Harapan Menjadi Kenyataan

Harapan Menjadi Kenyataan
Episode 20 : Bertaruh dengan orang yang salah


__ADS_3

"Apa? Apakah itu tuan Brodi?"


"Tidak, itu benar-benar dia! Apa yang dilakukannya disini?"


Semua orang dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sangat kaya, Brodi.


Semua keterkejutan mereka belum berakhir, semakin mereka semua masuk ke dalam pesta itu, semakin banyak orang-orang penting yang berada di pesta itu, mulai dari bos kelas tinggi hingga bos kelas bawah, semua nya datang ke pesta itu.


Mereka semua langsung menyadari bahwa itu adalah pesta sejak pertama kali mereka datang, itu semua bisa dilihat dari dekorasi mewah yang terhias di setiap sudut sekolah, bahkan parkiran sekolah saja juga dipenuhi dengan mobil-mobil mewah.


Ardi, Rifki, dan Septo hanya bisa melihat dengan rasa tidak percaya. "Apa yang terjadi disini?" Itulah kira-kira yang dipikirkan mereka saat ini.


"Baiklah kalian semua sudah sampai di pestanya, tunggu dan rayakan lah dengan gembira, kalian bisa meminum atau memakan apapun yang ada di sini." Pesan kembali muncul di grup khusus itu, semua orang langsung terdiam dan kembali melihat satu sama lain.


Beberapa saat kemudian, mereka mulai menikmati pestanya dan mulai memakan ataupun meminum apa yang telah sediakan, begitu juga dengan guru-guru yang telah di undang sebelumnya.


...****************...


"Bisakah saya membuat sebuah pesta di sekolah?"


"Tentu saja Tuan, anda pasti bisa, saya akan menyiapkan semua nya."


"Terima kasih bantuannya."


Begitulah kira-kira percakapan kepala sekolah dengan seseorang yang misterius pagi tadi, dan kepala sekolah hanya bisa tunduk dan mematuhi orang yang berada di telpon tersebut. Terdengar dari suaranya yang keluar dari telepon tersebut, orang itu kiranya sudah cukup berumur dan memilik suara yang serak dan bergema.


Itulah yang menyebabkan pada akhirnya pesta ini dibuat, tapi siapa pria itu? Ini masih menjadi sebuah misteri.

__ADS_1


"Tes-tes, baiklah, terima kasih karena telah datang di pesta ini, kalian semua telah mendapatkan undangan berdasarkan warna dan juga tulisan yang berbeda."


Semua langsung terdiam dan pandangan langsung tertuju ke arah suatu panggung yang tersedia.


"Apaaaa? Itu kan tuan Willbord! Bagaimana dia bisa berada dipesta ini." Semua orang langsung terkejut, terutama para siswa/i yang melihat itu.


Siapa yang tidak kenal dengan dia, dia adalah orang terkaya nomor tiga di kota Jakarta, semua orang-orang telah mengetahui bagaimana dia merintis kariernya saat dia masih susah, bahkan para gadis gadis ingin mendekatinya karena hartanya, siapa lagi yang bisa menerima pria tua selain karena hartanya.


Tapi, tentu saja harta nya tidak sebanding dengan keluarga Liken, sebuah keluarga yang sangat kaya nomor 1 di dunia, itulah keluarga Ardi. Namun, walaupun begitu, keluarga Willbord juga orang kaya yang harta nya tidak akan habis sampai keturunan ke 10, lalu bagaimana dengan keluarga Liken ya? Sulit untuk dibayangkan.


"Pantas saja dia mampu mengundang Brodi, seluruh kekayaan nya hampir setara dengan Tuan Brodi, meskipun masih lebih banyak kekayaan Tuan Brodi."


"Ya benar, aku beruntung karena berada disini!"


Ardi dan Brodi sebenarnya sudah bertukar pandang sebelumnya, dan Brodi telah mengerti untuk menyembunyikan identitas Ardi di depan semua teman-temannya, padahal ia ingin sekali menyambutnya dengan rasa hormat.


Semua orang bahkan hampir lupa tentang tujuan mereka datang ketempat ini, mereka semua masih merasa terkagum dengan orang-orang yang disekelilingnya.


"Dengarkan semua nya, seperti yang saya katakan tadi, semua orang bisa duduk di kursi dan juga meja sesuai dengan kartu undangan yang di terima." Kata Tuan Willbord.


"Kata yang ditulis dengan warna hitam dan latar putih silahkan duduk di kursi paling belakang, Kata yang ditulis dengan warna emas dan latar hitam silahkan duduk di kursi bagian tengah dengan meja yang berwarna biru, dan untuk kartu undangan terakhir yaitu kartu yang ditulis dengan warna biru tua dan latar merah serta memiliki hiasan di setiap sudut kartu undangan itu, untuk yang menerima itu silahkan duduk di kursi bagian tengah bersama dengan orang-orang terhormat yang telah di undang sebelumnya." Jelas Tuan Willbord dengan sangat teliti.


Semua orang langsung melihat ke kartu undangan yang diterima mereka masing-masing, sebagian kecil orang merasa kecewa dengan undangan yang diterima mereka, dan mereka hanya bisa menerima kenyataan.


Para siswa/i dan juga guru yang menerima surat undangan itu, setelah mendengar perkataan nya mereka langsung melihat juga kartu undangannya, seperti yang diharapkan sebelumnya, tulisan itu ditulis dengan warna emas dan latar hitam yang berarti telah disediakan tempat khusus untuk mereka.


Seluruh undangan termasuk para siswa/i dan juga guru mulai menduduki kursi yang telah disediakan, beda dengan Ardi, dia mendapatkan undangan yang dituliskan dengan warna biru tua dan latar merah. Artinya, Ardi harus menduduki kursi istimewa yang disediakan khusus untuk orang terhormat, tentu saja itu atas kehendak Bimo sendiri.

__ADS_1


"Hey bocah miskin! Ngapain lu pergi kesana, dasar anak tidak tahu diri." Tepat setelah Ardi ingin melangkahkan kaki nya mengarah ke meja istimewa yang telah disediakan, dia mendengar seseorang mencibir.


"Hah! Bukan urusan kalian, lagi pula aku bertaruh aku pasti bisa menduduki kursi itu." Kata Ardi dengan santai.


"Uhhh, ada yang mencoba ingin bertaruh teman-teman, baiklah aku bertaruh kalau kamu bisa aku akan memberi mu 50 juta." Kata seorang siswa kaya yang satu sekolah dengan Ardi, bedanya dia jurusan IPS.


"Aku juga, aku bertaruh 25 juta."


"Aku bertaruh 10 juta."


"Kami juga, kami masing-masing akan bertaruh 200 ribu rupiah." Kata seorang siswi berdiri mewakili siswa yang lainnya, mereka juga setuju dan hanya mengangguk.


Beda dengan yang lainnya, Rifki hanya berdiam diri dan bahkan tidak bergerak sama sekali, ia pernah kalah taruhan sebelumnya dan tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama.


"Heh Rifki, lu gak mau taruhan nih." Kata seorang siswa menyindir.


"Gak, aku gak mau taruhan dan membuang-buang waktu ku." Kata Rifki dengan cuek.


"Sepertinya aku akan mendapatkan banyak uang hari ini, terima kasih kepada Bimo, karena dia aku jadi bisa duduk di kursi istimewa." Gumam Ardi, merasa kagum akan Bimo dan senang.


Saat ia memulai langkah kakinya, ia dikejutkan dengan suara serempak dari seluruh siswa, "Berhenti!"


"Astaga Ardi, kita belum membuat kesepakatan untuk elo, dan lo langsung pergi begitu saja." Kata salah satu siswi sambil menepuk jidat nya.


"Oh ya, silahkan."


"Baiklah, kami akan memberikan seluruh taruhan yang kami jaminkan kepada kamu jika kamu berhasil, dan jika tidak, kamu harus menjilat satu per satu sepatu kami dan harus berjoget seperti orang aneh di tengah keramaian ini." Ucap seorang siswa berkacamata dan mulai membuat sebuah surat di kertas A4 kosong yang ia bawa.

__ADS_1


TBC


Jangan lupa tinggalin jejak...


__ADS_2