
"Arlaaa..cepetan injak kaki aku dong.. Biar nyusul kamu." ujar Airin padaku yang tengah bersanding di pelaminan.
"Hahaha... Ada-ada aja kamu. Katanya ga mau nikah muda.. Mau konsen kuliah dulu?" godaku.
"Setelah liat kamu, jadi pengen nikah muda, aku mau pindah deket mesjidlah biar lebih hebat dari kamu", celetuk Airin.
Rama yang sedari tadi hanya menyimak percakapan kami ikutan nimbrung.
"Loh, emang kenapa harus deket mesjid?" tanya Rama.
"Lah iya Ma, kan Arla karena sering 'ngintai' kamu makanya naksir. Nah kalau aku tinggal deket mesjid pasti lebih banyak pilihan toh, yang mau di cop, hahahaah," gelak Airin.
Aki cubit tangan Airin, "Apaan sih kamu"
Rama hanya senyum melihat tingkah kami berdua.
Hari ini resepsi pernikahanku dan Rama, resepsi yang diadakan di hotel mewah berbintang, dengan tema kerajaan Eropa, sangat mewah. Pakaian pengantin yang di design khusus oleh perancang busana ternama, menjadikan kedua mempelai hari itu bak raja dan ratu walau sehari. Keempat orang tuaku tentu saja menghabiskan biaya yang tidak sedikit untuk pernikahan putri sulung mereka. Sebab pernikahan yang hanya dilakukan sekali seumur hidup, harus dibuat se spesial mungkin. Begitu pikir mereka.
****
Sebulan setelah resepsi pernikahan, aku sudah diboyong oleh Rama ke rumahnya. Rama ingin kami lebih mandiri tanpa bergantung dengan orang tua masing-masing. Rama mengontrak rumah bulatan.
"Sayang, untuk sementara kita tinggal di rumah kontrakan ini dulu, gak papa ya? Nanti kalau tabungan aku udah cukup baru kita beli rumah, Ya kalau pun tak mampu cash, kredit juga ga papa ya", ujar Rama padaku.
"Iya Sayang, ga apa. Aku pun ga masalah mau tinggal dimana aja, asal sama kamu", gombalku padanya.
"Hmmm... Pandai pulak", ujar Rama sembari mencolek hidungku.
Bukan main bahagianya aku menikah dengan Rama, selain pandai memasak, Rama juga lihai dalam beberes rumah. Aku sama sekali tidak mengerjakan apa-apa. Pagi-pagi seluruh pekerjaan rumah sudah dihandle oleh Rama, mulai dari membereskan rumah hingga memasak sarapan. Aku tengah disibukan dengan tugas kuliah dan beberapa kegiatan sebagai aktifis kampus. Pergi pagi dan malam baru kembali ke rumah. Beruntung sekali aku memiliki suami yang begitu pengertian dengan kesibukanku.
__ADS_1
****
"La, udah Magrib, kamu pulang gih.. Ntar suami mu nyariin..", ujar Agung yang tengah sibuk merekup laporan.
"Iya, ini ga papa kami aja yang ngerjain", sahut Airin.
"Oke.. Ga papa ya aku tinggal pulang duluan?" jawabku sungkan.
"Ga papa, lagian pengantin baru, paham dong kita", ledek Andre dengan mata nakalnya.
"ehmmm.. mulai deh, ya udah aku pulang duluan ya", ujarku sambil mengemas barang-barang.
"Iyooo...", sahut mereka serentak.
Aku melaju mobil sedan putih, menyusuri jalanan Kota Pekanbaru yang lumayan macet, terlebih lagi malam ini adalah malam minggu. Muda-mudi berkeliaran memadu kasih, berbagi gombalan, saling mengungkapkan rasa cinta, namun tak jarang pula beberapa dari mereka berakhir tragis dalam uraian air mata, gundah perasaan dan hal terparah bahkan sampai mengakhiri hidup.
"Assalamualaikum.. Maaf sayang.. pulangnya malam lagi", ujarku begitu tiba di depan pintu.
"Waalaikumsalam, iya sayang, ga papa.. Aku paham kok. Kamu mandi gih.. Siap itu kita makan. Aku udah masakin kamu sup ayam", ujar Rama sambil menggandengku.
"Ya Allah.. Beruntung banget aku punya suami pengertian begini." ujarku sambil menyandarkan kepala di pundak Rama.
****
Selesai solat Isya kami makan malam bersama, biasanya disela-sela makan kami akan menceritakan semua kegiatan yang dilakukan seharian itu. Aku menceritakan kegiatan hari ini di kampus, tanpa terkecuali.
"Andre itu siapa?" tanya Rama ketika menyimak ceritaku.
"Oh Andre itu temen aku, dia satu tim sama aku, dia PJ acara kami itu, Yang", jelasku.
__ADS_1
"Kalian deket?" tanya Rama curiga.
"Hmmm.. Ada bau-bau kecemburuan nampak nya ni", ledekku.
"Jawab aja, soalnya dari tadi kamu berkali-kali sebut nama dia", lanjut Rama.
"Hmmm.. cuma kawan Sayang, gak ada hubungan apa-apa. Lagian kan kamu tau kalau aku emang lebih banyak temen cowok ketimbang cewek", jelasku.
"Ya mana aku tahu. Kita tak pula kenal lama", sahut Rama manyun.
"Kan.. Aku seneng loh kamu cemburuin gitu", ujarku singkat.
"Kamu tau.. Dalam hidup aku sekarang ni. Kamu laki-laki ketiga yang aku cintai. Segenap hidup ku bakal aku korbankan buat kalian", lanjutku.
"Ketiga? Kalian? Jadi kamu..?" Rama mulai kesal.
"Iya ketiga, ayah, papa, dan kamu", jawabku.
Rama hanya diam, disiapkan sup ayam hangat ke mulutnya sambil mengulum senyuman.
"Udah, kalau mau senyum, senyum aja.. Ga usah dikulum gitu. Entar keselek senyuman itu", ledekku.
Rama tertawa mendengar ucapanku. Aku pandang Rama yang tengah menikmati makanannya
Ternyata aku memang belum mengenal mu seutuhnya, aku tak pernah tahu kalau kau pencemburu gumamku dalam hati.
...****...
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊
__ADS_1