HATI YANG MUSNAH

HATI YANG MUSNAH
JANTUNG HATI


__ADS_3

Hubungan kami tidak lagi sehangat biasanya. Meskipun sikapnya masih seperti biasa, namun aku tetap tidak bisa biasa kepadanya. Aku hanya berbicara seperlunya.


“Sayang, mau sampai kapan kamu diamkan aku begini?” tanya Rama padaku.


“Aku tidak diam, aku hanya berusaha menjaga sikap, agar kau tak lagi curiga terhadapku”, jawabku tanpa memandangnya.


“Sudah tiga hari kamu begini, tidak ada celoteh manjamu, tidak ada lelucon-lelucon yang biasa kamu lontarkan padaku”, lanjut Rama.


“Aku rasa tidak perlu ada seperti itu lagi,” jawabku cuek.


Rama terdiam, dia duduk di sampingku dan menghela nafas panjang. Ia mencoba untuk membujukku, digelitiknya pinggangku untuk memancing tawa atau balasan dariku. Namun usahanya sia-sia. Aku sama sekali tidak mempedulikan gurauannya, aku tepis setiap sentuhan tangannya.


“Sayang, kamu tidak ke kampus hari ini? Biar aku antar”, tanya Rama kembali.


Aku menoleh padanya, “Kau pikir, aku bisa keluar rumah dengan luka yang sudah kau buat di wajahku?”


Rama memandang wajahku, memang masih tersisa memar bekas tamparan keras tangannya di wajahku, dan luka di ujung bibirku. Mataku pun masih terlihat sembab, sebab baru hari ini aku berhenti menangis. Rama mencoba untuk menyentuh wajahku. Tetapi aku menepisnya.


“Keluarlah Rama, tinggalkan aku sendiri” pintaku.


Rama hanya menarik nafas panjang, kemudian keluar kamar. Aku tidak tahu kemana dia pergi. Aku hanya mendengar sayup ia berpamitan kepada ibunya.


***


“Assalamualaikum” terdengar seseorang memanggil dari luar rumah.


Aku enggan untuk beranjak dari kamarku.


“Waalaikumsalam, eh Nak Airin, mari masuk. Mau belajar masak lagi ya?” ujar mertuaku saat membukakan pintu.

__ADS_1


“Hahaha.. gak Bu, libur dulu hari ini, mau ketemu Arla, Arla ada Bu?” tanya Airin.


“Oh ada, ada di kamarnya.” Jawab ibu.


Airin masuk dan mengetuk pintu kamarku.


“Arlaaaa.. Kamu masih tidur ya? Aku masuk ya” teriaknya di depan pintu.


Aku tidak menjawab. Tetapi pintu kamar sudah terbuka. Airin kaget melihat keadaanku. Wajah yang memar dengan mata sembab.


“La, kamu baik-baik saja?” tanyanya hati-hati.


Tangisku pecah ketika Airin duduk di sampingku. Aku terisak-isak dalam pelukannya.


“Aku salah pilih rin, andai dulu aku ikuti omongan orang tuaku, aku ikuti saranmu, semua tidak akan begini” ujarku disela tangisku.


Airin hanya terdiam, dielus-elusnya punnggungku, dibiarkannya aku melepaskan tangis di pundaknya. Setelah beberapa menit kemudian, setelah tangisku reda. Aku ceritakan semua yang terjadi pada Airin.


Aku berusaha mencegah Airin, “Jangan Rin, aku ga mau kalau harus begitu, kasihan mertuaku nanti, kalau nanti dia ulangi lagi, baru kita laporkan”.


Airin memandangku, kemudian dia memelukku erat, “Kamu yang sabar ya La,”


Aku tersenyum.


Sejak saat itu aku selalu menceritakan apapun yang terjadi pada Airin, hanya Airinlah yang mengetahui secara detil bagaimana keadaan rumah tanggaku yang sebenarnya. Aku tidak berani menceritakan apapun kepada orang tuaku, aku takut mereka kecewa. Aku pun berasa tidak punya nyali untuk mengadu, sebab dulu, aku yang menyakinkan bahwa pilihanku adalah yang terbaik.


***


Sembilan bulan berlalu sudah, ini saatnya kami menanti kehadiran buah hati pengobat luka. Bayi laki-laki dengan berat 3,9 Kg yang lahir melalui proses ceasar. Tubuhku terlalu lemah setelah mengalami pendarahan hebat, hingga aku harus melalukan tranfusi darah, untung saja Rama memiliki golongan darah yang sama denganku, sehingga tidak perlu susah mencari pendonor.  Tiga jam setelah proses operasi, Rama datang menghampiriku, ku lihat wajah haru terpancar dari matanya.

__ADS_1


“Sayang, kita sudah menjadi orang tua, terima kasih telah memberiku buah hati yang sehat, terima kasih telah menjadi pendampingku selama ini, aku sayang kamu”, ucapnya duduk disamping ranjangku.


Aku tidak membalas ucapannya, aku hanya tersenyum. Sejujurnya berat sudah lisanku untuk mengucap sayang kepadanya. Kejadian saat aku hamil muda masih tidak bisa aku hapuskan.  Tidak lama kemudian orang tua dan mertuaku datang menjeguk ku. Terlihat raut wajah yang sangat bahagia di wajah mereka menyambut kelahiran cucu pertama mereka. Bergantian mereka menimang anakku. Rama tetap duduk di sampingku, tidak lepas tangannya menggenggam tanganku. Aku tahu, aku dapat merasakan ada kasih sayang yang besar yang tengah ia sampaikan padaku, tapi aku tidak dapat lagi menumbuhkan rasa sayangku yang telah hilang untuknya.


“Sayang, siapa kira-kira nama yang cocok untuk jagoan kita?” tanyanya padaku.


“Terserah kamu saja, aku belum mempersiapkan nama untuk anak laki-laki, Ma” jawabku.


“Bagaimana kalau Fatta Putra Arma”, lanjutnya


“Artinya?” tanyaku.


 “fatta itu artinya penakluk, aku mau anak kita ini menjadi penakluk semesta, sedangkan Arma itu, gabungan nama kamu dan aku”, jelas Rama.


Aku hanya mengganggukan kepala tanda setuju.


“Sayang, aku ingin bertanya sesuatu padamu”, wajah Rama serius.


“Iya apa?”


“Apa kamu masih sayang sama aku?” tanyanya.


Aku hanya diam, sebab akupun tidak tahu, apakah aku masih menyayanginya atau tidak.


“La, jawab. Apa udah gak ada lagi kata maaf untuk aku, sejak kesalahan yang pernah aku buat waktu itu?” Rama mendesakku.


“Udahlah Ma, gak usah kayak anak ABG baru pacaran, udah ya, aku mau tidur” jawabku sambil memalingkan wajah darinya.


Ia hanya menghembuskan nafas, ditariknya selimut dan menyelimuti tubuhku, kemudian ia pergi keluar kamar bergabung bersama orang tuaku yang tengah sibuk menimang cucu mereka.

__ADS_1


Hatiku berkecamuk, ingin rasanya aku minta cerai dengannya, tapi aku harus memikirkan banyak hati yang akan kecewa kalau perceraian itu terjadi. Terlebih sekarang aku sudah memiliki seorang anak. Aku harus tetap bertahan demi anakku, sebab dia butuh sosok ayahnya untuk tumbuh dewasa.


__ADS_2