
Jumat sore, papa pulang dari tugas luar kotanya. Seperti biasa, papa selalu membawakan oleh-oleh untuk aku dan Aira. Mendengar suara mobil papa di halaman, Aira berlari menuju ruang tamu, disusul oleh ibu.
"Papa pulaaang..." Pekik Aira menuju mobil papa.
"Anak papa, liat papa bawain apa nih," seru papa sambil memberikan bingkisan besar pada Aira.
Ibu menyalami tangan papa, dan mengemas barang-barang papa yang tertinggal di mobil. Aku hanya memandang dari sofa.
"Pasti baru bangun tidur ya", tegur papa saat melintasiku.
"Eh Pa, iya. Capek, oleh-oleh buat Arla ga ada Pa?" pintaku.
"Ada dong, nih", papa memberikan aksesoris handphone,
"Waah.. Makasi Papa," ujarku bahagia.
Meskipun papa adalah orang tua sambungku, tapi papa tidak pernah membedakan antara aku dan Aira. Kasih sayang yang ia berikan pun tak berbeda dengan kasih sayang yang ayah berikan. Itulah sebabnya aku tak merasa memiliki keluarga yang berantakan hanya karena masalah perceraian orang tua.
Ibu mengikuti langkah papa menuju ruang makan, dan mempersiapkan makan siang untuk papa. Aira sibuk berceloteh dengan Papa menceritakan semua hari yang dia lewati di sekolah. Papa hanya senyum senyum mendengar Aira berceloteh. Aku lebih memilih tetap pada posisi awalku, rebahan di sofa sambil menonton televisi.
***
Papa selalu melaksanakan solat berjamaah di Musolla kalau dia sedang berada di rumah. Malam ini rapat pembangunan tempat wudhu di mulai selepas solat Isya. Usai musyawarah mengenai pembangunan tempat wudhu, papa berjalan menuju pekarangan rumah, langkah papa terhenti ketika ada suara memanggil namanya.
"Pak Ardi, maaf sebentar", tahan si pemilik suara.
Papa menghentikan langkahnya dan membalik badan, "Iya ada apa, Rama?"
"Bapak ada waktu sebentar? Boleh saya berbicara dengan bapak?" tanya Rama.
"Oh bisa..bisa.. jika agak lama, bagaimana kalau kita ngobrol di teras rumah saya saja. Pegel juga kalau harus ngobrol sambil berdiri gini, hahahaha", ajak papa.
__ADS_1
"iya pak, mari", sahut Rama menyetujui.
Mereka melanjutkan obrolan di teras rumah. Beberapa menit ketika mereka asyik mengobrol ibu menyuguhkan teh dan camilan. Sedari tadi ibu iseng menyimak obrolan mereka dari ruang tamu, tapi tidak terlalu penting ternyata, akhirnya ibu memilih untuk menonton TV saja. Yup.. Ibuku emang super kepo, jika salah satu anggota keluarga kedatangan tamu yang baru. Selalu ingin tahu apa yang tengah terjadi.
Tiga puluh menit berlalu sudah, akhirnya sang pemuda melanjutkan obrolan ke inti.
"Begini Pak, maaf jika mungkin saya lancang, tapi saya tak bermaksud untuk menyinggung, atau bertindak kurang sopan, ada hal yang ingin saya tanyakan kepada Bapak", tanya Rama sopan.
"Oh serius nampaknya, ada apa ni, tanya saja", jawab papa santai.
"Arla itu Putri sulung Bapak?" tanya Rama hati-hati.
"Iya benar. Ada apa? Cantikkan ya, anak saya? hahaha" canda papa.
Rama grogi, "eh iya pak, ii.. iya".
"Lah jelas. Ibunya saja cantik. Eh ada apa ya? Kamu suka ya? hahahaha..", Lagi-lagi papa menggoda Rama.
"Loh diam, berarti bener toh, Kamu naksir anak saya?" gurau papa.
Rama menarik nafas panjang, dan kemudian menjawab tanya Pak Ardi.
"Iya pak, sebenarnya niat saya menemui Bapak untuk menyampaikan maksud baik, jika boleh saya ingin bertaaruf dengan putri Bapak", jawab Rama lantang.
Papa kaget dengan jawaban berani Rama. Sesaat papa terdiam dan memandang Rama.
"Kamu yakin? Taaruf yang kamu maksud ini bukan cara pacaran anak muda zaman sekarang kan? Metodenya pacaran, tapi diselipkan istilah Islam, agar terkesan baik. Padahal intinya sama saja dosa", jelas Papa.
"Insyaallah tidak Pak, jika Arla setuju, dalam waktu dekat saya akan khitbah Pak", jawab Rama mantap.
Papa semakin kaget dengan jawaban Rama, tapi terselip rasa kagum papa terhadap Rama. Karena sikap baik dan beraninya tersebut, berbeda dengan pemuda kebanyakan.
__ADS_1
"Hmm.. Begini sajalah, saya tanyakan dulu pada Arla, dia mau atau tidak. Dia siap atau tidak. Karena usianya pun masih sangat muda jika harus memikirkan soal lamaran. Dan seandainya pun jika Arla setuju, saya juga tidak punya hak penuh untuk menyetujuinya begitu saja, karena saya hanya Papa sambungnya", jelas Papa.
"Papa sambung maksudnya Pak?" tanya Rama tak paham.
"Ya gitu, saya bukan Papa kandungnya. Jadi jika Arla setuju, kamu bisa temui ayah kandung Arla yang lebih berhak atas Arla", Jawab papa.
"Oh begitu, baik Pak" jawab Rama.
"Tapi soal ini, akan saya sampaikan pada Arla. Dan akan saya rundingkan juga dengan ayahnya. kamu tunggu saja kabar selanjutnya",
"Baik Pak terima kasih," jawab Rama.
***
Papa menceritakan semua perbincangan tadi malam kepada ibu, mengenai maksud baik Rama. Ibu hanya diam, memandang wajah papa lekat.
"Mas yakin, seandainya Arla menyetujui kemudian mereka menikah? Usia Arla belum 20 tahun, Mas" ujar ibu.
"Ya apa salahnya menikah muda?" jawab papa singkat.
"Lagi pula Arla tidak mungkin setuju, kita hanya menyampaikan amanah Rama saja", lanjut papa.
"Tau dari mana Arla ga setuju?" tanya ibu.
"Ya ampun dik, kamu liat gaya Rama. Liat gaya anak kita. Rama bukan tipe dia. Arla pasti tidak tertarik dengan pria musholla, lagi pula Rama sepertinya belum bekerja", jawab papa yakin.
"Mas, pendapatmu keliru.. Arla menyukai Rama", jawab ibu lirih.
Papa kaget dengan jawaban ibu, dan memaksa ibu untuk menceritakan hal-hal yang terlewati oleh papa selama papa di luar kota. Dan kini malah papa yang deg deg ser dengan jawaban Arla nantinya. Penasaran juga dengan jawaban Arla. Masalahnya bukan soal pacaran, tapi langsung menikah. Tak sabar papa menunggu Arla pulang ke rumah untuk menyampaikan kabar itu.
...****...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊