
Aku tertidur dengan isak tangis yang masih terdengar. Hampir dua jam dibanjiri air mata. Aku tak pernah diperlakukan kasar oleh siapapun, terlebih lagi dipukul.
Rama masuk ke kamar, ia menghampiriku yang tertidur dalam isak tangis. Tampak jelas bekas tapak tangan Rama mengecap di pipi chubbyku, pipi itu memerah, dan sedikit luka di ujung bibir. Rama menyesali apa yang ia perbuat, dibelainya rambutku. Dielusnya wajahku lembut. Aku tersentak. Terbangun dari tidurku, aku masih takut pada Rama, takut ia mengulangi kembali, panas tamparannya tadi masih belum hilang dari wajahku.
"Mau apa? Kau belum puas memukulku?" tanyaku dengan suara serak.
"Sayang, sayang maafkan aku, aku khilaf sayang", ujar Rama lembut.
Aku tak menyahut, ku balikkan badan membelakangi Rama. Aku tak ingin melihat wajah Rama malam itu. Rama diam, ia hanya membelai lembut rambutku. Ada rasa penyesalan yang teramat dalam di hatinya. Air mataku terus menetes, aku teringat bagaimana aku berkeras pada ayah agar menerimanya sebagai menantu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan ayah ketika tahu anak perempuannya diperlakukan kasar seperti ini.
****
Subuh, seperti biasa Rama bangun lebih dulu dari pada aku. Ia siapkan sarapan untuk istrinya dan berberes. Adzan solat subuh sudah berlalu 10 menit lalu. Namun Rama tak jua melihat ku keluar dari kamar. Tak biasanya aku begitu. Rama masuk ke kamar, melihatku masih tertidur. Disentuhnya lembut kepalaku. Suhu tubuhku berbeda. Panas sangat panas. Aku demam tinggi. Sudut bibir yang luka kini membiru. Rama cemas.
"Arla.. Arlaaa.. bangun.. ", diguncangnya tubuhku. Aku tak kunjung menyahut.
"Arla.. Arla.. Kamu kenapa?", Rama cemas aku tak kunjung bangun. Diperiksanya nadiku, masih ada denyutan di sana. Dahi ku berkeringat, tubuhku basah oleh keringat padahal AC di kamar masih menyala.
Diangkatnya tubuhku yang bermandikan keringat, dibaringkannya ke dalam mobil, sedan putih meluncur ke rumah sakit. Rama benar-benar cemas. Tubuhnya gemetar. Sesekali dipandangnya wajahku sambil menyetir. Di genggamnya tanganku. Ada rasa penyesalan yang teramat sangat di dalam hatinya. Ia tak menyangka kalau akan sefatal ini akibatnya.
"Istri Anda tidak apa-apa, hanya saja ada bekas luka memar di ujung bibirnya" ujar dokter setelah memeriksaku.
"Alhamdulillah Dok, iya benar Dok", jawab Rama.
"Kabar baiknya, Anda akan menjadi ayah, istri Anda hamil, baru tiga minggu", lanjut Dokter.
Wajah Rama memancarkan aura bahagia, senyuman lebar merekah di bibirnya. Diucapkannya rasa syukur kepada pemilik semesta. Dia mengejarku menuju ruang rawat. Tampak aku masih terbaring lemas.
"Sayang, sebentar lagi kamu akan jadi ibu", ujar Rama bahagia.
Aku hanya menatap sayu ke arah Rama. Masih terbayang olehku keras tamparan di wajah yang dilayangkan Rama tadi malam. Tak ada segores senyum di wajahku, hanya tatapan kekecewaan yang tergambar.
"Sayang.. Kamu tak bahagia?", lanjut Rama.
Aku hanya terdiam, tanpa terasa mengalir air mata. Kupejamkan mata sesaat, dan membuang pandangan dari Rama.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku, atas perbuatan ku tadi malam. Aku benar-benar khilaf," ujar Rama duduk di samping ranjangku. Digenggamnya tangan yang dingin, dikecupnya beberapa kali, aku seakan tak sudi memandang ke arah Rama, aku hanya tetap terdiam.
****
Berita kehamilan ku tentu saja sampai kepada keempat orang tuaku, bukan main bahagianya mereka mendengar kabar dari Rama. Artinya sebentar lagi mereka akan menimang cucu. Sore ini papa dan ibu berkunjung ke rumah ku. Sekedar menjengukku. Aku masih terbaring lemas di kamar. Papa dan ibu hanya tahu kabar kalau aku demam sebab hamil muda.
"Sebentar lagi kamu bakal jadi ayah ya Ma," ujar papa kepada Rama disela-sela obrolan ringan mereka.
"Alhamdulillah Yah, Allah cepat memberikan kami amanah", jawab Rama.
"Iya, itu artinya kamu harus lebih giat lagi, entah itu dalam beribadah atau mencari nafkah. Sebab tanggung jawab akan bertambah", nasehat papa
"Iya, Pa" sahut Rama.
Papa menasehati Rama, Rama mendengarkan dengan khidmat nasehat papa. Sementara ibu menemaniku di kamar. Dibelainya lembut kepala Putri sulungnya itu.
"Sebentar lagi anak ibu bakal jadi ibu, semoga makin dewasa ya sayang", ujar itu membelai lembut wajahku.
"Iya Bu," aku menyahut lemas.
"Arla ini kenapa?" tanya ibu.
"Tidak ada Bu, tergigit saat makan", jawabku berbohong.
"Arla, jujur sama ibu.. Ini bukan karena Rama? tanya ibu curiga.
"Tak Bu, Bang Rama baik tak mungkin berbuat demikian", lanjutku berbohong.
Aku tak ingin ibu tahu kalau rumah tangga anaknya tidak baik-baik saja.
Ibu menarik nafas, ia tahu anaknya sedang berbohong. Ia hanya tak ingin anak perempuan merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan saat bersama ayahnya dulu.
"Ya sudah kalau begitu. Ibu hanya berpesan, kalaulah suatu saat terjadi sesuatu dengan rumah tangga kalian, hadapi saja semampu kamu sayang, kalau memang sudah tak sanggup kamu boleh menyerah. Sebab kamu berhak bahagia untuk diri mu sendiri", nasehat ibu padaku.
"Iya Ibu, Arla baik-baik saja. Arla akan tunjukan ke ayah ibu, papa dan mama kalau suami pilihan Arla adalah laki-laki terbaik, ibu doakan saja", ujarku meyakinkan ibu.
__ADS_1
Dalam hati aku merasa tak yakin dengan kalimat yang baru saja aku ucapkan. Aku mulai meragui Rama. Apa aku dapat bahagia dengan lelaki yang ringan tangan?
"Iya sayang ibu percaya"
****
Tubuhku masih terasa lemas, masih sulit untuk bangkit dari tempat tidur. Rama datang menghampiri ku dengan membawakan semangkuk bubur ayam yang baru saja dibuatnya.
"Sayang, kamu mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya Rama duduk di sampingku.
Aku tak menjawab pertanyaan Rama, aku hanya diam.
"Sayang, masih marah sama aku?" tanya Rama.
"Seberapa besar sayang mu ke aku Rama?" tanyaku.
Rama terdiam sejenak, dikecupnya keningku.
"Kamu yang bisa merasakan seberapa besar sayang ku ke kamu, kalaupun aku pernah tanpa sadar memukulmu, bukan sebab aku tak sayang. Namun jika karena itu sayangmu ke aku memudar dan menimbulkan keraguan terhadapku, aku terima. Dan jika kamu inginkan aku pergi, tersebab kesalahanku itu, aku pergi. Tapi aku akan pastikan, kesalahan itu tak akan aku ulangi kembali", Ujar Rama.
Aku pandangi Rama, lama aku memandang jauh ke dalam mata Rama. Ia hanya ingin melihat kesungguhan di sana.
"Aku paham kalau kamu marah, kalau kamu tak bisa terima aku lagi dan kalau semua merubah segalanya, aku terima. Tapi kamu harus sehat. maafkan aku", Rama kembali mengecup keningku, dan berdiri meninggalkanku.
"Rama.." panggilku lembut.
Rama berbalik memandangku.
"Jangan tinggalkan aku, aku maafkan khilafmu. Ada anak yang harus kita besarkan bersama" ujarku dengan senyuman ke Rama.
Rama tersenyum, diambilnya semangkuk bubur ayam yang sudah mulai dingin, menyuapiku dengan penuh Cinta. Aku memandang Rama. Luka hatiku mulai sedikit terobati. Aku mulai memahami sifat Rama. Memaklumi kekhilafan Rama saat itu. Hatiku hanya tak ingin jauh dari laki-laki itu. Aku tak ingin hanya karena satu kesalahan kecil, merusak segalanya.
...****...
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊
__ADS_1