
Mata kuliah Psikologi Peserta Didik baru saja selesai. Aku masih saja duduk di bangkuku, enggan untuk beranjak. Mager banget rasanya, terlebih lagi melihat cuaca di luar kelas begitu terik. Aku lebih memilih ngadem di ruangan kelas yang ber-AC ini.
"Woy..! Kantin yok! Lapar," pekik Airin dari pintu kelas.
Aku bergeming. Airin masuk menghampiri tempat dudukku.
"Lah kok lesu..? Ga lapar?" tanyanya
Aku tetap bisu, dan merebahkan kepalaku di meja kampus.
"Hellow.. Aku ini ngomong sama manusia loh ya, bukan mayat", cerocos Airin mulai kesal.
"Hmm..", sahutku cuek.
"Kenapa sih? Galau? Tapi kan jomblo"
Aku tegakkan kepalaku, dan memandang Airin sinis.
"Ow.. ow.. ow.. Pandangan ini yang aku ga suka dari kamu", ucapnya sembari menutup wajahku dengan buku.
"Rin, tau ga. Aku ungkapkan perasaanku ama si babang Musholla", lanjutku.
"HAAAHH... SERIUUUSSS!!!! KAMU NEMBAK DIA", respon Airin setengah berteriak.
__ADS_1
"Kamu pinjam aja toa mesjid kampus ni sekalian, biar satu semesta tau, heboh banget" sahutku jengkel.
"Upss.. sory.. sory, jadi gimana jawabannya", suara Airin melunak.
Aku ceritakan seluruh peristiwa dari awal hingga peristiwa tadi malam pada Airin. Terlihat dia begitu menyimak ceritaku. Tanpa berkomentar apa pun. Airin memang tipe pendengar yang baik. Ia akan berkomentar ketika lawan bicara telah benar-benar selesai bercerita.
"Hmm.. Kalau dari ceritamu sih, aku yakin Rama itu kaget dan salah tingkah karena tiba-tiba kamu tanya gitu", jelasnya
"Terus aku mesti gimana?" tanyaku.
"Gimana ya? Oh ya, dari ceritamu juga sepertinya Rama itu jamaah tabligh, mana mungkin juga dia mau pacaran, dan pergaulan antar lawan jenis pun pasti mereka jaga. Beda dengan kita yang kadang tak tau aturan, hehehehe", lanjut Airin.
"Iya juga sih, ya kalau emang ga mau pacaran, nikah pun aku siap", jawabku yakin.
"NIKAAAH!!! diumur yang belum kepala dua ini? kamu yakin?" Airin kaget dengan jawabanku.
"Nikah itu tidak seindah yang kamu bayangkan La, apalagi di usia kita yang belum matang ini, jangan hanya karena rasa sesaat itu kamu bertindak seperti ini. Aku yakin ini cuma ambisi mu saja. Soal tantangan waktu itu, aku cuma bercanda", nasehat Airin
"Nikah memang tidak seindah yang aku bayangkan, tapi tak pula sesulit yang kamu kira Rin. Aku yakin, kalaulah Rama mengajakku menikah, aku pasti menerimanya", aku hanyut dalam lamunanku.
"Ya sudahlah, kalau memang itu keputusanmu, tapi aku yakin ini hanya ambisi sesaat mu, karena penasaran dengannya, lagi pula kamu tidak begitu mengenal dia La", tutur Airin tak percaya.
"Aku enggak tau, kenapa aku begitu yakin dengan dia, aku yakin kalau dengannya ia bisa membimbing aku menjadi lebih baik. Dia laki-laki Soleh. Jarang sekali aku ketemu dengan laki-laki seperti itu", jawabku
__ADS_1
"Kamu hanya tahu kulit luarnya saja, kamu hanya tahu dia apa yang kamu tampak saja, sikapnya, wataknya, kamu tidak tahu La, perkara lelaki Soleh atau tidak, masih banyak kok di luar sana yang begitu. Hanya saja karena lingkungan kita memang bukan orang seperti itu, makanya kita tidak menjumpai yang Soleh begitu. Pikirkanlah lagi niat kamu, jangan sampai nyesal nantinya," Airin menasehatiku panjang lebar.
Aku hanya diam tanpa komentar apa-apa. Tapi hatiku memang yakin. Kalaulah saja Rama mengajakku menikah aku siap. Meskipun aku baru semester 3. Toh menikah sambil kuliah pun tidak dilarang oleh pihak kampus.
***
Sore ini aku memilih untuk beberes di toko buku yang sudah beberapa minggu tak ku kunjungi. Hanya dijaga oleh karyawan yang juga mahasiswa di kampusku, hanya saja dia masih semester 1. Bisa dibilang dialah orang yang aku percaya untuk mengelola keuangan dan menjaga tokoku selama aku tak ada. Rendi namanya. Lulusan pesantren ternama di tanah Jawa. Cukup agamis, itulah makanya aku percaya padanya.
"Kak, beberapa alat tulis udah mau habis, tinta printer juga udah habis", Ujar Rendi sembari menyerahkan laporan penjualan dua pekan terakhir.
"Oh ya, kamu belanja aja, kayaknya aku ga sempat, banyak tugas kampus", jawabku.
"Oke kak, kakak hari ini nginap di toko?" tanyanya.
"Ya gak lah, gila aja aku nginap bareng kamu di sini", tegasku.
"Ya ga gitu. Soalnya aku mau pergi kak, kalau kakak nginap di toko, aku ga balik. Mungkin lusa baru balik".
"Oh gitu, kalau kamu ga balik, ga papa, toko ditutup aja. Toh banyak barang yang udah kosong. Nanti kalau kamu balik, sekalian belanja ya." jelasku
"Oke kak, siap".
Usai beberes toko, aku balik ke rumah ibu. Hari sudah lumayan gelap. Sekitar pukul 10 lewat, biasanya jalanan menuju rumah ibu mulai sepi. Tapi aku tak memilih tuk melajukan gas mobil ku. Aku malah memilih santai sembari menikmati suasana malam. Sesekali ku liat beberapa muda mudi yang masih berkeliaran bersama kekasihnya. Saling melempar senyum dan canda, meski di atas motor. Pikiran ku melayang. Andai saja itu aku dan Rama.
__ADS_1
...*****...
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊