
MALAM KETIGA PERNIKAHAN
Di malam kedua Alana masuk ke kamar nya dengan perasaan was-was, was-was karena takut Alvaro akan kembali menerkam nya. Rasa sakit yang kemarin belum juga hilang, membuat Alana masih belum mau jika Alvaro menyentuh nya. Ia bahkan sudah menyiapkan mental jikalau Alvaro ingin menyentuh nya, ia akan segera menolak nya.
Namun saat Alana masuk ke kamar, Alvaro tampak sedang menatap layar monitor nya dengan data seperti biasa yang Alana Lihat setiap hari nya. Bahkan saat Alana masuk ia tak sekali pun menoleh ke Alana.
Alana dengan ragu dan gugup membaringkan tubuh nya di samping Alvaro, ia lalu membelakangi Alvaro agar Alvaro tak melihat kegugupan nya.
Setelah merasa cukup,Alvaro pun ikut membaringkan tubuh nya, Alana yang masih belum tidur merasa lega karena Alvaro tidak berniat mengajak nya melakukan ritual suami istri.
Keesokan pagi nya.
Saat Alana terbangun lagi-lagi ia mendapati diri nya di peluk oleh laki - laki itu, entah sejak kapan dia berada di dalam pelukan nya karena ia tak merasakan gangguan saat tidur. Pelukan Alvaro terasa memberikan kenyaman untuk nya.
Alana perlahan memindahka
n tangan Alvaro dari tubuh nya, karena ia akan menyiapkan sarapan dan kembali ke kantor hari ini.
Saat sarapan sudah siap, Alana ke kamar dan melihat Alvaro sedang bersiap, Alvaro yang melihat Alana masuk berkata : "Pakai kan dasi ku." Kata laki-laki itu dengan suara yang agak tegas memerintah.
"Apa tidak bisa dia sedikit lembut saja saat menyuruh ku?, Dia sangat menyebalkan seperti itu." Batin Alana.
__ADS_1
Alana lalu mengambil dasi yang memang ia ambilkan dan taruh di atas tempat tidur untuk Alvaro, memakaikan dasi itu pada leher suami nya, di benak Alana, ia ingin mengubah dengan sekejab mata dasi menjadi rantai anjing, agar Alvaro bisa menjadi anjing kesayangan yang tidak galak pada nya. Tapi itu hanya angan Alana saja.
Alvaro tampak melihat Alana yang tak berani menatap mata nya, ia tahu kalau Alana kesal akan sikap nya, tapi ia tak menikahi Alana untuk di sukai, dan ia tak perduli walau ucapan nya yang agak kasar menyakiti perasaan wanita yang berada di hadapan nya saat ini.
•••
Di meja makan.
Alana dan Alvaro duduk untuk sarapan sebelum berangkat bekerja. Alvaro duduk dan sarapan tanpa bicara, tanpa ekpresi, Alana sesekali melihat laki-laki itu. Sudah beberapa hari menikah, Alana merasa sangat membosankan, hati nya begitu hampa dan kesepian, ia tak mengerti kenapa Alvaro bisa diam seperti itu. " Apa dia tidak bosan, apa dia tidak merasa jenuh dengan hidup nya yang seperti ini." Gumam Alana karena ia melihat hidup Alvaro yang terlalu datar, tidak ada warna, setiap hari nya hanya bergumul dengan kertas-kertas di kantor nya, bahkan tak cukup di kantor, di kamar pun setelah pulanh Alana hanya melihat Alvaro sibuk dengan laptop nya.
"Apa yang kau lihat?." Ucap Alvaro pada Alana yang melamun.
"Apa tuan setiap hari hanya diam seperti ini?." Ucap Alana, kedua mata Alana membulat besar dan segera ia mengalihkan pandangan nya saat ia menyadari ucapan itu, reflek keluar dari mulut nya.
Alvaro mengambil sapu tangan dan mengelap bibir nya. " Jika kau sudah selesai, aku tunggu di mobil." Kata Alvaro sembari berlalu pergi dari meja makan, mengakhiri sarapan nya.
Alana mengelus wajah nya, merasa tidak nyaman. Alana lalu segera mengakhiri sarapan nya juga agar Alvaro tidak semakin marah pada nya.
Alvaro mengantar Alana lebih dulu ke kantor bersama sekertaris Kim.
"Terima kasih sudah mengantar." Kata Alana. Alvaro tidak merespon dan hanya mmandang ke depan.
__ADS_1
Alana pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke pintu utama. Mata Alvaro baru menoleh ke wanita itu.
"Tuan, Anda seperti nya nyaman pada Nona Alana." Kata sekertaris Kim.
"Mnurut mu begitu?."
"Seperti nya tuan." Balas Kim. Alvaro hanya diam saja.
•••
Alana kembali bekerja seperti biasa di cabang kantor milik suami nya sendiri, tidak ada yang berbeda, tidak ada yang istimewa, karena tak satu orang pun yang tahu kalau Alana adalah istri pemilik perusahaan ini kecuali Fika sahabat nya.
"Selamat pagi Nona Alvaro Luis." Ucap Fika mengoda Alana.
"Shuttt jangan sampai di dengar orang Fik, kan gak ada yang tahu." Ucap Alana.
"Kalau tahu juga gak apa-apa kok. Eh tapi Al, kamu keliatan beda banget aura nya Al." Ucap Fika.
Alana menyentuh wajah nya mencoba mrasakan apa yang berbeda.
"Engak ah."
__ADS_1
"Beda, keliatan aura pengantin nya, keliatan lebih fresh." Ucap Fika. Alana pun menghela nafas tersenyum mengelengkan kepalanya.