
Semenjak insiden Meli menumpahkan minumannya di makalah milik Leo, dirinya selalu sial. Sedari awal dirinya tidak ingin berurusan dengan makhluk- makhluk seperti Leo dan teman- temannya. Namun ternyata sahabatnya memutuskan untuk menerima pernyataan cinta Galaksi dan kini mereka berpacaran. Meli membuang nafas lelah dan kembali menyendok es krimnya.
“Huft, les lagi… les lagi.”
Meli segera menghabiskan es krimnya dan bergegas menuju tempat lesnya. Meli masih menjadi pelanggan setia kedai es krim ini. Entah mengapa pemiliknya sangat baik padanya. Seorang wanita cantik yang aura keibuannya menguar ketika Meli sedang mengobrol dengan beliau.
“Kamu ngapain ngumpet di sini?” tanya seseorang dengan berkacak pinggang.
“Ehm, Leo nggak ngumpet kok. Tadi ada yang jatuh,” Leo segera berdiri, agak malu karena ketahuan sang Mama jika dirinya tengah bersembunyi.
“Kenapa nggak kamu temui si Meli? Dia tadi kayaknya lagi ada masalah.”
Leo mendengus mendengar penuturan Bu Wita. Mamanya ini benar- benar sok tahu sekali. Leo tidak mendengarkan Bu Wita dan dirinya duduk di kursi lalu fokus ke ponselnya. Bu Wita yang merasa diabaikan menggelengkan kepala dan mengikuti anak sulungnya itu.
“Hati- hati kalo si Meli diserobot Virgo,” ucap Bu Wita melirik Leo dan menampilkan senyum menyebalkan.
“Ma…”
“Ah, selamat datang! Silahkan!” kata Bu Wita menyambut pelanggan, meninggalkan Leo sendiri.
Leo kembali mendengus dan fokus ke game- nya. Namun pikirannya mendadak tidak bisa fokus setelah mendengar ucapan Bu Wita yang terakhir tadi.
Sebenarnya Leo juga bingung bagaimana awal dirinya tertarik dengan gadis seperti Meli. Padahal awal bertemu, dirinya merasa jengkel setengah mati. Bagaimana tidak? Tugas makalah yang ia buat semalam suntuk tiba- tiba basah kuyup dan pelakunya tak lain adalah Meli. Tapi anehnya, kini setiap Leo mengingat kejadian itu, dia akan terkikik geli. Membayangkan saat itu Meli benar- benar ketakutan dan wajahnya pucat pasi.
“Lo sehat?” tanya seseorang menyentuh dahi Leo membuat ia tersadar.
“Apa sih!” sewot Leo menepis tangan sahabatnya itu kasar, “Mana Galaksi?”
“Biasa, kencan dia.”
“Eh iya, gimana perkembangan lo ngejar si gebetan?” tanya Leo.
“Aih, gue mau nyerah rasanya. Susah bener dapetin dia, lebih gampang gue deketin Meli.”
“Go!” Leo menggeplak punggung Virgo, “Lo nggak boleh nyerah dong! Lo harus terus berusaha, nah, ini malam Minggu. Lo ajak dia jalan sana.”
Virgo terdiam ketika tadi hendak membalas pukulan Leo, ia memandang wajah Leo. Sedangkan Leo tiba- tiba gugup, apakah dirinya terlalu kentara?
“Woah, bener juga lo! Oke kalo gitu, gue pergi dulu,” ucap Virgo semangat dan segera pergi dari sana membuat Leo menghembuskan nafas leganya. Leo melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Seperti malam- malam sebelumnya, kini Leo memiliki aktivitas baru. Ia akan mengawasi seorang gadis ber- hodie biru yang baru keluar dari gedung tempatnya les. Kini bahkan dirinya tahu jadwal les gadis itu. Memang tempat les gadis itu tak terlalu jauh dari rumahnya, apalagi gadis itu selalu berjalan seorang diri. Pernah dulu gadis itu diganggu dua orang anak laki- laki seumurannya yang sepertinya les di tempat yang sama. Mereka mengikuti gadis itu diam- diam hendak mengutarakan perasaan pada Meli.
“Sst, cepet samperin. Lo mau coba taklukin dia, kan?” bisik salah seorang cowok bertopi hitam.
“Set dah, sabar. Nunggu agak sepi.”
“Cepet, goblock. Keburu tuh cewek jauh.”
__ADS_1
BUKK!
“Argh. Siapa lo?”
“Mau apa lo?!” bentak Leo ketika itu.
“Bukan urusan lo, njier!” bentak salah satu diantara mereka, “Sial, cepet kejar keburu jauh tuh cewek!”
Dua orang itu hendak mengejar Meli, tapi Leo menarik kedua orang itu hingga keduanya tersungkur. Leo segera melayangkan tinjunya untuk mereka berdua. Sementara Meli terkejut dengan suara ribut di belakangnya, ia menoleh ke belakang dan mendapati orang- orang yang sedang berkelahi. Meli segera mempercepat jalannya karena takut.
...🍨🍨🍨...
Leo memparkirkan motornya di depan sebuah apotek, kini dirinya mengikuti langkah Meli yang terlihat santai. Ia yakin jika gadis di depannya ini sedang menyumpal kedua telinganya dengan earphone. Namun walau begitu, Meli tetap merasa jika ada seseorang tengah mengikutinya.
“Oh My!” pekik Meli tiba- tiba, membuat Leo menghentikan langkahnya.
Leo mengernyit bingung karena tiba- tiba Meli menjerit. Namun ekspresinya berubah ketika Meli berlari kencang menuju sebuah minimarket didepan perumahan.
“Kok tiba- tiba dia lari? Apa gue ketahuan?” gumam Leo bingung, “Tapi gue udah buat jarak sama dia…”
Namun Leo tetap melanjutkan langkahnya dan bersembunyi di balik pohon di seberang jalan. Pandangan Leo terkunci pada Meli di dalam minimarket yang sedang mencari sesuatu. Lalu Leo melihat jika wajah Meli cemberut dan ia tengah mengobrol dengan seorang karyawan. Mereka berdua terlihat sangat akrab, tentu hal itu membuat Leo seketika gelisah. Meli keluar dari minimarket itu dan duduk didepannya dengan mulut yang tersumpal es krim.
Meli sedikit kesal karena es krim favoritnya habis dan Kak Rosa kehabisan stok. Namun akhirnya Hasan mentraktir beberapa es krim agar mood Meli kembali baik. Kini Meli tengah asyik menonton video comeback idolanya. Meli menjerit- jerit seorang diri karena kesenangan.
“Ya Allah, belum pulang lo?” tanya Kak Rosa yang melihat Meli masih asyik di depan minimarket.
“Ckck, terserah lo deh.”
Rosa akhirnya memutuskan kembali masuk dan melanjutkan pekerjaannya. Minimarket ini buka 24 jam. Rosa dan Hasan sering kebagian shift malam atau terkadang siang. Itu yang membuat Meli cepat akrab dengan mereka berdua, karena Meli jarang datang di pagi hari.
“Mel.”
"Hmm?”
“Besok lo mau nemenin gue ke café yang baru buka deket SMA 20 itu nggak?”
“Hah? Bukannya lo kerja, Bang?” tanya Meli masih fokus pada layar ponselnya, ia tahu jika yang sedang bicara padanya ini adalah Hasan.
“Gue libur kok, gimana?”
“Oke, lo yang bayar ya?”
“Setuju, nanti gue anter lo pulang.”
“Hmm,” gumam Meli, “Jiahh, si Hasan cool and imut banget!”
“Eherm, gue tau kok,” ucap Hasan dengan memamerkan senyumnya.
__ADS_1
“Bukan lo Bang.”
Seketika senyuman Hasan luntur.
Leo masih memperhatikan interaksi kedua orang yang duduk berdampingan didepan minimarket. Tangannya mengepal kuat dan giginya bergemelatuk menahan emosi.
Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu daripada nantinya lepas kendali dan menghampiri dua orang itu lalu membuat keributan.
...🍨🍨🍨...
Sementara Meli, kini dia duduk tenang diboncengan motor matic Hasan. Hasan benar- benar mengantarnya pulang dengan selamat sampai depan rumah. Meli turun dari motornya dan mengucapkan terima kasih pada Hasan, Hasan juga mengingatkan Meli untuk besok agar tidak lupa. Setelah melihat Hasan benar- benar pergi, barulah Meli masuk ke rumah. Rumahnya sudah sangat sepi dan gelap karena sekarang tepat tengah malam. Meli memang sering pulang sangat larut, tapi itu ketika dirinya les.
“Dari mana aja kamu?!”
CTEKK!
“Hwaaa, kaget!”
Meli benar- benar terkejut melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya. Lampu ruang tengah seketika menyala dan menampilkan sosok itu dan di belakangnya ada Bibi.
“B… Bang Pea. Eh, maksud Meli Bang Galang kok di sini?” tanya Meli dan matanya meminta penjelasan pada Bibi yang masih berdiri di belakang.
“Tak usah kau mengalihkan pembicaraan, aku tanya kau dulu. Darimana saja sampai pulang larut begini?!”
Meli menutup telinganya mendengar Galang berbicara. Tau lah bagaimana orang Medan jika sedang bicara. Sepertinya telinganya mulai sekarang akan sering berdengung.
“Meli baru pulang dari les.”
“Alah, les… les. Bohong kan? Kau pasti main dulu, makanya pulang malam begini.”
Meli sudah tak tahu bagaimana menghadapi Galang, ia memohon lewat tatapan mata kepada Bibi.
“Ehm, Mas Galang lebih baik istirahat. Mas Galang kan baru perjalanan jauh.”
...🍨🍨🍨...
Hai... hai... hai, Otor keceh nan kyut ini hadir lagi dengan cerita baru yang semoga dapat menyegarkan mata kalean 👀👀👀
Jadi cerita ini mengisahkan Meli si teman Zeze di novel sebelumnya. Boleh baca dulu cerita Halaktyka, atau langsung mau baca ini juga boleh.
Salam dari Bang Hasan
Dan jangan lupa tinggalkan jejak ya, guys...
__ADS_1