
Suasana meja makan pagi ini agak berbeda dari biasanya. Papa dan ibu saling memberi kode, dan saling memonyongkan mulut masing. Aku penasaran, ada apa dengan kedua orang tuaku ini.
"Pa, ada apa sih? kenapa nih?" tanyaku penasaran.
Bukannya menjawab tanyaku, mereka malah semakin pandang pandangan dan berbisik bisik.
Akhirnya papa menghela nafas panjang dan mengambil ancang-ancang untuk membuka pembicaraan.
"Arla udah punya pacar belum?" tanya papa hati-hati.
"Kenapa bahas pacar sih?" jawabku sambil menyuap sesendok nasi goreng buatan ibu.
"Tinggal jawab aja, apa susahnya", lanjut ibu.
"Kan ibu tau, Arla ga boleh pacaran ama ayah, lagi pun Arla males ah, galau yang berujung bucin", jelas Arla.
"ooh begitu"
"Kalau nikah muda mau?", Sambar Papa.
Aku kaget, hampir saja sendok itu aku telan. Ada apa dengan mereka tiba-tiba menanyakan hal seperti ini. Tak biasanya mereka menanyakan hal pribadiku.
"Hey, jawab dong! Atau lagi bayangin seseorang nih..", gurau papa.
"Hmm.. Kalau emang ada jodoh, kenapa ga", jawabku enteng.
Kali ini papa dan ibu saling berpandangan. Ibu seolah memberi kode anggukan kepada papa untuk mengungkapkan sesuatu padaku.
"Gini La.....,"
"serius amat si papa", celetukku memotong pembicaraan papa.
Ibu memandangku, menyuruhku diam.
"Gini La, ada cowok yang sering jemaah di musholla kita ni, dia itu naksir kamu. Tapi tidak untuk pacaran. Dia mau lamar kamu. Papa hanya menyampaikan pesan dia aja, lagi pula papa yakin kamu ga mungkin juga menikah di usia muda gini, hahahahha" jawab papa berseloroh.
__ADS_1
"Siapa Pa, siapa? tanyaku antusias.
Lagi-lagi ibu memandangku.
"Rama", jawab papa singkat.
Hampir copot jantungku mendengar jawaban papa, Rama ingin mengajakku menikah. Gayung bersambut agaknya. Tapi aku tak yakin kalau dia seberani itu mengutarakan maksudnya pada papa.
"Hey, malah diem", tegur ibu.
"Papa juga kaget waktu Rama menyampaikan itu, ya tapi ga mesti diterima sih, papa cuma nyampein amanahnya Rama aja, lagi pula, papa yakin kamu ga bakal siap dengan pernikahan di usia muda gini", sambung papa.
Aku hentikan makanku, entah apa yang merasukiku saat itu. Tanpa pikir panjang aku jawab semua penasaran kedua orang tuaku. Aku jawab dengan lantang
"Arla mau pa, bu, nikah muda, lagian ga masalahkan nikah muda. Dari pada Arla pacaran ga jelas, keluyuran sana sini", jawabku.
Papa dan ibu kaget dengan jawabanku, terlebih papa. Ia tak menyangka bahwa aku akan sesiap itu untuk menikah.
"La, nikah itu tidak mudah, banyak hal yang harus kamu persiapkan. Banyak masalah yang nantinya akan kamu hadapi", lanjut ibu.
"Hmm.. kalau memang begitu, mesti tanya ayah kamu dulu, karena dia yang berhak atas kamu", lanjut papa.
Aku hanya mengangguk dan melanjutkan suapan nasi gorengku. Sementara papa dan ibu hanya berpandangan, masih tak percaya dengan jawabanku.
***
Beberapa hari setelah kedatangan Rama dan hasil keputusanku, Papa mencoba menghubungi ayahku untuk membahas hal ini. Ayah dan mama diundang hadir ke rumah untuk membahas hal ini. Ternyata tak mudah untuk meluluhkan hati ayah. Ayah terlihat marah ketika tahu bahwa anak perempuannya ingin menikah di usia yang masih sangat belia.
"MENIKAH..!!! Umurnya masih sangat muda. Jangan bilang pernikahan ini terjadi karena sesuatu sudah terjadi!!" emosi ayah meluap.
"Saba Da, ga elok pakai emosi (sabar bang, ga baik pakai emosi)", mama menenangkan ayah.
Ayah memang sangat emosian bila sesuatu terjadi tak sesuai dengan kehendaknya, watak ayah memang sangat keras dan tempramen, untunglah mama wanita yang sangat sabar menghadapi sifat arogan ayah. Oh iya ayah ku berdarah Minang, sementara mama tiriku berdarah Jawa sama seperti ibu.
Aku tertunduk. Tak berani menatap wajah ayah. Sementara Papa hanya diam. Tidak tahu harus bicara apa, sebab keputusan penuh memang ditangan ayah selaku orang tua kandungku.
__ADS_1
"Apa salahnya menikah diusia muda?" Jawab Ibu.
"Masa depan dia masih panjang, kuliah juga baru semester tiga. Apa ada hal yang terjadi, makanya tiba-tiba ingin menikah?" tuduh ayah padaku.
Ibu kaget dan emosi mendengar kata-kata ayah.
"Arla anak baik-baik. Tidak ada yang terjadi dengan anak kita. Hanya saja mungkin sudah sampai takdirnya, dia menikah di usia muda",jelas ibu.
Ibu dan papa mencoba membujuk ayah, hingga akhirnya ayah pun sampai pada batas lunaknya. Ayah menatapku sesekali memandang ke ibu.
"Arla", Panggil ayah pelan padaku
Aku tegakkan kepalaku, yang sedari tadi tertunduk sebab tidak pernah aku merasa diadili oleh ke empat orang tuaku sekaligus.
"Iyo ka manikah anak ayah? (beneran mau nikah anak ayah?) tanya ayah pelan.
Aku hanya memandang ayah dan menganggukkan kepalaku.
"Lah dipikia masak-masak Nak? (udah dipikirin masak-masak)" ayah memastikan anggukanku.
"Iya Ayah, Arla juga suka sama dia. Arla gak mau pacaran, dari pada berbuat yang dilarang, lebih baik menikah. Arla janji, apapun yang terjadi dengan pernikahan Arla nanti, Arla tak akan menyalahkan siapapun, Arla mohon restu ayah", Jelasku mantap.
Ayah menarik nafas panjang. Lama ayah terdiam. Akhirnya ayah memberikan keputusannya
"Ayah restui, suruhnya dia jumpai ayah"
Jawaban ayah membuat seisi rumah yang sempat menegang menjadi tenang. Dan menghela nafas panjang.
Kini malah hatiku dirundung kebingungan, berasa tidak yakin dan tidak percaya dengan keputusan besar yang aku ambil, sementara usiaku baru sembilan belas tahun. Dan aku memutuskan untuk berumah tangga dengan lelaki yang hanya aku kenal wajah dan namanya saja. Aku bahkan tidak tahu pekerjaannya, orang tuanya, bahkan nomor handphonenya pun aku tidak tahu.
Tapi keputusan telah aku putuskan, Ayah telah membebaskan aku. Aku harus pmertanggungjawabkan keputusanku apa pun yang terjadi nantinya.
...****...
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊
__ADS_1