
"Sayang, mobil kamu aku yang pakai ya", ujar Rama ketika Aku tengah bersiap akan ke kampus.
"Terus? Aku ke kampusnya gimana? Pakai motor?" jawabku keberatan.
"Ga sayang, Aku yang antar kamu ke kampus, terus nanti kalau udah mau pulang aku jemput kamu", jelas Rama.
"Oh gitu. Oke deh, kalau gitu yok berangkat sekarang", ujarku.
"Siap tuan puteri", jawab Rama menuju teras rumah.
Rama melaju menuju kampusku. Hanya sekitar tiga puluh menit, sebab Minggu pagi jalanan masih sepi. Aku terpaksa harus ke kampus pagi ini, sebab ada agenda pemilihan anggota BEM baru. Kami harus mengadakan seleksi.
"Oh ya, kok tumben mau pakai mobil? Biasanya ga mau", tanyaku.
"Iya, soalnya mau ke Daerah Minas ada job cateringan pesta di sana", jawab Rama.
"Oh gitu" sahutku singkat.
Aku berpamitan dan turun dari mobil,
"Sayang, bentar.. Jangan terlalu deket sama temen cowok ya. Aku ga suka", ujar Rama mewanti-wanti.
"Iya Sayang, percaya sama aku", jawabku dan berlalu.
****
Tepat pukul 18.00 Wib, Rama sampai di kampus, aku sedang menunggu Rama datang bersama Airin dan Andre.
"Sayang, kita makan di luar ya, bareng Andre dan Airin", ujarku saat masuk ke mobil.
Rama tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepala. Ku telepon Airin yang sudah berada di mobil Andre.
"Rin, suami aku mau kok pergi bareng", ujarku ditelepon.
"Sip oke.. Meluncur ke resto yang direncanain tadi ya" jawab Airin.
Sepanjang jalan Rama tak mengeluarkan sepatah kata pun, hening,
__ADS_1
"Sayang kok diem aja? Capek banget ya?" tanyaku.
"Iya", jawab Rama singkat.
"Ooh.. Nanti sampai rumah aku pijitin ya", tawarku pada Rama.
"Oke" Rama hanya menjawab singkat tanpa menoleh kepadaku.
Aku berusaha mencairkan suasana dalam mobil yang begitu hening dengan berbagai cerita konyol, tapi tidak juga mengubah suasana hati Rama yang terlihat badmood malam ini. Ada apa gerangan dengan suamiku?
Sepanjang makan malam bersama Andre dan Airin, Rama tak banyak bicara. Rama memang sulit untuk membaur dengan orang yang baru ia temui. Hanya sesekali ia berkomentar. Lagi pula pembahasan kami hanya seputar kampus dan kegiatan tadi siang, Rama tak dapat masuk ke dalam cerita kami. Hampir dua jam lebih kami ngobrol, bercanda, dan akhirnya kami memilih untuk pulang.
****
"Sayang, kamu kenapa diam aja dari tadi?" tanyaku ketika Rama selesai mandi.
"Entahlah, Aku kecewa ama kamu", jawab Rama cuek.
"Loh kecewa kenapa? Aku buat apa emangnya?" aku heran dengan jawaban Rama. Seingatku, aku tak melakukan kesalahan.
"Kamu yang paling tahu apa yang kamu buat dibelakang aku", jawab Rama cuek.
"Kamu ngapain aja sama laki-laki seharian ini?" tanya Rama mulai emosi.
"Aku ga ngapa-ngapain Rama. Sumpah", aku bersumpah.
"Aku liat dari tadi siang, kamu boncengan dengan laki-laki, entah pergi kemana. Bolak-balik." Rama menahan amarah.
"Oh itu, itu adik tingkatku, yang kerja di toko, kami pergi ke toko, buat ambil fotokopian berkas", aku menjawab singkat dan santai.
"Lantas, kamu mesti sedekat itu? Setelah itu kamu berfoto-foto ria dengan seluruh teman lelaki mu, seenaknya mereka merangkul pundak mu, KAU BERGURAU, KETAWA SANA SINI DENGAN MEREKA", suara Rama mulai meninggi.
Aku terdiam mendengar Rama meninggikan suaranya. Aku bukan pula tipe wanita yang suka dikeraskan.
"Rama, kamu cemburu?" tanyaku
"AKU PESEN APA KE KAMU TADI PAGI?! SEBELUM KAMU BERANGKAT KE KAMPUS!!! hardik Rama kembali.
__ADS_1
"Iya Aku tahu, kamu bilang jangan terlalu dekat dengan laki-laki, kamu ga suka", aku masih menahan emosi agar tak terlepas, karena aku masih mengingat kalau dia suamiku.
"TERUS APA YANG KAMU BUAT!! AKU TAK SUKA KATA-KATA AKU DIBANTAH!" Rama menghardik sekali lagi
"Rama!! Jaga nada suara mu! Aku sudah jelaskan, jauh sebelum aku kenal kamu, teman lelakiku banyak. Dan aku juga jelaskan aku tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka hanya sebatas teman, lagi pula, kamu kenapa sih? cemburu buta tak menentu gini!" aku mulai tersulut emosi.
"Oh jadi ternyata, perempuan yang aku nikahi ini perempuan MURAHAN YANG GAMPANG DISENTUH LELAKI", nada Rama semakin meninggi.
Aku memuncak mendengar ucapan Rama, sakit hati mendengar kalimat yang menyakitkan dari suami yang aku cintai itu.
"RAMA!!! JAGA OMONGAN MU!! AKU GA SEBURUK YANG KAMU KIRA!! AKU ISTRIMU RAMA. SAMPAI HATIMU MENGUCAP KALIMAT ITU KE AKU!! KAU PIKIR AKU PEREMPUAN APA!!" Emosiku memuncak, ku bentak Rama.
Rama tak dapat menahan emosi mendengar aku membentaknya,
"AKU TAK SUKA ADA WANITA YANG MEMBENTAK KU!! tanpa sadar ia layangkan tangannya ke wajah mulusku.
PLAAAAK..!!! Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kananku, hingga aku terduduk di atas ranjang. Aku terdiam, air mata mengucur tanpaku sadari. Aku usap pipi yang ditampar Rama. Sudut bibirku terasa perih. Ada lecet di sana.
"Ma... Sampai hati mu ke aku. Hanya karena cemburu buta mu", ucapku dengan suara serak menahan tangis, air mata menetes jatuh membasahi pipiku yang panas sebab tamparan Rama.
Rama khilaf, dipandangnya aku yang hanya terduduk di pinggir ranjang sambil mengemas air mata yang bercucuran. Rama terduduk di depan ku.
"Sayang, maafkan aku, aku emosi", ujar Rama melunak, dibelainya kepalaku.
Aku mengelak, aku tak mau dibujuk. Ku tepis tangan Rama. Berkali-kali Rama mencoba membujukku. Emosi Rama mulai tersulut kembali. Digenggamnya erat tanganku, hingga tangan kuning langsat itu memerah.
"Aku tak suka dibantah, terlebih jika itu perempuan. Kau istriku, dan kau harus ikut katanya", dilepasnya tanganku dengan satu hentakan kuat, hingga aku terbaring ke ranjang, dan pergi keluar kamar.
Aku menangis, air mata deras membasahi kasur, tubuhku terguncang oleh isak tangis. Hatiku benar-benar sakit. Rama orang pertama yang membuatku jatuh cinta, sekaligus orang pertama yang membuatku benar-benar terluka begitu hebat. Selama ini aku hanya tahu sikap ramah Rama, namun tak pernah tahu bagaimana Rama bersikap ketika emosinya memuncak.
****
Rama duduk di teras, masih terbayang olehnya kasar tangannya menamparku. Lamunannya jauh melayang entah kemana. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya, telah berbuat kasar kepadaku. Ia sangat menyadari tentu saja aku tidak pernah mendapat perlakuan kasar dari laki-laki manapun, meskipun aku memiliki ayah tiri. Tapi mengapa kini di tangannya ia harus merasakan sakit? gumam Rama dalam hatinya.
Rama menangisi perbuatan kasarnya kepadaku. Disesalinya sikapnya yang tak mampu menahan emosi ketika amarah memuncak. Dalam hati ia hanya dapat berjanji pada dirinya sendiri kalau hal itu tak akan lagi ia ulangi
...****...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊