HATI YANG MUSNAH

HATI YANG MUSNAH
MAU MAKAN APA


__ADS_3

Seusai Solat Isya berjamaah, Rama menghampiri papa yang baru saja mengakhiri berbait-bait kalimat yang dirapalkan dalam munajatnya kepada Pencipa semesta.


"Maaf, Pak Ardi, boleh saya bicara" tegur Rama canggung.


Papa menoleh dan mengangguk, agaknya papa sudah paham kemana arah pembicaraan yang akan dilontarkan Rama. Papa menggeser sedikit duduknya dan mengubah cara duduknya agar lebih nyaman.


"Hmmm, begini Pak, saya ingin menanyakan persoalan yang waktu itu saya bahas di rumah Bapak," tanya Rama sedikit sungkan.


"Yang mana ya? Banyak banget soalnya yang kita bahas, soal pembangunan musholla? kerja bakti?" papa pura-pura tak paham.


"Bukan yang itu Pak, hmm.. bagaimana ya", Rama menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lah jadi yang mana",


"Ehmm.. Soal saya yang ingin melamar putri Bapak" ujar Rama lirih.


"Saya ga denger Rama bilang apa? Bisa diulang kembali?", papa pura-pura.


Rama menarik nafas panjang agar degupan jantungnya bisa normal kembali.


"Soal saya yang ingin melamar anak Bapak, bagaimana keputusannya?" tegas Rama.


"Nah, gitu dong. Jelas"


Papa menceritakan semua hal yang terjadi pada Rama, usai menceritakan papa memberi sedikit wejangan perkara hal pernikahan kepada Rama, agar nantinya tidak salah melangkah ketika sudah berumah tangga. Rama menyimak perkataan dan nasehat papa dengan khidmat, sesekali ia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda bahwa ia setuju dan mengerti dengan apa yang disampaikan papa.


"Nah, sekarang kamunya, apakah kamu sanggup untuk bertanggung jawab? Seperti itu lah gambaran pernikahan yang sebenarnya, bukan hanya menyatukan kalian berdua. Tapi dua keluarga besar. Bukan hanya sebatas cinta-cintaan tapi ada kebutuhan yang harus dipenuhi" Jelas papa kembali.


Rama kembali mengangguk dan menunduk. Tidak satupun kata yang ia lontarkan dari mulutnya. Sesekali ia menelan air liurnya untuk membasahi kerongkongan yang terasa tercekik.


"Arla memang menerima kamu, dia mau menikah diusia muda. Tapi seperti yang saya katakan tadi, pernikahan bukan hanya soal kamu dan dia. Tapi ada kami selaku orang tuanya", lanjut papa.


"Ia Pak, saya paham, lantas apa yang harus saya lakukan", tanya Rama.


"Kamu temui ayah Arla, sampaikan maksud baik mu ini, minta restunya. Karena beliaulah yang punya hak penuh terhadap Arla selaku orang tua kandungnya"


Lagi-lagi Rama mengangguk. Kali ini Rama menjawab dengan nada mantap.


"Baik Pak, saya akan temui ayahnya".


"Nah Bagus itu" ujar papa sambil menepuk-nepuk pundak Rama. Kemudian berdiri dan bersiap akan pulang. Rama masih terduduk, hingga akhirnya berlari kecil mengejar papa.


"Pak, sebentar"


Papa menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang

__ADS_1


"Iya ada apalagi? Kamu ragu?" tanya papa.


"Bukan pak, tadi Bapak menyarankan pada saya untuk menemui ayah Arla, bukan begitu Pak?"


"Iya, betul, lantas apa masalahnya? Kamu takut?" tanya papa


"Tidak pak, tapi saya harus temui dimana Pak? Saya tidak kenal", jelas Rama polos.


"Oalaaah.. bilang saja terus terang kalau kamu mau minta ditemenin saya, gitu aja repot" seloroh Papa.


"hehehehe, Iya kalau Bapak tidak keberatan", jawab Rama malu.


"Oke, besok sore selepas Ashar kita ke rumah ayah Arla",


***


Selepas Ashar Rama sudah berdiri di depan musholla dengan celana bahan berwarna coklat muda, baju kemeja polos berwarna putih dengan lis hitam sungguh serasi membalut tubuh tingginya yang berkulit kuning langsat. Rama menanti Pak Ardi yang tengah mengobrol dengan jamaah lain di dalam musholla.


Diam-diam aku memandangi calon imamku dari balik jendela rumahku. "Ah tampan sekali, semoga urusan mu bertemu ayah ku dilancarkan" gumamku.


Jantungku selalu berdegup kencang bila sudah memandang Rama. Ada rasa bahagia dan seakan tidak percaya, kalau aku akan menikah dengannya.


***


Sedan putih milik papa meluncur santai menuju sebuah cafe di seputaran Jalan Sudirman. Papa sengaja mengajak bertemu di luar, agar lebih santai, wanti-wanti kalau emosi ayah tiba-tiba tidak terkontrol. Sebab tidak mungkin ayah nekat ngamuk di tempat umum.


"Eh.. Ga ada Pak", Rama gugup.


"Kamu grogi ya mau ketemu camer? Atau lagi berusaha nyusun kata-kata yang bakal disampaikan nanti", seloroh papa.


Rama hanya mengangguk mengiyakan tebakan papa. Rama memang tengah gugup dan grogi. Ini kali pertama ia membahas hal yang cukup serius seperti ini. Pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan retoris. Bagaimana kalau ayahnya marah? Bagaimana kalau ditolak?


Sedan putih yang dikendarai papa terus melaju tanpa memikirkan kebingungan dan gugup yang tengah berkecamuk dalam benak Rama. Hingga akhirnya sedan putih berhenti di depan sebuah cafe yang cukup keren, sebab sebagai ajang nongkrong muda mudi pemburu wifi gratis yang hanya bermodalkan segelas coffee atau mungkin jus dan sepiring sandwich.


Ayah sudah menunggu beberapa menit sebelumnya.


Papa dan Rama langsung menemui ayah di sebuah meja yang terletak di ruangan privat. Hanya ada dua meja di sana terdiri dari empat kursi di setiap mejanya. Ruangan ber-AC, dinding yang berlukiskan aneka doodle dan grafiti berwarna hitam serta alunan musik jazz yang santai. Ayah sengaja memesan ruangan ini, agar lebih santai dan tidak terganggu dengan bisingnya suara tawa muda mudi yang tengah bercengrama di luar.


"Eh Bang, udah lama", sapa papa menyalami ayah begitu masuk ke dalam ruangan.


"Oh ga kok, baru aja", sambut ayah.


Rama menyalami ayah dengan santun sembari menyebutkan namanya.


"Pak, saya Rama"

__ADS_1


"Oh.. Saya Roy", sambut ayah dan mempersilahkan mereka duduk.


Papa memulai pembicaraan, dan menjelaskan kepada ayah tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka untuk menemui ayah. Rama diam, dan sesekali mencoba memandang wajah ayah. Ayah pun begitu, sesekali ia pandangi wajah Rama lekat.


"Jadi kerjaan kamu sekarang apa? Kok beraninya mau ngelamar anak saya? tanya ayah.


Rama gugup, ia tarik nafas panjang mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.


"Saya.. Saya.. belum bekerja Pak", jawab Rama gugup.


Papa dan ayah kaget dengan jawaban Rama. Mereka saling berpandangan. Papa pun tak terpikir selama ini untuk menanyakan hal ini kepada Rama.


"Lalu setelah menikah anak kami mau dinafkahi pakai apa?" tanya ayah.


"Saya akan berusaha bertanggung jawab atas apapun mengenai anak Bapak", jawab Rama mantap.


"Kita ini realistis aja ya, sekarang itu hidup makin sulit, terlebih anak kami tengah kuliah. Kalau pernikahan hanya sebatas menghalalkan "satu hal" lebih baik jangan", tegas ayah.


Rama terdiam dan tertunduk.


"Mau kamu kasi makan apa anak kami nanti setelah menikah, kami bukan tidak mampu membiayai kalian. Hanya saja tanggung jawabmu sebagai laki-laki dan suami nantinya tak hanya sebatas nafkah batin, tapi juga lahir", jelas ayah pada Rama.


"Tapi saya yakin Pak, rezeki setelah menikah itu pasti ada", Rama mencoba meyakinkan ayah.


"Benar rezeki setelah menikah pasti ada. Tapi ya logika saja. Apa mungkin rezeki datang dari kolong langit sementara kamu tak bekerja", ayah mulai terbakar emosi.


"Saya akan berusaha menjelang pernikahan, saya sudah memperoleh pekerjaan, jika Bapak memberi restu saya menikahi putri Bapak", jawab Rama mantap.


"Alaaah, tak perlu berjanji-janji. Buktikan saja dulu" celetuk ayah.


Papa yang sedari tadi menyimak obrolan mereka mencoba mencari titik tengah. Karena papa sudah mulai mencium gelagat yang kurang enak dari ayah. Ayah seperti tengah menahan emosinya.


"Apa yang dikatakan Pak Roy ini benar Rama. Saya sudah pernah bilang juga ke kamu kalau menikah itu bukan soal cinta semata. Tapi ada perut yang harus diisi setiap harinya. Begini sajalah. Kamu yakinkan kami dulu, bahwa kamu bisa bertanggung jawab penuh atas anak kami, baik secara batin maupun lahirnya. Baru setelah itu kamu datang lagi", jelas papa pada Rama.


"Iya benar itu. Tak ada pegangan berani-beraninya mau melamar anak orang" ketus ayah.


Rama benar-benar terdiam dan tertunduk. Bibirnya seakan terkunci mendengar ucapan ayah. Pikirannya semakin tak karuan. Degup jantungnya pun semakin kencang seolah ada perang besar dalam dadanya.


"Bagaimana? Kamu siap?" tanya papa pada Rama.


"Insyallah saya siap Pak," jawab Rama.


Papa dan Rama mohon izin pulang terlebih dahulu, sebab Papa masih ada urusan di luar selepas Magrib.


Jalanan Kota Pekanbaru serasa hampa sore itu, meskipun dipenuhi oleh hiruk pikuk suara kendaraan bermotor. Rama hanya dapat memandang kosong pada setiap mobil dan motor yang berlalu lalang mendahului mobil yang ia tumpangi. Pikirannya melalang buana. Otaknya terus berputar mencari cara agar bisa memperoleh pekerjaan secepatnya. Mencari pekerjaan di saat sekarang ini bukanlah hal yang mudah, terlebih bila tidak ada orang dalam.

__ADS_1


...****...


Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊


__ADS_2