
"Berhenti!" Ardi menyuruh mereka untuk berhenti memukul, lalu Ardi menyerahkan surat tersebut ke Rifki.
Dengan rasa terpaksa, Rifki menandatangani surat tersebut, bagaimana pun juga, kalau dia tidak melakukan hal itu, pasti juga akan dituntut karena melanggar surat perjanjian yang sudah ditulis dan ditandatangani di atas materai.
"Kerja bagus! Sekarang ambil ponsel ini dan pergi menjauh dari hadapan gue!" Ardi kini semakin kejam, Ardi akhirnya bisa membalaskan dendam yang sekian lama dia pendam.
Semua orang yang melihat kejadian ini hanya bisa terkejut dan tidak berani menolong Rifki, mereka kini semakin bingung melihat pria miskin yang ada di depan mereka, siapa sebenarnya pria ini? Kata itu pasti terlintas di pikiran mereka.
Rifki kini hanya bisa berjalan pergi menjauh sambil memegang perutnya yang sakit, dan juga hanya bisa menahan malu karena telah diperlakukan seperti ini di depan khalayak ramai.
"Lihat saja kamu nanti Ardi!" Gumam Rifki, ini mungkin belum saat yang tepat untuk memberontak, melihat jumlah pasukan yang dimiliki Ardi saja sudah membuat Rifki takut.
Akhirnya, tontonan ini berakhir, Ardi kembali pulang ke rumah menggunakan sepeda motor milik Bimo dengan rasa yang penuh dengan kebahagiaan, sebab kini kekayaan nya akan bertambah.
Kerumunan yang sedari tadi menonton mereka juga sudah mulai pergi dari lokasi tersebut dengan meninggalkan rasa penasaran berlebih mengenai pria miskin ini, Ardi.
Rifki akhirnya sampai ke rumah nya dengan menggunakan mobil miliknya, untung saja Ardi membiarkan Rifki membawa mobilnya dan juga memberinya ponsel termahal. Namun, kini ia dikejutkan dengan tampang ayah nya yang berada tepat di depan pintu rumah itu.
"Rifki!! Kenapa semua perusahaan yang papa kasih ke kamu malah kamu kasih ke orang lain?" Ayah Rifki tidak bisa menahan emosi nya lagi.
Beberapa perusahaan besar milik nya telah ia kasih ke putra nya, dan hanya tersisa beberapa lagi perusahaan kecil yang harus ia urus.
"Maaf yah, aku telah ditipu sama seorang pria miskin!"
"Apa? Pria miskin? Berani sekali dia menipu putra ku, akan kubalas nanti."
Rifki kini menjadi senang setelah mengetahui bahwa ayahnya juga membenci Ardi sekarang, dan pastinya dia juga akan lebih mudah sekarang untuk membalaskan dendamnya kepada Ardi.
Ardi telah mengambil kekayaan milik Rifki, namun tidak dengan kekayaan keluarga Rifki. Memang, beberapa bulan lalu ayah nya Rifki sudah memberikan beberapa perusahaan besar miliknya ke putra nya itu, perusahaan-perusahaan itu lah yang di ambil alih oleh Ardi, tapi untung saja masih ada beberapa perusahaan kecil yang masih dipegang ayah Rifki.
"Siapa orang itu? Kenapa kamu bisa tertipu oleh pria miskin!"
__ADS_1
"Pria miskin bukan sembarang pria miskin, pria miskin ini memiliki kemampuan yang tidak dimiliki pria miskin yang lainnya Pa."
"Maksudnya gimana?"
"Pria miskin ini sangat licik pah, kami sudah membuat perjanjian sebelumnya, namun sepertinya dia sudah bekerja sama untuk menipu ku pah." Rifki mencoba menjelaskan hal itu kepada ayah nya.
"Sepertinya kawan mu ini bukan orang biasa, nanti papa akan minta pertolongan sama relasi papa."
"Makasih banyak ya pah."
...****************...
Sementara itu, kini Ardi sedang menggunakan ponsel barunya dan mencoba mengatur ponsel tersebut sebagaimana mestinya.
Ardi tentunya akan tidur dengan sangat bahagia hari ini, hal itu tentunya karena ia telah mendapatkan ponsel baru dan juga perusahaan milik Rifki.
Keesokan pagi nya, seluruh siswa kembali sekolah seperti biasanya. Septo kini sudah mengetahui bahwa perusahaan tempat ayah nya bekerja sudah pindah nama pemilik dan bukan ayah Rifki lagi, bagaimana tidak, berita ini sangat tersebar luas dengan cepat, jadi Septo berpikir untuk tidak berteman lagi dengan Rifki dan mencari siapa pemilik baru perusahaan tersebut, lagi pula Rifki kini sudah mau bangkrut.
Rifki juga sekarang menjadi semakin benci ketika melihat Ardi di sekolah, tapi dia tidak ingin memberitahukan kejadian memalukan itu kepada teman nya, jika dia memberitahukan itu pasti dia bisa sangat malu.
Sedangkan Ardi hanya bersikap biasa saja didepan Rifki, terlebih lagi dia sekarang sudah tidak di ganggu lagi oleh Rifki.
Rifki kini juga tidak mengganggu Clara lagi, dia berpikir untuk tidak berurusan lagi sementara dengan Ardi. Rifki masih mengira bahwa Clara masih pacarnya Ardi, dan dia tidak tau juga bahwa Clara telah berselingkuh dan sudah putus dengan Ardi.
Beda halnya dengan Clara yang kini masih menunggu informasi dari selingkuhan nya itu, ia menelepon Billy beberapa kali sampai dia menjadi emosi sendiri.
Clara yang emosi memutuskan untuk menemui Billy sepulang sekolah nanti, sedangkan Ardi yang mengetahui hal ini jadi memiliki sebuah rencana untuk membuat sebuah ide gila agar membuat mantan pacarnya itu menyesal.
Ardi sangat ingin melihat Clara menyesal seumur hidup karena telah menilai sebuah buku dari sampul nya saja! Ardi akan membuktikan, siapa yang sebenarnya miskin dan siapa yang sebenarnya kaya.
...****************...
__ADS_1
Bel pulang sekolah telah berbunyi, Ardi kini masih berjalan santai dengan Bimo menuju arah pulang.
"Eh Ar, semalam lo kemana sih minjam sepeda motor gue?"
"Gak ada, gue cuman pengen jalan jalan aja kemarin, lagipula lo tau sendiri kan kalau gue udah mengalami kesialan beberapa waktu yang lalu."
Ardi telah menceritakan semua kesialan yang pernah ia alami sebelumnya, mulai dari dirampok hingga diputuskan oleh pacarnya, Clara.
Sebenarnya, Bimo juga tidak tega melihat Ardi yang selalu mengalami kesialan terus-menerus, dia ingin sekali melihat Ardi bahagia, namun yang tidak ia ketahui bahwa Ardi sebenarnya orang yang kaya raya, tapi untuk sementara Ardi tidak ingin memberitahukan hal ini kepada Bimo.
Setelah beberapa menit perjalanan, tak terasa Ardi sudah sampai di rumah nya.
"Ya sudah lah Ar, gue balik dulu yah, lo udah sampai di rumah lo ini."
"Iya Bim, hati-hati yah."
"Yoi."
Bimo akhirnya pergi meninggalkan Ardi, sedangkan Ardi kini mulai mengganti seragam sekolah nya sambil memikirkan sebuah ide yang cukup menarik untuk membuat mantan nya menyesal.
Ardi berjalan mondar-mandir memikirkan hal itu, beberapa menit kemudian, ide masih belum ketemu, Ardi memutuskan untuk membuat sebuah kopi hitam untuk ia minum.
Siapa pun juga tau, kopi dapat membuat pikiran menjadi plong, walaupun Ardi masih menduduki bangku SMA tapi hal ini sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi nya.
Ardi kini mulai duduk dibangku plastik yang ia miliki yang berada di teras rumah nya, Ardi menyeruput kopi dan juga sambil memainkan ponsel baru miliknya itu.
TBC
Jangan lupa tinggalin jejak...
NB: btw readers, author sangat minta maaf karena jarang Up, hal ini bukan tanpa sebab ya!
__ADS_1
Author jarang Up karena ada kesibukan di real life, Author kini lagi jalani ujian di sekolah, jadi semoga semua readers mengerti ya, mohon dukungan nya!!