
Setelah beberapa menit memainkan ponsel barunya, Ardi melihat sebuah berita yang baru saja keluar bahwa keluarga Billy telah bangkrut, namun semua ini masih menjadi misteri, semua orang belum tau siapa yang menyebabkan hal ini semua.
Ardi berpikir lagi untuk tidak membalaskan dendam nya lagi kepada mantan pacar nya itu, lagi pula dia mungkin sudah tau dengan berita ini, Ardi ingin mencoba untuk tidak kejam dalam sementara waktu.
...****************...
"Apa? Bangkrut? Dasar pria gadungan! Sok-sokan mau mendekati wanita cantik seperti aku, tapi hanya memiliki harta yang sangat sedikit, udah hartanya sedikit, sudah mau bangkrut lagi." Keluh Clara ketika melihat berita tersebut.
Semangat Clara untuk mendekati Billy telah hilang, Clara sudah tau semua nya, jadi Clara hanya perlu mencari pria yang lebih kaya lagi.
Sedangkan Ardi, kini ia masih duduk sambil menyeruput kopinya, terlintas sebuah pertanyaan di benaknya pada saat seruput an terakhir.
"Bimo tinggal dimana ya? Perasaan kemarin waktu mau minjam sepeda motornya gak dibolehin datang ke rumahnya." Ardi berpikir sambil kebingungan.
Kini terlintas sebuah ide di benak Ardi untuk mencari hadiah untuk Bimo saja, Ardi baru ingat kalau 3 hari lagi Bimo ulang tahun.
"Tapi, gimana ya nyari kadonya? Susah nih kalau harus naik kendaraan umum." Ardi berpikir untuk membeli mobil untuk nya agar dia bisa membeli hadiah untuk Bimo.
"Aduh, gimana sih ini, gue kan belum punya SIM." Ardi kini malah dibuat pusing dengan argumen nya sendiri, dia kewalahan akan hal ini.
Ardi kini telah teringat akan satu hal, ia masih memiliki seorang yang dapat membantunya dalam membeli hadiah, itu adalah Brodi.
"Dasar Ardi-Ardi, lo kan punya bawahan sendiri." Kata Ardi kepada dirinya sendiri.
Ardi lalu memutuskan untuk menyuruh Brodi mencarikan hadiah terbaik untuk sahabat nya itu, Ardi ingin Brodi mencarikan sebuah hadiah yang sangat keren dan juga mahal.
"Halo Brodi, tolong carikan dulu hadiah terbaik yang mahal untuk orang yang sangat spesial."
"Baik tuan, tapi untuk siapa ya?" Brodi tidak bisa menahan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Itu untuk sahabat terbaik saya."
"Baiklah tuan, saya akan carikan, dan kemungkinan nanti malam hadiah tersebut akan saya antar ke rumah anda tuan."
"Ok, terima kasih ya." Ardi lalu menutup telepon tersebut, kini ia sudah merasa lega akan hal itu.
Memang, ketepatan sekali ulang tahun Ardi berdekatan dengan ulang tahun Bimo, sehingga setiap mereka ulang tahun, mereka wajib memberikan sebuah hadiah, meskipun itu hadiah yang sangat murah.
"Astaga! Gue lupa lagi buka 2 hadiah yang dikasih ke gue." Kata Ardi sambil menepuk jidatnya yang lebar itu.
Dua hadiah tersebut adalah hadiah dari Bimo untuk ulang tahun Ardi dan juga hadiah dari Brodi untuk tanda perkenalan pertama.
Ardi lalu masuk kembali ke dalam rumah nya yang kecil itu dan mencari hadiah-hadiah tersebut. Memang, kedua hadiah tersebut diantarkan Bimo dan juga Brodi kedepan rumah nya, karena kebetulan saat ulang tahun Ardi, dia tidak ada dirumah melainkan berada di hotel miliknya.
"Ini dia, akhirnya ketemu juga." Ardi lalu membuka hadiah tersebut dengan sangat semangat.
Hadiah yang pertama kali dibuka Ardi adalah hadiah dari Brodi. "Wah, ini kan jam tangan termahal yang ada di kota Jakarta."
Tanpa ragu, Ardi langsung memakai jam tangan tersebut dan kemudian mengambil satu lagi kado yang diberikan oleh Bimo.
Ardi tidak terlalu berharap lebih dari Bimo, ia tau bahwa Bimo adalah seorang yang hampir sama dengan dirinya ‘dulu’, lalu Ardi membuka kado tersebut menggunakan gunting yang ada di sebelahnya.
"Hah, apa ini?" Setelah melihat isi kado tersebut, Ardi sangat kebingungan.
Itu adalah sebuah Black Card atau kartu hitam yang khusus dibuat hanya untuk orang tertentu yang memiliki kekayaan cukup banyak, namun Ardi tidak mengetahui hal tersebut.
Ardi adalah seorang yang dari pedesaan, dan mendapatkan kabar bahwa dia adalah anak orang kaya adalah suatu mujizat baginya, tapi ia masih belum tau banyak mengenai barang mewah seperti apa saja yang seharusnya dimiliki oleh orang kaya.
Lalu, siapa sebenarnya Bimo?
__ADS_1
"Lebih baik aku simpan di dompet saja." Ardi langsung menyimpan Kartu hitam tersebut di dompetnya.
Selang beberapa menit kemudian, ponsel Ardi kembali berdering, tanpa ragu Ardi langsung mengangkat telepon tersebut.
"Halo Tuan, sepertinya saya sudah menemukan hadiah terbaik untuk sahabat anda."
"Bagus! Apa yang kamu pilih untuk itu?"
"Sebuah mobil sport lambo yang edisi terbatas, hanya ada total 200 buah di dunia."
"Apakah kamu tau kalau aku merahasiakan identitas ku? Bagaimana aku bisa memberikannya kepada dia." Ardi masih ingin merahasiakan identitasnya kepada teman-temannya, dia tidak ingin terbuka untuk saat ini, itu pasti akan mengganggu kelancarannya dalam meneruskan pendidikan nya.
"Ya Tuan, saya tahu, anda hanya harus memberikan sebuah kartu kepada sahabat anda, tapi anda tidak harus memberikannya secara langsung, namun dia sendirilah yang akan mengambil mobil itu ke alamat yang tersedia di kartu itu, mungkin anda akan dapat menjelaskan kepadanya akan hal itu. Lagipula, ini adalah hari ulang tahun sahabat terbaik anda, mobil tersebut pasti akan menjadi hadiah yang terbaik untuk nya."
Brodi juga sudah tahu bahwa Ardi harus merahasiakan identitasnya.
"Hmmm, ya sudah kalau begitu, tolong kamu antarkan hadiah tersebut ke rumah ku, aku akan mencari cara untuk mengelak nantinya."
"Baik Tuan, saya akan segera kirimkan."
Sebuah mobil tentunya adalah sebuah hadiah yang fantastis bagi Ardi. Ardi memutuskan sudah saatnya untuk memberikan hadiah terbaik kepada sahabatnya itu, selama ini dia sudah membantunya dalam segala hal, apa salahnya jika dia juga membantu nya, lagipula Ardi sendirilah yang meminta Brodi untuk membelikan sebuah hadiah yang mahal.
Keesokan paginya, Bimo juga pergi menghampiri Ardi untuk memberikan sebuah undangan kepada Ardi, ini adalah kali pertamanya membuat pesta di rumahnya.
Bimo sebenarnya seorang sahabat Ardi sejak SMP, Bimo memutuskan untuk ikut Ardi sekolah diluar kota, Ardi juga tidak tahu pasti mengapa Bimo ikut dengan nya sekolah diluar kota, apakah itu sebuah kebetulan atau gimana dia juga tidak tahu.
Namun, bahkan sejak SMP Ardi belum mengetahui tempat tinggal asli Bimo, dan Ardi hanya mendengar kabar bahwa saat Bimo sekolah di Jakarta, dia langsung pindah rumah di ibu kota tersebut.
Ini adalah sebuah kesempatan bagi Ardi untuk mengetahui tempat tinggal asli Bimo.
__ADS_1
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak...