
Alana tampak keberatan saat mengangkat keranjang yang sudah di penuhi sayuran. Alvaro yang melihat pun lansung mengambil alih dan membawakan keranjang berisikan sayur dari tangan Alana.
Alana melihat sangat terkejut, tak menyangka Alvaro akan melakukan hal itu. "Kau lihat apa?, Cepat pilih sayuran nya." Kata Alvaro.
"I-iya" balas Alana dan mulai memilih sayuran dan buah yang akan menjadi stok nya selama beberapa hari kedepan.
"Apa lagi yang ingin kau pilih?." Tanya Alvaro.
"Aku akan membeli daging." Balas Alana, Alvaro pun mengangguk.
"Pergi saja dulu, aku akan menyusul setelah ini." Kata Alvaro sembari memilih beberapa botol minuman yang ingin ia beli. "Iya." Saut Alana.
Alana lalu berjalan ke arah tempat daging-daging berada. "Alana." Panggil seseoranh membuat Alana menoleh.
"Alana kan?." Tanya wanita yang bernama Chika.
"Chika." Balas Alana.
"Astaga, kau benar Alana?, Kau sedang apa disini?." Tanya Chika tertawa Kecil.
Alana hanya diam sedikit heran dengan arti tawaan kecil Chika pada diri nya.
"Aku dengar kau kerja di sebuah Perusahaan besar, oh tidak, aku sudah nyakin itu pasti tidak benar." Ucap Chika. Alana tak menghiraukan nya dan memilih sayuran yang ingin ia masukan dalam plastik. Chika yang di cuekin alana pun menjadi kesal.
"Kau sangat fokus dengan sayuran, sesuai dengan kerjaan mu seperti nya Alana."ucap Chika lagi.
Alana yang kendengar pun tak mampu lagi menahan kesabaran nya.
"Lalu?, Ada yang salah?, Kau dari dulu tidak berubah Chika, mulut mu masih saja sama seperti dulu" ucap Alana.
"Kau..." Balas Chika, namun tiba-tiba ponsel nya berbunyi membuat nya menghentikan bicara nya dan mengangkay telefon.
"Iya sayang."
"Kau sudah di depan?."
__ADS_1
"Baik lah, aku keluar sekarang."
Chika mematikan sambungan telefon nya dan menatap Alana.
"Pacar ku sudah datang menjemputmu, sampai jumpa lagi Alana, loser." Ucap Chika dan sebuah kalimat hinaan di ucapkan nya di akhir kalimat, sembari berjalan pergi.
Alana mendengar pun membuang nafas berat, tak begitu eprduli perkataan Chika. Ia sudah mengenal Chika yang adalah teman sekolah nya, sejak SMA mereka sudah tidak pernah aku, Alana sendiri tak mengerti kenapa Chika begitu tak pernah suka pada nya, padhaal ia merasa tidak pernah ada masalah dengan Chika.
Alvaro yang menyusul Alana, tidak jauh dari Alana pun mendengar semua percakapan itu, mendengar sindiran Chika pada istri nya itu, ia heran kenapa Alana begitu santai dan tak mau membalas Chika.
Setelah sampai di rumah.
Alvaro msuk ke kamar untuk menyegarkan diri nya, ia masuk dan melihat barang-barang Alana sudah tersusun rapi saat ia membuka lemari pakaian Alana.
Sementara Alana lansung ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk mereka.
Dering Telefon Alana berbunyi.
"Hai Alana Alvaro Luis." Ucap Fika saat Alana mengangkat telefon nya.
"Aku selalu merindukan mu, apa yang kau buat?." Tanya Fika.
"Masak."
"Wah, kau tahu saja cara mengambil hati suami, masak yang enak ya, biar Tuan Alvaro klepek-klepek pada mu Alana." Goda Fika.
Alana pun tertawa kecil mendengar ucapan sahabat nya itu.
•••
Setelah masakan sudah Mateng Dan tersaji di atas meja. Alana pun ke kamar utuk memanggil Alvaro untuk makan.
Alana membuka pintu kamar. " Tuan, Makanan nya sudah...." ucapan Alana terhenti saat ia melihat pemandangan yang tak biasa. Ia lansung saja membalikan tubuh nya, menghindari pemandanvan Alvaro yang baru saja keluar dari kamar mandi, hanya berbalut handuk dan bertelanjang dada.
Alvaro yang melihat Alana menghindari nya seperti itu pun berjalan mendekati wanita itu. Alana yang menyadari Alvaro berjalan mendekat di belakang nya terlihat dari kaca rias pun bergegas ingin keluar dari kamar, namun langkah Alana kalah cepat dari tangan Alvaro. Hingga laki-laki itu menariknya ke dalam pelukan laki-laki itu. Kedua mata Alana membulat besar ketika kedua mata nya itu berjarak sangat dekat dengan dada Alvaro.
__ADS_1
"Apa kau sudah siap?." Bisik Alvaro membuat Alana merasa merinding mendengar nya.
Tiba-tiba perut Alana berbunyi karena ia sudah lapar, Alvaro pun mendengar bunyi lapar perut Alana. Alvaro lansung melepaskan pelukan nya dan berjalan mencari pakaian di dalam lemari nya.
Alana dengan pipi memerah karena malu pun lansung saja berlalu pergi keluar dari kamar dan duduk di meja makan menunggu Alvaro datang.
"Tadi dia terlihat seperti laki-laki hidung belang, aku bahkan masih malu kalau di ajak melakukan nya, tapi dia seperti nya tidak malu sama sekali." Gumam Alana.
Di meja makan.
Tak ada obrolan di antara mereka, Alvaro tampak biasa-biasa saja menikmati kan makanan yang di masak Alana dengan lahap nya, berbanding dengan Alana yang mendadak nafsu makan nya hilang karena memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini di malam pertama nya.
Saat selesai memasak, Alana mencuci piring nya dengan pelan, berharap Alvaro tidak menunggu nya untuk melakuan Ritual suami istri.
Ting Tong.
Suara bel rumah berbunyi, membuat pandangan Alana ke arah pintu utama. Saat Alana baru akan melngkah membukakan pintu, Alvaro keluar untuk membukakan nya.
"Papa, Mama, Roy."Ucap Alvaro.
"Kalian sedang apa disini?." Tanya Alvaro lagi.
"Untuk apa lagi, tntu saja ingin ikut menginap di rumah pegantin baru, kau pasti betah kan di rumah?." Goda Roy.
Alvaro hanya tersenyum mengeleng-gelengkan kepala nya, karena Ucapan Roy seolah ia berpengalaman.
"Mama, Papa." Sapa Alana dan mencium tangan kedua mertua nya.
"Alana, kamu masak apa untuk makan kalian?." Tanya Bu Adel agak ketus. memandang Alana dengan tatapan sinis.
"Masak Sop ma." Balas Alana.
"Besok pagi ada pembantu baru yang akan datang, dia yang akan memasakan untuk kalian, kamu itu baru menikah, jangan kecapean, kalau kecapean gimana nanti mau hamil." Ucap Bu Adel lagi.
Meski ketus, tapi perkataan Bu Adel seperti bentuk perhatian nya pada Alana. Karena orang tua Alvaro sudah sejak lama menginginkan cucu dari putra pertama nya itu, umur yang tak lagi muda, dan orang-orang seumuran mereka yang bahkan sudah bisa bermain dengan cucu mereka membuat kedua orang tua Alvaro sangat berharap cucu dari Alana.
__ADS_1
Meski jauh di dalam lubuk hati Alana, ia bahkan tak Sudi melahirkan anak untuk laki-laki yang hanya menginginkan nya untuk menjadi alat pembuat anak.