
"Sayang, besok pagi aku harus ke luar kota lagi ya, karena ada urusan terkait cabang baru kita di sana." ujar Rama disela-sela sarapan.
"Iya Sayang ga papa." jawabku.
Rama menaikan alisnya heran, "Kok tumben kamu mau ditinggal? Biasanya merengek mau ikut."
"Enggak Sayang, aku cuma mau coba paham sama kesibukan kamu, itu aja." jelasku.
"Yakin? Bukan karena..."
"Rama.. Jangan curigai aku, aku tak suka dicurigai." potongku.
"Ga sayang, aku percaya," Rama tak melanjutkan omongannya.
"Jadi kamu bakal nginap di rumah siapa?" tanyanya lagi.
"Mungkin di rumah ayah" jawabku.
"Oh.. oke"
****
Rama pergi ke luar kota dengan mengendarai mobil sedan milikku. Aku terpaksa ke kampus dengan sepeda motornya. Hari ini aku kuliah agak siangan.
"Assalamualaikum" panggil seseorang dari luar.
"Waalaikumsalam" sahutku dari dalam rumah sambjl berjalan menuju pintu.
"Ibuu..." aku senang melihat tamu yang berkunjung ke rumahnya, Mala, mertua yang baru kali ini mengunjungiku, ku salami tangannya dan mempersilakan masuk.
"Kamu sehat Nak?" tanya Ibu Rama.
"Sehat Bu, Ibu sehat?" tanyaku balik.
"alhamdulillah, Rama mana La?
"Oh, Rama ke luar kota bu",
Aku berbincang sejenak dengan ibu, sebelum berangkat ke kampus. Ibu Rama memilih menginap di rumah Rama, sekaligus menemaniku. Aku tak keberatan, aku senang ibu mertuaku mau menginap di rumah. Jadi aku tak perlu repot-repot harus menumpang di rumah ayah.
"Ibu, Arla mau ke kampus, Ibu Arla tinggal ya?" ujarku.
"Iya ga papa, Kamu hati-hati ya. Jaga kandunganmu sayang", nasehat Mala.
"Iya Bu, Arla pergi dulu.
Selama Rama pergi, Ibu Ramalah yang menemaniku di rumah. Semua keperluan ku dipenuhi oleh ibu. Ibu menyayangiku seperti anak kandungnya.
"Ibu.. Ibu tak usah repot-repot mengerjakan ini itu, nanti kalau Arla sempat, pulang dari kampus Arla kerjakan", ujarku saat melihat ibu membereskan rumah.
"Tak apa sayang, kamu nanti kelelahan. Kamu harus jaga kesehatan dan bayi kamu, lagi pula ibu ngerasa sunyi aja kalau kamu pergi itu. Makanya ibu cari kegiatan", ujar Mala.
Sejak itu, aku pun lebih memilih mengajak temen kampus untuk mengerjakan tugas di rumah saja, agar aku tak terlalu lama meninggalkan ibu sendirian di rumah. Lagi pula jarak kampus dan rumah tidak terlalu jauh. Andre, Tata, Airin teman yang selalu berkunjung ke rumahnya. Sampai-sampai Airin dan Tata pun akrab dengan mertuaku. Sikap penyayang ibu yang membuat teman-temanku merasa nyaman dengan ibu.
__ADS_1
Usai mengerjakan tugas, Tata dan Airin meminta ibu mertuaku mengajarkan mereka membuat kue, sebab kue-kue yang biasa disajikan Ibu rasanya enak.
"Bu, ajari kita buat kue lapis dong Bu," Ujar Airin.
"Boleh, kapan mau diajarinya" ibu tak keberatan.
"Kalau hari ini gimana?" ujar Tata.
"Boleh.. boleh", ujar ibu.
"Kamu gimana Ndre? ikutan?" tanya Tata ke Andre.
"Eh ga ah, aku pulang aja.
"Oke, yok Bu, kita buat"
"Yuk" sahut ibu.
Ibu, Airin dan Tata ke belakang untuk membuat kue. Sementara aku mengantar Andre ke depan gerbang. Empat jam lamanya akhirnya mereka selesai membuat kue lapis, tepat pukul 9.00 malam. Airin dan Tata berpamitan pulang.
"Bu, makasih ya udah ajari kita, semoga bisa dipraktikin lagi di rumah". ujar Airin.
"Iya bu, susah susah gampang ternyata ya", timpal Tata.
"Iya iya.. dicoba lagi di rumah ya, Ya udah. Kalian hati-hati ya, ibu mau Solat Isya dulu. Ibu masuk duluan",
"Iya Bu, kami pamit pulang"
"Laa.. Arla.. flashdisk aku ketinggalan", teriak Andre dari pagar.
"Oke.. Aku ambilin aja ya, ga usah masuk, udah malam"
Ujarku dari halamaan
"Oke", Andre menunggu di pinggir jalan.
"Siapa La?" tanya mertuaku.
"Andre Bu, ada yang ketinggalan",
"Ga disuruh masuk?" Ibu mengintip Andre yang menunggu di pinggir jalan
"Ga bu, udah malam, ga enak terima tamu laki-laki" sahutku dan pergi keluar.
"Oh ya sudah".
Aku keluar menyerahkan Flashdisk Andre yang tertinggal.
Sekitar 60 menit berselang, ada yang menggedor pintu. Keras seakan pintu akan copot.
Tok... tok... tok...
Aku kaget. Berlari aku menuju pintu aku takut ibu terbangun, kuintip terlebih dahulu dari jendela. Ternyata Rama. Sebab aku melihat ada mobil sedannya terparkir di halaman. Tapi mengapa Rama menggedor pintu dengan kasar.
__ADS_1
Aku membukakan pintu,
"Assalamualaikum dulu kek sayang", sambutku lembut.
PLAAAAKK.... sebuah tamparan keras mendarat di wajahku. Aku terhoyong hingga tersandar ke dinding.
"RAMAAA.. KAMU KENAPA!" pekikku sambil memegangi wajah yang panas akibat tamparan Rama.
"SIAPA LAKI-LAKI YANG KAU BAWA KE RUMAH INI! TADI AKU MELIHAT KAU DI DEPAN PAGAR BERSAMA LAKI-LAKI ITU! Emosi Rama meluap.
"Rama.. Itu.. "
PLAAAKK... Tamparan kedua mendarat lagi di wajah kiriku, tamparan yang sangat keras, hingga aku terduduk di lantai. Air mataku berurai. Ujung bibirku berdarah. Jantungku berdegup kencang. Aku hanya meringkuk dan tersandar ke dinding. Rama berjongkok mendekatiku. Ditariknya kucir rambutku hingga kepalaku tertarik ke belakang, sebab tak tahan menahan perih tarikan tangan Rama.
"PANTAS SAJA KAU TAK MERENGEK SAATKU TINGGAL, TERNYATA KAU MASUKAN LAKI-LAKI LAIN KE RUMAH INI SAAT AKU TAK ADA. MEMANG JALANG KAU!!" Rama hendak mengayunkan tangannya sekali lagi.
"RAMAAA.... aku sedang hamil..!! ibaku dalam isak tangis.
Rama menghentikan tangannya, ia hanya menjambak rambutku, dan berjongkok di sampingku, tangannya meremas pipiku.
Aku hanya bisa menangis, pipiku semakin perih. ratapan tangisku membangunkan ibu dari tidurnya. Terkejut ia mendengarku berteriak. Serta merta ia bangkit dari ranjangnya dan menuju arah suaraku.
Betapa kagetnya ibu melihat menantu kesayangannya terisak di sudut dinding, dengan wajah merah dan sudut bibir berdarah. Ibu langsung menghampiriku. Dipeluknya erat tubuhku.
Rama kaget bukan kepalang ketika melihat ibunya keluar dari kamar tamu, ia sama sekali tak tahu kalau ibunya ada di rumah.
"KEMANA OTAK KAU RAMA!!! APA SALAH ISTRIMU!! SAMPAI HATI KAU BUAT DIA BEGINI!! DIA TENGAH MENGANDUNG!!! Ibu marah besar pada Rama.
Rama terduduk di sofa. Memandang ke lantai.
"Dia selingkuh Bu, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri" ujar Rama lirih.
Mala mendekati anak lelakinya, "KAU PANDANG AKU RAMA!
Rama memandang ke arah ibunya.
PLAAAK!!! sebuah tamparan keras menampar wajah Rama. ini pertama kali dalam hidup Rama mendapat pukulan dari ibunya. Rama terdiam, ia tak berani melawan ibunya.
"Kau harusnya bertanya, kau selidiki dahulu. Jangan kau cemburu buta, apalagi berlaku kasar. Sejak kau pergi aku menemani istrimu, lelaki yang kau lihat hanya teman kampusnya yang berkunjung, lagi pula ia tak sendiri. Ada beberapa teman perempuan lainnya, dan ada aku di rumah ini. Aku yang melihat mereka." jelas Mala.
Rama tertunduk, ia menoleh ke arahku yang masih terisak dan tersandar di dinding. Dia menatapku dengan pandangan iba dan penuh penyesalan, penampilan berantakan karena hentaman tamparan darinya. Ia mendekatiku.
"Tak usah kau sentuh dia", Mala menepis tangan Rama. kemudian ibu memelukku dengan rasa sayang yang teramat. Ibu membopongku. Aku hanya terisak mengikuti arahan mertuaku. Rama hanya terduduk di lantai menyesali apa yang ia perbuat.
Aku benar-benar merasa ketakutan yang luar biasa. Tangis terisakku berubah menjadi sedu sedan. Ibu merasa iba melihatku. Dibaringkannya tubuhku ke kasur, kemudian dikompresnya luka di ujung bibirku bekas tamparan Rama. Aku meringis menahan perih.
"Kamu yang sabar sayang, ibu ga terima kamu diperlakukan seperti ini oleh suamimu, walaupun ia anakku", ujar Mala terus membersihkan luka di ujung bibirku.
Aku hanya terdiam. Aku gak sanggup berkomentar apa-apa. Jantungku masih berdegup kencang, perih di wajahku masih terasa.
...****...
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊
__ADS_1