
Makan malam.
Semua keluarga tampak berkumpul di meja makan, di ikuti beberapa teman-teman Bu Susi.
"Makanan nya sangat Enak Ibu mertua, Apa anda yang memasak?." Tanya Alvaro memuji masakan yang ia nikmati sembari tersenyum dingin pada Bu Susi.
"Iya, Resep dari saya sendiri."Jawab Bu Susi tampak begitu canggung. Alana senditi melihat Bu Susi begitu diam dan tak berani memandang Suami nya saat menjawab pertanyaan itu.
"Makan lah Nak kalau enak, kami sangat senang dengan kehadiran anda disini."Ucap Pak Herman. Alvaro membalas dengan senyuman dan anggukkan. Hingga kembali ia menatap Bu Susi.
Bu Susi sangat ketakutan sebab beberapa saat yang lalu, Bu Susi yang sedang melihat gaun yang baru saja datang untuk ia kenakan besok tiba-tiba kagetkan dengan kedatangan Alvaro ke ruangan itu.
"Gaun itu terlihat cantik untuk anda Nyonya."Ucap Alvaro berdiri di ambang pintu sembari tersenyum.
"Terima kasih."Jawab Bu Susi ragu-ragu dengan senyuman ragu pula.
"Tapi saya menghampiri anda bukan karena ingin memuji anda, tapi ingin memperingati anda Nyonya."Ucap Alvaro.
__ADS_1
Ucapan Alvaro tentu saja seketika membuat Bu Susi semain takut dan gelisah, ia sudah duga, Alvaro datang menghampiri nya saat ini pasti ada sebab nya.
"Maaf Tuan, saya tak mengerti maksud anda. peringatan apa?, saya merasa tidak melakukan apa-apa."Ucap Bu Susi, tersenyum canggung.
Alvaro lalu tersenyum dingin pada Susi, membuat ibu tiri Alana itu khawatir. Alvaro lalu melangkah lebih dekat pada nya, membuat ia seketika merasa keringat dingin.
"Nyonya, lebih baik anda menjaga ucapan dan sikap anda kepada istri saya, jangan sekali pun berani menghina atau bahkan membawa orang-orang untuk berfikir untuk merendahkan nya, karena itu sama saja anda merendahkan saya. dan saya tidak suka itu semua Nyonya, bahkan saya bisa membuat Anda tidak lagi bisa menginjak rumah ini dan bahkan memakai gaun semahal ini."Ucap Alvaro dengan suara pelan terdengar seperti ancaman dalam ucapan yang padahal terdengar sangat lembut.
"Anda mengerti kan??" Ucap Alvaro lagi.
Bu Susi tak berkutik, ia hanya diam dan mengangguk pelan kepala nya. Hingga Pembicaraan mereka di akhiri dengan kedatangan Alana yang memang mencari Alvaro.
•••
Setelah selesai makan.
Alvaro masuk ke dalam kamar, lalu segera di susul Alana.
__ADS_1
"Tuan, Apa yang ada lakukan pada Mama saya??" Tanya Alana terdengar tegas.
Alvaro yang posisi masih membelakangi Alana pun tersenyum dan membalikkan tubuh nya melihat Alana.
"Aku tidak melakukan apa pun pada nya." Ucap Alvaro.
"Jangan Bohong Tuan, Anda boleh memaki saya dan bahkan meminta apa pun dari saya, tapi tolong jangan pernah lagi ganggu keluarga saya, Saya juga tahu posisi saya." Ucap Alana.
"Turun kan nada suara mu." Alvaro menatap tajam Alana.
Alana yang menutup mata nya dengan kekecewaan lalu membuang nafas berat untuk menghilangkan emosi nya yang tidak stabil saat ini, melihat Alvaro ia ingat kembali kalau Alvaro penyebab hidup nya seperti ini, tidak ada kebebasan yang ia dapat rasakan lagi, bahkan saat mengingat kembali tujuan Alvaro yang menikahi nya untuk menjadi kan nya mesin beranak, membuat Alana semakin membenci Alvaro.
"Dengar kan baik-baik, kau kini berdiri saat ini membawa nama kehormatan keluarga ku, jika seseorang berani menghina mu, sama saja dia menghina ku, dan orang itu tak akan ku biar kan hidup dengan nyaman, termaksud keluarga mu." Ucap Alvaro menatap Alana dengan sorotan tajam, sorotan mata yang sudah lama tak Alana lihat.
Mendengar ucapan Alvaro Alana kembali di buat bingung dengan sikap Al, entah laki-laki itu melakukan nya demi dia, atau memang karena diri nya.
Saat Alana berdiri terdiam, Alvaro lalu mendekati Alana, dengan tangan nya memegangi leher Alana. Kembali di sentuh Alvaro, Alana ingin menolak, tapi tak memiliki keberanian itu.
__ADS_1
Alana pun membiarkan Alvaro mencium Leher nya dan beberapa bagian bagian sensitif nya, Alvaro tersenyum ringan melihat Alana yang terdiam.
Hingga Senyum Alvaro semakin lebar saat melihat Alana begitu menikmati nya setiap sentuhan yang ia sentuhan pada wanita itu.