Harapan Menjadi Kenyataan

Harapan Menjadi Kenyataan
Episode 9 : Berani mengusirku dari sini?


__ADS_3

Ardi tidak bisa tidak mendengar ucapan kakaknya barusan. Ardi sedikit terkejut setelah mendengar bahwa Hotel Skunuraknuusna ini adalah miliknya sendiri.


Ardi meminta kakaknya berhenti dan menjelaskan semuanya.


"Kak, coba berhenti dulu! Apa benar hotel ini milikku?" Tanya Ardi kepada Cristina.


"Astaga dek, sudah berapa kali dibilang, kamu ini Ardiansyah Liken, satu-satunya putra dikeluarga kita, jadi seluruh warisan dikasih ke kamu, bahkan sejak pertama kali kamu lahir. Itulah sebabnya kamu harus tau dulu rasanya menjadi seorang yang miskin agar kamu tau susahnya cari uang dan tidak menghamburkan uang begitu saja!" Jelas Cristina membuat Ardi semakin terkejut.


Siapa yang tidak tau bahwa hampir seluruh bangunan di dunia ini adalah milik keluarga Liken, dan juga siapa yang tidak tau bahwa Neuro Street yang terkenal di Jakarta 80 persen nya adalah milik keluarga Liken.


Neuro Street adalah jalanan yang paling bergengsi di kota, tidak sembarang orang yang bisa berjalan di Neuro Street. Jika diberi satu kesempatan saja untuk berjalan di jalanan tersebut, pasti mereka rasanya ingin tetap tinggal disitu.


Jalanan ini sangat mewah, sebab setiap jalan yang ditempuh dijalanan ini, pasti akan ada toko internasional di sekitarnya. Orang-orang tau bahwa ada seorang yang sangat kaya yang memiliki seluruh jalanan itu, tapi mereka tidak tau pasti siapa orang itu.


Dan kini tentunya Ardi sangat terkejut setelah mendengar bahwa dialah yang akan meneruskan itu semuanya dan bahkan sejak dia baru lahir, seluruh warisan sudah diwariskan kepadanya.


"Itulah dek makanya kamu diuji dalam kemiskinan sedangkan kakak tidak. Kakak adalah seorang wanita sehingga tidak mungkin bagi kakak untuk meneruskan Bisnis keluarga Liken ini."


Ardi terpaksa menerima kenyataan ini, lagipula siapa yang tidak merasa senang setelah mendengar bahwa dia memiliki banyak uang dan pastinya tidak akan dianggap sebelah mata.


...****************...


Setelah percakapan yang singkat, tiba-tiba lewat seorang pemuda menggunakan jas hitam dan berjalan dengan santai menuju keluar pintu kedatangan.


Ardi pun langsung memberitahu kakaknya, bahwa dialah yang telah mengusirnya dari hotelnya sendiri.


"Apa? Dia yang usir kamu dari hotel ini? Itu kan Beni lusfer, orang yang memimpin organisasi jahat terbesar di seluruh kota Jakarta, tapi dia tidak akan berani dengan kita, sekali kita berucap pasti derajatnya langsung turun. Sudahlah, kakak mau memarahinya saja, berani-beraninya dia sama kamu!" Ucap Cristina sedikit kesal.


"Sudah kak, aku saja yang menghampirinya, aku ada sedikit perlu juga." Kata Ardi dan menyuruh kakaknya untuk tetap tinggal disitu.

__ADS_1


Ardi pun menghampiri Beni, Ardi berpikir untuk memanfaatkan posisi Beni sebagai organisasi jahat untuk melindunginya dari serangan Billy dan Clara.


Ardi tau, cepat atau lambat pasti mereka akan menyerangnya, jadi sebaiknya sedia payung sebelum hujan.


"Permisi tuan, saya ingin sedikit berbincang dengan anda." Ucap Ardi dengan sangat sopan.


Beni merasa tidak asing dengan suara itu dan langsung menoleh ke kanan dan melihat bahwa itu adalah Ardi.


"Kamu! Beraninya kamu masuk ke hotel ini! Apa kamu tidak tau bahwa aku kenal dengan Cristina, orang yang memiliki hotel ini. Sekarang dia sedang berkunjung ke sini, dan aku akan memintanya untuk mengusir mu dari sini dan membuat hidupmu menderita!" Kata Beni yang langsung merasa bangga.


Ardi yang mendengar ini merasa jengkel dan ingin sekali tertawa, Beni bahkan terlihat sangat rendah bila dia berkata seperti itu.


"Ya sudah usir saja aku!"


"Wah, berani menantang ku ya? Satpam! Usir dia dari sini." Kata Beni dengan rasa sedikit emosi.


Mereka diam-diam membenci Beni, dan menganggap bahwa biang masalah ini adalah dia. Setelah beberapa detik, akhirnya mereka memutuskan untuk menghampirinya dan membawa Beni keluar dari hotel itu.


"Apa-apaan ini? Aku bilang usir dia, kenapa aku yang kalian usir? Kalian akan dapat masalah besar!" Kata Beni yang kini tambah emosi.


Tapi, setelah melihat Cristina disudut sana, dia langsung merasa senang dan langsung memanggil Cristina. Satpam-satpam itu pun langsung melepaskan genggamannya dari tangan Beni.


"Nyonya Liken, lihatlah pegawai kamu ini yang tidak becus dalam bekerja! Mereka bahkan membiarkan sampah masuk ke dalam hotel kamu ini." Kata Beni sambil menunjuk ke arah Ardi.


Cristina yang datang ke arah mereka langsung menampar wajah Beni dengan sangat kuat setelah mendengar bahwa adiknya dianggap sampah.


Kini, mereka jadi tontonan para orang kaya yang sedang berada di hotel itu, bahkan orang-orang kaya itu tidak berani untuk ikut campur dalam urusan ini dan hanya melihat dari kejauhan.


"Apa ini? Kenapa malah menampar ku?" Beni sedikit bergetar setelah menerima tamparan itu.

__ADS_1


"Karena kau telah menghinanya!" Ucap Cristina dengan singkat.


"Apa-apaan ini? Kenapa kalian malah membela dia? Tolong kalian sadar! Dia adalah orang miskin! Dan dia pasti telah menghipnotis kalian semua!" Beni sangat kesal ketika mengetahui bahwa Cristina berpihak kepada Ardi.


"Apa? Dihipnotis? Baiklah, aku akan jelaskan semuanya kepada kamu. Ini adalah adikku, Ardiansyah Liken." Cristina hanya sedikit menjelaskan kepada Beni, dan dia tau, dengan penjelasan itu saja pasti dia sudah paham.


"A-adik?" Ekspresi Beni berubah menjadi sangat ketakutan.


Beni telah menyinggung orang yang salah, dan pastinya hidupnya akan sangat menderita setelah kejadian ini.


Sama halnya dengan Beni, beberapa orang kaya yang melihat ini juga sangat terkejut setelah mendengar bahwa Ardi adalah putra Liken itu.


Mereka merasa bahwa kini Ardi sangat keren setelah mendengar itu. Dan juga, beberapa wanita muda yang berada disitu juga merasa bahwa Ardi sangat tampan, dan ingin menikahinya.


Ardi yang melihat situasi ini sekarang sangat malu, karena dia kini menjadi pusat perhatian di hotel tersebut. Ardi tidak pernah menjadi pusat perhatian sebelumnya.


Ardi pun memutuskan untuk tidak melihat mereka dan menuju ke arah Cristina dan Beni. Beni yang melihat Ardi datang langsung mencium kaki Ardi dan memohon maaf.


"Sudahlah! Kamu berdiri sekarang! Aku sudah memaafkan kamu, dan aku ingin kita bertukar nomor saat ini." Kata Ardi dengan santai.


Beni dan seluruh orang yang mendengar ini sangat terkejut, Ardi dengan santai memaafkannya begitu saja dan ingin bertukar nomor dengannya.


Cristina yang mendengar ini juga terkejut mendengar ini, tak disangka bahwa adiknya begitu baik dan memiliki hati yang mudah memaafkan.


"Ah sudahlah, sepertinya urusan ku disini sudah selesai, aku akan pergi dan kalian teruskan saja pembicaraannya." Kata Cristina, lalu beranjak pergi dari tempat kejadian.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak...

__ADS_1


__ADS_2