
Nura merasa bahwa Bos itu pilih kasih dan hanya mementingkan Ardi dari pada pegawai lainnya, setelah mendengar keputusan yang tidak adil ini, Nura langsung membukakan suaranya.
"Tapi Bu, bagaimana dengan nasib toko kita ini?, kita tidak boleh egois dengan hanya memikirkan kepentingan satu orang saja, ibu sudah bersusah payah membangun toko ini, dan hanya akibat satu orang saja itu bisa langsung habis tak bersisa dan akan bangkrut." Kata Nura dengan merasa sedikit kesal.
Mona, adalah seseorang yang memiliki hidup sederhana, setelah perjuangan yang cukup banyak dia akhirnya berhasil membangun sebuah toko ponsel yang cukup populer di Jakarta.
Tentu, perjuangan Mona untuk membangun toko ponsel ini sangatlah besar, dia harus menjual rumah miliknya dan menyewa sebuah ruko agar dia dapat menjual ponsel dan tinggal di ruko tersebut. Segala kesusahan pernah dia alami, bahkan pada saat toko ponselnya hampir bangkrut.
Namun, bisa saja perjuangan nya yang cukup besar menjadi gagal akibat seorang miskin, seperti Ardi.
"Sudah, kamu diam saja Nura, kerjakan saja kerjaan kamu, keputusan saya sudah bulat!" Kata Mona dengan sedikit nada marah.
Apalah daya, Nura hanya bisa menuruti perintah dari bosnya itu dan menyimpan dendamnya saja.
"Lihat saja nanti, kamu tidak mau mendengarkan ku, toko ponsel mu ini pasti akan bangkrut hanya karena seorang bocah ingusan." Gumam Nura.
Setelah pembicaraan yang cukup lama, akhirnya Ardi kembali ke rumah untuk istirahat, karena sudah mendapatkan izin dari sang bos yang baik hati. Dan juga, Ardi kini sudah mengerti bahwa Nura sangat membencinya dan ingin mengeluarkannya dari tempat kerjanya, itu semua terlihat dari cara Nura yang memberontak keputusan Mona.
...****************...
3 hari telah berlalu, masih tidak ada tanda-tanda dari Billy dan juga Clara, Ardi merasa sedikit lega karena sepertinya mereka tidak akan menindaklanjuti kejadian kemarin itu.
Namun, pada saat ini, Billy dan Clara masih merencanakan sesuatu untuk Ardi, dan akan melakukannya 2 hari berikutnya pada saat Ardi bekerja.
Mereka berdua memanglah sangat licik, mereka langsung mencari info ke tempat kerja Ardi secara diam-diam dengan menggunakan orang bawahan Billy, karena memang sebelumnya Clara sudah mengetahui bahwa Ardi bekerja di toko ponsel didepan Cafe Cursom.
"Begini sayang, kemarin pada saat aku membelikan ponsel untukku dengan menggunakan uang yang kamu berikan, aku melihat bahwa Ardi bekerja paruh waktu di toko ponsel Jaya Baru didepan Cafe Cursom tempat kita makan malam kemarin." Jelas Clara kepada Billy, agar Billy dapat mengetahui secara rinci tentang kehidupan Ardi.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menyuruh bawahanku untuk mencari info lebih dalam lagi mengenai Ardi ke toko ponsel itu." Kata Billy dengan santai.
—Tring-Tring, Tring-Tring—
Setelah beberapa menit menyuruh bawahan nya untuk mencari tahu mengenai Ardi, ponsel Billy pun akhirnya berbunyi, Billy langsung mengangkat ponselnya kesebelah telinga kanan nya dan langsung bertanya.
"Gimana?, udah dapat info mengenai Ardi?" Tanya Billy.
"Iya bos, pada saat ini Ardi masih izin dari tempat kerjanya selama 5 hari sejak dia terakhir kali diusir dari Cafe Cursom." Jelas bawahan Billy mengenai kondisi Ardi saat ini.
"Kini sudah 3 hari, berarti kita laksanakan rencananya 2 hari lagi." Jelas Billy dan langsung menutup telepon.
Sementara itu, Ardi juga mendapatkan telepon dari kakaknya.
"Dek, hari ini kan ulang tahun kamu ke 17 tahun, kakak mau kamu jumpai kakak dan ayah sekarang juga, dan untuk ongkos kamu kakak sudah transfer ke rekening bank kamu." Kata Cristina melalui telepon.
"Dek?, kamu denger gak sih?" Tanya Cristina mengejutkan Ardi.
"Iya kak... Akan aku usahakan kesana, tapi aku gak janji ya kak."
"Pokoknya, kamu harus datang jumpai kakak sama ayah disini, walaupun kamu datang larut malam kami pasti akan menunggu kehadiran mu."
"Baiklah kalau kakak memaksa, apa aku harus kembali pulang kampung?"
"Oiya, kakak lupa ngasih tau sama kamu, kakak sudah ada di Jakarta, jadi kamu tinggal datang aja ke Hotel Skunuraknuusna."
Mendengar pernyataan dari kakaknya, tentu saja Ardi sangat terkejut, siapa yang tidak tahu kalau hotel itu adalah hotel bintang 6 yang sangat populer di Jakarta, dan bahkan untuk masuk saja hanya orang tertentu yang dapat masuk.
__ADS_1
"Kapan sampai nya kak?, lagi pula itu kan hotel mahal, dari mana uang kakak sebanyak itu untuk nyewa kamar di hotel itu?" Tanya Ardi yang masih kebingungan.
"Siapa bilang kakak nyewa kamar disini?, kakak sama ayah cuman mau lihat kondisi hotel ini aja, jadi sekalian saja kita ketemu disini."
"Dan jangan lupa, kakak sudah ngirim kartu merah kerumah kamu, jadi kamu tinggal langsung saja menuju Lantai atas hotel dan jumpai kami." Sambungnya.
Mendengar hal ini, lagi-lagi Ardi dibuat terkejut dan Ardi langsung melihat kotak surat yang tersedia dan membukanya. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat bahwa kartu yang dimaksud kakak nya itu adalah Kartu Merah VIP yang hanya dibuat oleh orang terkhusus.
"Tapi kak kok bisa kaka......"
—bip-bip,bip-bip—
Sambungan telepon terputus dan Ardi masih belum bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Ardi memutuskan untuk melihat langsung apa yang terjadi dan membawa Kartu Merah VIP yang baru saja diberikan kakak nya.
Hotel Skunuraknuusna berada sekitar 10 KM dari rumah Ardi, dan dia akan mengambil uangnya terlebih dahulu di ATM yang baru saja dikirim kakaknya untuk ongkos nya pergi ke Hotel tersebut.
Ketika Ardi baru saja melihat informasi saldo di layar mesin ATM, alangkah terkejutnya dia melihat jumlah saldo yang cukup banyak, saldo tersebut berkisar Rp.500.000.000,- , sungguh uang yang tidak kecil baginya dan bahkan bagi orang-orang yang diluar sana, padahal kakaknya tau bahwa jarak rumah nya dari hotel tersebut cukup dekat dan tidak perlu mengirimkan uang yang banyak.
"Ini sungguh sulit dipercaya, apakah ada orang yang salah transfer?" Batin Ardi dengan sedikit tidak percaya.
Ardi bahkan sangat yakin bahwa uang yang ada di ATM nya itu adalah uang orang yang salah transfer, dan Ardi tidak akan mengambilnya dan membiarkannya begitu saja agar pihak Bank dapat mengurus kesalahan tersebut.
Ardi kini hanya menggunakan uang sewa yang belum dia berikan untuk membayar sewa rumah yang diberikan kakaknya kemarin untuk jadi ongkosnya pergi menuju Hotel.
Selama perjalanan Ardi masih terpikir tentang Kartu Merah yang diberikan kakaknya dan juga saldo ATM yang masuk kerekeningnya, dia merasa ini semua hanyalah kebohongan yang pahit dan hanya mimpi yang tidak akan tersampaikan.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak