Harapan Menjadi Kenyataan

Harapan Menjadi Kenyataan
Episode 13 : Pengunduran diri


__ADS_3

Billy yang sudah diikat di kursi lipat itu langsung menggerakkan tangan nya dengan paksa untuk melepaskan ikatan itu, namun usahanya sia-sia, bahkan tidak ada terjadi apa pun dengan ikatan itu.


Beni langsung memberikan isyarat kepada Ardi, dengan cara memberikan sedikit siulan, sama seperti dengan apa yang direncanakan sebelumnya.


Ardi pun mendengar siulan itu dan langsung menuju ke arah mereka, anggota Beni yang melihat kehadiran Ardi langsung memberi jalan lurus kepadanya, sedangkan Ardi berjalan dengan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.


"Wah-wah-wah, ada yang terjebak dalam rencananya sendiri! Sungguh malang sekali nasib mu!" Ardi langsung mengeluarkan kata-kata sambil menuju ke arah Billy.


Billy dengan terkejut melihat Ardi yang dalam keadaan sehat dan tidak terjadi apa-apa padanya. Kini Billy mulai memaksa untuk melepaskan ikatan tersebut.


Ardi yang melihat kejadian ini meminta Beni untuk melepaskan kain yang ada di mulutnya, sehingga dia tidak bertindak lebih dan dapat mencurahkan segala kekesalan nya melalui mulutnya.


Setelah mendapati bahwa penutup mulutnya telah dibuka, Billy langsung mempertanyakan ini semua kepada Beni.


"Apa-apaan ini Beni? Saya telah membayar kamu dengan harga yang cukup mahal! Kini kamu malah menghianatiku dan berada di pihak pria miskin ini! Apa kamu gila?" Billy langsung memberikan pertanyaan yang cukup banyak kepada Beni.


"Hmmm, sepertinya kamu telah menyinggung orang yang salah! Mungkin kamu akan mendapatkan balasannya!"


Billy kini semakin bigung dengan kejadian ini, Billy langsung mempertanyakan hal ini kepada Ardi.


"Hey pria miskin! Hipnotis apa yang kamu berikan kepada Beni? Kenapa Beni malah memihak kepada kamu?" Billy sangat penasaran dengan kejadian ini, sedangkan Ardi tidak mau memberitahu kan nya kepada Billy tentang kebenaran yang sesungguhnya, Ardi mau dia terus penasaran.


"Ha-ha-ha, soal itu, itu bukan urusan mu! Dan untuk kalian semua, saya mau kalian menghabisi anak ini dan buat dia babak belur, kalau bisa buat dia sampai mengalami trauma berat di kehidupannya!"


Billy kini semakin panik, bagaimana pun juga, dia tidak bisa melawan mereka yang jumlah nya begitu banyak.


"Tunggu sebentar! Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Apakah kamu ingin uang dari ku? Aku akan memberikannya kepadamu, asalkan kamu lepaskan aku dari sini!" Billy dengan terpaksa mengatakan hal itu, dia sangat takut sekarang.

__ADS_1


"Hah? Uang? Saya tidak perlu uang kamu! Saya hanya mau melihat kamu menderita! Sudah cukup, jangan ditunda lagi, hajar dia sekarang!" Ardi pun langsung memberikan perintah kepada seluruh anggota Beni, dan Ardi mencoba mundur dan memberi jalan kepada anggota Beni untuk menghajar Billy.


Billy sekarang sangat khawatir, semua anggota Beni telah mendekatinya dan mulai beberapa kali melontarkan pukulan ke wajahnya.


"Ahhh!" Billy teriak kesakitan sambil bergerak dan mencoba melepas ikatan tali di tangan nya dari kursi itu.


Sedangkan Ardi kini tertawa puas melihat penderitaan Billy, dia merasa bahwa balas dendam nya telah tercapai.


Beberapa menit berlalu, Billy kini tidak sadarkan diri, dan Ardi meminta untuk membiarkannya bangun terlebih dahulu agar bisa mengantar nya pulang.


Ardi pun pergi dari bangunan tua itu dan pergi ke toko ponsel tempat dia bekerja, Ardi menggunakan mobil mewah milik Billy yang digunakan nya tadi untuk datang ke sini.


Ardi meminta Beni untuk mengantarkan nya ke toko ponsel itu, bagaimana pun juga, Ardi belum punya SIM dan belum mengetahui cara mengendarai mobil, apalagi mobil mewah seperti milik Billy itu.


...****************...


Sedangkan Ardi langsung menuju ke arah toko ponsel itu untuk menemui Mona, pemilik toko ponsel tersebut.


Ardi pergi memasuki kantor Mona dan mendiskusikan tentang pengunduran diri nya, sedangkan Nura yang melihat bahwa Ardi menuju kantor Mona, langsung menguping pembicaraan mereka dari luar.


"Bu, saya ingin mengundurkan diri dari sini Bu."


"Apa? Kenapa?" Mona yang mendengar pernyataan itu sekarang menjadi bingung.


"Jadi begini Bu, saya ingin meneruskan sekolah saya terlebih dahulu, soalnya sebentar lagi saya mau ujian Bu." Ardi mencoba sedikit berbohong kepada Mona.


Tentunya, setelah mengetahui bahwa dia adalah orang kaya, buat apa lagi dia bekerja paruh waktu, gaji nya saja sangat jauh nominal nya bila dibandingkan dengan uang jajan nya setiap hari. Namun, Ardi tidak ingin Mona tau soal ini, dan mencoba mencari alasan agar dia dapat mengundurkan diri dari sana.

__ADS_1


"Ha? Kamu yakin Ardi!" Mona masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Ardi barusan, Mona tau kalau Ardi pasti sangat membutuhkan pekerjaan ini.


"Iya Bu, saya akan mengundurkan diri! Dan satu lagi, saya punya hadiah untuk ibu." Ardi lalu memberikan sebuah amplop putih kepada Mona.


"Hadiah? Ah sudahlah, kamu tidak perlu repot-repot begini!"


"Tolong di terima ya Bu, saya pamit dulu."


Ardi lalu berjalan keluar dari kantor Mona, Nura yang menguping sedari tadi tidak terima kalau Ardi mengundurkan diri dari toko itu, apalagi dia sudah membuat masalah di toko itu.


Setelah Ardi keluar dari kantor Mona, Nura lalu mencegah dan menghalangi jalan Ardi.


"Apa-apaan ini? Kamu sudah memberikan masalah di toko ini dan sekarang kamu mau mengundurkan diri? Dasar anak tidak tau diri!" Nura meluapkan emosi nya kepada Ardi.


"Itu bukan urusan mu! Lagi pula, aku sudah membereskan masalah itu, lebih baik kamu pergi dari jalan ku!" Ardi kini semakin kesal melihat perlakuan Nura terhadap nya, Ardi merasa sepertinya Nura sangat membenci dirinya.


"Membereskan masalah kata mu? Bagaimana mungkin kamu bisa membereskan masalah sebesar itu, sebentar lagi pasti kamu akan dibuat menderita oleh nya! Dan kamu juga harus bertanggung jawab atas perlakuan mu itu, tuan Billy pasti akan mengacaukan toko ini juga!" Nura merasa jijik setelah mendengar Ardi yang mengatakan bahwa dia sudah membereskan semua masalahnya.


"Ah sudahlah! Aku tidak peduli lagi sama kamu! Tolong menyingkir dari jalan ku!" Ardi lalu dengan paksa berjalan melewati Nura.


Nura menahan emosi nya setelah melihat sikap Ardi yang seperti ini, Nura merasa bahwa Ardi sedikit berlebihan dan tidak tau diri, kini Nura merasa semakin jijik ketika melihat Ardi.


Tapi, Ardi tidak memperdulikan Nura dan terus berjalan keluar toko tersebut, Ardi ingin langsung menuju ke rumah sewa nya dengan berjalan kaki.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Ardi sampai di rumah yang di sewa nya dan mulai tiduran di kasur yang sedikit rusak milik nya itu.


Tak lama kemudian, tanpa sadar Ardi tertidur, Ardi tentunya sangat kelelahan karena kegiatan yang di lakukan nya hari ini.

__ADS_1


__ADS_2