Harapan Menjadi Kenyataan

Harapan Menjadi Kenyataan
Episode 1 : It’s My dream (POV Ardi)


__ADS_3

Aku Ardi, kini aku berumur 16 tahun dan masih duduk dibangku kelas 2 SMA. Aku selalu berharap, jika suatu saat nanti aku bisa menjadi seseorang yang kaya raya, hal itu tentunya disebabkan karena aku yang selalu diremehkan oleh teman-temanku, dan mengejekku terus-terusan.


Pagi pun tiba, aku mulai memakai seragam sekolah ku dan bergegas kesekolah seperti biasanya, aku mulai berangkat dari rumahku menuju kesekolah dengan berjalan kaki dan menggunakan sepatu yang bisa dibilang cukup butut.


Setelah beberapa menit aku berjalan, akhirnya aku pun sampai ke sekolah ku yang jaraknya kira-kira satu kilometer dari rumahku.


"Akhirnya sampai juga." Kataku sambil terengah-engah karena kelelahan.


"Eh, ada si miskin. Susah banget ya hidup lu, tiap hari harus jalan kaki kesekolah." Kata Rifki, dia adalah orang yang selalu ngebully aku secara mental.


Memang aku tidak merasakan sakit di tubuhku, tetapi aku merasakan sakit di hatiku akibat hinaan yang selalu dilontarkannya kepadaku.


"Hahaha, udah miskin, sok-sokan lagi mau menjadi orang yang terbaik disekolah." Sahut Septo, teman Rifki.


Rifki memang seseorang yang kaya raya, memiliki rumah mewah dan juga sebuah mobil, sama seperti orang kaya pada umumnya. Dan Septo juga seorang yang kaya, ayah Septo adalah seorang Manager di sebuah perusahaan yang cukup besar, tetapi perusahaan tempat ayahnya bekerja sangat berpengaruh besar terhadap keluarga Agaricus, pemilik perusahaan tersebut.


Tidak heran jika Septo selalu dekat dengan Rifki, hal itu tentunya disebabkan karena Rifki adalah putra dari keluarga Agaricus tersebut, dan Septo berteman dengan Rifki hanya karena dia seorang putra dari keluarga Agaricus tersebut.


Tapi semua itu suatu hal yang cukup hebat bila dibandingkan denganku, ah sudahlah, lebih baik tidak usah memikirkan kekayaan orang.


"Hey Ardi, ayo kita ke kelas." Seorang pemuda yang berpenampilan rapi datang menghampiriku, itu adalah Bimo, sahabatku satu-satunya.


Kami pun segera pergi ke dalam kelas dan berjalan meninggalkan Rifki dan Septo.


"Kenapa ya bisa-bisanya aku masuk kesekolah swasta dan malah menyusahkan keluargaku saja" batinku.


Aku memiliki seorang ayah dan juga seorang kakak, sedangkan ibuku telah meninggal dunia saat aku mau memasuki sekolah menengah, hal inilah yang membuatku drop sehingga menunda masuk sekolah menengah.


Aku pun masuk ke sekolah yang swasta, hal itu juga atas perintah kakak ku.


Tak lama kemudian pada saat aku sedang berkhayal, suara tiba-tiba terdengar melewati Indra pendengaranku.


"Hey Ardi!!, ngelamun aja kerja lo.” Kata Bimo dan mengejutkan ku.


"Heem, iya nih Bim, gue bingung tentang soal yang kemarin dikasih Bu Siska." Kataku sedikit mengeles.


"Ohh, kirain mikirin apa." Jawab Bimo.


—hahahaha—

__ADS_1


Suara tertawa terdengar jelas melewati lorong koridor sekolah menuju kelas ku, sekilas aku melihat melalui jendela kelas, dan ternyata itu adalah Rifki, Septo, dan juga teman-teman yang lainnya yang sedang bercanda gurau menuju ke kelas.


—Tring, Tring, Tring—


Ponselku tiba-tiba berbunyi dan mengheningkan suasana di kelas.


"Astaga Ardi, ponsel tunat tunit aja dibawa ke sekolah!" Kata Rifki mengejekku.


Aku tidak menghiraukannya dan pergi menuju keluar kelas untuk melihat siapa yang meneleponku, dan juga agar tidak ada yang mengganggu percakapanku.


—Kakak—


Tulisan terlihat diatas layar ponselku yang sedikit pecah, ternyata kakakku yang sedari tadi menelepon ku.


"Halo dek, seminggu lagi kan ulang tahunmu yang ke 17 tahun, bagaimana kalau kita merayakannya dengan meriah." Kata kakakku lewat telpon.


Ah sial sekali, aku terlalu sibuk memikirkan tentang kehidupanku yang pas-pasan ini, sampai-sampai aku lupa kalau satu minggu lagi umurku akan genap 17 tahun.


"Jangan kak, aku udah banyak nyusahain kakak, kalau soal itu gak usah dipikirin kak, gak usah dirayain juga gak papa kok kak." Kata ku menjawab perkataan kakak ku barusan.


"Ya sudah dek, nanti kakak telpon lagi ya bye." Kata kakak ku menutup pembicaraan kami.


Setelah selesai bertelepon bersama kakak ku, aku kembali ke kelas agar aku dapat memulai pelajaran, selang beberapa menit guru pun datang dan memulai pelajaran.


...****************...


Akhirnya, setelah beberapa jam pelajaran dan beberapa menit istirahat, sekolah pun telah selesai pada hari ini.


Aku beranjak pergi keluar kelas dan ingin pulang kerumah dengan berjalan kaki seperti biasanya, tidak lupa juga aku mengajak Bimo sahabatku untuk pulang bersama.


Rumah Bimo sedikit lebih jauh dari rumahku, tetapi aku dan teman-teman yang lainnya belum tahu pasti dimana tempat tinggal Bimo.


"Wah wah wah, ada yang lagi jalan nih, gak punya kendaraan ya?, hahaha!" Suara ejekan terdengar dari sebelah kami, tanpa kusadari aku menoleh kesebelah untuk melihat siapa yang mengejekku, dan ternyata itu adalah Rifki.


"Ah sudahlah, gue sengaja kok jalan kaki biar badan gue fit terus setiap harinya." Kataku mencoba untuk menghalau ejekan darinya.


"Sengaja atau sengaja?, memang dasarnya gak punya kendaraan!" Jawabnya seraya kembali mengejekku.


Setelah percakapan yang cukup rumit, aku memutuskan untuk pergi pulang dan tidak memperdulikan mereka.

__ADS_1


Pada saat aku baru saja berjalan menuju gerbang sekolah ku, aku melihat sosok yang sangat cantik berambut pendek dan menggunakan tas sekolah yang sedikit bermotif.


Sosok cantik itu adalah pacarku, namanya Clara, aku tidak tahu dia cinta kepadaku atau karena kasihan saja kepadaku sehingga mau menjadi pacarku, ah sudahlah siapa peduli, setidaknya aku punya pacar daripada jomblo seumur hidupku.


"Hey sayang, pulang bareng yuk sama aku." Ajak ku kepadanya.


"Iya sayang" jawabnya dengan suara lembut dan halus seperti suara bidadari, dan dengan sedikit senyuman yang memancar dari wajahnya yang kecil itu.


"Aduh nona Clara, dari pada pulang bareng dia, mending lu pulang bareng gue aja naik mobil, soalnya ini panas banget loh, nanti kecantikan kamu luntur.” Kata Rifki yang tiba-tiba saja memotong pembicaraan kami dan langsung mengajak pacarku untuk ikut bersamanya.


"Hmmmm, kebetulan panas juga hari ini, yaudah antar aku naik mobil kamu!" Kata Clara langsung menerima ajakan dari Rifki.


"Ha-ha-ha!" Tawa Rifki kepadaku seolah-olah mengejekku.


Tak kusangka, Clara dengan cepat meninggalkan ku karena harta, bahkan tidak melontarkan sepatah kata pun terhadapku, hidupku semakin kacau dan berantakan, sudah tidak ada lagi yang bisa menghiburku.


"Sungguh keterlaluan itu si Rifki!, lihat saja nanti balasannya." Kata Bimo membela dan juga menghiburku.


"Sudahlah Bim, gak papa." Kataku mencoba sedikit menahan kesakitan di hati ku akibat kejadian barusan.


Aku dan Bimo bergegas untuk kembali ke rumah, agar sesuatu yang buruk tidak kembali terjadi kepadaku.


Kini aku dan Bimo telah sampai di rumahku yang kecil dan berwarna hijau.


"Akhirnya sampai juga di, yah udah gue pulang dulu ya!" Kata Bimo seraya meninggalkan ku.


"Iya Bim, lo hati-hati dijalan ya!" Teriak ku kepadanya.


"Siap!!"


Aku pun memasuki rumahku yang kecil ini dan mulai mengganti pakaianku.


Aku tinggal di sebuah kontrakan di Jakarta, sedangkan kakakku dan ayahku berada di pedesaan, lagi-lagi semua biayanya kakakku dan ayahku yang tanggung, aku diberi kartu ATM agar mereka dapat mentransfer sejumlah uang untuk aku pergunakan di kota.


TBC


Like, Komen, Vote, dan gift


Setiap episode akan di update setiap harinya 1 bab, jadi pantau terus ya....

__ADS_1


__ADS_2