HATI YANG MUSNAH

HATI YANG MUSNAH
CATERING PEMBUKA JALAN


__ADS_3

setengah berlari dari teras rumahnya, mencari dimana Mala, ibunya, berada. Tak sabar ia untuk memberikan berita gembira itu.


"Assalamualaikum.. Bu.. Ibu.. Rama pulang. Bu..", pekik Rama dari ruang tamu.


Mala yang tengah mencuci piringpun kaget mendengar Rama berteriak memanggilnya.


"Waalaikumsalam, iyaaa Maa, Ibu di belakang.. Ada apa?", sahut Mala dari dapur.


Rama langsung berlari menuju dapur menemui ibunya. Disalaminya tangan basah sisa mencuci piring itu, dengan nafas yang masih terengah-engah Rama bercerita.


"Alhamdulillah... Allah memberikan jalan kepada hambanya yang selalu bersabar," ucap Mala penuh syukur.


"Iya Bu, ayo kita ke pasar Bu, untuk membeli keperluan besok, dan ini daftar menu yang harus kita sediakan setiap harinya Bu, lalu ini uang panjar tanda jadinya" Rama menyerahkan amplop dan daftar menu yang diberikan bapak paruh baya itu.


Mala menerima pemberian anaknya itu, tak terasa menetes air matanya.


"Bu, mengapa menangis? Ibu tidak suka?", tanya Rama lembut sembari menghapus air mata ibunya.


"Bukan, ibu hanya terharu. Semoga ini langkah awal kita untuk menjadi yang lebih baik lagi, Nak", ujar Mala.


Selesai makan siang, Mala dan anak semata wayangnya bergegas ke pasar untuk membeli semua keperluan catering besok. Dengan menggunakan sepeda motor matic tua yang berhasil dibeli Rama dari beasiswanya selama SMK dulu. Anak beranak itu kini tengah berbesar hati. Tidak lepas mulutnya berucap syukur kepada pemilik semesta yang akhirnya mengabulkan apa yang selama ini mereka munajatkan. Proyek yang lumayan besar ini semoga menjadi berkah bagi mereka.


****


Usai solat Maghrib Rama sengaja berjalan lambat di depan rumah Pak Ardi, sesekali sudut matanya memandang teras Pak Ardi, berharap masih ada seseorang yang selalu menanti dan memperhatikannya saat lewat tengah duduk di sana. Tapi sama saja, dua bulan sudah Rama tak melihat sosok itu. Rama hanya melihat Pak Ardi dan istrinya yang tengah mengobrol santai di teras.


"Assalamualaikum, Rama" sapa Pak Ardi.


"Waalaikumsalam, Pak", sahut Rama.


"Ga mampir dulu? Kita ngopi-ngopi santai", tawar Pak Ardi.

__ADS_1


"Ga pak, saya buru-buru mau pulang, ada keperluan, Assalamualaikum", tolak Rama sopan.


"Oh iya, baiklah. Waalaikumsalam", Pak Ardi mengangguk.


Rama melanjutkan langkahnya, dan terus membayangkan wajah gadis yang selalu menantinya itu. Sesekali ia tersenyum, saat teringat wajah grogi gadis itu ketika mengutarakan perasaannya. Ah dimanakah kau kini gumam Rama dalam hatinya. Andai saja kau tahu, kalau saat ini aku tengah berjuang untuk memenuhi kemauan ayahmu.


****


Pukul 04.00 subuh Mala dan Rama sudah sibuk di dapur mempersiapkan menu masakan untuk cateringnya yang harus di antar sebelum makan siang. Jumlah yang lumayan banyak 150 porsi. Mereka hanya mengerjakan berdua saja. Menu ayam penyet, bihun goreng dan capcay sebagai menu pertama mereka hari ini.


Rama membantu Mala membersihkan dan memotong-motong ayam. Meskipun Rama seorang laki-laki tapi bukan hal baru baginya terjun ke dapur untuk memasak. Rama sangat pandai memasak berbagai menu. Hanya saja ia tidak pernah terpikir untuk membuka warung makan yang cukup besar, dikarenakan terbatasnya modal. Agak keteteran memang, jika hanya dikerjakan berdua saja, besok Mala berniat mengajak kakak kandungnya untuk ikut membantu mereka.


****


Pukul 11.00 WIB mentari tengah bersinar terik-teriknya, Rama mulai menyusun kotak-kotak makanan cateringannya di jok belakang vario tua nya. Tidak cukup hanya di jok belakang bagian depan motorpun ia sisipi beberapa kotak makanan.


"Wah kayaknya mesti dua kali angkut, Bu", ujar Rama pada ibunya yang tengah menyusun peralatan.


"Iya Ma, mesti bolak-balik. Besok pakai keranjang aja Ma, biar cepet", saran Mala pada anaknya.


"Rama jalan dulu Bu, keburu makan siang nanti", Rama berpamitan tak lupa ia mencium tangan ibunya.


Jarak kantor lelaki paruh baya, Pak Broto, pemilik PT. Jaya Abadi itu tak jauh dari rumah Rama sekitar 20 menit perjalanan. Setiba di parkiran Rama dibantu oleh satpam PT Jaya Abadi untuk memindahkan kotak bekal ke ruang istirahat kantor.


"Cateringan baru ya Mas..?" tanya satpam sambil mengangkut beberapa kotak makanan.


"Iya Pak, dan baru pertama kalinya" jawab Rama ramah.


"Ohh gitu. Apa nama cateringannya..? Siapa tahu bisa saya bantu promoin,"


Rama terdiam sejenak, sebab ia sama sekali tak memikirkan nama untuk cetering dadakannya. Hingga akhirnya ia terpikir

__ADS_1


"Fattah Catering artinya catering penakluk", jawab Rama mantap. Terselip harapan yang besar dari nama itu. Satpam muda itu hanya mengangguk.


Tepat pukul 12.00 Rama selesai mengantar seluruh catering pesanan PT. Jaya Abadi. Peluhnya menetes dari ujung dahi hingga ke dagu. Disekanya peluh yang mengucur bagai air kran itu. Lelah memang, tapi hatinya sangat puas. Terlebih dengan tawaran baru yang akan ditawarkan padanya.


"Rama, kemari sebentar", panggil Pak Broto direktur PT Jaya Abadi.


Rama bergegas berlari menuju Pak Broto yang bersiap akan menuju masjid untuk solat zuhur.


"Iya Pak"


"Minggu depan cucu saya akan akikah, kamu bersedia menyediakan makanan untuk acara tersebut?" tanya Pak Broto.


Wajah Rama terlihat sangat bahagia mendengar permintaan Pak Broto. Dalam hati tak henti ia mengucap syukur atas segala rezeki yang bertubi-tubi Pencipta berikan padanya.


"Bersedia Pak," sahut Rama mantap.


"Oke baiklah, nanti kita lanjut lagi pembicaraannya, mari solat", ajak Pak Broto.


Rama mengangguk dan mengiringi langkah Pak Broto menuju masjid.


****


Kesabaran Mala dalam menjalani kehidupannya yang suram kini mulai membuahkan hasil, tangis harap yang selalu ia curahkan pada Pemilik semesta lewat munajat sepertiga malamnya kini dijawab sudah.


Getir kehidupan, kejamnya perlakuan kekasih yang pernah ia banggakan dulu, perlahan menjauh dari pikiran Mala. Mala kini lebih banyak tersenyum, meskipun repot dan lelah kadang ia rasakan dengan pekerjaan barunya ini, namun tak terasa sebab ia melakukan dengan hati yang bahagia dan penuh rasa syukur.


Dua bulan sudah berjalan Fattah Catering penghasilan yang mereka dapat pun sudah lumayan mencukupi kehidupan mereka sehari-hari. Kini Mala dan Rama sudah memperkerjakan dua orang karyawan yang tidak lain adalah tetangga mereka juga.


Aku percaya, Engkau selalu mendengar doa hambanya. Tak ada doa yang tidak di ijabah melainkan akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik. Tak ada duka yang dibiarkan berlarut, Tanpa ada bahagia setelahnya. Aku yakin akan semua janji Mu, Terimakasih Rabb.


gumam Mala dalam hatinya

__ADS_1


...****...


Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊


__ADS_2