HATI YANG MUSNAH

HATI YANG MUSNAH
DEMI MU, AKU NEKAT


__ADS_3

Empat hari sudah berlalu. Tinggal di rumah ibu sungguh membuatku merasa lebih nyaman. Jauh dari keramaian dan riuhnya kendaraan bermotor. Tentunya yang membuat ku semakin nyaman adalah hadirnya cowok soleh itu.


Sejak awal tatapku menangkap wajahnya, sejak itu pulalah bayangnya usil mengganggu pikiranku. Entah apa gerangan, wajahnya pun mulai iseng bertandang ke dalam mimpi setiap malam ku. Ya ini mungkin jatuh cinta. Acap kali hatiku kepedean menyimpulkan perasaan yang aku rasa, tanpa kompromi dengan otak ku. Aku harus segera menemukan ramuan pereda virus merah jambu ini. Kalau tidak, bisa berantakan aktivitas sehari-hariku.


Aku selalu tak sabar menunggu waktu solat, menjelang jam solat tiba, aku akan berdandan sedikit, memoles wajahku dengan bedak tabur agar tak terlihat kusam. Tak lupa pula ku poles sedikit lip tint agar bibirku tidak terlihat pucat.


Sore ini, Solat Ashar berjamaah baru saja selesai dilaksanakan di musholah. Satu per satu jamaah pun mulai meninggalkan musholla. Ashar ini sengajaku kenakan t-shirt dan celana kulot panjang serta rambut yang ku kuncir ekor kuda. Agak rapi memang jika hanya untuk berpura-pura mencabuti rumput liar yang tumbuh di depan pagar rumahku. Niatku sesungguhnya bukan untuk mencabuti rumput liar. Percayalah, aku tidak serajin itu untuk bersih-bersih halaman. Niatku cuma satu, menanti si dia lewat.


Pucuk dicinta ulam tiba. Yang ku nanti akhirnya lewat jua. Dia berjalan persis ke arah ku. Begitu sudah di dekatku.


"Assalamualaikum, Mba" sapanya.


Serasa melayang jiwaku disapa begitu oleh nya. Mungkin jika bukan dia yang menyapa, sapaan itu berasa biasa saja, tak membuat jantung berdegup kencang. Tak sia-sia aku terpapar sinar matahari sore, demi untuk disapa olehnya.


"Waalaikumsalam, Bang" jawabku gugup.


Ia hanya berhenti sejenak, kemudian tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Tanpa pikir panjangku seret langkahku yang masih sedikit kaku karena sapaan nya tadi untuk mengejarnya. Hingga kini kami hampir jalan beriringan. Mungkin ia merasa ada yang mengiringi langkahnya.


"Eh.. kamu.. sebentar" Panggilku.

__ADS_1


Dia menghentikan langkahnya dan membalikan badannya ke belakang, ke arah suaraku


"iya, ada apa mba?" tanyanya heran.


"Boleh aku tanya sesuatu ga?" tuturku nekat.


"Boleh, ada yang bisa saya bantu Mba? " wajahnya masih menggoreskan seribu tanya, namun senyum di wajahnya tak hilang.


"Aku Arla, Rachel Charla Amelia, putri sulung dari Bu Retno" ucapku sambil mengulurkan tangan.


Cowok itu tak menyambut uluran tangan ku, ia hanya memandang saja dan melemparkan senyum manisnya sembari bertanya.


Aku keki mendengar jawabannya, salah tingkah terlebih lagi tanganku masih tetap mengulur menanti sambutan uluran tangannya. Ia tetap bertahan dengan senyuman manisnya itu. Aku berpikir sejenak jawaban apa yang akanku sampaikan padanya.


"Oh tak ada apa-apa, hanya ingin berkenalan," akhirnyaku tarik uluran tanganku


"Oo.. Aku Rama" jawabnya.


"Ooohh... Rama. Kamu punya nomor handphone?" tanyaku tanpa pikir panjang dan tak tahu malu.

__ADS_1


sepasang matanya hanya bisa menatap aneh dan penuh tanya padaku. Tapi bibirnya tak henti melayangkan senyuman. manis sekali senyuman itu. Jantungku semakin berdegup kencang.


"Hey, kok diam sih..? Ada nomor handphone ga? Atau nomor yang bisa dihubungi gitu. " cerocosku sambil memainkan kuncir kuda ku.


"Maaf Mba, aku buru-buru. Jika tak ada hal penting yang ingin dibicarakan, Aku mohon diri", ujarnya tanpa menjawab pertanyaanku, Jleeb.. rasa di hatiku mendengar jawabannya. Ia cuekin pertanyaanku, aku hanya diam tak merespon ucapannya.


"Wassalaamualaikum" ujarnya lalu mengayun langkahnya meninggalkanku yang masih tak percaya dengan kejadian barusan.


DEG...!!! DUAAAR!!! serasa disambar petir aku rasanya mendengar jawabannya. Seolah dia risih akan sapaan dan pertanyaanku. Seketika aku merasa malu dan menyesali apa yang telahku lakukan ini. Bisa-bisanya aku senekat ini.


Ya mungkin aku merasa malu pada diriku dan juga dia karena ia tak merespon aku terlalu banyak, jika saja dia merespon apa yang ku tanya dan kami ngobrol lebih lama, mungkin rasa maluku tak kan muncul. Aku merasa dicuekin olehnya. Terlebih lagi ketika ia mengatakan bahwa apa yang ku tanyakan itu bukan hal yang penting.


Aku masih berdiri terpaku memandang punggungnya hingga menghilang di ujung gang. Masih memikirkan sikapku yang bisa senekat itu, dan memikirkan rasa malu yang ku tanggung bila besok bertemu lagi dengannya. Tapi kabar baiknya adalah aku sudah tahu nama cowok itu. Rama.


Aku berlari menuju kamar, meraih gagang telepon, aku mencoba menghubungi Airin untuk menceritakan apa yang baru saja aku alami. Berkali-kali aku coba menghubungi Airin, tapi tak jua ada sahutan dari seberang, mungkin sedang tak ada siapa-siapa di rumah Airin. Akhirnya ku tutup gagang telepon. Dan memilih untuk melamun di sofa ruang tamu. Membayangkan semua hal bodoh yang baru saja aku lakukan.


......****......


Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊

__ADS_1


__ADS_2