
Ardi dan Rifki tercengang setelah mendengar harga ponsel tersebut, sungguh ponsel yang sangat mahal.
"Aduh Ardi, gimana bisa gak lo beli tuh ponsel?" Rifki kini mulai meremehkan Ardi.
Ardi yang mendengar Rifki kini menjadi tersenyum, sebentar lagi pasti dia akan bangkrut dan Ardi akan mendapatkan seluruh harta kekayaan nya.
"Ya sudah, saya mau pesan tiga, satu untuk saya dan sisanya untuk kalian berdua." Ardi berniat untuk sekalian membelikan ponsel tersebut kepada Rifki dan juga pegawai toko tersebut.
Rifki yang mendengar ini merasa jengkel, bagaimana mungkin pria miskin seperti Ardi membeli ponsel semahal itu, apalagi sok-sokan mau beli tiga.
Pegawai toko tersebut sekarang memiliki perasaan yang campur aduk, antara senang dan juga tidak yakin, bagaimana pun juga, kalau dilihat dari penampilannya, Ardi hanya lah pria miskin biasa.
"Baiklah tuan, saya akan ambilkan ponselnya lagi, apa ada yang lain lagi tuan?"
"Tidak ada, cukup itu saja, dan saya langsung mau bayar."
"Baiklah tuan, total nya 375 juta rupiah, mau pembayaran secara cash atau debit tuan?"
Rifki hanya diam dan memperhatikan semua nya.
"Debit!" Ardi lalu memberikan kartu ATM nya kepada pegawai tersebut.
Setelah menerima kartu dari Ardi, pegawai tersebut lalu langsung mengambil mesin kecil yang disediakan toko tersebut untuk pembayaran via debit.
"Transaksi berhasil! 375 juta rupiah telah dikeluarkan dari akun anda, Terima kasih!" Suara terdengar dari mesin kecil tersebut.
Kini semua mata pelanggan tertuju pada mereka, semua merasa kagum dengan pria miskin ini, sedangkan Rifki dan juga pegawai tersebut kini terkejut dengan hal itu.
"Terima kasih tuan telah berbelanja di toko kami, jika ada yang bisa saya bantu silahkan hubungi saya, saya telah menaruh nomor telepon saya di struk pembelian ponsel ini." Kini raut wajah pegawai tersebut berubah, sekarang dia menjadi yakin bahwa pria ini bukanlah orang yang biasa, bahkan bisa mengeluarkan uang sebanyak itu dengan mudah.
"Baiklah, terima kasih atas pelayanan anda, dan untuk ponselnya silahkan ambil satu dan beri satu lagi ke teman saya ini, saya hanya butuh satu ponsel."
__ADS_1
Pegawai tersebut lalu dengan cepat melaksanakan perintah Ardi, dan mulai memancarkan senyum tiga jari nya di wajah nya yang kecil itu.
Pegawai itu tidak pernah sebahagia ini sebelumnya, sampai pada akhirnya Ardi datang pada saat ia sedang bekerja, kini dia merasa bahwa Ardi sangat tampan dan juga baik hati, dalam sekejap pegawai tersebut langsung luluh ketika melihat Ardi.
"Ya sudah Ki, gue sudah membeli ponsel di toko ini, sekarang gue minta lo untuk menandatangani surat ini!" Ardi lalu memberikan surat yang di pegangnya sedari tadi ke Rifki.
Rifki yang masih terkejut kini menjadi khawatir, dia ternyata sudah berurusan dengan orang yang salah, dan kini dia harus menghadapi kenyataan dengan memberikan kekayaan keluarga nya kepada pria miskin yang selalu dia hina selama ini.
"Apa? Bagaimana mungkin gue kasih harta kekayaan gue ke lo?" Rifki tentunya masih tidak terima dengan pernyataan itu, kekayaannya tidak mungkin ia berikan kepada seorang miskin dengan mudah seperti itu.
"Lah, Kan lo sendiri yang mau taruhan sama gue? Lagi pula lo bilang lo ini pria sejati! Mana buktinya."
"Gue gak bakal kasih kekayaan gue ke lo!" Rifki lalu mengambil surat yang dipegang Ardi dan merobek-robek nya tepat di depan mata Ardi.
"Wah, mau bermain-main dengan gue sepertinya, siap-siap saja hidup lo menderita. Permisi mbak, bisa nggak tolong panggilkan security dan tahan pria ini." Ardi sekarang tidak ingin bermain-main lagi, Ardi meminta pegawai toko tersebut untuk memanggil security toko tersebut dan menahan Rifki.
Pegawai tersebut lalu dengan cepat melaksanakan perintah Ardi, dia sudah mulai percaya kepada Ardi dan akan menuruti apa saja yang dikatakan nya, kini ia tidak mau membuat Ardi kecewa.
"Bisa gak kirimin orang terbaik? Sepertinya ada yang harus di paksa nih!" Kata Ardi melalui telepon tersebut, dan dengan cepat Beni melaksanakan perintah Ardi.
Kemudian, Ardi kembali menelepon Brodi untuk membuat surat perpindahan hak kekuasaan yang baru untuk di tandatangani Rifki nantinya.
"Tolong kirim kan lagi surat perpindahan hak kekuasaan yang baru ya, saya butuh secepatnya." Brodi tentu juga melaksanakan perintah Ardi dengan cepat.
"Untuk kalian berdua, tolong bawa pria ini keluar dan tahan dia sekuat-kuatnya, saya tidak mau membuat keributan di dalam toko ini." Ardi berpikir untuk membawa masalah itu keluar, dia tidak mau orang lain merasakan masalah hanya karena dia bertindak keras seperti ini.
Kedua satpam itu dengan cepat melakukan apa yang diperintahkan Ardi, bagaimana pun juga, kalau dia membuat keributan di dalam toko ponsel tersebut pasti yang kena masalah juga mereka berdua yang bekerja sebagai satpam di toko tersebut.
Beberapa menit kemudian, para pria bertubuh kekar menghampiri Ardi.
"Permisi tuan, saya adalah suruhan dari tuan Beni, apa yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Saya ingin kamu menahan pria ini terlebih dahulu, dan untuk security, kalian bisa melepaskannya."
Rifki yang melihat kejadian ini kini semakin khawatir, sepertinya dia benar-benar telah menyinggung orang yang salah.
"Baik Tuan!" Para pria bertubuh kekar itu lalu langsung menahan Rifki.
Kini mereka menjadi tontonan orang yang berada di sekitar toko ponsel tersebut, tak lama kemudian, seorang pria datang kembali menghampiri mereka dan memberikan sebuah surat kepada Ardi.
"Permisi Tuan, ini surat yang anda minta." Pria tersebut lalu langsung pergi meninggalkan mereka.
"Gimana? Mau tandatangani surat ini atau mau mendapatkan cap permanen di wajah anda." Ardi mulai mempertanyakan hal ini kepada Rifki, orang-orang yang melihat mereka semakin banyak.
"Itu kan putra dari keluarga Agaricus, bagaimana mungkin pria miskin ini bisa bertindak seperti itu kepada nya?" Semua orang-orang mulai mempertanyakan hal ini.
"Gimana?" Ardi kembali mempertanyakan nya kepada Rifki.
"Enggak! Bagaimana pun gue gak bakal tandatangani surat itu." Rifki masih menolak penawaran Ardi.
"Yakin? Yasudah, jangan salahkan gue ya. Silahkan lakukan." Ardi lalu mempersilahkan mereka untuk melakukan kekerasan kepada Rifki.
—Gedebug—
Salah satu pria kekar itu meninju bagian perut Rifki terlebih dahulu, dan darah segar langsung keluar dari mulut Rifki.
Belum sempat bernafas, tinjuan kembali melayang ke arah wajah Rifki yang membuat wajahnya bengkak seketika.
"Iya-iya gue bakal tandatangani surat itu, bawa itu ke gue." Rifki lalu dengan terpaksa mengatakan hal itu.
"Berhenti!"
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak...