siswa- siswi SMA 20. Hari Senin pasti akan diadakan upacara bendera yang artinya mereka akan berjemur dibawah matahari yang hari ini semangat memancarkan sinarnya. Kebanyakan anak akan berharap jika yang menjadi pembina upacara bukan Pak Prio, karena jika Pak Prio yang menjadi pembina, pasti akan banyak siswa yang berguguran.


“Semoga bukan Pak Prio.” Gumam Virgo yang berdiri disamping Galaksi.


“Set dah, malah dia beneran.” Sambung Ares seorang anak yang ikut barisan Virgo dan Galaksi.


“Makanya lo nggak usah berdoa, lo kebanyakan dosa nggak bakal dikabulin.” Ejek Roni.


Mereka bukan berbaris dibarisan kelasnya, melainkan barisan khusus bagi siswa yang melanggar peraturan. Mendengar ejekan Roni, Ares tertawa cekikikan. Sementara Virgo sudah misuh- misuh tidak jelas. Virgo yang merasa di bully tidak terima, biasanya kedua sahabatnya akan membela. Tapi Leo sedang bertugas, sedangkan Galaksi…


“Tumben lo diem?” tanya Virgo. “Argh! Sakit be…” Virgo tidak melanjutkan caciannya ketika melihat siapa yang baru saja menendang kakinya.


Pak Purwo menatap Virgo garang, Ares dan Roni sudah diam dengan pandangan menunduk. Sementara Virgo hanya nyengir dan mengucapkan kata maaf, lalu menunduk. Raungan Virgo tadi membuat beberapa anak menoleh ke barisan istimewa itu.


Berbeda dengan Galaksi, ia tidak terpengaruh sedikitpun oleh keributan yang dibuat Virgo. Kini pandangannya terkunci pada satu titik, ketika tidak sengaja memperhatikan barisan yang berada disampingnya. Seorang gadis yang sedang mendengarkan amanat dari Pak Prio dengan sesekali menyeka peluhnya. Namun ada perasaan aneh dalam diri Galaksi. Galaksi menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi, gadis itu menunduk dan dalam sekejap ambruk kebelakang. Entah kerasukan apa, Galaksi menyeruak membelah manusia- manusia yang menghalangi jalannya.


“Ga, lo mau kem…”


“Galaksi! Mau kemana kamu?!” teriak Pak Purwo.


Galaksi tak menghiraukan panggilan orang- orang yang memanggilnya, bahkan amanat Pak Prio sempat terhenti untuk menyaksikan sang pentolan sekolah lari sprint menghampiri seseorang. Galaksi berjongkok dan menyangga kepala gadis itu yang kini memejamkan matanya, petugas PMR kalah cepat dengan Galaksi.


“Ze… bangun! Buka mata lo!” pinta Galaksi menepuk pelan pipi Zeta yang tampak pucat, bibirnya juga kering dan keringat membasahi dahinya.


Tanpa pikir panjang Galaksi langsung menggendong Zeta untuk membawanya ke UKS, ekspresinya sangat khawatir. Petugas PMR yang baru datang dengan membawa drakbar kebingungan. Tadi mereka mendapat info kalau ada yang pingsan.


Meli terlonjak kaget ketika Galaksi berlari kencang melewatinya, hampir saja dirinya diseruduk oleh tubuh besar Galaksi. Meli mengelus dadanya, tapi seketika mematung. Ia menoleh kearah Galaksi yang kini masuk UKS. Meli membulatkan matanya, ia tahu siapa yang berada dalam gendongan Galaksi tadi. Meli hendak melangkah untuk menyusul Galaksi, khawatir dengan keadaan Zeta. Namun lengannya ditahan seseorang.


“Mau kemana lo?!” tanya orang itu, bukan bertanya lebih seperti membentak.


“Uhm… i… itu, Kak. Gu…”


“Di UKS udah ada yang jaga, tugas lo disini. Lo tugas di UKS habis istirahat.” Jelas anak itu dengan nada datar dan pandangannya lurus kedepan.


Meli tak bisa berbuat apapun, ia membuang nafasnya lesu. Dirinya kembali menjalankan tugasnya dengan sesekali mata melirik kearah UKS yang sepertinya menjadi kacau sejak kedatangan Galaksi.


Galaksi masih menunggu Zeta, dia tidak kembali ke lapangan untuk melanjutkan upacara. Toh disini lebih nyaman, tidak perlu kembali berpanas- panas ria. Tak hanya Zeta yang terbaring di salah satu ranjang UKS, ada dua anak lain yang juga pingsan. Tadi Zeta sudah diberi perawatan oleh penjaga UKS. Tentu dengan takut- takut, akhirnya anak itu menginteruksikan Galaksi. Galaksi terlihat tidak sabar dengan yang dilakukan anak itu.


“Sini biar gue! Lemot lo! Kalo lo lemot gini keburu mati pasiennya!” omel Galaksi.


“Ma.. maaf.”


“Terus habis gini diapain?!”


“Ikat pinggangnya agak dilonggarin, terus telapak tangannya dipijit.” Jawab anak itu takut- takut, padahal dirinya lebih senior dari Galaksi.

__ADS_1


“Sampe kapan mijitnya? Kenapa nggak bangun- bangun?!”


“Pasti bangun kok, tunggu beberapa menit lagi.” Jawab anak itu. “Gue permisi dulu, ada yang pingsan lagi.” Lanjutnya hendak menuju ranjang sebelahnya.


“Lo beliin teh anget sama roti di kantin, nih duitnya! Kembaliannya buat lo aja!” perintah Galaksi pada anak tadi dan memberikan uang berwarna hijau.


Galaksi masih mengikuti intruksi dari anak tadi, dia memijat telapak tangan Zeta pelan. Namun diselingi dengan memberikan bau- bauan seperti minyak angin agar Zeta cepat sadar. Beberapa menit kemudian setelah pesanan Galaksi tiba, Zeta membuka matanya. Ia mengerjapkan beberapa kali untuk membiasakan cahaya yang masuk melalui retinanya.


“Udah bangun? Masih pusing? Ada yang sakit?” tanya Galaksi bertubi- tubi membuat Zeta langsung menoleh.


“Kak Galaksi?”


Zeta mengernyitkan dahi melihat Galaksi dengan ekspresi khawatir tengah menatapnya. Zeta mencoba untuk duduk walau kepalanya terasa pusing. Dirinya memang tidak sempat sarapan tadi, padahal Pak Wijoyo sudah mengomelinya. Galaksi menyodorkan teh hangat tadi, tanpa berucap sepatah katapun Zeta segera meminumnya. Tenggorokannya terasa kering.


“Nih makan.” Kata Galaksi menyodorkan sepotong roti.


“Nggak usah, Kak. Aku bawa beka… hmph.” Ucapan Zeta terpotong ketika Galaksi langsung menyumpalkan roti itu kemulutnya.


“Bekal yang lo bawa buat dimakan nanti siang, roti ini lo makan pagi ini.” Jelas Galaksi.


“Kak Galaksi yang tungguin Zeta sampai bangun?” tanya Zeta.


“Hmm? Itu… iya.” Jawab Galaksi mendadak salah tingkah, dirinya pun tidak mengerti mengapa seperti kesetanan melihat Zeta pingsan.


Melihat ekspresi salah tingkah Galaksi, Zeta tertawa senang. Sementara Galaksi langsung keluar dari UKS.


 


 


Zeta mengetuk pintu kelasnya, ia yakin jika saat ini kelasnya sudah ada guru yang mengajar mata pelajaran pertama. Beruntung Zeta diizinkan masuk setelah memberikan alasan keterlambatannya. Sebenarnya guru itu agak senewen mengingat bagaimana tadi upacara mendadak terhenti karena kegaduhan yang ditimbulkan Galaksi. Guru itu bukannya tidak tahu siapa Zeta, tapi dirinya juga tidak bisa menyalahkan Zeta yang tadi pingsan.


“Baik, kita lanjutkan pembahasan kita.” Ucap guru itu setelah melihat Zeta duduk dibangkunya.


“Ssst, lo tadi beneran pingsan?” Bisik Meli.


“Iya, kenapa?”


“Wajah lo nggak kayak orang baru pingsan. Nih gue ada roti buat lo.”


“Buat kamu aja, Mel. Nanti kamu nggak bisa istirahat, kan? Kamu jaga hari ini.”


“Gue bawa bekal dong.” Jawab Meli tersenyum senang.


“Tumben? Tapi nggak boleh makan didalam UKS.” Ingat Zeta.

__ADS_1


“Nanti bisa gantian, Kakak yang jaga sama gue baik kok.” Jawab Meli masih dengan senyum mengembang.


Namun senyumnya luntur ketika melihat Leo sudah duduk manis dibalik meja yang didepannya ada buku pasien. Meli menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada dirinya dan Leo saat ini. Tidak deng, bukan hanya mereka, tapi ada seorang anak yang tidur disalah satu ranjang. Ragu- ragu Meli melangkahkan kakinya mendekat kearah Leo.


“K…kok Kak Leo di… disini?” tanya Meli gugup.


“Oh lo udah datang? Gue gantiin Si… Siti?”


“Kak Sisil? Emang Kak Sisil kemana?”


“Mana gue tau, bukan urusan gue. Oh ya, gue belum makan. Nih gue kasih duit, lo beli dikantin makanan yang bikin kenyang.” Kata Leo memberikan uang pada Meli. “Beli dua ya. Gue tunggu.” Lanjutnya kembali berkutat dengan game di ponselnya.


Meli mengerjapkan matanya bingung, tapi karena tidak mau mendengar perintah untuk kedua kalinya, dia segera melesat ke kantin.


Meli kembali dengan membawa semua pesanan Leo, ia memberikannya pada Leo. Leo menerima tanpa sepatah kata pun. Leo berjalan ke salah satu ranjang yang tertutup tirai. Diam- diam Meli juga kepo, sebenarnya siapa yang tiduran di salah satu ranjang UKS itu. Leo membuka tirai itu dan menggelengkan kepala melihat seonggok manusia tengah tidur nyenyak.


“Bangun lo, Go!” kata Leo menggeplak bokong Virgo.


“Ahelah, bentaran ngapa? Gue masih ngantuk.” Jawab Virgo masih dengan mata yang terpejam.


“Lagian ngapain sih lo tidur disini? Sekarang jam istirahat, lo nggak ke kantin sama Galaksi?”


“Males gue.”


Virgo akhirnya bangun, wajah bantalnya membuat siapa saja menjadi klepek- klepek dibuatnya. Rambut berantakan dan seragamnya juga tak beratuan, keluar masuk seenaknya. Pandangan Virgo mengarah ke seorang gadis yang kedapatan sedang memperhatikan mereka. Meli mengalihkan pandangannya ketika Virgo menatapnya dengan alis yang bertaut.


“Lo temennya Zeta, kan?” tanya Virgo pada Meli, Leo juga ikut mengalihkan pandangannya.


Mendengar pertanyaan Virgo, Meli hanya mengangguk ragu. Sepertinya memang Virgo hanya tahu jika Meli adalah teman Zeta. Virgo meloncat turun dan menghampiri Meli, sebelumnya dia mengambil kantong kresek yang ada ditangan Leo. Virgo duduk didepan Meli, membuat Meli merasa tak nyaman.


“Zeta manis, temennya ternyata juga manis ya?” kata Virgo dengan senyum menawannya.


“Cck, mulai lagi lo.” Gumam Leo.


Sementara Meli mengernyitkan dahinya, sebenarnya ia tahu jika Virgo barusan menggodanya. Tapi ia tak mau jatuh, Meli benar- benar tahu bagaimana perangai kedua orang didepannya ini. Sebelas dua belas hampir mirip dengan Galaksi.


“Bukannya nggak boleh makan di UKS?” cicit Meli ketika melihat Leo maupun Virgo memakan rotinya.


Mendengar penuturan Meli, Virgo tertawa renyah. “Kalo sama gue boleh kok. Lo bawa bekal, kan? Makan aja, daripada kelaperan.”


Leo hanya menggelengkan kepalanya dan fokus ke makanannya dengan tangan yang satunya memainkan ponsel. Meli mengangguk dan akhirnya ikut makan bersama mereka. Ia berusaha mati- matian untuk tidak melempar sendok ke wajah Virgo yang sedaritadi menatapnya dengan memangku tangan dan tak lupa senyum yang menghiasi wajah Virgo.


Untuk Wawasan:


Nama Betelgeuse berasal dari kata Bait al-Jauzā, berasal dari bahasa Arab yang berarti "rumah sang raksasa". Nama lainnya untuk bintang ini adalah: Selain rasi Orion, bintang ini juga merupakan anggota dari berbagai rasi.

__ADS_1


By. Wikipedia


__ADS_2