
Pagi ini aku dikejutkan oleh dering handphone yang entah bagaimana bisa terletak tepat di bawah telingaku. Dalam keadaan roh belum sepenuhnya melekat di badan, mata masih terpejam, ku angkat telpon itu.
"Halo, Kamu masih tidur? Udah jam segini? Kamu ga solat subuh, La?" ujar suara di ujung sana.
"Hmmm, iya a a, ini siapa?" jawabku setengah sadar.
"Ya Allah ini anak.. Ini IBU.!!" pekik ibu diujung telepon.
"Iya, Buk. Ada apa?" jawabku masih dengan mata tertutup.
"Nanti kamu ke rumah ibu ya, ada perlu. Awas aja kalau kamu ga datang", lanjut ibu dengan ancaman.
Tiit... telpon terputus, ku letakkan handphone di meja yang tak jauh dari tempat tidurku. Aku nyalakan AC dengan suhu yang paling rendah dan ku tarik selimut tebal ku agar tidurku bisa lebih pulas. Aku lanjutkan kembali mimpi Indah yang sempat buyar. Hari ini hari Minggu jadi tak ada salahnya aku bermalas-malasan.
Tepat pukul 10.00 WIB aku terbangun, masih berasa mimpi, bener ga sih tadi ibu nelponku? gumamku pada diri sendiri. Ku cek panggilan masuk di handphoneku. Oh ternyata benar, ibu menelponku. Bergegas aku bersiap untuk pergi ke rumah ibu. Entah apa gerangan tiba-tiba ibu menyuruhku pulang, tak biasanya.
Aku dan ibu memang tinggal di kota yang sama, hanya saja jarak rumah ibu ke kampusku lumayan jauh lebih kurang satu setengah jam perjalanan. Makanya aku memilih untuk menyewa rumah di sekitar kampus. Lagi pula jika harus menempuh jarak sejauh itu, mungkin aku akan selalu bolos kuliah. Karena malas menerjang terik mentari. Maklum aku hanya mengendarai sepeda motor yang ku beli dari hasil berjualan buku. Bukan berarti orang tua ku tak mampu memfasilitasi hidupku. Hanya saja aku tak ingin itu semua. Aku ingin mandiri dengan hasil keringatku sendiri. Ya elah.
Ku pacu sepeda motorku menuju rumah ibu, setibanya di sana aku disambut hangat oleh nenek, ibu dari ibuku. Ternyata ini alasannya mengapa aku diminta pulang.
"Nenek bakal tinggal sama ibu, sementara ibu sama papa mu sibuk, jadi kamu harus tinggal di rumah ibu, biar ada yang jagain nenek." jelas ibu padaku.
Dahiku menyerengit, pertanda aku tak setuju dengan yang keputusan ibu.
"Kan Aira ada Bu, kenapa mesti aku sih?" jawabku menolak
__ADS_1
Aira masih duduk di bangku SMP. Baru kelas dua SMP. Aira sangat pandai. Nilainya di sekolah selalu bagus.
"Ya ampun, Aira itu masih kecil sekolah pula, mana bisa dia ngehandle semua ini, pokoknya kamu harus pindah dan tinggal di rumah ibu" ibu tetap bersikeras.
"Tapikan bu, jarak tempuh kampus dan rumah sangat jauh, Aku malas harus menerjang terik mentari menuju kampus" Jawabku beralasan.
"Oh jika hanya itu alasannya, sore ini kamu ibu beliin mobil, tak ada alasan lagi kamu menolak." jawab ibu memenangkan perdebatan.
Akhirnya aku mengalah, aku pindah dari kontrakanku, ke rumah ibu. Demi iming-iming mobil yang dijanjikan ibu, hehehehe.
Rumah ibu bersebelahan dengan mesjid, mesjid yang didirikan dari tanah yang diwakafkan ayah sebagai rasa syukur mereka atas kelahiranku waktu itu. Jadi tak heran jika di jam sholat aku selalu duduk di teras rumah hanya untuk melihat jamaah yang hendak mendirikan sholat. Bukannya sholat jamaah malah jelalatan, dasar aku.
Aku punya alasan yang jelas mengapa melakukan ritual itu setiap jam sholat, apalagi kalau bukan mengintai seorang lelaki soleh yang hari itu ku lihat sedang mengambil wudhu di depan mesjid. Postur tubuh tinggi, kulit putih bersih, wajah bersih dihiasi alis yang hitam berjajar rapi, bibir merah menandakan bahwa dia bukan lelaki perokok, serta wajah yang selalu dibasahi air wudhu. Hati wanita mana yang tak kan luluh lantak bila memandangnya. Saban hariku pandangi dia, entah siapa gerangan nama lelaki itu.
Lamunanku tentang lelaki soleh itu buyar, ketika Airin sahabat dekatku tiba-tiba nongol di depan teras.
Aku tak menjawab, aku hanya memonyongkan bibirku menunjuk ke arah lelaki itu
"Ooh.. Cakep ya" komentarnya
"Pantesan mau disuruh tinggal di rumah ibu meski jaraknya jauh banget dari kampus, ternyata biar bisa liatin cowo toh" lanjutnya terus mencerocos.
Airin adalah sahabatku dari aku masih di sekolah dasar, selama sekolah kami tidak pernah berpisah. Bahkan kuliahpun kami di kampus yang sama, hanya saja beda jurusan. Airin memilih jurusan Bahasa Inggris. Tetapi kami selalu mengikuti kegiatan kampus yang sama. Hal itulah yang membuatku selalu bersama dengannya. Airinlah satu-satunya orang yang sangat paham detail keluarga dan segala permasalahanku.
"Bukan, aku di sini karena harus jagain nenek. Nah lelaki itu cuma bonus aja, rajin loh dia solat, jarang banget jaman sekarang lelaki seperti itu. Belum adzan udah ke mesjid." Jelasku
__ADS_1
"Oh, jadi ceritanya jatuh cinta? hahahaha" gelak Airin
"Mungkin. Suka aja" jawabku
"Kalau gitu deketin aja, masa sih seorang Arla ga bisa" tantang Airin.
"Aku ga tahu namanya, kenal juga ga." jelasku
"Ya ampun, masalah kecillah itu. Yuk taruhan" Airin semakin menantangku
"Taruhan apaan?"
"Kalau kamu bisa PDKT ama tu cowok, sebulan penuh aku antar jemput kamu, plus traktir makan siang" Tutur Airin.
"Tapi kalau kamu kalah, sebulan penuh kamu kerjain tugas kampusku." lanjut Airin
"Oke deal." jawabku tanpa pikir panjang.
Aku memang paling pantang jika ditantang begitu. Jiwa pemberaniku meronta. Lagi pun aku memang jatuh hati agaknya, pada lelaki soleh itu. Kuliah sedang libur, bukan libur semester, melainkan libur yang disebabkan kabut asap. Aku semakin memiliki banyak waktu untuk memandangi lelaki itu.
Wajahnya selalu muncul dalam lamunanku, senyumnya ketika bertemu jamaah lain, selalu masuk dalam pikiranku. Tapi tiga hari berlalu setelah taruhan yang dibuat Airin, aku belum juga bisa PDKT dengannya, jangankan PDKT sekedar tahu namanya saja aku belum bisa. Sampai detik ini aku hanya bisa memandangi wajahnya dari kejauhan.
Siapakah gerangan namamu wahai lelaki soleh yang mampu merusak pikiranku..?
......****......
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, satu kalimat komentar dari para pembaca sangat berarti untuk ku, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊