
Malam itu Alana sedang duduk di depan meja rias nya, melihat diri nya yang sudah siap dengan pakaian dress yang tampak indah ia kenakan, Karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan keluarga Alvaro.
Kedua mata wanita itu tampak sedih dengan kondisi ini, ia sungguh Belum siap untuk semua ini, tapi keadaan nya memaksa dirinya untuk siap.
Tok Tok Tok
Ketukan pintu kamar mengalihkan lamunan Alana saat itu.
"Kak, sekertaris Tuan Alvaro sudah datang." kata Luna dari balik pintu.
"Iya." Saut Alana.
Alana pun lekas berdiri dan keluar dari kamar nya, menghampiri Sekertaris Kim yang tampak menunggu keluarga itu di teras rumah.
"Selamat malam Nona." Sapa Sekertaris Kim, Alana membalas dengan senyuman kecil pada laki-laki itu.
"Nona apa anda sudah menanda tangani surat itu?." tanya sekertaris Kim.
Alana mengangguk dan memberikan surat kontrak pernikahan yang sudah ia tanda tangani. Sekertaris Kim menerima nya.
Luna yang baru saja keluar dari rumah melihat Alana memberikan sebuah map abu-abu pada sekretaris Kim, ia pun bertanya-tanya dokumen apa itu.
•••
Di tempat lain.
Bu Adel tampak sedang sibuk bersama pembantu rumah nya menyiapkan makan malam untuk menyambut wanita pilihan putra nya, meski ia tidak suka putra nya memilih sembarangan wanita sebagai istri nya, tapi Bu Adel tetap menyiapkan yang terbaik.
"Mama sibuk sekali Papa perhatikan dari tadi, papa kira mama gak akan suka karena Al gak mau nikah sama Angel." Kata Pak Ben tersenyum istri nya.
"Papa gak usah iseng mau ledekin mama, kita kan sama-sama memang menginginkan Al segera menikah, meski mama sedikit kecewa karena bukan Angel, tapi bagaimana pun tetap akan menika dengan Al, mama harus menyiapkan yang terbaik, untuk menjaga nama keluarga kita." Ucap Bu Adel.
"Nah, gitu dong, Biar cepat dapat cucu juga kan." kata pak Ben dan tertawa kecil.
Bu Adel yang mendengar tersenyum mengeleng-gelengkan kepala. Alvaro yang kebetulan lewat tanpa kedua orang tua nya tahu mendengar percakapan mereka, dengan datar nya ia berlalu menuju ke kamar nya.
•••
__ADS_1
Setelah Bu Adel siap.
Ia ke kamar Putranya yang pintu nya terbuka lebar, ia pun masuk ke dalam dan tampak Alvaro sedang mengenakan kemeja nya. Bu Adel mendekati Alvaro, dan Alvaro pun melihat nya.
"Ma." Ucap Alvaro.
"Sini, Mama bantu." Kata Bu adel.
"Al, kenapa sih kamu tidak kenalkan pacar baru mu itu ke mama dan papa dulu, kenapa kamu seperti buru-buru sekali, lansung melakukan pertemuan keluarga, meski pun kamu menolak angel, mama dan papa kan tidak melarang kamu membawa wanita lain." Kata Bu Adel sembari membantu Alvaro mengancingkan kemeja nya.
"sudah lah ma, ini kan juga kemauan Papa dan Mama agar Aku segera menikah." Jawab Alvaro.
"Iya, Mama tahu ini semua keinginan kami, tapi kamu juga tidak boleh sembarangan memilih wanita nak, jaman sekali wanita itu banyak rupa nya, istri kamu juga harus memiliki tanggung jawab menjaga nama baik keluarga kita." Kata Bu Adel.
"Ma, aku turun dulu ya." kata Alvaro yang tak mau membahas apa yang ingin ibu nya bicara kan. Ia lalu keluar kamar meninggalkan ibu nya yang memandangi nya pergi.
"Anak ini." Bu Adel menghela nafas nafas karena Alvaro terus menghindari pembicaraan ini dengan nya.
Alvaro lalu menghampiri Ayah nya yang tampak sudah siap menunggu keluarga Alana datang bersama adik sepupu Alvaro bernama Roy.
"Al, Papa sudah tidak sabar menunggu calon istri mu datang, dia pasti sangat cantik, sampai membuat mu ingin seger menikahi nya." kata Pak Ben.
"Al, kau tak ingin berbagi sedikit ilmu untuk menakluk kan perempuan pada ku?." Goda Roy.
"Wanita mu sudah cukup banyak, jangan menambah-nambah lagi." Balas Alvaro.
"Hei, itu bukan wanita ku, aku masih jomblo." Balas Roy.
Pak Ben pun tertawa mendengar nya, sementara Al tersenyum mendengar balasan sepupu nya yang playboy itu.
"Paman, kau pasti sudah tidak sabar kan mendapatkan cucu dari Alvaro." Kata Roy.
"itu tidak usah di tanya lagi, itu mimpi Paman mu saat ini." balas pak Ben.
Ditengah obrolan mereka, riba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi.
"mereka pasti sudah datang." kata Pak Ben.
__ADS_1
Bu Adel keluar dari kamar dan bersama suami nya menyambut keluarga Alana dan mengajak nya ke ruang tamu untuk duduk mengobrol.
Luna terkagum melihat indah nya rumah milik keluarga Luis itu, bak istana di mata orang-orang.
"Selamat malam pak Ben Luis, senang bertemu dengan anda, perkenalkan saya Herman ayah nya Alana" sapa pak Herman.
"oh jadi ini yang nama nya Alana, cantik sekali." ucap Pak Ben.
Alana tersenyum menyapa pak Ben Luis dan Istri nya. Alvaro lalu datang menghampiri mereka dengan wajah yang tampak ekpresi, namun terlihat begitu gagah dan juga berwibawa.
Luna yang baru pertama kali melihat Alvaro dari dekat pun terpesona melihat ketampanan laki-laki itu.
Alvaro memandang Alana yang duduk terdiam, mengangkat wajah nya dengan sopan mendengar obrolan di antara mereka, namun Alvaro melihat Alana tak berani melihat diri nya sejak ia sampai ke rumah itu.
Setelah mengobrol cukup lama untuk saling mengenal satu sama lain, pak Ben lalu mengajak semua untuk makan malam di meja makan bersama, pak Herman dengan senang hati menerima tawaran itu.
Setelah selesai makan malam, ponsel Alana tiba-tiba berbunyi, ia pun izin keluar rumah untuk mengangkat telefon.
"Iya Fik."
"Al, gimana, kau sudah bertemu keluarga Tuan Alvaro?." tanya Fika.
"Sudah, sekarang juga Masih disini." Ucap Alana.
"Oh, kalau begitu sudah dulu Al, nanti kita cerita-cerita saat kau suda pulang." Kata Fika, Alana pun mengiyakan.
Setelah sambungan telefon terputus, Alana melihat sekitaran rumah yang sejuk karena masih ada taman dan pohon di halaman rumah itu, Alana pun duduk di sebuah kursi di balik pohon-pohon kecil sekedar menghirup udara segar.
"Kim, apa dia sudah tanda tangan?." Tanya Alvaro pada sekertaris nya. Percakapan itu mengalihkan pandangan Alana.
"sudah bos, keluarga Anda seperti nya sangat mengharapkan anak dari anda Tuan, apa anda benar akan menikahi Nona Alana?". Tanya Kim.
"Tentu saja, aku akan mewujudkan keinginan mereka, tapi setelah anak itu lahir, aku akan menceraikan nya." kata Alvaro.
Alana yang mendengar nya terkejut, menutup mulut nya dengan tangan nya agar tak mengeluarkan suara. Kini Alana tahu alasan kenapa Alvaro ingin menikahi nya.
Nasi sudah jadi bubur, Alana hanya bisa diam, Karena ia juga sudah menyetujui dan menanda tangani surat itu demi ayah nya.
__ADS_1
Setelah Alvaro dan sekertsris Kim, kembali masuk ke dalam rumh, air mata Alana pun menetes saat mengetahui hal itu, hati nya seperti tertancam duri dan melukai perasaan nya lebih dalam lagi.