Harapan Menjadi Kenyataan

Harapan Menjadi Kenyataan
Episode 3 : Bonusku!


__ADS_3

Sepertinya Ardi sudah mulai paham dengan apa yang sebenarnya terjadi disini.


"Ah sial, mengapa harus dia orang yang paling menjengkelkan dalam hidup ku? Tapi bagaimana ini semua bisa terjadi?" Batin Ardi sedikit kebingungan.


Pada saat yang sama, seorang pemuda tampan yang menggunakan seragam sekolah lengkap dengan segala atributnya, datang menghampiri mereka.


"Hey Rifki, lo ada lihat ponsel gue gak?" Tanya pemuda tampan itu.


"Nih ponsel lo, gue lihat tertinggal semalam" Kata Rifki lalu menyerahkan ponsel yang ada logo apel tergigit dibelakangnya yang tertutup oleh casing yang sudah sedikit rusak kepada pemuda tersebut.


Pemuda tersebut adalah Bimo, teman satu-satunya Ardi, Bimo sebenarnya seorang yang kaya raya, bahkan kekayaannya lebih besar bila dibandingkan dengan Rifki, namun Bimo kasihan melihat Ardi yang selalu menjadi korban bully, sehingga dia berpura-pura juga menjadi orang yang miskin.


"Pantas saja ini semua dapat terjadi." Batin Ardi dengan sedikit rasa kesal.


Setelah Bimo mendapatkan ponselnya, Bimo langsung ingin pergi dari tempat itu, pada saat baru pertama kali menoleh kebelakang, Bimo melihat Ardi dengan wajah kesal yang membara di wajahnya.


"Eh Ardi, ternyata lo disini juga, ayo kita kembali ke kelas, sebentar lagi Ibu Siska mau mulai pelajarannya." Ajak Bimo kepada Ardi.


"Iya ayo." Jawab Ardi.


Mereka pun pergi ke kelas, Pelajaran pun dimulai.


Setelah beberapa jam, akhirnya pelajaran pun telah selesai, Ardi ingin segera pulang agar dia dapat memulai pekerjaan baru nya itu.


Ardi tidak ingin kalau Bimo tahu bahwa dia bekerja paruh waktu di sebuah toko ponsel, Ardi takut nanti Bimo akan melarangnya bekerja, bagaimanapun seorang sahabat pasti tidak akan tega dan tidak ingin melihat temannya kesusahan.


Ardi telah sampai ke rumahnya dan langsung mengganti seragam sekolahnya dengan seragam yang telah dipersiapkan oleh pemilik toko ponsel tersebut.


Setelah sampai di tempat kerja, Ardi langsung mendapatkan omongan yang tidak enak terhadapnya.


"Akhirnya si bocil sampai juga... Sok-sokan mau kerja paruh waktu, ujung-ujungnya nanti malah kewalahan." Kata salah satu pegawai toko tersebut dengan nada sedikit menghina.


Ardi berusaha tidak memperdulikannya dan mulai menjaga toko ponsel tersebut.


Beberapa menit kemudian, datang seorang pelanggan cantik dengan paras yang menawan menghampiri toko ponsel tersebut ingin membeli.

__ADS_1


"Kak, harga ponsel ini berapa ya?" Tanya wanita muda tersebut sambil menunjuk ke salah satu ponsel.


"C-la, cla, Clara!" Kata Ardi sedikit terkejut melihat perempuan yang ada di depannya tersebut.


"Ardi? Kamu kerja disini ya sayang?" Kata Clara yang juga sedikit terkejut melihat keberadaan Ardi.


"Apa? Dia masih Memanggilku dengan sebutan sayang? Ini tidak mungkin, bukankah dia lebih memilih Rifki dibandingkan aku?" Batin Ardi dengan sedikit terkejut mendengar perkataan Clara.


"Ih sayang, aku nanya kok gak dijawab?" Kata Clara dengan genit.


"Wah-wah, inilah yang terjadi ketika anak remaja berpacaran, haruskah aku menyebutnya cinta monyet?" Batin salah satu pegawai di toko tersebut yang sedikit merasa jengkel dengan apa yang dilihatnya didepan mata kepalanya sendiri.


"Iya sayang, aku baru keterima kerja di sini, he-he-he" Jawab Ardi.


"Btw, maaf ya sayang, kemarin aku pulang bareng Rifki, soalnya kemarin panas banget mataharinya, nanti skincare aku luntur, kamu kan gak mampu beliin aku." Kata Clara sedikit menyindir Ardi.


"Hmmmm"


"Yah udah deh sayang, aku mau beli ponsel untuk saudara aku nih, tolong pilihan untuk aku ya." Kata Clara, mengganti topik pembicaraan.


"Gile nih anak, nawarin ponsel yang paling mahal, mana mungkin laku!" Batin salah satu pegawai.


"Yaudah sayang, aku ngambil ponsel yang kamu rekomendasikan, ini uangnya," Kata Clara sambil menyerahkan sejumlah uang didalam tas kepada Ardi.


Ardi pun sedikit terkejut dan langsung menghitung uang yang diberikan Clara dengan menggunakan mesin penghitung uang.


Ardi sedikit belajar cara mempromosikan barang, dan juga cara menghitung uang dengan mesin, tak disangka kalau Ardi langsung mudah mengerti dan baru saja menjual sebuah ponsel termahal di toko tersebut.


Tidak bisa tidak tahan untuk merasa terkejut dengan kejadian tersebut, sampai-sampai seluruh pegawai toko hampir menjatuhkan mulutnya ke bawah karena terkejut.


Setelah melakukan pembayaran, akhirnya Clara pun beranjak pergi dari toko ponsel tersebut.


Wanita tua pemilik toko tersebut melihat kinerja Ardi yang bagus, bahkan saat pertama kali masuk kerja sudah bisa menjual ponsel rekomendasi, sebuah keberuntungan bagi Ardi.


"Hey nak! Itu kerja bagus, kamu akan mendapatkan bonus dari ku, aku akan mengambilkannya dikantor ku terlebih dahulu." Kata pemilik toko ponsel tersebut lalu beranjak pergi ke kantor miliknya.

__ADS_1


Ardi tidak bisa menahan kegirangannya, dan secara spontan dia melompat-lompat akibat kegirangan.


Setelah beberapa menit, pemilik toko tersebut langsung ke arah Ardi dengan membawa sejumlah uang yang berada di amplop berwarna putih.


"Selamat yah, dihari pertama kamu bekerja, kamu sudah memberikan yang terbaik." Kata wanita itu sambil menyerahkan amplop putih berisikan uang tersebut.


"Terima kasih banyak Bu." Kata Ardi yang masih merasa senang.


Hari pun sudah mulai larut malam, Ardi bersiap-siap untuk pulang dan mengganti pakaian kerjanya di ruang ganti pegawai.


Ardi pun memulai perjalanan pulangnya dengan berjalan kaki.


...****************...


"Akhirnya, dihari pertama ku bekerja aku sudah mendapatkan bonus." Batin Ardi pada saat di perjalanan pulang.


Tanpa sadar, Ardi melewati jalanan yang gelap dan dipenuhi oleh beberapa preman, jalannya pun dihentikan oleh dua preman yang menggunakan pakaian brandalan.


"Mau kemana dek malam malam begini?" Tanya salah satu preman kepada Ardi dengan sedikit nada senang, tentunya senang akibat menemukan mangsa baru.


"A-anu bang, aku cuman mau pulang kok." Kata Ardi dengan rasa panik didalam hatinya.


"Setor dulu uang ke kami." Kata preman tersebut lalu langsung mengambil dengan paksa tas yang dibawa Ardi.


"Jangan bang! Aku gak punya uang sama sekali, dan didalam tas itu gak ada apa-apa kok bang." Kata Ardi mencoba sedikit berbohong, tetapi terlambat sudah, preman-preman tersebut telah menemukan bonus Ardi yang baru saja didapatkannya.


"Mengapa hidupku selalu menderita, bahkan pada saat mendapatkan keberuntungan langsung ditimpa dengan kesialan." Batin Ardi yang sedikit merasa kesal dengan kisah hidupnya yang selalu susah.


"Mencoba berbohong kepada kami ya? Kamu akan mendapatkan balasannya." Kata preman tersebut menghentikan lamunan Ardi.


Tanpa peringatan, kedua preman tersebut langsung menarik baju Ardi lalu memukulnya sampai babak belur, Ardi hanya bisa pasrah dengan kejadian yang menimpanya ini.


TBC


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Gift.

__ADS_1


__ADS_2