
Ardi pun telah selesai mengganti pakaiannya, kini dia beranjak menuju teras rumah, menyeruput kopi sambil duduk layaknya seseorang yang sedang kebingungan.
"Ah sudah kupikir kan, aku sudah memilih untuk mencari pekerjaan paruh waktu agar tidak terlalu menyusahkan keluargaku." Batin Ardi, lalu segera menyeruput kopi sampai habis dan memulai untuk mencari pekerjaan.
Ardi setidaknya mencari pekerjaan yang dapat menerimanya yang belum memiliki KTP.
Setelah cukup lama berkeliling sekitaran rumah, Ardi melihat sebuah toko ponsel yang berada di depan sebuah Cafe Cursom.
Tulisan terpampang di sebuah kaca etalase tempat ponsel-ponsel yang dijualkan, tulisan tersebut menyatakan bahwa sedang membutuhkan seorang pegawai di toko ponsel tersebut.
Ardi lalu berjalan menuju toko tersebut untuk bertanya, apa boleh Ardi bekerja di toko tersebut tanpa menunjukkan KTP, yang memang sebenarnya belum bisa dimilikinya, akibat umur yang belum cukup.
"Kak, apa benar disini sedang mencari pegawai untuk bekerja di toko ini?" Kata Ardi, bertanya kepada salah satu pegawai yang juga bekerja di toko tersebut.
Pegawai tersebut hanya diam dan melihat penampilan Ardi dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu mengalihkan pandangannya dari Ardi seraya tidak memperdulikannya.
Ardi sedikit kebingungan atas sikap pegawai tersebut terhadapnya.
Setelah tidak adanya jawaban dari pegawai tersebut, Ardi memutuskan untuk beranjak pergi dari toko ponsel tersebut dan tentunya berpikir untuk mencari kerja ketempat yang lainnya.
Ardi mulai melangkahkan kakinya menjauh dari toko ponsel tersebut, namun ada seorang wanita tua yang cukup cantik memanggilnya kembali ke toko ponsel tersebut, Ardi pun menoleh kebelakang lalu berjalan mendekat ke arah toko ponsel tersebut.
"Ada yang bisa dibantu dek?" Tanya wanita itu dengan penuh senyuman tanpa memandang pakaian yang digunakan Ardi.
"Begini Bu, saya ingi mencari pekerjaan paruh waktu, dan kebetulan saya lewat dari jalan sini dan melihat ada tulisan didepan toko ponsel ini bahwa sedang membutuhkan seorang pegawai." Kata Ardi kepada wanita tersebut.
"Apa benar Bu?" Lanjut Ardi, bertanya kepada wanita itu.
"Oh, iya dek, bisa saya lihat KTP nya?" Tanya wanita itu sambil mengulurkan tangannya, meminta KTP Ardi.
__ADS_1
"Maaf Bu, saya belum punya KTP, umur saya masih 16 tahun, tapi satu minggu lagi umur saya akan genap 17 tahun dan saya akan langsung memberikan KTP saya kepada ibu." Kata Ardi menjawab dengan lancar kepada wanita itu.
"Hmph, bagaimana mungkin rekan kerja ku adalah seorang bocah 16 tahun" batin salah satu pegawai dari toko tersebut sambil menghembuskan nafas dengan kasar.
"Baiklah, kamu ini sepertinya anak yang baik, saya akan meminta fotocopy kartu pelajar kamu saja sebagai gantinya, dan kamu sudah bisa mulai kerja besok." Kata wanita tua itu sambil mengulurkan kembali tangannya memberikan selamat kepada Ardi.
"Terima kasih banyak Bu!" Kata Ardi sambil kegirangan, sampai-sampai ingin melompat dan berteriak.
Setelah hari yang cukup melelahkan bagi Ardi hari ini, dia memutuskan untuk pergi pulang kerumah dan beristirahat sampai besok pagi.
......................
Pagi pun telah tiba kembali seperti biasanya, namun pada hari ini ada yang berbeda dari biasanya, yaitu Ardi haru bekerja paruh waktu sore hari nanti, lebih tepatnya sepulang sekolah nanti.
Ardi mulai memakai seragam putih abu-abunya dengan rapi, lalu beranjak menuju teras untuk menghirup udara segar sebentar, setelah itu selesai maka Ardi akan berangkat sekolah.
—Tring-tring, tring-tring—
—Bimo—
Sebuah tulisan terlihat dilayar ponsel tersebut, lalu dengan cepat Ardi menjawab telepon tersebut dan langsung meletakkan ponsel tersebut tepat di telinga sebelah kanannya.
"Halo Ar, gue dapat berita nih, sebuah virus baru telah ditemukan dan kini telah melanda kota kita, dan juga obat dari virus tersebut belum ditemukan, terus untuk sementara kita tidak boleh keluar rumah dulu." Kata Bimo.
Ardi memang tidak memiliki televisi dirumahnya, sehingga kalau ada berita terbaru dia harus bertanya kepada temannya, Bimo.
"Emangnya seberapa bahaya virus itu Bim?, sampai-sampai kita sementara kagak bisa keluar rumah?" Tanya Ardi kepada Bimo dengan rasa sedikit takut, panik, dan juga khawatir.
"Wah, ini virus bahaya banget Ar, mudah tertular dan dapat menyebabkan kematian." Kata Bimo sedikit menjelaskan tentang situasi yang terjadi.
__ADS_1
"Kalau begitu thanks ya Bim infonya, gue mau ganti baju dulu." Kata Ardi kepada Bimo melalui telepon.
"Iya Ar, sama-sama." Jawab Bimo lalu menutup telepon tersebut.
Ardi pun memutuskan untuk mengganti seragamnya, Ardi sedikit bingung dengan apa yang terjadi, dan dia juga merasa ada yang janggal dengan suara tadi.
Tak lama kemudian setelah Ardi ingin mengganti seragamnya, teleponnya kembali berbunyi, namun kali ini yang meneleponnya berbeda, yang menelepon Ardi kali ini adalah Cristina, kakak Ardi.
"Halo kak, gimana kabar kakak?, baik-baik aja disana kan kak?, bagaimana dengan ayah?" Kata Ardi langsung memberikan pertanyaan yang cukup banyak kepada kakaknya dengan sedikit rasa khawatir, bahkan kakaknya belum sempat mengatakan sepatah-kata pun.
"Apaan sih dek?, kakak cuman mau bilang kalau uang sewa rumah kamu sudah kakak transfer ke rekeningmu, dan cepat pergi sekolah sekarang, sudah jam tujuh nih, nanti kamu telat!" Kata Cristina, menjelaskan sedikit tentang apa yang mau dikatakannya.
"Gini loh kak, kan virus baru saja memasuki kota kita, jadi gak boleh sekolah dulu." Jawab Ardi sedikit menentang perkataan kakaknya.
"Virus apaan sih?, gak ada virus yang datang, kamu ini kebanyakan baca cerita aja, udah cepat sekolah sana." Kata Cristina lalu langsung menutup telepon dengan rasa sedikit kesal.
"Lalu, bagaimana dengan virus yang baru saja menyerang kota?, aku sepertinya harus membuktikannya sendiri kesekolah." Batin Ardi, lalu bersiap kembali untuk menuju kesekolah.
Selama diperjalanan, Ardi berpikir kalau kakak nya belum dapat kabar tentang virus tersebut, hal itu disebabkan tempat tinggal kakaknya yang jauh di pedesaan.
Ardi sedikit ragu untuk pergi kesekolah, namun setelah sampai disekolah, Ardi dikejutkan dengan orang-orang yang ramai datang kesekolah, dan bahkan banyak kendaraan yang terparkir rapi berjejer.
Hal ini menandakan bahwa sesuatu tidak terjadi, dan semuanya normal seperti biasanya, lagi-lagi hal ini membuat Ardi bingung, bahkan kepalanya hampir meledak memikirkannya.
"Ardi, lo ngapain disini?" Seorang pria datang menghampiri Ardi dan melihatnya sedikit kebingungan.
"Lah, emangnya kenapa Ki?" Tanya Ardi kepada Rifki, orang yang menghampirinya tadi.
"Bukankah sebuah virus datang menyerang kota kita, dan untuk sementara waktu kita tidak boleh keluar rumah?" Kata Rifki sedikit menjelaskan kepada Ardi.
__ADS_1
TBC
Like, Komen, Vote, dan gift