Halaktyka

Halaktyka
Antares


__ADS_3

Zeta mengernyit ketika melihat pemandangan didepannya. Hari ini ekskul fotografi akan ke puncak. Zeta berusaha membujuk Pak Wijoyo untuk mengizinkannya ikut. Pagi tadi Zeta sudah sangat semangat. Zeta berjalan menghampiri sosok yang membuatnya tambah semangat itu. Ia menepuk pundak anak itu.


“Kak Galaksi ikut ternyata?” tanya Zeta.


“Hmm, lagi suntuk di kelas.”


Zeta sudah duduk di bangku yang telah ditentukan, entah dengan siapa dirinya duduk. Namun Zeta berharap ia bisa duduk bersama dengan Galaksi. Gadis itu mengalihkan pandangannya keluar jendela. Namun tak lama, ia merasa ada yang duduk disebelahnya.


“Lo ngapain disini?!”


“Kenapa? Lo merasa terganggu?”


“Lo bukan anak fotografer, ngapain ikut segala?”


Pertengkaran antara Bima dan Galaksi itu membuat seluruh penghuni bus mengalihkan fokusnya pada dua anak itu. Sedangkan Zeta berusaha melerai dua orang itu. Akhirnya Bima dan Galaksi berhasil dilerai oleh pembina ekskul. Galaksi menatap remeh Bima yang tengah mengepalkan tangannya sebal.


“Doa Zeta terkabul.” Ucap Zeta tersenyum senang.


Mata Zeta berbinar ketika mereka semua sudah sampai di villa. Villa yang cukup besar dan luas, tapi pandangan Zeta fokus ke atap villa itu. Atap villa itu terdapat sebuah balkon yang tidak terlalu luas. Bima menghampiri Zeta, ia tersenyum melihat Zeta yang sepertinya sangat bahagia dengan perjalanannya.


“Gimana? Bagus ya?” tanya Bima. “Nanti gue mau keliling- keliling sekitar sini, mau ikut?”


Zeta mengangguk antusias, tapi seketika tersadar siapa yang mengajaknya berbicara.


“Emm, aku kesana dulu.” Pamit Zeta segera kabur.


Rombongan baru sampai siang hari, jadi para rombongan kini sedang mempersiapkan makan siang. Zeta duduk di sebelah Sinta dengan membawa piring serta minum. Sinta adalah salah satu anak fotografi, dirinya satu angkatan dengan Zeta. Memang Zeta belum begitu mengenal anak- anak yang mengikuti ekskul fotografi.


“Lo satu kamar sama siapa, Ze?” tanya Sinta disela makannya.


“Dewi, Lola, Kak Agustine, sama Kak April.” Jawab Zeta.


“Enak banget temen sekamar lo. Gue sama Dela kudu bagi kamar sama kakak- kakak galak.” Ucap Sinta tak semangat.


“Eh iya, Ze. Kak Galaksi ikut acara kita, ciee enaknya ditemenin pacar.” Goda Dela yang tiba- tiba muncul.


“Hehehe.” Kekeh Zeta malu- malu.


 


🪐🪐🪐🪐🪐


 

__ADS_1


Bima sudah bersiap dengan kameranya, sore ini dirinya akan berkeliling sekitar perkampungan dekat villa. Dia tengah menunggu Zeta yang belum juga keluar. Bima mengotak- atik kameranya dan iseng memotret sekitar villa.


“Maaf, Kak. Aku nggak bisa pergi sama Kak Bima.” Ucap Zeta menunduk. Dirinya juga merasa tidak enak pada Bima, ia terus berusaha menghindar. Padahal Bima tidak pernah mengganggunya apalagi mencelakakannya.


“Eh? Kenapa?” tanya Bima bingung.


“Ehm, itu…”


“Dia udah janji sama gue. Ayo, Ze!” Galaksi muncul entah darimana dan menarik Zeta menjauh darisana.


Zeta tersenyum dan segera mengikuti langkah Galaksi. Didekat villa ada perkampungan dan sebuah tempat wisata yang cukup terkenal. Namun tujuan mereka adalah sebuah danau yang letaknya dekat perkampungan itu. Tadi mereka diberitahu penduduk sekitar.


“Kak Galaksi kenapa ngajak aku kesini?”


“Nggak tau.”


Zeta mengernyit, tapi tidak lama. Karena gadis itu terlalu takjub dengan pemandangan yang ada didepannya. Air danau itu berwarna oranye terkena pantulan sinar matahari terbenam. Zeta tidak mau mensia- siakan kesempatan. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi kamera, lalu mulai membidik objek cantik itu. Sementara Galaksi hanya memperhatikan apa yang dilakukan Zeta dan entah mengapa jantungnya berdebar melihat gadis itu tengah fokus dengan ponselnya. Terkadang Zeta tersenyum melihat hasil bidikannya, dan senyuman itu sangat cantik menurut Galaksi.


Sepulang dari tempat tadi Zeta tidak langsung ke kamarnya, ia ke dapur untuk mengambil minum. Baru beberapa teguk Zeta meminum air putih itu, tiba- tiba ada yang merebut gelas dari tangannya. Tentu Zeta terkejut dan menoleh, ia mendapati Galaksi dengan santai meminum air di gelas itu hingga habis tak bersisa. Gelas kosong itu dikembalikan pada Zeta yang masih diam mematung.


“Thank’s.” ucap Galaksi langsung pergi darisana.


Zeta mengerjapkan matanya dan menatap gelas ditangannya yang kini isinya sudah tandas. Gadis itu memegang dadanya yang tiba- tiba berdegub kencang, perbuatan Galaksi tadi membuatnya merasa aneh. Pipinya juga terasa memanas, Zeta segera berlari masuk ke kamarnya. Diam- diam Galaksi memperhatikan Zeta dari balik dinding, dirinya tidak benar- benar pergi darisana.


Ponsel Galaksi berdering tanda ada seseorang yang menelponnya. Galaksi menuju halaman belakang tempat yang sepi, Leo yang menelpon dirinya. Tiba- tiba saja perasaannya tidak enak.


“Halo?”


“Halo? Ga, lo dimana?”


“Gue di Puncak, ada apa?”


“Gawat, Ga! Kita diserang!”


Rahang Galaksi mengetat. “Siapa?”


“Anak Merdeka. Lo ngapain ke Puncak? Kita harus gimana?”


“Shit! Lo tenang, gue bisa atur strategi. Sementara lo pimpin perang kali ini, jadi lo harus…”


Telepon telah ditutup setelah Galaksi menjelaskan strategi penyerangan untuk melawan anak- anak dari SMA Merdeka. Galaksi menonjok dinding, emosinya benar- benar tersulut. Ia tidak menyangka anak- anak Merdeka selicik ini.


 

__ADS_1


🪐🪐🪐🪐🪐


 


Suasana villa pada malam hari ini sangat meriah, mereka semua mengadakan pesta BBQ untuk menu makan malam kali ini. Zeta membantu membakar jagung bersama teman- temannya. Sedangkan yang lain, mereka sibuk dengan aktivitas masing- masing. Ada yang membakar daging, menata piring dan gelas, ada juga yang menghibur dengan menyanyikan lagu diiringi permainan gitar. Tak ketinggalan Bima mengabadikan setiap momen mereka dengan kameranya. Senyum Zeta terus terukir dibibirnya, apalagi ketika beberapa anak melontarkan leluconnya.


“Lo kalo mau ngerecokin jangan disini deh!” kesal seorang anak perempuan karena diganggu.


“Ze, hadap sini!” perintah Bima. Spontan Zeta memandang lensa kamera dengan senyum yang mengembang.


Dirinya benar- benar bahagia, karena baru pertama kali Zeta menghabiskan waktu bersama teman- temannya.


Suasana yang tadi meriah mendadak sunyi ketika Galaksi seperti orang kesetanan menonjok Bima. Zeta yang tadi tengah sibuk mengolesi jagung dengan bumbu, spontan menghentikan aktivitasnya. Bima mengepalkan tangannya dan membalas menyerang Galaksi. Adu jotos pun tak terelakkan. Entah apa yang menyebabkan Galaksi begitu marah pada Bima.


“Kak, Stop!” pekik Zeta berusaha melerai dibantu teman- teman yang lain.


Hingga Pak Roni yang baru kembali dari mengecek tempat kegiatan untuk besok ikut turun tangan melerai dua cowok itu. Keduanya sama- sama babak belur, wajah mereka lebam dan sudut bibir terdapat darah segar mengalir. Tanpa sepatah kata Galaksi meninggalkan tempat itu, tentu Zeta segera menyusul Galaksi.


“Aku masuk dulu ya?” pamit Zeta.


“Nih, dibawa sekalian. Buat obatin Galaksi.”


“Makasih, Kak.”


Zeta masuk ke villa dengan membawa kotak P3K. Zeta menemukan Galaksi tengah duduk di kursi rotan taman depan villa


Perlahan Zeta menghampiri Galaksi, sebenarnya ia juga takut melihat Galaksi yang tengah emosi seperti ini. Namun dengan tekad bulat Zeta memberanikan diri, dirinya sudah siap jika nanti Galaksi kembali meledak. Mendadak jantung Zeta hampir copot ketika Galaksi tiba- tiba menoleh dan mengucapkan kata diluar ekspetasi.


“Ngapain lo disitu? Gue butuh lo buat obatin luka gue.”


“Hah? Oh iya.”


Zeta mulai membersihkan luka Galaksi, tangannya sudah gemetar gugup karena ditatap cowok itu intens. Zeta mengoleskan obat merah pada luka itu hingga menyebabkan Galaksi mendesis kesakitan.


“Maaf, Kak! Sakit ya? Nggak sengaja. Maaf.” Heboh Zeta merasa amat bersalah.


Galaksi tertawa terbahak melihat wajah bersalah Zeta. Sedangkan Zeta tertegun melihat tawa lepas Galaksi. Namun tak lama Galaksi kembali teringat akan rasa sakitnya.


Untuk Wawasan:


Antares adalah bintang super raksasa merah di rasi bintang scorpio dalam galaksi Bima Sakti dan bintang paling terang ke-16 pada langit malam.


By. Wikipedia

__ADS_1


__ADS_2