
Karena kelelahan Alana pun tertidur saat ia masih menunggu Alvaro masuk ke dalam kamar. hingga cahaya yang menembus tirai kamar membuat Alana terbangun, namun ia tak mendapati sosok laki-laki itu ada di kamar.
Entah sudah bangun atau memang tidak kembali ke kamar sejak semalam.
Alana mengikat rambut nya yang mengembang dan berjalan keluar mencari sosok laki-laki itu.
Hingga bertemu seorang pelayan, Alana pun menanyai nya.
"Tuan sudah pergi sejak tadi Nona. kata Tuan Al, kalau Nona ingin pergi ke rumah orang tua Nona, Minta supir untuk mengantar Nona, supir sudah siap di depan Non." Tutur Pelayan.
Mendengar hal itu Alana pun terdiam, padahal ia ingin Alvaro datang karena ini keinginan ayah nya, tapi seperti itu tidak akan terjadi.
•••
Alana pun berangkat bekerja ke kantor, sembari membawa koper kecil dan di taruh di bagasi mobil.
"Pak, singgah ke rumah orang tua saya dulu ya." Kata Alana pada supir.
"Baik Non." Balas Sang supir.
Saat mobil sudah sampai di halaman rumah nya, Alana pun turun dari mobil dan melihat rumah yang selama ini sudah lama ia tinggali.
Pak Susi dan Pak Herman yang melihat kedatangan Alana pun menghampiri putri nya.
"Alana, kamu datang nak."ucap Pak Herman dmgan antusias, sembari mata nya mencari-cari sosok Alvaro di dalam mobil.
"Suami kamu mana Alana?." Tanya Pak Herman lagi.
__ADS_1
"Dia seperti nya tidak bisa datang pa, dia sibuk." ucap Alana. Pak Herman yang mendengar pun sedikit agak kecewa.
"Hem. kirain beneran bisa bawa dia datang, ternyata tidak, kamu Sama Alvaro sudah menikah lumayan lama, masa hubungan kalian tidak ada perubahan sama sekali."Ketus Bu Susi menyindir Alana dengan suara pelan nya.
Pak Herman yang mendengar sindiran istri nya untuk putri nya pun lalu merangkul Alana. "Sudah lah, tidak apa-apa nak, ayo masuk kita sarapan bersama."Ajak pak Herman mencoba untuk biasa-biasa saja, tak menampakkan wajah kecewa nya, karena Alana tak bisa membawa Alvaro datang nanti malam.
"Aku datang mau taruh barang-barang saja pa, Setelah ini aku mau kembali ke kantor."Ucap Alana.
"Kamu masih bekerja?." Tanya Pa Herman Heran. Alana mengangguk.
"Tentu saja dia masih bekerja, dia bahkan tak di berikan kesempatan menjadi seorang ratu keluarga Alvaro."Gumam Bu Susi dalam hati sembari tersenyum sinis.
Meski begitu Bu Susi senang karena Alana tak berhasil membawa Alvaro, tak ada yang perlu di bangga kan di depan orang-orang. ia tak suka Alana di banggakan karena memiliki suami yang kaya dan pemilik perusahaan besar.
•••
"Nona Alana, sudah sampai." Suara supir membuyarkan lamunan Alana.
Alana pun membuka senyuman pada supir, sembari mengucapkan terima kasih sebelum ia turun dari tempat tidur.
"Ih nyebelin banget sih Mak lampir itu, dari dulu gak pernah berubah sikap nya sama kamu, anak sama emak nya sama aja."Gerutu Fika saat mendengar cerita Alana.
Fika terus mengoceh mengutuki sikap Bu susi yang sangat keterlaluan pada sahabat nya. namun bukan semakin sedih, Alana malah tersenyum melihat Fika yang tampak begitu sewot.
"Makasih ya Fik, kamu selalu dengar cerita aku, gak pernah bosan sama sekali dan selalu support aku."Ucap Alana.
"Iya, jangan lupa ngucap syukur."Balas Fika. Alana pun tertawa kecil dan mengangguk.
__ADS_1
Fika melihat Aluna yang tersenyum dan menunduk, ia tahu ada kesedihan yang masih ia coba sembunyikan meski saat ini ia tersenyum.
"Aku ikut nginap ya Al di rumah kamu."Ucap Fika.
"Beneran?." Tanya Alana.
"Yah, terpaksa sih sebenarnya, malas ketemu nenek lampir dan anak nya, cuman demi kamu aja....." Fika memutar bola mata malas nya mengucapkan hal itu.
Namun, Fika mau ikut menginap dengan nya saja, Alana sudah sangat senang, karena kini ia benar-benar sedang menginginkan untuk di temani.
•••
Di tempat lain.
Sekertaris Kim menghampiri Alvaro yang kedua nya baru saja selesai meeting dengan klain.
"Tuan, Apa anda akan ke rumah keluarga pak Herman?." Tanya Sekertaris Kim.
sejenak Alvaro terdiam tak menjawab, seperti memikirkan apa ia akan pergi atau tidak.
"saya dengar perusahaan Tuan Kenzo juga di undang, mungkin mereka juga akan datang."Ucap Sekertaris Kim.
"Kenapa mereka bisa kenal??" Tanya Alvaro heran.
"Tuan Kenzo mengajukan diri untuk menjadi salah satu investor di perusahan keluarga Nona Alana."jawab nya.
Alvaro yang sedang memegang sebuah pen pun menggenggam dengan kuat saat mengingat saingan bisnis nya si Kenzo.
__ADS_1