Harapan Menjadi Kenyataan

Harapan Menjadi Kenyataan
Episode 14 : Brodi bawahanku


__ADS_3

Ardi yang sedang tidur dengan nyenyak kini dibangun kan dengan suara nada dering ponsel miliknya.


Ardi langsung menoleh ke arah ponsel tersebut dan melihat ke layar ponsel itu untuk mengetahui siapa yang menelepon nya.


Itu adalah Beni, Beni lah yang menelepon Ardi.


Ardi lalu mengangkat telepon tersebut dan mencoba mendengarkan walaupun nyawa nya masih belum terkumpul.


"Halo Tuan Muda, kami sudah membawa pulang Billy, dan selama perjalanan ia memberontak dan mencoba untuk bertemu dengan anda Tuan."


"Terus bagaimana? Apa kalian telah berhasil membawa nya pulang?"


"Iya Tuan, kami berhasil."


"Ya sudah, terima kasih atas infonya, kinerja mu juga sangat bagus!" Ardi lalu menutup telepon tersebut.


...****************...


"Hey! Dimana si pria miskin sialan itu! Aku mau bertemu dengannya!" Billy yang sudah babak belur kini memberontak untuk dibawa pulang.


Billy telah dihajar habis-habisan, salah satu kakinya patah dan salah satu tangan nya juga patah, kini Billy hanya bisa menahan rasa sakit dan mencoba memberontak.


Billy juga merasa semakin kesal melihat sikap Ardi, bagaimana mungkin Ardi bisa melakukan hal yang sekejam ini terhadap diri nya, apa dia sudah bosan hidup.


"Aku ingin bertemu dengan pria miskin itu!" Billy berteriak tanpa henti, namun para anggota Beni hanya membiarkannya dan tidak memperdulikannya.


Para anggota Beni langsung pergi dan tidak menoleh ke arah Billy sedikit pun setelah mengantar nya pulang ke rumah nya.


Sedangkan Billy yang sudah sampai di depan rumah nya kini di kejutkan dengan ayah nya yang langsung menarik tangan nya ke dalam rumah. Billy yang tidak sempat menolak kini hanya mengikuti ayahnya saja.

__ADS_1


"Apa-apaan ini Billy? Kamu sudah buat keluarga kita bangkrut!" Ayah Billy baru saja mendapatkan kabar bahwa bisnis satu-satunya milik keluarga mereka telah di ambil alih oleh keluarga Liken, semua berita itu telah terdengar di mana-mana.


"Apa kalian tau? Kalau bisnis keluarga Ruber kini diambil alih oleh keluarga Liken, apa kalian tau penyebabnya ya?"


"Ya aku sudah tau mengenai berita itu, berita itu tersebar dengan sangat cepat, aku yakin hal itu karena putra dari keluarga Ruber pasti telah menyinggung salah satu keluarga Liken."


Ayah Billy yang mendengar ini tidak bisa menahan rasa kesal terhadap putra nya, bisnis yang dia bangun dengan keringat nya sendiri kini telah hilang dengan mudah akibat perbuatan anak nya, tentu saja hal ini membuat emosi nya meluap.


Apalagi dia telah menerima surat langsung yang ditanda tangani oleh Brodi yang menyatakan bahwa perpindahan hak kekuasaan bisnis akibat kurang nya kesopanan, sungguh alasan yang sangat membingungkan. Namun, setelah mendengar dari beberapa orang yang membicarakan tentang kejatuhannya, kini dia sudah tau penyebabnya.


Brodi adalah seorang pengusaha yang terhebat di Jakarta, dia memiliki saham sebesar 20 persen di jalanan Neuro Street, yang artinya, Brodi juga memiliki kekuasaan di Neuro Street. Tapi, Brodi juga harus patuh terhadap Ardi, tentunya dia sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan Ardi.


"Apa yah? Keluarga kita bangkrut?" Billy yang masih menahan rasa sakit di sekujur tubuh nya kini merasa semakin lemah setelah mendengar pernyataan dari ayah nya.


Ibaratkan layangan yang sudah jauh terbang ke atas langit, namun kini putus dan jatuh ke tanah dengan kondisi yang kotor.


"Apa yang sudah kamu perbuat sama keluarga Liken nak? Kamu ini sungguh keterlaluan! Ayah sudah bersusah payah membangun bisnis ini sampai bisa masuk ke jalanan Neuro Street." Ayah Billy hanya bisa marah terhadap anaknya.


Kini pintu rumah Billy kembali terbuka, mata mereka langsung tertuju ke arah pintu tersebut. Billy yang melihat pria yang membuka pintu itu kini langsung merasa panik dan juga sangat takut.


Itu adalah Deni, putra pertama dari keluarga mereka, atau bisa di bilang kakak dari Billy, Deni dikenal khalayak ramai dengan sikap yang kejam dan juga dingin.


Deni yang melihat keberadaan adik nya langsung berjalan ke arah nya dan melontarkan sebuah tamparan yang cukup keras ke pipi adik nya itu.


Billy hanya bisa menerima tamparan tersebut tanpa memberontak, ia takut jika ia memberontak nanti kemarahan kakak nya akan semakin bertambah.


"Dasar anak beban! Sudah beban keluarga, kini malah menyusahkan! Setidaknya, kalau sudah jadi beban jangan malah menyusahkan." Deni melontarkan kata-kata yang cukup menukik tajam terhadap Billy, tatapan Deni yang sangat tajam juga membuat Billy semakin khawatir.


Semua keringat bercucuran di badan Billy, semua kesialan sudah datang kepada nya, bisa juga di bilang ibaratkan jatuh ketimpa tangga keduduk kotoran dan juga terlempar sendal emak-emak.

__ADS_1


"Pria miskin! Aku tidak akan membiarkan kau hidup dengan tenang, kau sudah membuat ku menderita seperti ini!" Gumam Billy yang masih menahan rasa sakit dan juga kesal secara bersamaan.


...****************...


Sementara itu, Ardi kini yang sudah terbangun dari tidurnya berpikir untuk membeli sebuah ponsel baru, mengingat bahwa dia kini hanya memiliki ponsel tunat-tunit yang sangat kuno.


Ardi lalu menelepon kakak nya untuk mencoba mencari bantuan tentang ponsel yang bagus untuk ia beli.


"Halo kak, info ponsel terbaik dong, aku mau beli baru nih!"


"Aduh, lagi-lagi kamu ganggu kakak dengan hal yang gak penting, ya sudah nanti kakak kasih nomor telepon kamu sama orang yang kakak kenal, nantinya dia akan menjawab semua pertanyaan mu yang aneh-aneh itu." Cristina masih merasa sedikit kesal dengan sikap adik nya itu, dia merasa bahwa Ardi masih belum bisa memiliki komitmen sendiri.


Cristina lalu langsung memutuskan panggilan tersebut secara sepihak, lalu menyuruh Brodi untuk membantu Ardi dalam menjalankan kehidupannya.


"Halo Brodi, ada tugas istimewa nih buat kamu! Tolong kamu jaga dan juga bantu Tuan Muda Liken, aku rasa dia akan butuh bantuan mu, tapi ingat tolong rahasiakan identitasnya!"


"Apa? Tuan Muda Liken? Apakah dia sudah hadir?"


"Ya, dia sudah tau semuanya."


"Baiklah nyonya, aku akan melakukan yang terbaik untuk Tuan Muda itu, tentunya aku juga akan merahasiakan identitasnya, ini adalah sebuah kehormatan bagi ku."


Brodi yang baru saja mendengar berita dari Cristina langsung merasa senang, sudah lama Brodi menantikan kehadiran Tuan Muda Liken ini, dan Brodi juga pastinya akan memberikan yang terbaik untuk nya.


"Baiklah, aku senang mendengarnya, terima kasih sudah menerima penawaran ku."


"Iya nyonya, sama-sama."


Cristina lalu menutup panggilan tersebut, sedangkan Brodi kini masih merasa senang dengan berita yang baru saja di dengar nya.

__ADS_1


TBC


Jangan lupa tinggalin jejak....


__ADS_2